Dyah Raṇawijaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Dyah Raṇawijaya
Brawijaya V
Bhaṭāra ring Kṛtabhumi
Bhaṭāra ring Kling
Bhaṭāra Wijaya
Batara Vojyaya
Batara Vigiaja
Illustration of Dyah Ranawijaya.jpg
Ilustrasi Dyah Raṇawijaya (Brawijaya V)
Maharaja Majapahit
Berkuasa Majapahit 1478—1527
PendahuluDyah Suraprabhawa
PatihMahodara (Amdura/Udra)
Bhre Kṛtabhumi
Dyah Raṇawijaya menjabat sebagai Bhre Kṛtabhumi saat pemerintahan Dyah Suryawikrama (Girisawardhana).
Berkuasa1451—1478
Bhre Keling
Dyah Raṇawijaya menjabat sebagai Bhre Keling menggantikan Dyah Wijayakusuma, yang menjabat sebelumnya.
Berkuasa1486—?
PendahuluDyah Wijayakusuma
LahirDyah Raṇawijaya
Nama takhta
Paduka Śrī Maharaja Śrī Wilwatiktapura Janggala Kaḍiri (Prasasti Jiyu I)
Śrī Nātheng Kṛtabhumi (Kakawin Banawa Sĕkar)
Nama anumerta
Bhaṭāra Prabhu Girīndrawardhana (Prasasti Pĕṭak)
Prabhu Nātha Śrī Girīndrawardhana (Prasasti Jiyu I)
AyahSang Sinagara

Dyah Raṇawijaya (dikenal juga sebagai Brawijaya V, Brawijaya Pamungkas, Bhre Kertabhumi, dan Bhre Keling) adalah raja terakhir Majapahit yang memerintah tahun 1478—1527, dengan ibu kota di Daha.[1] Namanya dikenal melalui Prasasti Jiyu I, Prasasti Petak, Serat Pararaton, Kakawin Banawa Sekar, Suma Oriental, Babad Tanah Jawi, Serat Kanda dan Serat Pranitiradya.

Berdasarkan pemberitaan Serat Pararaton dan Kakawin Banawa Sekar, Girīndrawardhana Dyah Raṇawijaya sebelumnya menjabat sebagai Bhre Kṛtabhumi atau Śrī Nātheng Kṛtabhumi saat pemerintahan Girīśawardhana Dyah Sūryawikrama. Setelah Girīśawardhana Dyah Sūryawikrama wafat, Singhawikramawardhana Dyah Suraprabhāwa naik takhta. Bhre Kṛtabhumi dan ketiga kakaknya pergi meninggalkan istana. Mereka membangun pertahanan di Keling.

Disebutkan dalam Serat Pararaton, bahwa Bhre Kṛtabhumi adalah anak Sang Sinagara, perihal ini sama dengan catatan Tomé Pires yang mengunjungi Jawa tahun 1513, bahwa Batara Vojyaya atau Batara Vigiaja (ejaan Portugis untuk Bhaṭāra Wijaya) adalah keturunan Batara Sinagara. Itu artinya tahun 1513 Brawijaya masih hidup, sedangkan menurut cerita umum, Brawijaya sudah tumbang di tahun 1478. Babad Sĕngkala mencatat Daha yang menjadi ibu kota baru Majapahit, ditaklukkan oleh Demak pada tahun 1527. Saat itu yang menjadi raja Demak adalah Sultan Trenggana putra Raden Patah.

Gelar[sunting | sunting sumber]

Seorang raja dalam tradisi Majapahit memiliki gelar kerajaan dan nama muda yang dicirikan dengan penggunaan gelar kebangsawanan atau abhiseka 'Dyah', terutama berlaku untuk tokoh laki-laki dan perempuan.

Sedangkan gelar Bhre merujuk kepada bangsawan yang memimpin atas beberapa kawasan tertentu atau disebut "Mancanagara", jika sekarang ini istilah tersebut setingkat provinsi. Daerah ini diperintah oleh uparaja yang disebut Paduka Bhaṭāra yang bergelar 'Bhre', merupakan singkatan dari Bhra i atau Bhaṭāra ring. Gelar ini adalah gelar tertinggi bangsawan kerajaan. Biasanya posisi ini hanyalah untuk kerabat dekat raja. Tugas mereka adalah untuk mengelola daerah, memungut pajak, dan mengirimkan upeti ke pusat, dan mengelola pertahanan di daerah perbatasan.

