Bromotimol biru

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Bromotimol biru
Bromothymol-blue-2D-skeletal.png
Bromothymol-blue-3D-balls.png
Nama
Nama IUPAC
4,4′-(1,1-Dioksido-3H-2,1-benzoksatiol-3,3-diyl)bis(2-bromo-6-isopropil-3-metilfenol)
Penanda
Model 3D (JSmol)
ChEBI
ChemSpider
ECHA InfoCard 100.000.884
UNII
Sifat
C27H28Br2O5S
Massa molar 624,38 g·mol−1
Densitas 1.25 g/cm3
Titik lebur 202 °C (396 °F; 475 K)
Sedikit larut dalam air[1]
Keasaman (pKa) 7.0
Bahaya
Lembar data keselamatan http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927468
Kecuali dinyatakan lain, data di atas berlaku pada temperatur dan tekanan standar (25 °C [77 °F], 100 kPa).
N verify (what is YaYN ?)
Sangkalan dan referensi

Bromotimol biru (juga dikenal sebagai Bromotimol sulfonftalein dan BTB) adalah suatu indikator pH. Senyawa ini banyak digunakan dalam aplikasi yang memerlukan pengukuran zat yang memiliki pH relatif netral (dekat 7). Senyawa ini umum digunakan untuk mengukur kehadiran asam karbonat dalam cairan. Senyawa ini biasanya dijual dalam bentuk padatan seperti garam natrium pada indikator asam.

Struktur dan sifat[sunting | sunting sumber]

Bromotimol biru berperan sebagai asam lemah dalam larutan. Karenanya, ia dapat berada dalam bentuk terprotonasi atau terdeprotonasi, menghasilkan warna kuning atau biru, masing-masing. Senyawa ini berwarna biru laut terang dengan sendirinya, dan biru kehijauan dalam larutan netral. Deprotonasi dalam bentuk netral menghasilkan struktur yang sangat terkonjugasi, berperan pada munculnya perbedaan warna. Intermediat dari mekanisme deprotonasi tersebut bertanggung jawab terhadap munculnya warna kehijauan dalam larutan netral.[2]

Bentuk terprotonasi bromotimol biru memiliki puncak serapan pada 692 nm karenanya memancarkan warna kuning terang pada larutan asam, serta bentuk terdeprotonasi dengan puncak serapan pada 602 nm karenanya memancarkan warna biru terang pada larutan yang lebih basa.[3]

Struktur pada rentang pH yang berbeda

Bromotimol biru sedikit larut dalam minyak, tetapi larut dalam air, eter, dan larutan air alkali. Senyawa ini ini kurang larut dalam pelarut nonpolar seperti benzena, toluena, dan xilena, dan praktis tidak larut dalam petroleum eter.[4]

Preparasi[sunting | sunting sumber]

Untuk menyiapkan larutan untuk digunakan sebagai indikator pH, sebanyak 0.10 g zat dilarutkan dalam 8.0 cm3 N/50 NaOH kemudian diencerkan dengan air hingga 250 cm3. Untuk menyiapkan larutan untuk digunakan sebagai indikator dalam analisis volumetri, sebanyak 0.1 g zat dilarutkan dalam 100 cm3 etanol 50% (v/v).[4]

Penggunaan[sunting | sunting sumber]

Warna-warna berbeda pada of bromotimol biru. Dari kiri ke kanan: blanko, pH 4, 6.2, 6.6, 7.2, 7.5, 8, dan 12

Bromotimol biru dapat digunakan untuk mengamati aktivitas fotosintesis, atau sebagai indikator pernapasan (berubah kuning ketika CO2 ditambahkan).[5][6] Demonstrasi umum sifat indikator pH BTB melibatkan penghirupan ke dalam larutan netral BTB. Ketika karbon dioksida terserap dari napas yang masuk ke dalam larutan tersebut, akan membentuk asam karbonat, larutan berubah warna dari hijau ke kuning. Karenanya, BTB umum digunakan pada kelas sains untuk mendemonstrasikan bahwa semakin besar kekuatan yang digunakan, keluaran CO2 akan semakin besar pula.

Bromotimol biru telah digunakan bersama dengan fenol merah untuk memonitor aktivitas enzim asparaginase fungi dengan fenol merah berubah warna menjadi merah muda dan bromotimol biru menjadi biru yang menandakan adanya kenaikan pH sehingga menunjukkan aktivitas enzim tersebut. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa metil merah lebih berguna dalam menentukan aktivitasnya karena cincin berwarna kuning terang terbentuk dalam zona aktivitas enzim.[7]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Archived copy". Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 November 2015. Diakses tanggal 11 Desember 2015. 
  2. ^ De Meyer, Thierry (Mare 2014). "Substituent effects on absorption spectra of pH indicators: An experimental and computational study of sulfonphthaleine dyes". Dyes and Pigments. 102: 241–250. doi:10.1016/j.dyepig.2013.10.048. Diakses tanggal 18 November 2014.  Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  3. ^ Nahhal; et al. (18 Juli 2012). "Thin film optical BTB pH sensors using sol–gel method in presence of surfactants" (PDF). International Nano Letters. 2 (16): 3. Diakses tanggal 18 November 2014. 
  4. ^ a b O'Neil, Maryadele J (2006). The Merck Index. Merck Research Laboratory. hlm. 1445. ISBN 978-0-911910-00-1. 
  5. ^ Sabnis R. W. (2007). Handbook of Acid-Base Indicators. CRC Press. ISBN 0-8493-8218-1. 
  6. ^ Sabnis R. W. (2010). Handbook of Biological Dyes and Stains: Synthesis and Industrial Applications (edisi ke-1st). Wiley. ISBN 0-470-40753-0. 
  7. ^ Dhale, Mohan (Juli 2014). "A comparative rapid and sensitive method to screen l-asparaginase producing fungi". Journal of Microbiological Methods. 102: 66–68. doi:10.1016/j.mimet.2014.04.010. Diakses tanggal 18 November 2014. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]