Antraks di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Di Indonesia, antraks dilaporkan pertama kali pada tahun 1832 di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Sejak saat itu mulai diberitakan kejadian antraks di beberapa wilayah Indonesia.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Dirangkum dari sumber berikut: [1][2]

1832[sunting | sunting sumber]

Kasus antraks pertama kali dilaporkan di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

1884[sunting | sunting sumber]

Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks terjadi di Teluk Betung, Lampung.

1885[sunting | sunting sumber]

Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks terjadi di Kabupaten Buleleng, Bali dan Palembang, Sumatera Selatan.

1906-1957[sunting | sunting sumber]

Menurut Sukmanegara, epidemi penyakit antraks pada sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi terjadi di berbagai daerah di Indonesia yaitu Jambi, Palembang, Padang, Bengkulu, Bukittinggi, Sibolga, Medan, Jakarta, Purwakarta, Bogor, Priangan, Banten, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Surakarta, Banyumas, Madiun, Bojonegoro, Sumbawa, Sumba, Lombok, Flores, Bali, Sulawesi Selatan, Menado, Donggala, dan Palu.

1975[sunting | sunting sumber]

Wabah antraks terjadi di enam daerah yaitu Jambi, Jawa Barat, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Derajat sakit tertinggi di Jambi, dan terendah di Jawa Barat.

1976[sunting | sunting sumber]

Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks terjadi di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

1980[sunting | sunting sumber]

Antraks menginfeksi sapi, kuda, kerbau, babi, anjing, dan manusia di daerah Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Hewan yang paling banyak diserang adalah kuda. Tedapat 14 orang menderita karbunkel kulit, tanpa kematian.

1985[sunting | sunting sumber]

Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks terjadi di Kabupaten Paniai, Papua. Ribuan ternak babi mati dan 11 orang meninggal karena makan daging babi.

1990[sunting | sunting sumber]

Wabah antraks di Jawa Tengah pertama kali dilaporkan tahun 1990 di Kabupaten Klaten, dua ekor sapi dilaporkan mati mendadak dengan diagnosis terinfeksi antraks. Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks terjadi di Jawa Tengah di Kabupaten Semarang, Boyolali, dan Demak dengan total kasus 48 orang, tanpa kematian. Peternakan sapi perah di Kabupaten Semarang dan Boyolali menewaskan ratusan sapi.

1992[sunting | sunting sumber]

Antraks menyerang desa Kopen, kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, tercatat 25 orang dinyatakan positif terjangkit antraks, 18 orang diantaranya meninggal dunia.

1994[sunting | sunting sumber]

Laporan serangan antraks terjadi di Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat.

1996[sunting | sunting sumber]

Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks terjadi di Kabupaten Purwakarta, Subang, Bekasi, dan Karawang. Kasus antraks di Purwakarta tercatat mulai tahun:

  • 1962 di Desa Cibungur
  • 1963 di Desa Cirende
  • 1965 di Desa Cikadu
  • 1966 di Desa Cibukamanah
  • 1975 di Desa Cibukamanah
  • 1983 di Desa Cibukamanah
  • 1985 di Desa Cirende dan Desa Cirangkong
  • 1999-2000 di Desa Cipayungsari

1997[sunting | sunting sumber]

Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks terjadi di Kabupaten Purwakarta, Subang, dan Karawang. Pada bulan April 1997, Indonesia dikejutkan adanya berita kasus antraks pada sapi yang terjadi di Victoria dan New South Wales (Australia), sebab sebagian besar daging sapi di kota besar berasal dari Australia.

1999[sunting | sunting sumber]

Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks terjadi di Kabupaten Purwakarta, Subang, dan Bekasi.

2000[sunting | sunting sumber]

Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks terjadi di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat dengan 32 kasus orang. Infeksi terjadi di peternakan burung unta.

2001[sunting | sunting sumber]

Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks terjadi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan 22 penderita dengan 2 kematian. Kejadian terjadi di kecamatan Citeureup, Cibinong, dan Babakan Madang.

2003[sunting | sunting sumber]

Kasus antraks pada hewan tercatat di Kabupaten dan Kota Bogor (Jawa Barat), Kabupaten Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta), Kabupaten Bima (Nusa Tenggara Barat), dan Kabupaten Sikka (Nusa Tenggara Timur).

