Mitos

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Lukisan Penciptaan Adam di Kapel Sistina, Vatikan. Seperti kisah penciptaan Adam, suatu mitos dianggap sebagai kisah suci dan diyakini kebenarannya oleh komunitas penganutnya, namun belum tentu diyakini oleh komunitas lain yang memiliki mitologi yang berbeda.[1]

Mitos (bahasa Yunani: μῦθοςmythos) atau mite (bahasa Belanda: mythe) adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk di dalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Dalam pengertian yang lebih luas, mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional.[2][3][4] Pada umumnya mitos menceritakan terjadinya alam semesta, dunia dan para makhluk penghuninya, bentuk topografi, kisah para makhluk supranatural, dan sebagainya. Mitos dapat timbul sebagai catatan peristiwa sejarah yang terlalu dilebih-lebihkan, sebagai alegori atau personifikasi bagi fenomena alam, atau sebagai suatu penjelasan tentang ritual. Mereka disebarkan untuk menyampaikan pengalaman religius atau ideal, untuk membentuk model sifat-sifat tertentu, dan sebagai bahan ajaran dalam suatu komunitas.

Klasifikasi mitos Yunani terawal oleh Euhemerus, Plato (Phaedrus), dan Sallustius dikembangkan oleh para neoplatonis dan dikaji kembali oleh para mitografer zaman Renaisans seperti dalam Theologia mythologica (1532). Mitologi perbandingan abad ke-19 menafsirkan kembali mitos sebagai evolusi menuju ilmu (E. B. Tylor), "penyakit bahasa" (Max Müller), atau penafsiran ritual magis yang keliru (James Frazer). Penafsiran selanjutnya menolak pertentangan antara mitos dan sains. Lebih lanjut lagi, mitopeia seperti novel fantasi, manga, dan legenda urban, dengan berbagai mitos buatan yang dikenal sebagai fiksi, mendukung gagasan mitos sebagai praktik sosial yang terus terjadi.

Ciri khas[sunting | sunting sumber]

Pelaku utama yang diceritakan dalam mitos biasanya adalah para dewa, manusia, dan pahlawan supranatural.[5][6][7] Sebagai kisah suci, umumnya mitos didukung oleh penguasa atau imam/pendeta yang sangat erat dengan suatu agama atau ajaran kerohanian.[5] Dalam suatu masyarakat dimana mitos itu disebarkan, biasanya suatu mitos dianggap sebagai kisah yang benar-benar terjadi pada zaman purba.[8][6][9][10] Pada kenyataannya, banyak masyarakat yang memiliki dua kategori kisah tradisional: "kisah nyata" atau mitos, dan "kisah dongeng" atau fabel.[11][12] Umumnya mitos penciptaan berlatar pada masa awal dunia, saat dunia belum berbentuk seperti sekarang ini,[5] dan menjelaskan bagaimana dunia memperoleh bentuk seperti sekarang ini[13][14] serta bagaimana tradisi, lembaga dan tabu ditetapkan.[8][14]

Penggunaan istilah[sunting | sunting sumber]

Lukisan "Perjalanan ke Barat" sebagai dekorasi di Istana Musim Panas, Beijing, RRT. Perjalanan ke Barat merupakan suatu novel klasik Cina yang mengandung unsur kisah fiktif, namun bercampur dengan legenda, cerita rakyat, dan mitos masyarakat Cina.

Istilah "mitologi" dapat mengacu kepada kajian mengenai mitos atau suatu himpunan atau koleksi berbagai mitos.[15] [16] Sebagai contoh, mitologi lanskap adalah kajian mengenai pembentukan suatu bentang alam menurut mitos suatu bangsa, sementara mitologi Hittit adalah himpunan mitos-mitos bangsa Hittit. Dalam folkloristika, suatu "mitos" adalah kisah suci yang biasanya menjelaskan bagaimana dunia maupun manusia dapat terbentuk seperti sekarang ini,[17] "suatu kisah yang menguraikan pandangan fundamental dari suatu kebudayaan dengan menjelaskan aspek-aspek dunia alamiah dan menggambarkan praktek psikologis dan sosial serta pandangan ideal suatu masyarakat".[18] Banyak sarjana dalam bidang ilmu lainnya yang menggunakan istilah "mitos" dengan cara yang berbeda;[19][20][21] dalam pengertian yang lebih luas, istilah tersebut dapat mengacu kepada cerita tradisional[2][3][4] atau—dalam percakapan sehari-hari—suatu hal salah kaprah dalam masyarakat atau suatu entitas khayalan.[22]

