Detasemen Jala Mengkara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Detasemen Jala Mangkara
(Korps Marinir)
Gambar Denjaka.png
Lambang Denjaka
Aktif 13 November 1984
Negara Indonesia
Cabang Lambang TNI AL.png TNI Angkatan Laut
Tipe unit Pasukan Antiteror
Peran Anti-bajak kapal laut
Anti-bajak pesawat udara
segala bentuk teror aspek laut/darat/udara
perang kota/hutan/pantai/laut
sabotase
intelijen & kontra-intelijen
Jumlah personil Rahasia
Bagian dari TNI Angkatan Laut
Markas Korps Marinir, Cilandak
Julukan Denjaka
Moto Satya Wira Dharma
Warna seragam Hitam, baret ungu
Persenjataan Minimi 5,56 mm, g36, HK416, HK PSG1, SS-1, CZ-58, Styer AUG, SS-2, HK 53, UZI, SPR-1 MP5, Beretta 9 mm, SIG-Sauer 9 mm, HK P30
Komandan tempur
Komandan Kolonel Mar Bambang Wahyuono, S.AP.,
Tokoh berjasa 1. Mayjen TNI (Mar) Gafur Chaliq
2. Mayjen TNI (Mar) Djoko Pramono
3. Letjen TNI (Mar) Nono Sampono
4. Letjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin

Detasemen Jala Mangkara (disingkat Denjaka) adalah sebuah detasemen peanggulangan teror aspek laut TNI Angkatan Laut. Denjaka adalah satuan gabungan antara personel Kopaska dan Taifib Korps Marinir TNI-AL.[1] Anggota Denjaka dididik di Bumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan dan harus menyelesaikan suatu pendidikan yang disebut PTAL (Penanggulangan Teror Aspek Laut). Lama pendidikan ini adalah 6 bulan. Intinya Denjaka memang dikhususkan untuk satuan anti teror walaupun mereka juga bisa dioperasikan di mana saja terutama anti teror aspek laut. Denjaka dibentuk berdasarkan instruksi Panglima TNI kepada Komandan Korps Marinir No Isn.01/P/IV/1984 tanggal 13 November 1984. Detasemen Jalamangkara selain sebagai Komando Pelaksana Korps Marinir yang berkedudukan langsung dibawah Dankormar, juga sebagai pelaksana utama Panglima TNI. Sebagai Komando Pelaksana Korps Marinir, Denjaka mempunyai tugas pokok dalam membina kekuatan dan kemampuan satuan Detasemen Jalamangkara. Sedangkan sebagai pelaksana utama Panglima TNI, dalam hal ini Kabais TNI selaku penyelenggaraan pembinaan kemampuan khusus, meliputi: operasi anti teror, anti sabotase dan operasi klandestin yang beraspek laut maupun operasi-operasi khusus lainnya.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pasukan Khusus TNI AL (Jitro Tarigan )[sunting | sunting sumber]

Profil Prajurit Denjaka

Pada 4 November 1982, KSAL membentuk organisasi tugas dengan nama Pasukan Khusus AL (Pasusla). Keberadaan Pasusla didesak oleh kebutuhan akan adanya pasukan khusus TNI AL guna menanggulangi segala bentuk ancaman aspek laut. Seperti terorisme, sabotase, dan ancaman lainnya.[2]

Pada tahap pertama, direkrut 70 personel dari Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) dan Komando Pasukan Katak (Kopaska). Komando dan pengendalian pembinaan di bawah Panglima Armada Barat dengan asistensi Komandan Korps Marinir. KSAL bertindak selaku pengendali operasional. Markas ditetapkan di Mako Armabar.[2]

Detasemen Jala Mangkara (Denjaka)[sunting | sunting sumber]

Lambang Satuan Denjaka Korps Marinir
Brevet "PTAL" Denjaka Korps Marinir
Maritime Counter Terrorism - Jala Mangkara Detachment

Melihat perkembangan dan kebutuhan satuan khusus ini, KSAL menyurati Panglima TNI yang isinya berkisar keinginan membentuk Detasemen Jala Mangkara. Panglima ABRI menyetujui dan sejak itu (13 November 1984), Denjaka menjadi satuan Antiteror Aspek Laut. Merunut keputusan KSAL, Denjaka adalah komando pelaksana Korps Marinir yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan kemampuan dan kekuatan dalam rangka melaksanakan operasi antiteror, antisabotase, dan klandesten aspek laut atas perintah Panglima TNI.[2] Berdasarkan peraturan Panglima TNI Nomor Perpang/77/X/2010 tentang persetujuan dan pengesahan peningkatan kepangkatan dalam jabatan di lingkungan Korps Marinir diputuskan Komandan Detasemen Jalamangkara berpangkat Kolonel”.[3]

Pola rekrutmen Denjaka dimulai sejak pendidikan para dan komando. Selangkah sebelum masuk ke Denjaka, prajurit terpilih mesti sudah berkualifikasi Intai Amfibi. Dalam menjalankan aksinya, satuan khusus ini dapat digerakkan menuju sasaran baik lewat permukaan/bawah laut maupun lewat udara. TNI AL masih memiliki satu pasukan khusus lagi, yaitu Komando Pasukan Katak (Kopaska). Kedua satuan pernah beberapa kali melakukan latihan gabungan dengan US Navy SEAL.[2]

Organisasi Satuan[sunting | sunting sumber]

Denjaka terdiri dari satu markas zedenk detasemen, satu tim markas, satu tim teknik dan tiga tim tempur. Sebagai unsur pelaksana, prajurit Denjaka ditutut memiliki kesiapan operasional mobilitas kecepatan, kerahasiaan dan pendadakan yang tertinggi serta medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai. Disamping itu juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, bawah laut dan vertikal dari udara.

