Fiksi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Fiksi adalah Prosa naratif yang bersifat imajiner, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia.[1]

Kebenaran dalam sebuah dunia fiksi adalah keyakinan yang sesuai dengan pandangan pengarang terhadap masalah hidup dan kehidupan. Kebenaran dalam karya fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi hukum, moral, agama, logika, dan sebagainya.[1] Sesuatu yang tidak mungkin terjadi bahkan dapat terjadi di dunia nyata dan benar di dunia fiksi.[1] Misalnya seorang perempuan yang membunuh seorang laki-laki yang memperkosanya tetapi ia dinyatakan bebas dan tidak bersalah atas kasus menghilangkannya nyawa seseorang-menurut hukum dunia nyata ia harus tetap di hukum.[1] Sebuah karya sastra haruslah memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik.[1]

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika membaca sebuah karya sastra.[1] Unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri, tetapi mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra.[1]

Jenis karya fiksi[sunting | sunting sumber]

Novel[sunting | sunting sumber]

Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang yang tertulis dan naratif . Umumnya sebuah novel bercerita tentang tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut.[2] Kata novel berasal dari bahasa Italia, novella yang berarti “sebuah kisah, sepotong berita” dan novel memiliki cerita yang lebih kompleks dari cerpen.[1]

  • Ciri-ciri Novel :

Ciri sebuah novel adalah tidak dibaca sekali duduk, plot diarahkan pada insiden atau peristiwa jamak,watak tokoh dikembangkan secara penuh, dimensi ruang dan waktu yang lebih meluas, cerita lebih luas dan mencapai keutuhan secara inklusi.[3]

Cerpen[sunting | sunting sumber]

Cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktf yang cenderung padat dan langsung pada tujuannya. Cerpen sangatlah mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema bahasa, dan insight secara luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang.[2]

  • Ciri-ciri Cerpen :

Ciri sebuah cerpen dapat dibaca sekali duduk, Plot diarahkan hanya pada sebuah insiden atau peristiwa tunggal, watak tokoh tidak dikembangkan secara penuh apabila tokoh itu baik maka hanya kebaikan saja yang diceritakan sedangkan sifat lainya tidak, dimensi ruang dan waktu terbatas,cerita lebih padat,memusat, dan mendalam, mencapai keutuhan secara eksklusi (terpisah atau khusus).[3]

Genre Fiksi[sunting | sunting sumber]

Meskipun sebuah karya tergolong imajiner tetapi ia memiliki golongan yang disebut Fiksi Non Fiksi (Nonfiction Fiction) Sebuah bentuk karya fiksi yang dasar ceritanya merupakan sebuah fakta.[1]

Yang termaksud kedalam Fksi Non fiksi adalah :

  • Science fiction, adalah fiksi yang dasar penulisannya fakta ilmu pengetahuan.[1] Sebagai contoh novel ini adalah 1984, karya George Orwell. [1]

Sejarah Perkembangan Karya Fiksi di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Pertama kali sebuah karya fiksi yang masuk ke Indonesia merupakan karya novel terjemahan,masa ini dinamakan Sastra Melayu Lama sekitar tahun 1870-an.[2] Pada tahun 1920 terbitlah karya sastra berupa prosa seperti novel, cerpen, drama dan lain sebagainya.[2] Angkatan ini dikenal dengan Angkatan Balai Pustaka, karya karya novelis Indonesia yang terkenal pada masa ini adalah Siti Nurbaya, Salah Asuhan, dan Si Cebol Merindukan Bulan.[2]

Pada masa berikutnya muncullah angkatan Pujangga Baru sebagai reaksi keras atas banyak sensor oleh Penerbit Balai Pustaka.[2] Karya-karya yang terkenal pada masa ini adalah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Belenggu dan Di bawah Lindungan Ka'bah.[2] Lalu muncullah Angkatan '45, angkatan ini lebih realistik dibanding angkatan sebelumnya. Sastrawan yang terkenal di masa ini adalah : Chairil Anwar, Idrus, dan Trisno Sumardjo.[2] Angkatan berikutnya adalah Angkatan 1950-1960.[2] Ciri karya sastra dari angkatan ini di dominasi oleh Cerpen dan Puisi.[2]Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis.[2] Karya yang terkenal pada masa ini adalah Mochtar Loebis, Ramadhan K.H, dan W.S. Rendra.[2]

