Peri

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Seorang Peri hutan yang bertubuh mungil menyelamatkan sebutir telur. Karya Elsa Beskow
Gambar wanita cantik bersayap oleh Sophie Anderson

Peri adalah istilah yang sering digunakan pada cerita rakyat, dongeng, fiksi untuk menggambarkan mahluk yang memiliki kekuatan gaib yang kadang kala turut campur dalam urusan-urusan manusia[1][2]. Di Indonesia istilah peri sering digunakan dalam penerjemahan tokoh yang menggambarkan elf atau fairy (istilah dalam bahasa Inggris) dalam cerita fiksi maupun dongeng-dongeng dari Eropa. Pada kisah fiksi modern karakter Peri sering dipinjam dari versi aslinya dan digunakan dalam kisah fiksi fantasi masa kini dengan berbagai variasi penggambaran tergantung oleh penulis atau penciptanya.

Asal-usul nama[sunting | sunting sumber]

Peri, 1875, lukisa Kalighat

Kata peri berasal dari bahasa Persia: پری Pari, yaitu malaikat yang jatuh.

Dalam bahasa Inggris awalnya nama fairy berasal dari kata elvish sejak sebelum tahun 1000 M[1] yang berarti bangsa peri. Dalam cerita-cerita rakyat mahluk gaib ini adalah ras yang sakti. Menurut akar kata Indo-Eropa kemungkinan namanya berasal dari albiz yang walaupun asal-usulnya tidak diketahui, merupakan kata turunan dari albho yang berarti "putih". Kata-kata inipun menjadi populer di antara orang kulit putih sehingga kini, di zaman modern, masih bisa ditemui keberadaannya sebagai nama panggilan dan nama keluarga seperti Ælfræd "Penasehat-peri" (Alfred), Ælfwine "Teman-peri" (Alvin), Ælfric "Pemerintah peri" (Eldridge), dan juga nama-nama wanita seperti Ælfflæd "kecantikan-peri"[3] . Nama peri juga dikaitkan dengan rambut yang saling terkait yang dipercaya membawa ketidak-beruntungan apabila kaitan tersebut dilepaskan [4].

Penggambaran Peri[sunting | sunting sumber]

Wujud dan penampakan[sunting | sunting sumber]

Peri sering diceritakan memiliki bentuk mirip dengan manusia[1], seringkali juga dipercaya merupakan perupaan roh atau jin yang menjelma sebagai perempuan cantik yang senang mengganggu[5][6]. Di Eropa (Inggris) sekitar tahun 1592 oleh Shakespeare peri digambarkan sebagai siluman (sprite) atau menjelma sebagai wanita cantik bersayap (fairy)[1][2][3], di negara-negara Skandinavia dan menurut cerita-cerita kuno dari Eropa Utara penamaan peri juga diberikan pada mahluk-mahluk halus yang digambarkan sebagai mahluk metafisik, gaib atau jelmaan dari alam.

Peri juga sering diidentifikasikan sebagai mahluk-mahluk mitologis. Dalam penggambarannya cerita-cerita rakyat yang menggunakan istilah "peri" seringkali berbeda definisi tentang apa itu peri, di satu pihak nama ini seringkali dihubungkan dengan mahluk gaib seperti siluman namun pada kali lain peri digambarkan sebagai mahluk yang lebih nyata.

Wujud dan penampakan peri ini bermacam-macam, kali waktu digambarkan bahwa mereka memiliki tinggi seperti rata-rata manusia biasa dan kali lain digambarkan bahwa mereka ini berupa mahluk-mahluk kecil. Di Eropa peri dalam wujud "besar" dipercaya telah "dibicarakan" sejak sebelum tahun 1000 M[1], sedangkan wujud "kecil"nya mengikuti kemudian dengan membentuk rupanya sendiri berupa mahluk kecil baik yang bersayap maupun tidak, dan dipercaya muncul pada sekitar tahun 1250 - 1300M sebagai istilah turunan (dari bahasa Swedia alf, elfva)[1] yang kemudian diterjemahkan sebagai fairy (Inggris) yang berarti mahluk yang menyerupai manusia kecil[2]. Kadang peri digambarkan memiliki telinga panjang dan lancip, dan memiliki rambut yang panjang. Peri juga seringkali digambarkan dapat berubah wujud, atau mengambil wujud wanita cantik yang tiba-tiba bisa menghilang[7].