Pendidikan yang dilakukan[sunting | sunting sumber]

Denjaka - Terjun Stabo

Kursus awal[sunting | sunting sumber]

Setiap prajurit Denjaka dibekali kursus penanggulangan antiteror aspek laut yang bermaterikan:

  • Intelijen,
  • Taktik dan teknik anti-teror, dan anti-sabotase,
  • Dasar-dasar spesialisasi,
  • Komando kelautan dan keparaan lanjutan

Kursus ini dilaksanakan setiap kurang lebih 5,5 bulan bertempat di Jakarta dan sekitarnya.

Kursus lanjutan[sunting | sunting sumber]

Dilanjutkan dengan materi pemeliharaan kecakapan dan peningkatan kemampuan kemahiran kualifikasi Taifib dan Paska, pemeliharaan dan peningkatan kemampuan menembak, lari dan berenang, peningkatan kemampuan bela diri, penguasaan taktis dan teknik penetrasi rahasia, darat, laut dan udara, penguasaan taktik dan teknik untuk merebut dan menguasai instalasi di laut, kapal, pelabuhan/pangkalan dan personel yang disandera di objek vital di laut, penguasaan taktik dan teknik operasi klandestin aspek laut, pengetahuan tentang terorisme dan sabotase, penjinakan bahan peledak, dan peningkatan kemampuan survival, pelolosan diri, pengendapan, dan ketahanan interogasi.

Persenjataan[sunting | sunting sumber]

Untuk mendukung operasi personel Denjaka dibekali antara lain submachine gun MP5, HK PSG1, Daewoo K7, senapan serbu G36, HK416, M4, Pindad ss-1, CZ-58, senapan mesin ringan Minimi M60, Daewoo K3, serta pistol Beretta, HK P30 dan SIG Sauer 9 mm.

Komandan[sunting | sunting sumber]

Beberapa perwira yang pernah memimpin Denjaka antara lain adalah Letjen TNI (Mar) Nono Sampono (AAL 1976), Mayjen TNI (Mar) Yussuf Solichien (AAL 1973) dan Letjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin (AAL 1981). Komandan Denjaka yang sekarang menjabat adalah Kolonel Marinir Bambang Wahyuono, S.AP.,.[4]

Pasukan Denjaka

Daftar Komandan Denjaka[sunting | sunting sumber]

Berikut daftar Komandan Denjaka:

No. Nama Dari Sampai Ket
1. Letnan Kolonel Marinir Gafur Chaliq 1983 1984 Mayjen TNI Mar
2. Letnan Kolonel Marinir Djoko Pramono 1983 1985 Mayjen TNI Mar
3. Mayor Marinir Arthur Solang 22 Juli 1985 22 November 1985 Letkol Mar (Ant)
4. Mayor Marinir Hasan Hariadinata 1985 1986 Kolonel Mar
5. Mayor Marinir H. Yussuf Solichien. M, M.BA, M.Si, PH.D. 1986 1987 Mayjen TNI Mar
6. Letnan Kolonel Marinir Frans L. Kansil 1987 1988 Brigjen TNI Mar
7. Letnan Kolonel Marinir Nono Sampono 1988 1993 Letjen TNI Mar
8. Letnan Kolonel Marinir M. Alfan Baharudin 1993 1998 Letjen TNI Mar
9. Mayor Marinir RM. Trusono 1998 2002 Letjen TNI Mar
10. Letnan Kolonel Marinir Suprayogi 2002 2004 Brigjen TNI Mar
11. Letnan Kolonel Marinir Kasirun Situmorang 2004 7 Maret 2005 Brigjen TNI Mar
12. Letnan Kolonel Marinir Suhartono 7 Maret 2005 2008 Mayjen TNI Mar
13. Letnan Kolonel Marinir Widodo 2008 2009 Kolonel Mar
14. Letnan Kolonel Laut (E) Yudhi Bramantyo NS 2009 2011 Kolonel Laut (E)
15. Kolonel Marinir Suhartono 2011 2012 Mayjen TNI Mar
16. Kolonel Marinir Budi Purnama, S.Ip 2012 21 Januari 2013 Kolonel Mar
17. Kolonel Marinir Nur Alamsyah M.Tr (Han),. 21 Januari 2013 10 September 2015[5] Brigjen TNI Mar
18. Kolonel Marinir Supriyono, S.E., 10 September 2015 27 Mei 2017[6] Kolonel Mar
19. Kolonel Marinir Bambang Wahyuono, S.AP., 27 Mei 2017 Sekarang[7] Kolonel Mar

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]