Pakaian

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Baju)
Langsung ke: navigasi, cari
Seorang bayi yang memakai banyak pakaian musim dingin.

Pakaian adalah kebutuhan pokok manusia selain makanan dan tempat berteduh/tempat tinggal (rumah). Manusia membutuhkan pakaian untuk melindungi dan menutup dirinya. Namun seiring dengan perkembangan kehidupan manusia, pakaian juga digunakan sebagai simbol status, jabatan, ataupun kedudukan seseorang yang memakainya. Perkembangan dan jenis-jenis pakaian tergantung pada adat-istiadat, kebiasaan, dan budaya yang memiliki ciri khas masing-masing. Pakaian juga meningkatkan keamanan selama kegiatan berbahaya seperti hiking dan memasak, dengan memberikan penghalang antara kulit dan lingkungan. Pakaian juga memberikan penghalang higienis, menjaga toksin dari badan dan membatasi penularan kuman.

Fungsi pakaian[sunting | sunting sumber]

Salah satu tujuan utama dari pakaian adalah untuk menjaga pemakainya merasa nyaman. Dalam iklim panas busana menyediakan perlindungan dari terbakar sinar matahari atau berbagai dampak lainnya, sedangkan di iklim dingin sifat insulasi termal umumnya lebih penting.

Pakaian melindungi bagian tubuh yang tidak terlihat. Pakaian bertindak sebagai perlindungan dari unsur-unsur yang merusak, termasuk hujan, salju dan angin atau kondisi cuaca lainnya, serta dari matahari. Pakaian juga mengurangi tingkat risiko selama kegiatan, seperti bekerja atau olahraga. Pakaian kadang-kadang dipakai sebagai perlindungan dari bahaya lingkungan tertentu, seperti serangga, bahan kimia berbahaya, senjata, dan kontak dengan zat abrasif. Sebaliknya, pakaian dapat melindungi lingkungan dari pemakai pakaian, seperti memakai masker.

Aspek Budaya[sunting | sunting sumber]

Perbedaan Jenis Kelamin[sunting | sunting sumber]

Dalam kebanyakan budaya, perbedaan pakaian antara kedua jenis kelamin dianggap pantas untuk laki-laki dan perempuan. Perbedaan dalam gaya, warna, dan kain.

Dalam masyarakat Barat, rok, gaun, dan sepatu hak tinggi biasanya dilihat sebagai pakaian perempuan, sementara dasi biasanya dilihat sebagai pakaian pria. Celana pernah dilihat sebagai pakaian khusus laki-laki, tetapi saat ini dikenakan oleh kedua jenis kelamin. Pakaian pria kadang-kadang lebih praktis daripada pakaian perempuan (yaitu, mereka dapat berfungsi dengan baik dalam berbagai macam situasi), tetapi pakaian wanita kadang-kadang lebih luas dalam hal model daripada pakaian pria. Pria biasanya diperbolehkan untuk bertelanjang dada dalam berbagai tempat umum, seperti di kolam berenang. Biasanya wanita diperbolehkan memakai pakaian pria. Namun sebaliknya, pria yang memakai pakaian wanita seringkali dianggap aneh.

Dalam beberapa budaya, hukum mengatur apa yang pria dan wanita diharuskan memakai. Agama Islam memerlukan perempuan untuk memakai bentuk-bentuk yang lebih sederhana dari pakaian, biasanya jilbab. Apa yang memenuhi syarat sebagai sederhana bervariasi dalam masyarakat yang berbeda, namun, wanita biasanya diperlukan untuk menutup tubuh mereka lebih banyak dari laki-laki. Anggaran pakaian dikenakan oleh wanita muslim untuk tujuan dari jangkauan kesederhanaan dari jilbab untuk burqa.

Jubah Alim Khan mengirimkan pesan sosial tentang kekayaan, status, dan kekuasaannya

Pria kadang-kadang dapat memilih untuk memakai rok pria seperti togas atau kilt, terutama pada acara-acara seremonial. pakaian seperti itu (di masa sebelumnya) sering dipakai sebagai pakaian sehari-hari normal dengan laki-laki. Dibandingkan dengan pakaian pria, pakaian wanita cenderung menarik, sering dimaksudkan untuk memperlihatkan kepada laki-laki. Di negara-negara industri modern, perempuan lebih cenderung memakai rias wajah, perhiasan, dan pakaian berwarna-warni, sedangkan di sangat tradisional budaya perempuan dilindungi dari tatapan pria dengan pakaian sederhana.

Status Sosial[sunting | sunting sumber]

Di sebagian masyarakat, pakaian dapat digunakan untuk menunjukkan peringkat atau status. Di Roma kuno, misalnya, hanya para senator yang diizinkan untuk memakai pakaian yang dicelup dengan warna ungu Tyrian. Di Cina, sebelum pembentukan republik, hanya kaisar bisa memakai pakaian berwarna kuning. Dalam masyarakat tanpa hukum ini, yang mencakup sebagian besar masyarakat modern, status sosial bukan ditandai dengan pembelian barang langka atau mewah yang dibatasi oleh biaya kepada mereka dengan kekayaan atau status.

Agama[sunting | sunting sumber]

Pakaian Agama mungkin dianggap sebagai pakaian spesial. Pakaian agama terkadang dipakai hanya selama kinerja upacara keagamaan. Namun, juga dapat dipakai sehari-hari sebagai penanda status agama khusus.

Bahan pakaian[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya, manusia memanfaatkan kulit pepohonan dan kulit hewan sebagai bahan pakaian, kemudian memanfaatkan benang yang dipintal dari kapas, bulu domba serta sutera yang kemudian dijadikan kain sebagai bahan dasar pakaian. Kini dikenal berbagai macam jenis kain, di antaranya:

Perpaduan antara nilon, polyester dan spandeks menghasilkan bahan yang baik bagi olahragawan atau seseorang yang memiliki aktivitas tinggi, karena dibuat untuk menguapkan keringat supaya tetap kering, sehingga dapat mengoptimalkan temperatur tubuh saat melakukan aktivitasnya. Maka penggunanya dapat beraktivitas secara lebih efisien dan lebih baik. Bahan seperti ini sering dijumpai pada merek-merek terkenal seperti Nike dengan sebutan Dri-fit, material yang digunakan oleh Nike memiliki 62% katun, 34% polyester dan 4% spandeks.[1]

Jenis-jenis pakaian[sunting | sunting sumber]

Pakaian keagamaan[sunting | sunting sumber]

Olahraga dan aktivitas[sunting | sunting sumber]

Etnis dan warisan budaya[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]