Peri baik dan peri jahat[sunting | sunting sumber]

Peri dapat digambarkan sebagai baik (membantu manusia) atau jahat. Dalam kisah dongeng dan cerita cinta peri digambarkan sering muncul sebagai mahluk penolong, mungkin cerita yang paling terkenal dalam penggambaran peri adalah cerita Cinderella yang pada saat kesulitan dibantu oleh ibu peri, ada juga cerita ikan mas[8] dari Jawa Barat yang tengah membantu anak baik hati yang sedang kesulitan, peri dapat mengambil perwujudan binatang seperti lutung saat menampakan diri pada Putri Purbasari[9]. Peri lain yang digambarkan baik hati adalah peri rumah yang tinggal bersama manusia. Dalam kisah "Tukang Sepatu dan Peri-Peri Kecil", kehidupan keluarga tukang sepatu terangkat karena dibantu pengerjaan sepatunya oleh peri-peri kecil yang keluar pada malam hari dan membuat sepatu. Pada kisah lain di Devon, seluruh desa dapat bermalas-malasan karena pekerjaan penjahit, tukang roti, hingga pembuat anggur dikerjakan oleh peri-peri kecil ini[10]. Namun tidak semua peri rumah digambarkan keluar pada malam hari, ada juga peri rumah yang keluar pada siang hari. Dalam salah satu kisah anak-anak dunia Childcraft, penulis Swedia menggambarkan peri rumah kecil yang keluar dari pintu kecilnya dan dengan kekuatan gaibnya mengecilkan tubuh anak penghuni rumah, yang kesepian karena ditinggal orang tuanya bekerja, untuk ikut bermain bersamanya[11].

Sementara peri jahat digambarkan sebagai penyebab tersesatnya seseorang dalam perjalanannya[1]. Peri juga seringkali digambarkan sebagai nakal (jahil dan iseng), entah kenakalan yang membawa kebaikan ataupun keburukan. Di Eropa anak kecil yang nakal dan sulit dikendalikan seringkali digambarkan sebagai "persis seperti peri kecil"[1]. Pada cerita dongeng Peter Pan peri kecilnya Tinkerbell digambarkan sebagai tokoh yang baik kepada Peter Pan dan jahat kepada Wendy karena cemburu.

Tempat tinggal[sunting | sunting sumber]

Penggambaran asal usul peri seringkali dihubungkan dengan sejenis/ kelas mahluk gaib seperti siluman, yang seringkali berasal dari daerah-daerah pegunungan[1]. Namun dalam perkembangannya peri digambarkan sebagai mahluk kecil yang dapat tidur diatas bunga, tinggal di hutan dan menjaga pohon-pohon sehingga disebut peri hutan, ataupun tinggal di dalam rumah bersama dengan manusia seperti tokoh peri rumah yang digambarkan dalam kisah Harry Potter.

Dalam legenda[sunting | sunting sumber]

Ciri umum dari peri adalah kemampuannya dalam menggunakan sihir untuk mengubah wujud. Emas peri sangat tidak bisa diandalkan, karena dia berwujud emas ketika digunakan sebagai pembayaran namun kemudian berubah menjadi daun, semak, kue, dan berbagai benda tak berguna lainnya.[12]

Ada juga legenda mengenai pemakaman peri. William Blake mengklaim pernah menyaksikannya. Allan Cunningham dalam bukunya, Lives of Eminent British Painters, mencatat klaim William Blake tersebut. Diceritakan bahwa Blake suatu malam di kebunnya melihat makhluk-makhluk seukuran belalang dengan warna hijau dan abu-abu, meletakkan sesosok tubuh di sebuah daun mawar dan menguburnya dengan nyanyian.

