Lasem, Rembang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Lasem
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Rembang
Pemerintahan
 • Camat -
Luas 45,04 km²
Jumlah penduduk 47.868 jiwa (2005)
Kepadatan 1.056 jiwa/km²
Desa/kelurahan 20 desa
Kuil Tionghoa di Lasem.

Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Indonesia. Merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang setelah kota Rembang.

Lasem dikenal juga sebagai "Tiongkok kecil" karena merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa dan terdapat perkampungan tionghoa yang sangat banyak tersebar di kota Lasem. Di Lasem juga terdapat patung Buddha Terbaring yang berlapis emas. Selain itu Lasem juga dikenal sebagai kota santri, kota pelajar dan salah satu daerah penghasil buah jambu dan mangga selain hasil dari laut seperti garam dan terasi. Batik Lasem sangat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kecamatan ini merupakan salah satu kecamatan di pesisir pantai laut Jawa di kabupaten Rembang, berjarak lebih kurang 12 km ke arah timur dari ibukota kabupaten Rembang, dengan batas-batas wilayah meliputi:

Kecamatan Lasem mempunyai luas wilayah mulai dari pesisir laut Jawa hingga ke selatan. Di sebelah timur terdapat gunung Lasem. Wilayahnya seluas 4.504 ha. 505 ha diperuntukkan sebagai pemukiman, 281 ha sebagai lahan tambak, 624 ha sebagai hutan milik negara. Letaknya yang dilewati oleh jalur pantura, menjadikan kota ini sebagai tempat yang strategis dalam bidang perdagangan dan jasa.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kantor Kecamatan Lasem

Sekarang ini, Lasem hanya berbentuk Kecamatan. Kantor Kecamatan terletak di Jalan Sunan Bonang Km.01 atau Jalan Lasem-Tuban. Kecamatan Lasem terdiri atas 20 desa yang terbagi ke dalam 84 Rukun Warga (RW) dan 219 Rukun Tetangga (RT), dengan ibukota kecamatan (gedung kecamatan) terletak di desa Soditan.

Adapun desa-desa tersebut adalah:

Empat desa diantaranya berada di lereng gunung Lasem yaitu desa Gowak, Kajar, Sengangcoyo dan Ngargomulyo sedangkan 5 desa diantaranya merupakan desa pesisir yang berbatasan langsung dengan laut Jawa. Lima desa tersebut adalah: Bonang, Dasun, Binangun, Gedongmulyo dan Tasiksono. Dan 8 desa masuk dalam kawasan kota Lasem, yaitu: Dorokandang, Karangturi, Soditan, Gedongmulyo, Ngemplak, Babagan, Jolotundo dan Sumbergirang.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk kecamatan Lasem sejumlah 47.868 jiwa (tahun 2005). 23.846 jiwa diantaranya berjenis kelamin laki-laki dan sisanya 24.022 perempuan. Sebagian besar penduduknya bermata pencarian sebagai petani, pedagang dan nelayan.

Dibidang pendidikan, di kecamatan Lasem terdapat:

Dibidang keagamaan, di kecamatan Lasem terdapat 31 masjid, 130 mushalla dan 11 gereja Kristen, 12 Gereja Katholik, 3 klenteng dan 3 wihara (1 wihara tak berpemeluk).

Etnis yang tersebar di Lasem adalah suku Jawa, suku Tionghoa-Indonesia, keturunan Campa dan perpaduan etnis-etnis tersebut yang melahirkan etnis Lasem. Selain itu juga ada etnis lain sebagai pendatang di kota Lasem seperti orang Sunda, Batak, dll.

Julukan Kota[sunting | sunting sumber]

Sebagai sebuah kota yang unik dan menjadi perhatian bagi para peneliti baik dalam negeri maupun luar negeri, Lasem mempunyai predikat atau julukan yang tidak sedikit.

Lasem Kota Santri[sunting | sunting sumber]

Masjid Jami' Lasem

Sejak dahulu kota kecamatan ini terkenal sebagai Kota Santri. Peninggalan pesantren-pesantren tua di kota ini dapat kita rekam jejaknya hingga sekarang. Banyak ulama-ulama karismatik yg wafat di kota yg terkenal dgn suhu udara yg panas ini. Sebut saja Sayid Abdurrahman Basyaiban (Mbah Sambu) yang kini namanya dijadikan jalan raya yg menghubungkan Lasem-Bojonegoro, KH. Baidhowi, KH. Khalil, KH. Maksum, KH. Masduki dll. Sebagian makam tokoh masyarakat Lasem ini dapat anda jumpai di utara Masjid Jami' Lasem. Maka tidak berlebihan jika Lasem berjuluk sebagai kota santri, mengingat banyaknya ulama, Pondok Pesantren dan jumlah santri yang belajar agama islam di kota ini. Pondok Pesantren tersebut antara lain:

Lasem Kota Pelajar[sunting | sunting sumber]

Banyaknya Pondok Pesantren berimbas pada bidang pendidikan umum. Tercatat banyak Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di kota ini. Sekolah-sekolah itu antara lain:

  • SMA Negeri Lasem website
  • MA Negeri Lasem
  • SMA Muhammadiyah
  • MA Nahdlatul Ulama
  • SMK Nahdlatul Ulama
  • SMK Muhammadiyah
  • SMK Avicena
  • SMK Cendekia
  • MAAl Hidayah
  • SMP Negeri 1 Lasem website
  • SMP Negeri 2 Lasem
  • SMP Negeri 3 Lasem
  • MTs Negeri Lasem
  • MTs Sunan Bonang
  • MTs An-Nuriyah
  • SMP Muhammadiyah
  • SMP Nahdlatul Ulama
  • SMP Katholik Hamong Putra
  • SMP Kristen Dorkas.

Sekolah-sekolah di Lasem tak kalah saing dengan sekolah-sekolah yang mendapat perhatian lebih dari pemkab seperti sekolah-sekolah di Rembang. Prestasi sekolah-sekolah di Lasem pun kerap kali mengharumkan nama 'Lasem' bahkan sampai ke jenjang Nasional bahkan Internasional. Selain itu, satu-satunya SMA Negeri di Lasem (SMA N 1 Lasem) mendapatkan predikat sebagai SMA Budaya dan SMA Pioner Nasionalisme.

Lasem Kota Tiongkok Kecil[sunting | sunting sumber]

Deretan bangunan bergaya Tiongkok di Pecinan desa Karangturi, Lasem

Salah satu tempat berkembangnya para imigran dari Tiongkok terbesar di Pulau Jawa abad ke-14 sampai 15 adalah Lasem (Lao Sam) selain di Sampotoalang (Semarang) dan Ujung Galuh (Surabaya). Datangnya armada besar Laksamana Cheng Ho ke Jawa sebagai duta politik Kaisar China masa Dinasti Ming yang ingin membina hubungan bilateral dengan Majapahit terutama dalam bidang kebudayaan dan perdagangan negeri tersebut, mereka memperoleh legitimasi untuk melakukan aktivitas perniagaannya dan kemudian banyak yang tinggal dan menetap di daerah pesisir utara Pulau Jawa. Bahkan menurut N.J. Krom, perkampungan China d masa Kerajaan Majapahit telah ada sejak 1294-1527 M. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya bangunan-bangunan tua seperti permukiman Pecinan dengan bangunan khas Tiongkoknya dan kelenteng tua yang berada tak jauh dari jalur lalulintas perdagangan di sepanjang aliran Sungai Babagan Lasem (kala itu disebut Sungai Paturen) yang pada waktu itu sebagai akses utama penghubung antara laut dan darat, juga penguasaan tempat-tempat perekonomian yang strategis oleh mereka di kemudian waktu, seperti yang dapat dilihat pada pusat-pusat pertokoan di sepanjang jalan raya kota sekarang ini.

Lasem Kota Batik[sunting | sunting sumber]

Dalam beberapa literatur tentang batik juga yang terdapat di museum batik naseional, batik Lasem disebutkan sebagai salah satu varian klasik atau biasa disebut pakem dangan pola dan corak yang punya kekhasan tersendiri, yaitu paduan warna yang berani dan mencolok dengan motif-motif yang beraneka macam dan khas tetapi tetap indah serta elegan. Batik tersebut populer dengan sebutan batik tulis kendoro kendiri atau batik Pesisiran Laseman, di mana batik ini berbeda dengan batik Jogja atau Solo yang sangat baku pada pakem keraton yang motifnya eksklusif dan khusus bagi golongan ningrat saja. Batik Laseman sangat liat bercirikan egalitarian, yang mana batik ini lebih terbuka atau umum penggunaannya bagi segala kalangan atau lapisan masyarakat berikut macam etnisnya. Konon perkembangan Batik Laseman ini dipengaruhi oleh unsur-unsur seni dan budaya negeri seberang, yaitu Tiongkok dan Campa. Banyaknya orang-orang China dan Campa yang menetap di Lasem dan membaur dengan penduduk lokal lambat laun melahirkan akulturasi kebudayaan yang positif dan kaya, salah satunya adalah seni batik itu sendiri. Batik Laseman sendiri pernah mengalami kejayaan dalam produksi dan pemasarannya. Kini Batik Laseman bisa kita temukan di sudut-sudut kota Lasem bahkan di daerah sekitar Lasem.