Dan berikutnya datanglah Angkatan 1966-1970 yang karya sastranya menganut aliran surealis,arketipe dan absurd.[2] Sastrawan terkenal pada masa ini adalah : Taufik Ismail, Umar Kayam, dan Titis Basino. Kemudian pada dekade berikutnya karya sastra lebih di dominasi oleh roman, angkatan ini dinamakan angkatan 1980-1990.[2] Sastrawan terkenal pada zaman ini adalah Nh. Dini dan Pipiet Senja.[2] dan berikutnya adalah Angkatan Reformasi. Pada masa ini banyaknya karya sastra berupa Novel, Cerpen, dan Puisi yang bertemakan sosial dan politik.[2] Dan terakhir adalah Angkatan 2000-an. Novelis terkenal pada masa ini adalah Andrea Hirata[2]

Unsur Intrinsik[sunting | sunting sumber]

Tema[sunting | sunting sumber]

Tema adalah gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur sematis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan.[2] Tema sebuah karya sastra selalu berkaitan dengan makna kehidupan.[2] Dalam karyanya itulah pengarang menawarkan makna tertentu kehidupan, mengajak pembaca untuk melihat, merasakan, dan menghayati makna kehidupan tersebut dengan cara memandang permasalahan itu sebagaiman ia memandangnya.[2] Tema dibagi menjadi dua macam yakni :Tema mayor dan Tema Minor

Tema Mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar umum karya itu.[4] Sedangkan Tema Minor adalah tema yang tidak menonjol dan hanya berupa tema tambahan semata.[4]

Tingkatan tema[sunting | sunting sumber]

  1. Tema tingkat fisik, manusia sebagai molekul.[4] Tema karya sastra pada tingkat ini lebih banyak menyaran dan atau ditunjukkan oleh banyaknya aktivitas fisik daripada kejiwaan.[4] Contoh karya fiksi : Around the World in Eighty Days.[2]
  2. Tema tingkat organik, manusia sebagai protoplasma.[4] Tema karya sastra ini lebih banyak menyankut dan atau mempersoalkan masalah seksualitas.[4] Contoh karya fiksi: Jalan Tak Ada Ujung.[2]
  3. Tema tingkat sosial, manusia sebagai makhluk sosial.[4] Kehidupan bermasyarakat, yang merupakan tempat aksi-interaksinya manusia dengan sesama dan dengan lingkungan alam, mengandung banyak permasalahan, konflik, dan lain-lain yang menjadi objek pencarian tema.[4] Contoh karya fiksi : Para Priyayi.[2]
  4. Tema tingkat egoik, manusia sebagai individu.[4] Di samping sebagai makhluk sosial, manusia sekaligus juga sebagai makhluk individu yang senantiasa “menurut” pengakuan atas hak individualitasnya.[4] Dalam kedudukannya sebagai makhluk individu, manusia pun mempunyai banyak permasalahan dan konflik.[4] Contoh karya fiksi : Jalan Tak Ada Ujung.[2]
  5. Tema tingkat divine, manusia sebagai makhluk tingkat tinggi, yang belum tentu setiap manusia mengalami dan atau mencapainya.[4] Masalah yang menonjol dalam tema tingkat ini adalah masalah hubungan manusia dengan Sang Pencipta.[4] Contoh karya fiksi : Robohnya Surau Kami.[2]

Tokoh dan Penokohan[sunting | sunting sumber]

Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. [5] Karya sastra dari segi peranan atau tingkat pentingnya dibagi menjadi dua, yakni tokoh utama dan tokoh tambahan.[5]

Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting.[5] dalam pengambil peranan dalam karya sastra.[5] Sedangkan, tokoh tambahan ialah tokoh yang tidak selalu diceritakan dan terkadang juga tidak terlalu penting , namun beberapanya ada yang memiliki hubungan dengan tokoh utama.[5]

Berdasarkan perwatakan tokoh cerita dibagi menjadi dua, yakni Tokoh datar dan Tokoh bulat.[5]

Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalnya baik saja atau buruk saja.[5] Jadi, seorang tokoh yang jahat akan dari awal cerita akan menjadi jahat sampai akhir cerita.[5] Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemagannya. Jadi, ada perkembangan yang menjadi pada tokoh ini.[5]

Di lihat dari fungsi penampilan tokoh tokoh ada tokoh protagonis dan tokoh antagonis.[5]

Protagonis ialah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra Karen sifat-sifatnya.[5] Antagonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.[5]

Penokohan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh.[5] Ada beberapa cara menampilkan tokoh, seperti cara analitik (menampilkan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang.[5] Jadi pengarang meguraikan ciri-ciri tokoh secara langsung) Dan cara yang kedua adalah cara dramatik (menampilkan ciri tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian tokoh dalam sebuah cerita.[5]

Plot[sunting | sunting sumber]

Struktur Alur sebuah karya fiksi

Plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan peristiwa yang lain.[6] Sebuah karya fiksi, harus lah memiliki sebuah sifat Plot yang misterius atau suspense, yang menampilkan kejadian-kejadian yang mengandung konflik yang mampu menarik atau bahkan mencekam pembaca sehingga mendorong pembaca untuk menyelesaikan sebuah novel yang sedang dibacanya.[6]

Sebuah Plot harus memiliki :

  • Peristiwa

Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari satu keadaan ke keadaan yang lain. [7] Peristiwa sendiri dbedakan menjadi tiga jenis :

  1. Peristiwa Fungsional, adalah peristiwa-peristiwa yang menentukan dan atau mempengaruhi perkembangan plot.[7]
  2. Peristiwa Kaitan, adalah peristiwa-peristiwa yang berfungsi mengaikatkan peristiwa-peristiwa penting dalam pengurutan penyajian cerita.[7]
  3. Peristiwa Acuan, adalah peristiwa yang tidak secara langsung berpengaruh dan atau berhubungan dengan perkembangan plot, melainkan mengacu pada unsur-unsur lain, misalnya berhubungan dengan masalah perwatakan atau suasana yang melingkupi batin seorang tokoh.[7]
  • Konflik

Konflik adalah kejadian yang tergolong penting , merupakan sebuah unsur yang sangat diperlukan dalam pengembangkan plot.[7] Dan konflik dapat terjadi diantara:

  1. orang dengan orang lain.[7] Contohnya perkelahian, perbedaan pendapat, persaingan, dll.[7]
  2. orang dengan lingkungan.[7] Dapat berupa manusia berhadapan dengan kekuatan alam, seperti gunung meletus,gempa bumi, badai, banjir, dll.[7] Dapat juga antara manusia dengan masyakat di sekitarnya, atau bahkan dengan takdirnya.[7]
  3. Orang dengan dirinya sendiri.[7]
  4. Dapat berupa konflik batin, pergulatan dalam diri seseorang, bisa secara fisik, mental, emosi, ataupun moral.[7] Misalnya, ketika seseorang dihadapkan pada dua pilihan atau ketidakmampuan seseorang melakukan sesuatu karena kondisinya.[7]
  • Klimaks

Klimaks adalah saat sebuah konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat itu merupakan sebuah yang tidak dapat dihindari.[6]

Kaidah Plot[sunting | sunting sumber]

  1. Plausibilitas, menyarankan kepada hal-hal yang dapat dipercaya sesuai dengan logika cerita kepada pembaca atau harus adanya kausalitas yang benar.[8] Ciri- ciri :
  • Tokoh tokoh dan dunianya dapat diimajinasikan.[8]
  • Jika memilki kebenaran maka kebenaran hanya untuk dirinya sendiri.[8]
  • Deus ex machine, penggunaan cara-cara yang tampak dipaksakan sehingga kurang masuk akal.[8]
  1. Suspense, menyaran pada adanya perasaan semacam kurang pasti terhadap peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, khususnya yang menimpa tokoh yang menimpa tokoh yang diberi rasa simpati oleh pembaca.[8] Sehingga, mendorong, menggelitik, dan memotivasi pembaca utuk setia mengikuti cerita hingga akhir.[8]
  1. Surprise,adalah kejutan, sesuatu yang dikisahkan atau kejadian-kejadian yang ditampilkan menyimpang atau bahkan bertentangan dengan nilai nilai yang ada dengan harapan pembaca memperlambat atau mempercepat klimaks.[8]
  1. Kesatupaduan, seluruh aspek cerita berhubungan membentuk satu kesatuan yang utuh dan padu, khususnya peristiwa-peristiwa fungsional, kaitan, dan acuan, yang mengandung konflik.[8]