Peri kadang-kadang dipercaya sebagai makhluk yang usil pada manusia. Mereka membuat kusut rambut orang yang sedang tidur, mencuri benda-benda kecil, dan menyesatkan peneglana. Tuberkulosis juga kadang-kadang disebut disebabkan oleh peri, yang memaksa pria dan wanita muda untuk menari setiap malam.[13] Hewan (sapi, babi, bebek, dll) yang ditunggangi oleh peri bisa mengalami kelumpuhan atau menderita penyakit misterius.

Penculikan[sunting | sunting sumber]

Dalam banyak legenda, peri diceritakan sering menculik bayi (dan meletakkan changeling sebagai gantinya), pria muda dan wanita muda. Penculikan ini bisa terjadi sementara waktu atau bisa juga selamanya. Dalam Balada dari abad ke-19, "Lady Isabel and the Elf-Knight", diceritakan bahwa Isabel dibawa pergi oleh ksatria peri. Untuk menyelamatkan dirinya, Isabel membunuh sang ksatria peri.[14] Sementara balada "Tam Lin" menceritakan tentang Tam Lin yang hidup di antara para peri padahal dia adalah seorang "ksatria bumi".[14] Dalam puisi Sir Orfeo, diceritakan bahwa istri Sir Orfeo diculik oleh raja peri. Sementara puisi Thomas the Rhymer bercerita tentang Thomas yang harus menghabiskan tujuh tahun di dunia peri sebelum berhasil kembali ke dunia manusia.[15] Sedangkan dalam cerita Oisín, tokoh utamanya diculik dan berada di dunia peri, ketika dia berniat kembali, ternyata di dunia manusia waktu telah berjalan selama tiga abad.[16]

Cukup banyak kisah mengenai peri dan changeling, yaitu sesosok makhluk yang dtinggalkan oleh peri sebagai pengganti atas anak manusia yang merek culik.[17] Orang dewasa juga bisa diculik oleh peri; seorang perempuan yang baru saja melahirkan biasanya rawan diculik peri.[18] Dalam beberapa cerita, seseorang bisa diculik peri jika memakan makanan peri, seperti Persefone dan Hades. Sementara keadaan orang diculik peri berbeda-beda menurut beberapa kisah, beberapa menceritakan bahwa tawanan peri hidup bahagia sementara beberapa yang lainnya selalu merindukan kerabat lama mereka.[19]

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Dalam cerita rakyat Skotlandia, peri dibagi menjadi Seelie Court, yaitu peri yang menguntungkan namun bisa berbahaya, dan Unseelie Court, peri yang jahat. Peri dari golongan Unseelie court sering mencari hiburan dengan cara melakukan sesuatu yang membahayakan bagi manusia.[20]

Pasukan peri merujuk pada para peri yang muncul dalam kelompok dan mungkin mendirikan pemukiman. Dengan definisi ini, peri biasanya dipahami dengan makna yang lebih luas, karena istilah ini juga bisa meliputi berbagai makhluk mistis yang terutama berasal dari Keltik; namun istilah ini bisa juga digunakan untuk menyebut makhluk yang serupa, msialnya Kurcaci atau Elf dari cerita rakyat Jerman. Lawannya adalah peri soliter, yakni peri tidak berhubungan dengan peri lainnya.[21]

Perlindungan[sunting | sunting sumber]