Brawijaya merupakan gelar yang lazim dipakai para pujangga era Kesultanan Mataram dan sejarawan untuk menyebutkan daftar raja-raja Majapahit. Gelar ini tidak terdapat dalam prasasti. Terkadang gelar Brawijaya juga ditulis urut berdasarkan urutan bilangan, mulai dari Brawijaya I hingga V.

Etimologi gelar Brawijaya merujuk kepada catatan Tomé Pires yaitu Batara Vojyaya atau Batara Vigiaja (ejaan Portugis untuk Bhaṭāra Wijaya) yang kemudian disebut sebagai Brawijaya V, lalu diurutkan ke raja sebelumnya menggunakan urutan bilangan berdasarkan raja-raja yang pernah berkuasa.

Identifikasi[sunting | sunting sumber]

Brawijaya adalah nama raja terakhir Majapahit yang dikenal dalam sumber non-prasasti, seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, Serat Pranitiradya, dan Serat Darmagandhul. Nama ini sangat populer dalam masyarakat Jawa.

Pada tahun 1513 Tomé Pires dari Portugal mengunjungi Jawa dan mencatat dalam Suma Oriental nama raja saat itu adalah Batara Vojyaya atau Batara Vigiaja yang istananya terletak di Dayo, ungkapan tersebut merupakan ejaan Portugis untuk Bhaṭāra Wijaya yang bertakhta di Daha (sekarang Kediri).[1] Dengan demikian, nama Bhaṭāra Wijaya yang dicatat Tomé Pires sebagai Batara Vojyaya atau Batara Vigiaja di tahun 1513 sama dengan Bhaṭāra Prabhu Dyah Raṇawijaya yang mengeluarkan prasasti Pĕṭak dan Jiyu di tahun 1486.[2]

Tomé Pires menyebutkan bahwa Batara Vojyaya adalah keturunan Batara Sinagara. Dalam Serat Pararaton disebutkan, Sang Sinagara memiliki empat anak, yaitu Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan, dan Bhre Kṛtabhumi. Mereka berempat meninggalkan istana di tahun 1468 saat paman mereka, yaitu Bhre Paṇḍansalas alias Dyah Suraprabhāwa baru berkuasa dua tahun.

Para pujangga Jawa era Mataram Islam dalam Babad Tanah Jawi menyebut raja terakhir Majapahit bernama Prabu Brawijaya, kemungkinan sama dengan Bhaṭāra Wijaya yang dicatat Tomé Pires (1513). Naskah Purwaka Caruban Nagari (1720) menyebut nama lengkap Prabu Brawijaya Kĕrtabumi. Mungkin sang pujangga menulis berdasarkan ingatan turun-temurun, bahwa Prabu Brawijaya juga bernama Bhre Kĕrtabumi.

Gelar Bhre Kĕrtabumi terdapat dalam Serat Pararaton (1613) yaitu nama anak bungsu Sang Sinagara. Jika Bhre Kĕrtabumi dianggap sama dengan Prabu Brawijaya, itu berarti sama juga dengan Bhaṭāra Prabhu Dyah Raṇawijaya yang berkuasa di Daha. Itu artinya, Dyah Raṇawijaya adalah anak bungsu Sang Sinagara.