Mitos erat kaitannya dengan legenda dan cerita rakyat. Mitos, legenda, dan cerita rakyat adalah cerita tradisional dalam jenis yang berbeda.[23] Tidak seperti mitos, cerita rakyat dapat berlatar kapan pun dan dimana pun, dan tidak harus dianggap nyata atau suci oleh masyarakat yang melestarikannya.[5] Sama halnya seperti mitos, legenda adalah kisah yang secara tradisional dianggap benar-benar terjadi, namun berlatar pada masa-masa yang lebih terkini, saat dunia sudah terbentuk seperti sekarang ini.[5] Legenda biasanya menceritakan manusia biasa sebagai pelaku utamanya, sementara mitos biasanya fokus kepada tokoh manusia super.[5]

Perbedaan antara mitos, legenda, dan cerita rakyat merupakan cara yang mudah dalam mengelompokkan cerita tradisonal.[24] Dalam banyak budaya, sulit untuk menarik garis lurus antara mitos dan legenda.[25][26] Daripada membagi kisah tradisional menjadi mitos, legenda, dan cerita rakyat, beberapa budaya membagi mereka menjadi dua kategori, yang satu langsung mengacu kepada cerita rakyat, yang lainnya mengkombinasikan mitos dan legenda.[27] Bahkan mitos dan cerita rakyat tidak sepenuhnya berbeda. Suatu kisah dapat dianggap nyata (dan menjadi mitos) dalam suatu masyarakat, namun dianggap tak nyata (dan menjadi cerita rakyat) dalam masyarakat lainnya.[28][1] Pada kenyataannya, saat suatu mitos kehilangan statusnya sebagai bagian dari suatu sistem religius, mitos seringkali memiliki sifat cerita rakyat yang lebih khas, dengan karakter dewa-dewi terdahulu yang diceritakan kembali sebagai manusia pahlawan, raksasa, dan peri.[6]

Mitos, legenda, dan cerita rakyat hanyalah sebagian kategori dari cerita tradisional. Kategori lainnya meliputi anekdot dan semacam kisah jenaka.[24] Sebaliknya, cerita tradisional adalah suatu kategori dari folklor, meliputi beberapa hal seperti sikap tubuh, busana adat, dan musik.[29]

Asal mula[sunting | sunting sumber]

Euhemerisme (penafsiran historis)[sunting | sunting sumber]

Suatu teori menyatakan bahwa mitos adalah catatan peristiwwa bersejarah yang dilebih-lebihkan.[30][31] Menurut teori ini, penutur cerita melebih-lebihkan peristiwa sejarah secara terus-menerus sampai akhirnya figur dalam sejarah tersebut memperoleh status setara dewa.[30][31] Misalnya, mungkin seseorang boleh berpendapat bahwa mitos dewa angin Aeolos berasal dari sejarah mengenai raja yang mengajarkan cara menggunakan layar dan menafsirkan arah angin kepada rakyatnya.[30] Herodotos (abad ke-5 SM) dan Prodikos mengklaim hal semacam ini.[31] Teori ini disebut "euhemerisme" menurut nama ahli mitologi terkenal, Euhemeros (sekitar 320 SM), yang berpendapat bahwa dewa-dewi Yunani berkembang dari legenda tentang manusia.[31][32]

Alegori[sunting | sunting sumber]

Beberapa teori menyatakan bahwa mitos dimulai sebagai suatu alegori. Menurut suatu teori, mitos-mitos bermunculan sebagai alegori tentang fenomena alam: Apollo melambangkan Matahari, Poseidon melambangkan lautan, dan sebagainya.[31] Menurut teori lainnya, mitos bermula sebagai alegori untuk konsep filosofis maupun spiritual: Athena melambangkan keadilan dan kebijaksanaan, Afrodit melambangkan hasrat, dan sebagainya.[31] Sanskritis abad ke-19, Max Müller mendukung teori alegoris mitos. Ia menyakini bahwa mitos bermula sebagai deskripsi alegoris mengenai keadaan alam, namun perlahan-lahan diinterpretasikan secara harfiah: misalnya, secara puitis, laut digambarkan sebagai sesuatu yang penuh gejolak, sehingga laut diyakini sebagai dewa yang pengamuk.[33]

Personifikasi[sunting | sunting sumber]

Niks (dewi malam)
Niks (dewi malam)
Hemera (dewi siang)
Hemera (dewi siang)
Dalam mitologi Yunani, malam dan siang hari dipersonifikasikan sebagai seorang dewi.