2005[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2005 telah terjadi kasus antraks di desa Citaringgul, kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor yang menjadi berita nasional dan bahkan mendapat perhatian besar dari Presiden Republik Indonesia. Jumlah orang yang mati akibat makan daging kambing sakit adalah 6 orang.

2011[sunting | sunting sumber]

  • Pada bulan Februari 2011, terjadi wabah antraks di Dukuh Karangmojo, desa Tangkisan, kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali, dengan didapatkan satu ekor sapi karena antraks. Masyarakat tidak mengetahui bahwa sapi mati karena antraks, sehingga sapi disembelih kemudian daging dikonsumsi masyarakat. Enam warga terkena infeksi dan dilarikan ke rumah sakit.
  • Pada bulan Mei 2011, terjadi wabah antraks di desa Geneng, Kabupaten Sragen. Enam orang yang kontak langsung dengan sapi sakit terkena infeksi.
  • Pada bulan yang sama, terdapat dugaan antraks kulit di Dukuh Rejosari, desa Brojol, kecamatan Miri, Kabupaten Sragen. Ditemukan 3 warga terkena infeksi.

2013[sunting | sunting sumber]

Kasus antraks terjadi di Kabupaten Takalar, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

2014[sunting | sunting sumber]

Kasus antraks terjadi di di Kabupaten Maros, desa Kupa, kecamatan Mallusetasi dan kecamatan Libureng di Kabupaten Barru, Kabupaten Bone, dan Kabupaten Blitar di Jawa Timur.[3]

2016[sunting | sunting sumber]

  • Kasus antraks tahun 2016 muncul di desa Malimpung, kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Tercatat, 43 ekor sapi mati dengan sembilan ekor di antaranya positif terjangkit antraks.[4]
  • Pada bulan Maret-April 2016, kasus antraks terdeteksi di Kabupaten Gorontalo. Dilaporkan ada 30 ekor sapi mati tetapi bangkainya tidak ditemukan karena sudah dijual ke pasar.

2017

  • Pada akhir tahun lalu hingga awal Januari 2017, Kemenkes mendapatkan 16 laporan kasus antraks kulit di Kulonprogo dan satu orang dinyatakan suspect antraks di Sleman, Yogyakarta.[5]

Daerah endemis[sunting | sunting sumber]

Menurut Kementerian Pertanian, saat ini ada 11 provinsi di Indonesia yang telah tertular antraks dan merupakan daerah endemis:[6]

Pengendalian penyakit[sunting | sunting sumber]

Pada setiap kejadian atau dugaan antraks pada hewan harus segera dilaporkan kepada Dokter Hewan yang berwenang dan Dinas Peternakan setempat. Hal ini karena dampaknya bisa sangat luas apabila dilakukan penanganan yang salah. Untuk memutus rantai penularan, bangkai ternak tersangka antraks dan semua material yang diduga tercemar misalnya karena pernah bersinggungan dengan hewan harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur dalam-dalam serta bagian atas dari lubang kubur dilapisi batu kapur secukupnya. Area penguburan hendaknya diberi tanda supaya semua pengembalaan hewan di area sekitar menjauhi lokasi penguburan.[7]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Redhono D, Sumandjar T, Guntur A, Prevalensi Antraks di Indonesia, Fakultas Kedokteran UNS, Surakarta
  2. ^ Rahayu, A. Anthrax di Indonesia, Fakultas Kedokteran, e-lib Universitas Widya Kusuma Surabaya
  3. ^ "Wabah Antraks Merambah Wilayah Baru". Republika. 2016. Diakses tanggal 28 Desember 2016. 
  4. ^ "Penyakit Antraks Serang Ternak dan Warga di Malimpung". Kompas. 2016. Diakses tanggal 28 Desember 2016. 
  5. ^ "Kemenkes: Kasus Antraks di Yogyakarta Sudah Terkendali". Tempo Nasional (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-09-17. 
  6. ^ "11 Provinsi di Indonesia Tertular Wabah Antraks". MetroTV News. 2016. Diakses tanggal 28 Desember 2016. 
  7. ^ Dharmojono. 2000. Anthrax, Penyakit Ternak Mengejutkan Tetapi Tidak Mengherankan. Infovet Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan; Ed 67, Pebruari 2000.