Aforestasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Proyek aforestasi di Rand Wood, Lincolnshire, Inggris

Aforestasi adalah pembentukan hutan atau tegakkan pepohonan di area di mana sebelumnya bukan merupakan hutan.[1] Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.14/Menhut-II/2004 menyebutkan definisi aforestasi adalah "penghutanan pada lahan yang selama 50 tahun atau lebih bukan merupakan hutan".[2] Berbeda dengan reforestasi atau reboisasi yang merupakan pembentukan kembali hutan yang pernah gundul, secara alami maupun buatan.[3] Berbagai lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah bergerak dalam program aforestasi untuk menciptakan hutan, meningkatkan aktivitas penangkapan dan sekuestrasi karbon, dan membantu meningkatkan keanekaragaman hayati.

Aforestasi di berbagai tempat di dunia[sunting | sunting sumber]

China[sunting | sunting sumber]

China telah menebang sebagian besar kawasan hutannya hingga produksi kayunya berada di titik terendah dalam sejarah karena penebangan hutan melebihi batas keberlanjutan.[4] China telah mencanangkan tujuan resmi proyek aforestasi nasional dalam jangka waktu 80 tahun. Proyeknya meliputi Tembok Hijau China yang bertujuan membentuk hutan dan menahan perluasan gurun Gobi. Sebuah hukum yang dikeluarkan pada tahun 1981 memerintahkan setiap warga negara yang berusia sebelas tahun setidaknya menanam satu pohon per tahun. Sehingga China memiliki kawasan aforestasi terbesar di dunia dengan luas mencapai 47 ribu kilometer persegi pada tahun 2008.[5] Namun jika dihitung dari luasan hutan per kapita, China masih jauh di bawah rata-rata dunia.[6]

Afrika Utara[sunting | sunting sumber]

Di Afrika Utara, Proyek Hutan Sahara bergerak bersamaan dengan proyek rumah tanaman air laut telah diusulkan. Beberapa proyek juga telah diluncurkan di negara seperti Senegal untuk membalikkan desertifikasi. Hingga tahun 2010, para pemimpin negara-negara di Afrika berdiskusi untuk menggambungkan sumber daya alam nasional untuk meningkatkan efektivitas proyek.[7] Proyek lain seperti Proyek Pembangunan Terintegerasi Keita di Niger telah dilakukan di masa lalu dan mampu membalikan desertifikasi.

Eropa[sunting | sunting sumber]

Eropa telah menebang sebagian besar hutan yang dimilikinya. Uni Eropa sejak tahun 1990 telah membayar para petani untuk melakukan aforestasi dan menawarkan hadiah bagi mereka yang mengubah lahan pertaniannya menjadi hutan. Antara tahun 1993 hingga tahun 1997, kebijakan aforestasi Uni Eropa telah menghutankan lahan lebih dari 5000 kilometer persegi. Program kedua, antara 2000 hingga 2006 telah menghutankan lahan lebih dari 1000 kilometer persegi. Program ketiga berlangsung sejak tahun 2007.

Di Hutan Polandia, National Program of Afforestation diperkenalkan oleh pemerintah sejak berakhirnya Perang Dunia II, ketika total area hutan di negara itu menyusut hingga menjadi 20% dari luas total lahan negara tersebut. Progam tersebut menjadikan hutan Polandia berkembang dan hingga Desember 2006 telah menutupi 29% lahan di negaranya. Direncanakan pada tahun 2050 hutan telah menutupi 33% wilayah Polandia.

Berdasarkan statistik FAO, Spanyol memiliki laju aforestasi ketiga tercepat di Eropa pada periode 1990-2005, di belakang Islandia dan Irlandia.[8][9] Di tahun-tahun tersebut, 44360 kilometer persegi lahan telah dihutankan. Pada tahun 1990, hutan menutupi 26.6% kawasan Spanyol dan pada tahun 2007 telah meningkat menjadi 36.6%. Spanyol kini memiliki kawasan hutan terluas ke lima di antara negara anggota Uni Eropa.[10]

Di bulan Januari 2013, pemerintah Inggris menetapkan target 12% lahan di Inggris merupakan hutan pada tahun 2060, meningkat dari yang saat ini hanya 10%.[11] Pemerintah Inggris memberlakukan insentif seperti Woodland Carbon Code yang bertujuan untuk mendukung program ini dengan mendorong perusahaan dan pemilik lahan untuk membentuk tegakkan pepohonan baru untuk menutupi emisi karbon mereka.