Beberapa pemikir percaya bahwa mitos merupakan hasil personifikasi kekuatan dan benda mati. Menurut pemikiran ini, orang purba memuja fenomena alam seperti api dan udara, dan perlahan-lahan menggambarkannya sebagai dewa.[34] Contohnya, menurut teori pemikiran mitopeia, orang purba cenderung memandang "sesuatu" sebagai "seseorang", bukan benda belaka;[35] maka dari itu, mereka menggambarkan kejadian alam sebagai akibat tindakan dewa tertentu, sehingga menghasilkan suatu mitos.[36]

Teori mitos-ritual[sunting | sunting sumber]

Menurut teori mitos-ritual, keberadaan mitos sangat erat dengan ritual.[37] Teori ini mengklaim bahwa mitos muncul untuk menjelaskan ritual.[38] Klaim ini pertama kali dicetuskan oleh sarjana biblikal William Robertson Smith.[39] Menurut Smith, orang-orang mulai melaksanakan suatu ritual untuk alasan tertentu yang tidak ada hubungannya dengan mitos; kemudian, setelah mereka melupakan alasan sebenarnya mengenai pelaksanaan ritual tersebut, mereka mencoba melestarikan ritual tersebut dengan menciptakan suatu mitos dan mengklaim bahwa ritual tersebut dilaksanakan untuk mengenang kejadian yang diceritakan dalam mitos.[40] Antropolog James Frazer memiliki teori yang sama. Frazer percaya bahwa manusia primitif mulai percaya pada hukum-hukum gaib; kemudian, ketika manusia mulai kehilangan keyakinannya mengenai sihir, mitos tentang dewa diciptakan dan mengklaim bahwa ritual magis kuno adalah ritual keagamaan yang dilakukan untuk menyenangkan hati para dewa.[41]

Fungsi[sunting | sunting sumber]

Mircea Eliade berpendapat bahwa salah satu fungsi penting mitos adalah untuk membangun suatu model perilaku[42][43] dan bahwa mitos dapat memberikan pengalaman religius. Dengan menceritakan atau memeragakan mitos, anggota suatu masyarakat tradisional dapat merasa lepas dari masa kini dan kembali lagi ke zaman mitis, sehingga membawa mereka dekat dengan ilahi.[9][43][44]

Lauri Honko menegaskan bahwa dalam beberapa kasus, suatu masyarakat akan menghidupkan kembali suatu mitos untuk menciptakan kembali suasana zaman mitis. Sebagai contoh, akan diperagakan kembali penyembuhan yang dilakukan dewa pada zaman purba dalam upaya penyembuhan seseorang di masa kini.[45] Tak jauh berbeda, Roland Barthes berpendapat bahwa budaya modern mengeksplorasi pengalaman religius. Karena tugas sains bukanlah menegakkan moral manusia, suatu pengalaman religius adalah upaya untuk terhubung dengan perasaan moral di masa lalu, yang kontras dengan dunia teknologi pada zaman sekarang.[46]