Budaya[sunting | sunting sumber]

Secara historis, budaya di Lasem merupakan perpaduan budaya dari masyarakat pribumi (Jawa), Tiongkok & Campa (dibawa oleh pasukan Laksamana Cheng Ho), Arab, dan Belanda. Wujud nyata dari perpaduan budaya ini dapat kita temui sampai detik ini pada batik Lasem motif Tiga Negeri maupun Empat Negeri.

Dialek[sunting | sunting sumber]

Dialek masyarakat Lasem yang dikenal adalah sebagai berikut: - em / - nem = mu (bahasa Indonesia).

 Contoh: Bukuem/Bukunem = Bukumu; Tanganem = Tanganmu; Nggonem/Nggonanem = Punyam; dll
 (hurup "e" di kata em dibaca seperti kata "e" di kata perahu atau selasa)

- leh = toh (bahasa Indonesia).

 Contoh: Piye leh iki? = Gimana toh ini?; Ndi leh bukune? = Mana toh bukunya?; dll
 (hurup "e" di kata leh dibaca seperti kata "e" di kata etnis atau polsek)

- ape (jw: arep) = akan (bahasa Indonesia).

 Contoh: Sampeyan ape ning ndi leh? = Kamu mau/akan kemana toh?
 (hurup "e" di kata ape dibaca seperti kata "e" di kata tempe atau cafe)

- ae (jw: wae) = saja (bahasa Indonesia).

 Contoh: Sakcingkir ae = satu cangkir saja; Bar ning ndi ae leh? = Habis kemana saja toh?
 (hurup "e" di kata ae dibaca seperti kata "e" di kata tempe atau cafe),

- ugung/gung (jw: durung) = belum (bahasa Indonesia).

 Contoh: Aku ugung mangan/Aku gung mangan = Aku belum makan.

Kosakata-kosakata: - mendarat = kerja bakti membantu meringankan beban tetangga/orang lain yang punya hajat. - gene = kenapa? - sitok = satu - kartengah = satu setengah (1,5). - jeru' = dalam (ke bawah). - pathak = kulit kepala. - klonengan = bermain gamelan. - loruk = sakit (bukan sakit parah, contohnya: dicubit/tersandung). - kiwan = kamar mandi tradisional (biasanya menggunakan genuk sebagai tempat air). - jedhing = kamar mandi. - ogak = tidak. - matun = menyiangi gulma pada tanaman di sawah/ladang. - ndaut = mengambil benih padi dan memindahkannya ke petak sawah. - peceren = got/saluran air yang airnya kotor. - medhuk = ketela yang isinya sangat lembut (setelah dikukus/direbus/dibakar). - masir = tekstur dalam buah yang agak berbutir dan terkesan ada celah udara. contoh: salake masir/semongkone masir. - trasek = terasi. - taek = tahi. - tuwek = tua. - matek = mati. - bongko = mati (kasar). - isuk = sangat pagi. - surup = petang. - panas ngether = sangat panas (cuaca). - anyep = dingin. - mblojet = lepas baju (bisa jadi disebabkan cuaca panas atau keringat terlalu banyak). - nggliyeng/nggliyur = pusing. - mbarik = tampan. - mandah = semakin. - udan wewe = hujan di siang hari dengan cuaca cerah tidak mendung, biasanya pada sore hari maupun pagi hari. dan masih banyak lagi.

Dialek ini menyebar ke daerah-daerah sekitar Lasem yang kalau ditinjau dari segi historis dulu terletak di bekas wilayah Kerajaan Lasem maupun kadipaten Lasem. Dialek semacam itu bisa dijumpai di sekitar Pengunungan Kendeng Utara dari Grobogan, Pati(alaminya yang sebelah selatan), Blora, Rembang, Tuban dan Bojonegoro. Selain di atas, banyak pula kosakata-kosakata di dialek Lasem yang merupakan serapan dari bahasa kaum tionghoa lasem, seperti Yan O (walet), Yong Swa (dupa), Dao Ke (bos) dll. Bahkan kata "Lasem" sendiri menurut beberapa ahli berasal dari kata "Lao Sam" namun masih diragukan.