Ada beberapa benda yang dipercaya dapat menghindarkan dari gangguan peri. Yang paling terkenal adalah besi dingin sementara cara yang lainnya dianggap mengganggu bagi peri: memakai pakaian terbalik, mengalirkan air, bel (terutama bel gereja), tanaman St. John's wort, dan semanggi berdaun empat. Ada juga cerita yang saling bertentangan, seperti msialnya pohon Rowan yang dalam beberapa cerita adalah sakral untuk peri sementara dalam cerita lainnya merupakan benda perlindungan melawan peri. Dalam cerita rakyat Newfoundland, benda pelindung yang paling populer adalah roti. Roti diasosiasikan dengan rumah dan perapian, juga dengan industri dan pengendalian alam, sehingga kemudian dipercaya bahwa roti tidak disukai oleh peri.[22]

....dan oleh karena itu merupakan sebuah simbol kehidupan, roti adalah salah satu pelindung paling umum dalam menghadapi peri. Sebelum pergi menuju tempat yang dihuni peri, adalah biasa untuk menyiapkan roti kering dalam kantung.

—Briggs (1976) hlm. 41

[23]

Dalam sastra[sunting | sunting sumber]

"Prince Arthur and the Fairy Queen" oleh Johann Heinrich Füssli; adegan dari The Faerie Queene

Peri muncul dalam Roman abad pertengahan sebagai makhluk yang mungkin ditemui oleh ksatria pengelana. Peri wanita muncul di hadapan Sir Launfal dan meminta cintanya. Istri Sir Orfeo dibawa oleh Raja peri. Huon dari Bordeaux ditolong oleh Oberon raja peri.[24] Seiring berjalannya abad pertengahan, tokoh-tokoh peri ini berubah menjadi penyihir dan dukun.[25] Morgan le Fay, yang dari namanya memiliki kaitan dengan dunia peri, dalam Le Morte d'Arthur adalah seorang wanita yang memiliki kekuatan gaib.[26] Meskipun perannya menurun, tokoh peri tidak pernah hilang, di antaranya ada cerita peri Sir Gawain and the Green Knight.[25] Edmund Spenser menampilkan peri dalam The Faerie Queene.[27] Dalam banyak cerita fiksi, peri sering dicampuradukkan dengan nimfa;[28] Sementara dalam karya lainnya, (contohnya Lamia), peri dianggap menggantikan peran makhluk dari masa klasik. Penyair dan biarawan abad ke-15 John Lydgate menulis bahwa Raja Arthur dimahkotai di "tanah peri", dan mayatnya diambil oleh empat ratu peri ke Avalon, tempat mayatnya berbaring d bawah "bukit peri", sampai dia dibutuhkan lagi.[29]

Study for The Quarrel of Oberon and Titania oleh Noel Paton: fairies in Shakespeare

Peri tampil sebagai tokoh penting dalam A Midsummer's Night Dream karya William Shakespeare, yang berlatar di daerah berhutan dan Fairyland, di bawah cahaya bulan,[30] dan gangguan alam yang disebabkan oleh perselisihan para peri menciptakan ketegangan yang mendasari plot dan menunjukkan tindakan karakter.

Sastrawan yang sezaman dengan Shakespeare, Michael Drayton, menampilkan peri dalam ceritanya, Nimphidia. Peri juga muncul dalam The Rape of the Lock karangan Alexander Pope. Madame d'Aulnoy menciptakan istilah contes de fée ("kisah peri", di Indonesia dikenal sebagai dongeng).[31] Pada pertengahan 1600-an, muncul gaya sastra yang disebut précieuses, sementara kisah-kisah yang diceritakan dengan précieuses meliputi banyak peri, peri kurang umum di negara lain; Grimm bersaudara memasukkan peri dalam edisi pertama cerita mereka, namun mereka berpendapat bahwa peri bukan asli dari Jerman sehingga mereka mengubahnya pada edisi kedua dengan mengganti tiap kata "Fee" (peri) dengan ahli sihir atau wanita bijak.[32] J. R. R. Tolkien menjelaskan bahwa kisah-kisah ini seperti ini berlatar di negeri peri.[33]