Joseph Campbell menyatakan mitos memiliki empat fungsi utama: Fungsi Mistis—menafsirkan kekaguman atas alam semesta; Fungsi Kosmologis—menjelaskan bentuk alam semesta; Fungsi Sosiologis—mendukung dan mengesahkan tata tertib sosial tertentu; dan Fungsi Pendagogis—bagaimana menjalani hidup sebagai manusia dalam keadaan apa pun.[47]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Doty 2004, hlm. 114.
  2. ^ a b Kirk 1984, hlm. 57.
  3. ^ a b Kirk 1973, hlm. 74.
  4. ^ a b Simpson 1976, hlm. 3.
  5. ^ a b c d e f Bascom 1984, hlm. 9.
  6. ^ a b c "myths", A Dictionary of English Folklore
  7. ^ O'Flaherty 1975, hlm. 78: "I think it can be well argued as a matter of principle that, just as 'biography is about chaps', so mythology is about gods."
  8. ^ a b Bascom 1984.
  9. ^ a b Eliade 1963, hlm. 23.
  10. ^ Pettazzoni 1984, hlm. 102.
  11. ^ Eliade 1963, hlm. 10-11.
  12. ^ Pettazzoni 1984, hlm. 99-101.
  13. ^ Dundes 1984, hlm. 1.
  14. ^ a b Eliade 1963, hlm. 6.
  15. ^ Kirk 1984.
  16. ^ "myth", Encyclopædia Britannica
  17. ^ Dundes 1984.
  18. ^ Grassie 1998.
  19. ^ Dundes 1996, hlm. 147.
  20. ^ Doty 2004, hlm. 11-12.
  21. ^ Segal 2004, hlm. 5.
  22. ^ "myth". Merriam-Webster's Collegiate Dictionary (ed. 10). Springfield, Massachusetts: Merriam-Webster, Inc. 1993. hlm. 770. 
  23. ^ Bascom 1984, hlm. 7.
  24. ^ a b Bascom 1984, hlm. 10.
  25. ^ Kirk 1973, hlm. 22, 32.
  26. ^ Kirk 1984, hlm. 55.
  27. ^ Bascom 1984, hlm. 17.
  28. ^ Bascom 1984, hlm. 13.
  29. ^ Doty 2004, hlm. 14.
  30. ^ a b c Bulfinch 2004, hlm. 194.
  31. ^ a b c d e f Honko 1984, hlm. 45.
  32. ^ "Euhemerism", The Concise Oxford Dictionary of World Religions
  33. ^ Segal 2004, hlm. 20.
  34. ^ Bulfinch 2004, hlm. 195.
  35. ^ Frankfort 1977, hlm. 4.
  36. ^ Frankfort 1977, hlm. 15.
  37. ^ Segal 2004, hlm. 61.
  38. ^ Graf 1993, hlm. 40.
  39. ^ Meletinsky 2000, hlm. 19-20.
  40. ^ Segal 2004, hlm. 63.
  41. ^ Frazer 1992, hlm. 711.
  42. ^ Eliade 1963, hlm. 8.
  43. ^ a b Honko 1984, hlm. 51.
  44. ^ Eliade 1963, hlm. 19.
  45. ^ Honko 1984, hlm. 49.
  46. ^ Barthes, Roland (1957). Mythologies. 
  47. ^ Campbell 1998, hlm. 22-23.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Bascom, William (1984), "The Forms of Folklore: Prose Narratives", in Alan Dundes, Sacred Narrative: Readings in the Theory of Myth, Berkeley: University of California Press, hlm. 5–29 
  • Bulfinch, Thomas (2004), Bulfinch's Mythology, Whitefish: Kessinger 
  • Campbell, Joseph (1988), The Power of Myth, New York: Doubleday 
  • Doty, William (2004), Myth: A Handbook, Westport: Greenwood 
  • Dundes, Alan (1997), "Binary Opposition in Myth: The Propp/Levi-Strauss Debate in Retrospect", Western Folklore 56, hlm. 39–50 
  • Dundes, Alan (1984), "Introduction", Sacred Narrative: Readings in the Theory of Myth, Berkeley: University of California Press 
  • Dundes, Alan (1996), "Madness in Method Plus a Plea for Projective Inversion in Myth", Myth and Method, Charlottesville: University of Virginia Press 
  • Eliade, Mircea (1963), Myth and Reality, New York: Harper & Row  Unknown parameter |translator= ignored (help)
  • Frankfort, Henri; et al (1977), The Intellectual Adventure of Ancient Man: An Essay on Speculative Thought in the Ancient Near East, Chicago: University of Chicago Press 
  • Frazer, James (1922), The Golden Bough, New York: Macmillan 
  • Graf, Fritz (1993), Greek Mythology, Baltimore: Johns Hopkins University Press  Unknown parameter |translator= ignored (help)
  • Grassie, William (Maret 1998), "Science as Epic? Can the modern evolutionary cosmology be a mythic story for our time?", Science & Spirit 9 (1), "The word 'myth' is popularly understood to mean idle fancy, fiction, or falsehood; but there is another meaning of the word in academic discourse .... Using the original Greek term mythos is perhaps a better way to distinguish this more positive and all-encompassing definition of the word." 
  • Honko, Lauri (1984), "The Problem of Defining Myth", in Alan Dundes, Sacred Narrative: Readings in the Theory of Myth, Berkeley: University of California Press, hlm. 41–52 
  • Kirk, G.S. (1973), Myth: Its Meaning and Functions in Ancient and Other Cultures, Berkeley: Cambridge University Press 
  • Kirk, G.S. (1984), "On Defining Myths", in Alan Dundes, Sacred Narrative: Readings in the Theory of Myth, Berkeley: University of California Press, hlm. 53–61 
  • Meletinsky, Elea (2000), The Poetics of Myth, New York: Routledge  Unknown parameter |translator= ignored (help)
  • O'Flaherty, Wendy (1975), Hindu Myths: A Sourcebook, London: Penguin 
  • Pettazzoni, Raffaele (1984), "The Truth of Myth", in Alan Dundes, Sacred Narrative: Readings in the Theory of Myth, Berkeley, hlm. 98–109  Unknown parameter |pubisher= ignored (help)
  • Segal, Robert (2004), Myth: A Very Short Introduction, Oxford: Oxford UP 
  • Simpson, Michael (1976), "Introduction. Apollodorus", Gods and Heroes of the Greeks, Amherst: University of Massachusetts Press  Unknown parameter |translator= ignored (help)