Latar[sunting | sunting sumber]

Latar adalah landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.[9]

Unsur-unsur latar dapat dibedakan menjadi tiga yakni : Latar Tempat, Latar Waktu, dan Latar Sosial.[7]

  • Latar Tempat adalah latar yang mengacu pada tempat atau lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi.[7] Misalnya perkotaan, pedesaan, di desa, di kota, di penjara, di rumah, dan sebagainya.[7]
  • Latar Waktu adalah latar yang mengacu pada waktu kapan terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi.[7] Dapat berupa jam, hari, tanggal, bulan, tahun, peristiwa sejarah, bahkan zaman tertentu yang melatar belakanginya.[7]
  • Latar Sosial adalah latar yang mengacu pada kondisi sosial masyarakat yang diceritakan dalam karya fiksi.[7] Seperti latar sosial bawah/rendah, latar sosial menengah, latar sosial tinggi, dan sebagainya.[7]

Fungsi Latar[sunting | sunting sumber]

Penggunaan istilah metafora menyaran pada suatu perbandingan yang mungkin berupa sifat keadaan, suasana ataupun sesuatu yang lain.[10] Secara prinsip, metafora merupakan cara memandang sesuatu yang lain.[10] Fungsi pertama Metafora adalah menyampaikan pengertian, dan pemahaman.[10] Metafora berkaitan erat dengan pengalaman hidup manusia baik bersifat fisik maupun budaya, dan tentu saja antara budaya bangsa yang satu dengan yang lai pastilah bereda, sehingga bentuk pengungkapannya akan berbeda meskipun memiliki pengertian yang sama.[10]

Atmosfer dalam cerita merupakan sebuah udara yang dihirup oleh pembaca ketika memasuki dunia rekaan atau dunia fiksi. Ia merupakan sebuah deskripsi tentang kondisi dan suasana yang dapat ditanggkap dan diimajinasikan oleh pembaca.[11] Atmosfer itu sendiri dapat ditimbulkan dengan pendeskripsian secar detil, irama tindakan, tingkat kejelasan dan pengungkapan berbagai peristiwa, kualitas dialog, dan bahasa yang digunakan.[11] Misalnya, deskripsi latar yang berupa jalan beraspal yang licin, sibuk, penuh kendaraan ke sana ke mari, suara bising mesin dan klakson, ditambah pengapnya udara bau bensin, adalah mencerminkan suasana kehidupan perkotaan.[1]

  • Latar sebagai Pengedepanan

Pengedepanan elemen latar dalam fiksi dapat berupa penonjolan waktu dan dapat pula berupa penonjolan tempat saja.[11] Dalam banyak fiksi, waktu terjadinya peristiwa atau action tertentu adalah sangat penting, misalnya desa geger tahun Oktober 1965.[11] Karya-karya fiksi yang mengedepankan latar ruang atau tempat biasanya diklasifikasikan sebagai contoh-contoh fiksi yang mengangkat warna lokal atau regionalisme.[11] Pengarang-pengarang yang berasal dari etnik tertentu sering berupaya mengamati dan menampilkan sejumlah efek sebuah latar tempat (geografis) tertentu yang sangat bermakna, baik latar yang bersifat fisik netral maupun yang spiritual terhadap tokoh.[11]

Sudut Pandang[sunting | sunting sumber]

Sudut Pandang merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.[9]

Sudut Pandang dibedakan menjadi dua jenis, yakni :

  • Sudut pandang orang pertama

Sebuah cerita disampaikan oleh seorang tokoh dalam cerita maka cerita disampaikan oleh aku/saya.[7]

  1. jika si tokoh tersebut adalah tokoh utama, maka sudut pandangnya adalah orang pertama protagonis.[7]
  2. jika si tokoh tersebut adalah bukan tokoh utama, maka sudut pandangnya adalah orang pertama pengamat (observer).[7]
  • Sudut pandang orang ketiga