Peri dalam sastra memperoleh nyawa baru dengan munculnya Romantisisme. Penulis seperti Sir Walter Scott dan James Hogg terinspirasi oleh cerita rakyat yang menampilkan peri, misalnya Balada Border. Pada masa ini, cerita peri mengalami peningkatan.[34] Periode ini juga ditandai dengan bangkitnya kembali tema-tema fantasi lama, seperti buku-buku Narnia karangan C.S. Lewis, yang menampilkan berbagai makhluk kuno seperti faun dan driad, dan mencampurkan mereka dengan wanita tua, raksasa, dan berbagai makhluk dari cerita rakyat.[35] Peri bunga dari masa Victoria dipopulerkan sebagian oleh Queen Mary, serta oleh penyair dan ilustrator Britania Cicely Mary Barker yang menulis delapan buku yang diterbitkan pada 1923 sampai 1948. Semakin lama, peri digambarkan semakin cantik dan ukurannya semakin kecil.[36] Andrew Lang, mengeluhkan tentang "para peri kebun dan bunga apel" dalam kata pengantar The Lilac Fairy Book, dia berpendapat bahwa "Peri-peri ini mencoba melucu dan gagal, atau mereka mencoba menggurui dan berhasil."[37]

Peri muncul dalam cerita Peter and Wendy karangan J. M. Barrie yang diterbitkan pada 1911. Dalam novel tersebut, tokoh peri yang bernama Tinker Bell cukup populer dan menjadi ikon bahkan sampai sekarang.[38]

Dalam seni[sunting | sunting sumber]

Penggambaran peri banyak muncul sebagai ilustrasi, misalnya dalam buku dongeneg dan seni patung. Beberapa seniman terkenal akan penggambqran mereka tentang peri, termasuk di antaranya adalah Cicely Mary Barker, Arthur Rackham, Brian Froud, Alan Lee, Amy Brown, David Delamare, Meredith Dillman, Jasmine Becket-Griffith, Warwick Goble, Kylie InGold, Ida Rentoul Outhwaite, Myrea Pettit, Florence Harrison, Suza Scalora,[39] Nene Thomas, Gustave Doré, Rebecca Guay dan Greta James.

