Bandar, Batang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bandar
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenBatang
Pemerintahan
 • CamatDrs. HARYONO, MM
Populasi
 • Total72.451 jiwa
Kode pos
51254
Kode Kemendagri33.25.02 Edit the value on Wikidata
Luas73,33 km²
Desa/kelurahan17 Desa

Bandar (Jawa: ꦧꦤ꧀ꦢꦂ, translit. Bandar) adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini berjarak sekitar 18 Km dari ibu kota Kabupaten Batang ke arah tenggara. Pusat pemerintahannya berada di Desa Bandar.

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara Kecamatan Tulis
Timur Kecamatan Blado, Kecamatan Pecalungan dan Kecamatan Subah
Selatan Kabupaten Pekalongan
Barat Kecamatan Wonotunggal dan Kabupaten Pekalongan

Desa/kelurahan[sunting | sunting sumber]

Asal Usul[sunting | sunting sumber]

Bandar adalah salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten batang. Pada awalnya, Bandar hanyalah sebuah daerah yang dijadikan distrik telekomunikasi oleh pemerintah kolonial Belanda dengan nama Bandar-Sedayu. Bekas kantor dan stasiun telekomunikasi milik pemerintahan kolonial itu kini menjadi aset PT TELKOM Indonesia.

Bandar merupakan penghasil utama pete, cengkeh dan pisang. Setiap hari pasaran pahing dan wage pasar Bandar banyak dikunjungi masyarakat yang akan berbelanja. Pada hari pasaran Pahing dan Wage pula banyak tengkulak hasil bumi dari Bandung, Jakarta, Semarang dan Surabaya yang memborong hasil bumi dari wilayah di sekitar Bandar.

Bandar merupakan daerah pusat perekonomian terbesar kedua di Kabupaten Batang setelah limpung. Pasar Bandar sendiri menjadi pasar terluas di Kabupaten Batang.

Salah stau objek wisata yang terkenal saat ini adalah Kolam Renang Bandar, dengan menggunakan air alam yang tersembul langsung dari mata airnya, membuat kolam renang ini sangat jernih dengan airnya yang begitu dingin, dan terbebas dari kaporit.

Ciri kesenian tradisional yang banyak dijumpai di Kecamatan Bandar adalah Rebana, Kuda Lumping, Kuntulan dan Kesenian Dengklung yang pernah pentas di TMII Jakarta. Adat istiadat atau budaya yang menonjol adalah Peringatan Legenanan disetiap desa dan biasanya pada bulan itu masing - masing desa mengadakan Pagelaran Wayang Kulit atau wayang Golek semalam suntuk. Peringatan Legenan itu dilaksanakan setiap setahun sekali sebagai wujud rasa syukur pada Allah SWT atas Limpahan rahmat-Nya.

Referensi[sunting | sunting sumber]