Anak-anak Sinagara juga tercatat dalam Kakawin Banawa Sekar, yaitu Śrī Naranātha ring Kahuripan, Śrī Parameśwareng Lasĕm, Śrī Nṛpati Pamotan, Śrī Naranātha ring Mataram, dan Śrī Nātheng Kṛtabhumi. Kakawin Banawa Sĕkar ditulis oleh Mpu Tanakung yang mengisahkan upacara Śrāddha untuk orang tua mereka. Jika Sang Sinagara meninggal di tahun 1453, maka upacara tersebut tentunya dilaksanakan di tahun 1465, yaitu pada masa pemerintahan Bhra Hyang Pūrwawiśeṣa alias Dyah Suryawikrama (sebelum Bhre Paṇḍansalas).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa setelah terjadi kekosongan selama tiga tahun, Bhre Wĕngkĕr alias Girīśawardhana naik takhta dengan gelar Bhra Hyang Pūrwawiśeṣa. Saat itu anak-anak Sinagara dapat menerima. Namun, setelah Girīśawardhana wafat, Bhre Paṇḍansalas alias Dyah Suraprabhāwa naik takhta. Anak-anak Sinagara tidak terima dan mereka pergi meninggalkan istana.

Pada tahun 1478 anak-anak Sinagara memberontak pada kekuasaan Dyah Suraprabhāwa di Majapahit, pemberontakan tersebut dipimpin oleh Sang Munggwing Jinggan yang dibantu Brahmārāja Ganggādhara. Dyah Suraprabhāwa meninggal dalam istana. Setelah peristiwa tersebut anak Sinagara yang bernama Bhre Mataram alias Dyah Wijayakusuma menjadi raja yang bertakhta di Kĕling kemudian bergelar Bhre Kĕling. Adapun status Majapahit menjadi sederajat dengan Janggala dan Kaḍiri, yaitu berada di bawah Kĕling. Kemudian Dyah Wijayakusuma wafat jabatan Bhre Keling digantikan Dyah Raṇawijaya dan menyebut dirinya berkuasa atas Majapahit – Janggala – Kaḍiri.

Menurut Tomé Pires, saat itu Dyah Raṇawijaya hanya sebagai raja simbol belaka, karena yang berkuasa atas negara adalah Guste Pate Amdura (ejaan Portugis untuk Gusti Patih Mahodara). Berita ini diperkuat oleh catatan Duarte Barbosa dari Italia yang menyebutkan pada tahun 1518 yang berkuasa atas Jawa pedalaman bernama Pate Udra.

Identifikasi Brawijaya sebagai raja terakhir Majapahit dengan Dyah Ranawijaya cukup rasional, berdasarkan Prasasti Jiyu I diketahui Dyah Ranawijaya adalah raja terakhir yang berkuasa atas Wilwatiktapura (Majapahit), menurut catatan Tomé Pires (1513) ibu kota kerajaannya terletak di Dayo (ejaan Portugis untuk Daha). Sementara itu, naskah lokal Jawa yang berjudul Babad Sĕngkala mencatat Daha baru bisa ditaklukkan oleh Dĕmak pada tahun 1527. Saat itu yang menjadi raja Dĕmak adalah Sultan Trenggana putra Raden Patah.

Itu artinya tahun 1513 Brawijaya masih hidup, sedangkan menurut kronik Tiongkok dari Kuil Sam Po Kong, Kung-ta-bu-mi (ejaan Tionghoa untuk Kertabhumi) sudah tumbang di tahun 1478, dikalahkan putranya sendiri bernama Jin Bun, yang lahir dari selir Tiongkok. Jin Bun ini identik dengan Panembahan Jimbun alias Raden Patah pendiri Kesultanan Demak.

Ditinjau dari Serat Pararaton (1613) bahwa raja Majapahit yang meninggal di istana pada tahun 1478 adalah Bhre Paṇḍansalas paman Bhre Kṛtabhumi, dengan sengkalan berbunyi “sunya nora yuganing wong”. Jadi yang meninggal pada tahun 1478 adalah Bhre Paṇḍansalas alias Dyah Suraprabhawa bukan Bhre Kṛtabhumi atau Dyah Raṇawijaya.