Iran[sunting | sunting sumber]

Iran dikategorikan sebagai wilayah dengan area hutan yang sedikit; hanya 7% dari total luas lahan di negara tersebut. Dan luas hutan yang sebenarnya adalah lebih sedikit karena beberapa hutan merupakan hutan sekunder yang ditumbuhi pohon penghasil bahan pertanian seperti oak, almond, dan pistachio.[12] Karena karakteristik tanah di Iran yang berbatu dan cenderung kering menjadikan hutan sulit untuk tumbuh.[12] Sehingga usaha aforestasi dilakukan dengan introduksi spesies dari luar,[12] yang mengakibatkan kerusakan habitat alami flora dan fauna lokal, mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati setempat.[13]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "SAFnet Dictionary | Definition For [afforestation]". Dictionaryofforestry.org. 2008-10-23. Diakses 2012-02-17. 
  2. ^ "PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P.14/Menhut-II/2004 TENTANG TATA CARA AFORESTASI DAN REFORESTASI DALAM KERANGKA MEKANISME PEMBANGUNAN BERSIH". Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. 
  3. ^ "SAFnet Dictionary | Definition For [reforestation]". Dictionaryofforestry.org. 2008-08-13. Diakses 2012-02-17. 
  4. ^ McBeath, Gerald A.; Leng, Tse-Kang (2006). Governance of Biodiversity Conservation in China and Taiwan. Edward Elgar Publishing. hlm. 242. ISBN 1-84376-810-0. 
  5. ^ "China to plant more trees in 2009_English_Xinhua". News.xinhuanet.com. 2009-01-09. Diakses 2012-02-17. 
  6. ^ "51.54 billion trees planted by ordinary Chinese in 27 years - People's Daily Online". English.people.com.cn. 2008-03-11. Diakses 2012-02-17. 
  7. ^ "Combining of green walls". Afriqueavenir.org. Diarsipkan dari aslinya tanggal 2010-07-18. Diakses 2012-08-26. 
  8. ^ "FAO Data". Blatantworld.com. Diakses 2012-08-26. 
  9. ^ "Mongabay.com: Deforestation tables and charts for Spain". Rainforests.mongabay.com. Diakses 2012-08-26. 
  10. ^ "United Nations Statistics Division - Environment Statistics". Unstats.un.org. Diakses 2012-02-17. 
  11. ^ "Government Forestry and Woodlands". Defra. Diakses 13 June 2013. 
  12. ^ a b c Stanturf, John A.; Madsen, Palle (2004). Restoration of Boreal and Temperate Forests. CRC Press. hlm. 569. ISBN 1-56670-635-1. 
  13. ^ Wilson, E. O. (2002). The Future of Life. Vintage. ISBN 0-679-76811-4. 

Bahan bacaan terkait[sunting | sunting sumber]

  • Cattaneo, Andrea (2002) Balancing Agricultural Development and Deforestation in the Brazilian Amazon, Int Food Policy Res Inst IFPRI, 146 pages ISBN 0-89629-130-8
  • Heil, Gerrit W., Bart Muys and Karin Hansen (2007) Environmental Effects of Afforestation in North-Western Europe, Springer, 320 pages ISBN 1-4020-4567-0
  • Halldorsson G., Oddsdottir, ES and Sigurdsson BD (2008) AFFORNORD Effects of Afforestation on Ecosystems, Landscape and Rural Development, TemaNord 2008:562, 120 pages ISBN 978-92-893-1718-4
  • Halldorsson G., Oddsdottir, ES and Eggertsson O (2007) Effects of Afforestation on Ecosystems, Landscape and Rural Development. Proceedings of the AFFORNORD conference, Reykholt, Iceland, June 18–22, 2005, TemaNord 2007:508, 343pages ISBN 978-92-893-1443-5

Pranala luar[sunting | sunting sumber]