Cerita disampaikan bukan oleh tokoh yang ada dalam cerita, tetapi oleh penulis yang berada di luar cerita. Tokoh cerita disebut sebagai dia/ia.[7]

  1. jika narator cerita menyampaikan pemikiran tokoh, maka sudut pandang cerita adalah third person omniscient/all knowing narrator (orang ketiga yang tahu segalanya).[7]
  2. jika narator hanya menceritakan/memberikan informasi sebatas yang bisa dilihat atau didengar (tidak mengungkapkan pemikiran), maka sudut pandang cerita adalah third person dramatic narrator.[7]

Amanat[sunting | sunting sumber]

Amanat atau moral ialah pemecahan yang diberikan pengarang terhadap persoalan di dalam sebuah karya sastra.[2] Amanat dibedakan menjadi makna niatan dan makna muatan.[2] Makna niatan ialah makna yang diniatkan oleh pengarang bagi karya yang ditulisnya.[2] Makna muatan ialah makna yang termuat dalam karya sastra tsb.[2]

  • Bentuk penyampaian moral

Langsung, yakni seorang pengarang menyampaikan pesan moral secara eksplisit dan seorang pembaca dapat dengan mudah memahami apa yang dimaksudkan pengarang.[1] Tetapi, hal ini hanyalah berlaku bagi pembaca pasif bukan pembaca aktif/kritis.[1] Karena seorang pembaca yang aktif/kritis mungkin akan menolak sebuah pesan moral yang dianggap benar oleh pengarang.[1]

Tidak Langsung, seorang pengarang akan menyampaikan pesan mora secara inplisit, terpadu secara keherensif dengan unsur-unsur cerita yang lain maka adanya kemungkinan perbedaan penafsiran antar pembaca sangatlah mungkin.[1] Tetapi karya yang seperti inilah yang menyebabkan karya sastra tidak dianggap ketinggalan, melewati batas waktu, dan kebangsaan.[1] Contoh : Hamlet.[1]

Unsur Ekstrinsik[sunting | sunting sumber]

Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom, tetapi selalu pasti berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan lingkungan pembaca sastra, serta kejiwaan mereka. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri, tetapi mempengaruhi bangunan atau system organisme karya sastra.[1] Unsur-unsur yang dimaksud antara lain adalah keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang kesemuanya itu akan mempengaruhi karya yang ditulisnya, unsur berikutnya adalah psikologi, baik yang berupa psikologi pengarang seperti ekonomi,politik, dan social juga akan mempengaruhi karya sastra.[1] Pandangan hidup suatu bangsa, berbagai karya seni yang lain, dan sebagainya.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x Burhan Nurgiyantoro (1995). Teori Pengkajian Fiksi. Gadjah Mada University Press. 
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac Ratih Mihardja (2012). Sastra Indonesia. Laskar Aksara. ISBN 978-602-9041-82-8. 
  3. ^ a b (Inggris) Kusmarwanti, M.Pd. Kajian Fiksi. 
  4. ^ a b c d e f g h i j k l m (Inggris)Shipley, Joseph T. (1962). Dictionary of Word Literary. Liftefield, Adam & Co. 
  5. ^ a b c d e f g h i j k l m n o (Indonesia) Kusmawarti, M.Pd. Materi 3 Tokoh Dalam Fiksi. 
  6. ^ a b c (Inggris)Stanton, Robert (1965). An Introduction to Fiction. Holt, Rinehart and Wiston. 
  7. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z (Indonesia) Ari Nurhayati (Juli 2004). Unsur-unsur dalam cerita fiksi. 
  8. ^ a b c d e f g h (Indonesia) Kusmarwanti, M.Pd. Alur dalam Fiksi. 
  9. ^ a b (Inggris)Abrams, M.H (1981). A Glosarry of Literary Terms. Holt, Rinehart and Winston. 
  10. ^ a b c d (Inggris)Lakoff, George; Mark Johnson (1980). Metphor We Live By. The Chicago University Press. 
  11. ^ a b c d e f (Indonesia) Kusmarwanti, M.Pd. Materi 4 Latar Dalam Fiksi.pdf.