Masa Akhir Majapahit[sunting | sunting sumber]

Kakawin Banawa Sekar ditulis oleh Mpu Tanakung mengisahkan anak-anak Sinagara, yaitu Śrī Naranātha ring Kahuripan, Śrī Parameśwareng Lasĕm, Śrī Nṛpati Pamotan, Śrī Naranātha ring Mataram, dan Śrī Nātheng Kṛtabhumi mengadakan upacara Śrāddha untuk orang tua mereka. Jika Sang Sinagara meninggal di tahun 1453, maka upacara tersebut tentunya dilaksanakan di tahun 1465.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa setelah terjadi kekosongan selama tiga tahun, Bhre Wĕngkĕr alias Girīśawardhana Dyah Suryawikrama naik takhta atau dalam Serat Pararaton bergelar Bhra Hyang Pūrwawiśeṣa. Saat itu anak-anak Sinagara dapat menerima. Namun, setelah Girīśawardhana Dyah Suryawikrama wafat, paman mereka Bhre Paṇḍansalas alias Dyah Suraprabhāwa naik takhta. Anak-anak Sinagara tidak terima dan mereka pergi meninggalkan istana, membangun pertahanan di Keling.

Pada tahun 1478 anak-anak Sinagara menyerang Majapahit di bawah pimpinan Sang Munggwing Jinggan yang dibantu Brahmārāja Ganggādhara. Dyah Suraprabhāwa meninggal dalam istana. Menurut prasasti Petak (1486) yang dikeluarkan oleh Bhaṭāra Prabhu Girīndrawardhana yang memiliki nama asli Dyah Raṇawijaya, berhasil mengalahkan Majapahit di mana ia menetapkan anugerah dari raja sebelumnya kepada Śrī Brahmārāja Ganggādhara yang telah berjasa membantu Sang Munggwing Jinggan sehingga bisa menang melawan Majapahit.

Kemudian anak Sinagara yang bernama Bhre Mataram alias Dyah Wijayakusuma menjadi raja yang bertakhta di Kĕling. Adapun status Majapahit menjadi sederajat dengan Janggala dan Kaḍiri, yaitu berada di bawah Kĕling. Selanjutnya Dyah Wijayakusuma digantikan oleh Dyah Raṇawijaya sebagai Bhre Keling. Prasasti Jiyu I juga menyebutkan bahwa Girīndrawardhana Dyah Raṇawijaya adalah raja yang berkuasa atas Wilwatiktapura (nama lain Majapahit), Janggala, dan Kaḍiri.[2]

Pada tahun 1513 saat Tomé Pires mengunjungi Jawa, ibu kota sudah pindah ke Dayo (ejaan Portugis untuk Daha). Saat itu raja sudah tidak berkuasa penuh. Dyah Raṇawijaya hanya sebagai raja simbol belaka. Yang menjalankan roda pemerintahan adalah Guste Pate (ejaan Portugis untuk Gusti Patih) yang sebelumnya dikenal dengan nama Pate Amdura (ejaan Portugis untuk Patih Mahodara).[1] Berita ini diperkuat oleh catatan Duarte Barbosa dari Italia yang menyebutkan pada tahun 1518 yang berkuasa atas Jawa pedalaman bernama Pate Udra. Ia memerintah segala aspek. Ia menggenggam raja di tangannya, bahkan berhak memberikan perintah. Sang raja sudah tidak memiliki suara dalam hal apa pun. Rakyat sudah kehilangan kepercayaan kepada raja karena kecewa telah kehilangan sebagian besar tanah mereka.

Tomé Pires (1513) mencatat sering terjadi peperangan antara Pate Amdura (ejaan Portugis untuk Patih Mahodara) melawan persekutuan para pate (patih) pesisir utara yang dipimpin Pate Rodim dari Demaa (ejaan Portugis untuk Demak). Pate Rodim dan para pate yang beragama Islam itu membentuk aliansi melawan Daha. Meskipun demikian, tidak semua pate yang beragama Islam mendukung Pate Rodim. Ada seorang bernama Pate Vira dari Tuban yang meskipun muslim tetapi mendukung Guste Pate di Daha. Pate Vira ini adalah narasumber Tomé Pires mengenai kondisi politik di Jawa saat itu.[1]

Maka, dapat disimpulkan bahwa ketika terjadi perang saudara antara Dyah Suraprabhāwa melawan anak-anak Sang Sinagara, kekacauan ini dimanfaatkan pihak Demak dan para sekutunya untuk menyatakan merdeka dari Majapahit. Bahkan, Tomé Pires mencatat adipati Dĕmak (sebelum Pate Rodim) berhasil merebut Cirebon dan Palembang.