Seni Pertunjukan[sunting | sunting sumber]

Seni Pertunjukan yang ada dan berkembang pesat di Lasem antara lain:

Event (Acara)[sunting | sunting sumber]

Seni Rupa[sunting | sunting sumber]

Orang sedang membatik batang rokok (nglelet)
  • Batik Lasem yang khas dan berbeda dengan batik dari daerah lain
  • Lelet, yaitu membatik dengan media batang rokok dan tintanya menggunakan lethekan kopi lelet (ampas kopi lelet/kopi lasem yang dicampur susu krimer)
  • Kerajinan Kuningan

Seni Arsitektur[sunting | sunting sumber]

Klenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun, Lasem

Arsitektur bangunan-bangunan yang khas di Kota Lasem, antara lain:

Potensi wisata[sunting | sunting sumber]

Sebenarnya banyak sekali potensi wisata di Lasem, namun sangat sedikit yang memajukan potensi wisata tersebut. Perlu adanya donatur dan investor yang tidak sedikit demi meningkatkan potensi wisata di kota Lasem.

Potensi wisata alam[sunting | sunting sumber]

Potensi wisata batik[sunting | sunting sumber]

Lasem terkenal sebagai Kota Batik terutama Batik Tulis Laseman. Hampir di setiap desa dijumpai pengrajin batik. Namun pusat-pusat industri batik terletak di

Selain itu juga terdapat di beberapa desa di sekitar Lasem yang terkenal sebagai desa wisata Batik Laseman seperti di

Potensi wisata belanja[sunting | sunting sumber]

Potensi wisata religi[sunting | sunting sumber]

Potensi wisata sejarah[sunting | sunting sumber]

Banyak sekali situs-situs sejarah di area bekas Kerajaan Lasem, Kadipaten Lasem, maupun pada masa kedatangan Tionghoa-Campa, VOC di Lasem bahkan situs arkeologi. Hampir semua situs sejarah tersebar di kawasan kota Lasem dan sekitarnya.

Peninggalan Bersejarah[sunting | sunting sumber]

Prasejarah[sunting | sunting sumber]

  • Situs Kapal Kuno di Punjulharjo, terletak di bagian barat Sungai Kahiringan. Dulu daerah ini masih masuk kawasan Lasem, namun sekarang terletak di Kec.Rembang. Kapal yang ditemukan merupakan Bangaki Kapal Utuh beserta perabotan dan arca kepala, berdasarkan perhitungan secara radiokarbon diketahui bahwa kapal dari abad ke-7 M.
  • Situs Tulang-belulang Manusia Purba Austonesia di daerah Bonang-Leran
  • Situs Purbakala Plawangan dan Terjan

Pada Masa Kerajaan Lasem[sunting | sunting sumber]

Peninggalan Benda Bergerak:

Benda-benda tersebut kebanyakan sekarang berada dan diteliti di Dinas Kepurbakalaan Nasional Jakarta.

Peninggalan Benda tak Bergerak:

  • Goa pertapaan (di desa Kajar)
  • Prasasti Batu Tapak (di desa Kajar)
  • Sumur-sumur tua
  • Pondasi-pondasi Bangunan (terbuat dari bata merah berukuran 20cm-40cm)
  • Bekas Pelabuhan Kahiringan di daerah Caruban, Gedongmulyo dan Pelabuhan Teluk Regol di Bonang.
  • Jangkar kapal Tua abad 14 di Rumah Candu/Lawang Ombo, diduga milik Kapitan Liem.

Peninggalan Seni dan Budaya:

  • Gending karawitan Pathet Lasem dan Sampak Lasem
  • Relief-relief dan arca yang ada di reruntuhan candi
  • motif batik klasik batik Laseman
  • Seni Beladiri Pathol (sekarang berkembang pesat di daerah Kragan dan Sarang).

Pada Masa Kadipaten Lasem[sunting | sunting sumber]

Peninggalan Tak Bergerak:

Peninggalan Bergerak:

  • Kitab Suluk pada masa Sunan Bonang
  • Serat Sabda Badra Santi oleh Adipati Tejakusuma I dan Tejakusuma IV, kemudian digubah kembali oleh R. Panji Kamzah 1825 dan R. Panji Karsono 1920.
  • Alat musik Bonang/Bende lengkap dengan pemukulnya di Kompleks Petilasan Sunan Bonang
  • Seni pagelaran wayang Krucil dan wayang Potehi

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Unjiya, M.Akrom (2008). Lasem Negeri Dampoawang Sejarah yang Terlupakan. Yogyakarta: Eja Publisher.
  • Proyek Penelitian Purbakala: Pertemuan Arkeologi III Ciloto 1983. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985.
  • Groeneveldt, W.P., Notes on Malay Archipelago and Malacca, Compilet from Chinese Source.
  • Kabupaten Rembang dalam Angka Tahun 2005
  • Data Dekdikbud Rembang
  • Pratiwo (1990). The Historikal Reading of Lasem. Leuven: Katholika Uneversieit Leuven.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]