Era Victoria khususnya memiliki kekhasan dalam lukisan perinya. Pelukis Richard Dadd dari masa Victoria membuat lukisan peri dengan kesan sinis. Seniman lainnya yang menggambarkan peri adalah John Atkinson Grimshaw, Joseph Noel Paton, John Anster Fitzgerald dan Daniel Maclise.[40] Sedangkan pada masa Renaisans, daya tarik pada peri terutama dipicu oleh penerbitan foto-foto Peri Cottingley pada tahun 1917 dan sejumlah seniman juga melukis peri.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i (Inggris) Dictionary.com: Elf
  2. ^ a b c (Inggris) Dictionary.com: Fairy
  3. ^ a b (Inggris) Etymology Online:Elf
  4. ^ (Inggris) Dambil dari glosari Robert Nares tentang Shakespeare pada tahun 1592
  5. ^ (Indonesia) Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring
  6. ^ (Indonesia) Suara Merdeka: Cerita Rakyat Pintu Ke Kamar Multikultural
  7. ^ (Indonesia) Made Taro, Bali Post: Peri-peri Kecil di Devon
  8. ^ (Indonesia) Dongeng dan Legenda Indonesia
  9. ^ (Indonesia) Bukukita.com: Promo Buku Anak-Anak Cerita Rakyat (Putri Purbasari)
  10. ^ (Indonesia) Made Taro, Bali Post: Peri-peri Kecil di Devon
  11. ^ (Inggris) Childcraft The How and Why Library
  12. ^ Lenihan (2004) hlm. 109–10.
  13. ^ Briggs (1976) hlm. 80.
  14. ^ a b Child, Francis The English and Scottish Popular Ballads.
  15. ^ http://www.sacred-texts.com/neu/eng/child/ch037.htm
  16. ^ Briggs (1967) hlm. 104.
  17. ^ Silver, Carole B. (1999) Strange and Secret Peoples: Fairies and Victorian Consciousness. Oxford University Press. hlm. 47 ISBN 0-19-512199-6.
  18. ^ Silver (1999) hlm. 167.
  19. ^ Yeats (1988) hlm. 47.
  20. ^ Froud, Brian and Lee, Alan (1978) Faeries. New York, Peacock Press ISBN 0-553-01159-6.
  21. ^ Briggs (1976) "Traffic with fairies" and "Trooping fairies" hlm. 409-12.
  22. ^ Evans-Wentz (1990).
  23. ^ Briggs (1976) hlm. 41.
  24. ^ Lewis (1994) hlm. 129–30.
  25. ^ a b Briggs (1976) "Fairies in medieval romances" hlm. 132.
  26. ^ Briggs (1976) "Morgan Le Fay" hlm. 303.
  27. ^ Briggs (1976) "Faerie Queen", hlm. 130.
  28. ^ Briggs (1967) hlm. 174.
  29. ^ The Illustrated Encyclopedia of Fairies, Anna Franklin, Sterling Publishing Company, 2004, hlm. 18.
  30. ^ Shakespeare, William (1979). In Harold F. Brooks. The Arden Shakespeare "A Midsummer Nights Dream". Methuen & Co. Ltd. cxxv. ISBN 0415026997. 
  31. ^ Zipes, Jack (2000) The Great Fairy Tale Tradition: From Straparola and Basile to the Brothers Grimm. W. W. Norton. . 858 ISBN 0-393-97636-X.
  32. ^ Tatar, Maria (2003) The Hard Facts of the Grimms' Fairy Tales. Princeton University Press. hlm. 31 ISBN 0-691-06722-8.
  33. ^ Tolkien, J. R. R. "On Fairy-Stories", The Tolkien Reader, hlm. 10–11.
  34. ^ Briggs, (1967) hlm. 165–7.
  35. ^ Briggs (1967) hlm. 209.
  36. ^ "Lewis hlm. 129-130".
  37. ^ Lang, Andrew Preface The Lilac Fairy Book.
  38. ^ J. M. Barrie, Peter Pan in Kensington Gardens as well Peter and Wendy, Oxford Press, 1999, hlm. 132.
  39. ^ David Gates (November 29, 1999). "Nothing Here But Kid Stuff". Newsweek. Diakses 2009-08-19. 
  40. ^ Windling, Terri, "Victorian Fairy Paintings".

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

  • D. L. Ashliman, Fairy Lore: A Handbook (Greenwood, 2006)
  • Brian Froud dan Alan Lee, Faeries, (Peacock Press/Bantam, New York, 1978)
  • Ronan Coghlan Handbook of Fairies (Capall Bann, 2002)
  • Lizanne Henderson dan Edward J. Cowan, Scottish Fairy Belief: A History (Edinburgh, 2001; 2007)
  • C. S. Lewis, The Discarded File: An Introduction to Medieval and Renaissance Literature (1964)
  • Patricia Lysaght, The Banshee: the Irish Supernatural Death Messenger (Glendale Press, Dublin, 1986)
  • Peter Narvaez, The Good People, New Fairylore Essays (Garland, New York, 1991)
  • Eva Pocs, Fairies and Witches at the boundary of south-eastern and central Europe FFC no 243 (Helsinki, 1989)
  • Joseph Ritson, Fairy Tales, Now First Collected: To which are prefixed two dissertations: 1. On Pygmies. 2. On Fairies, London, 1831
  • Diane Purkiss, Troublesome Things: A History of Fairies and Fairy Stories (Allen Lane, 2000)
  • Tomkinson, John L. Haunted Greece: Nymphs, Vampires and other Exotika, (Anagnosis, 2004) ISBN 960-88087-0-7

Pranala luar[sunting | sunting sumber]