Ketika Tomé Pires datang ke Jawa (1513), peperangan terjadi antara Daha melawan Demak. Terkadang Demak yang menyerang dahulu, kadang Daha yang ganti menyerang. Pihak Daha selaku penerus Majapahit ingin merebut kembali deretan kota pelabuhan utara yang dikuasai Dĕmak. Hanya Tuban saja di wilayah pantura yang masih setia kepada Daha, sedangkan Surabaya kadang melawan Daha, kadang menjadi kawan.[1]

Para pujangga Jawa era Mataram Islam menyebut raja terakhir Majapahit bernama Prabu Brawijaya, kemungkinan sama dengan Bhaṭāra Wijaya yang dicatat Tomé Pires (1513). Naskah Purwaka Caruban Nagari (1720) menyebut nama lengkap Prabu Brawijaya Kĕrtabumi. Mungkin sang pujangga menulis berdasarkan ingatan turun-temurun, bahwa Prabu Brawijaya juga bernama Bhre Kĕrtabumi.

Sĕrat Kaṇḍa yang berasal dari era Jawa Baru, dikisahkan bahwa kerajaan Majapahit berakhir di tahun 1478 dengan sengkalan “sirna ilang kĕrtaning bumi”. Dalam naskah itu disebutkan raja terakhir Majapahit yang bernama Prabu Brawijaya dikalahkan oleh anaknya sendiri, bernama Raden Patah adipati Demak. Berita tersebut berlawanan dengan catatan Antonio Pigaffeta, Tomé Pires, Serat Pararaton, dan Babad Sĕngkala.

Disebutkan dalam Serat Pararaton bahwa raja Majapahit yang meninggal di istana pada tahun 1478 adalah Bhre Paṇḍansalas paman Bhre Kṛtabhumi, dengan sengkalan berbunyi “sunya nora yuganing wong”. Jadi yang meninggal pada tahun 1478 adalah Bhre Paṇḍansalas alias Dyah Suraprabhawa bukan Bhre Kṛtabhumi atau Dyah Raṇawijaya.

Pada tahun 1522 penulis Italia bernama Antonio Pigaffeta mendapat keterangan dari para pelaut lainnya, bahwa ada kota besar di Jawa bernama Magepaher yang rajanya bernama Pati Unus telah meninggal. Menurut catatan Tomé Pires di tahun 1513 Pate Unus adalah pate yang berkuasa di Japara, yang merupakan pate Islam terbesar kedua sesudah Pate Rodim raja Demak. Jika keterangan ini benar, maka Pate Udra (Patih Mahodara) patih yang berkuasa di Daha telah dikalahkan oleh Pate Unus sesudah tahun 1518, sebelum tahun 1522.

Sementara itu, Babad Sĕngkala mencatat Tuban dan Daha (sekarang Kediri) baru bisa ditaklukkan oleh Demak pada tahun 1527. Saat itu yang menjadi raja Dĕmak adalah Sultan Trenggana putra Raden Patah.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e Tomé Pires (2015). Suma Oriental: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina & Buku Francisco Rodrigues (penyunting, Armando Cortesao; penerjemah ed. Indonesia, Adrian Perkasa dan Anggita Pramesti). Yogyakarta: Ombak. ISBN 978-602-258-246-5. 
  2. ^ a b Hasan Djafar (1978). Girīndrawarddhana: beberapa masalah Majapahit akhir. Jakarta: Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda. ISBN 978-602-258-246-5. 

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

  • Babad Majapahit dan Para Wali (Jilid 3). 1989. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
  • Babad Tanah Jawi. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
  • H.J. de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • J.L.A. Brandes, 1897, Pararaton (Ken Arok) of het boek der Koningen van Tumapěl en van Majapahit. Uitgegeven en toegelicht. Batavia: Albrecht; 's Hage: Nijhoff. VBG 49.1.
  • Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (terbitan ulang 1968). Yogyakarta: LKIS


Didahului oleh:
Dyah Suraprabhawa
Raja Majapahit
1478—1527
Diteruskan oleh:
-