Kebakaran liar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kebakaran di Gunung San Bernardino, California (gambar diambil dari International Space Station)

Kebakaran hutan, kebakaran vegetasi, atau kebakaran semak, adalah sebuah kebakaran yang terjadi di alam liar, tetapi juga dapat memusnahkan rumah-rumah dan lahan pertanian disekitarnya. Penyebab umum termasuk petir, kecerobohan manusia, dan pembakaran.

Musim kemarau dan pencegahan kebakaran hutan kecil adalah penyebab utama kebakaran hutan besar.

Kebakaran hutan dalam bahasa Inggris berarti "api liar" yang berasal dari sebuah sinonim dari Api Yunani, sebuah bahan seperti-napalm yang digunakan di Eropa Pertengahan sebagai senjata maritim

Kebakaran hutan besar

Statistik[sunting | sunting sumber]

Jumlah luas hutan yang terbakar setiap tahunnya sekitar:

  • Perancis: 21.100 hektar (211 km², 52.140 acres, 81 mile² ; 0,04% Perancis
  • Portugal:
    • 1991 : 182.000 ha (1.820 km², 449.732 acres, 703 mile²; 2% wilayah negara)
    • 2003 : 424.900 ha (4.249 km², 1,05 juta acres, 1.641 mile²; 4,6% wilayah negara; 20 meninggal)
    • 2004 : 120.530 ha (1.205,3 km², 297.836 acres, 465 mile²; 1,3% wilayah negara)
    • 2005: 286.400 ha (2.864 km², 707.668 acres, 1.106 mile²; 3.1% wilayah negara; 17 meninggal)
  • Amerika Serikat: 1,74 juta hektaree (17.400 km², 4,3 juta acres, 6.718 mile²; 0,18% wilayah negara)
  • Indonesia - Sumber data: sebelum 1997 dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) dan Canadian International Development Agency (CIDA) - Collaborative Environmental Project in Indonesia (CEPI). Data 1997/1998 dari Asian Development Bank (ADB) . Data 1999-2005 berasal dari Departemen Kehutanan Indonesia.
    • 1982 dan 1983: 3,6 juta hektaree ( 36.000 km², 8,9 juta acres, 13.900 mile²).
    • 1987: 49.323 hektaree ( 492 km², 121.880 acres, 190 mile²).
    • 1991: 118.881 hektaree (1.189 km², 293.761 acres, 459 mile²).
    • 1994: 161.798 hektaree (1.618 km², 399.812 acres, 625 mile²).
    • 1997 dan 1998: 9,8 juta hektaree ( 97.550 km², 24,1 juta acres, 37.664 mile²). Sumber data dari ADB.
    • 1999: 44.090 hektaree (441 km², 108.989 acres, 170 mile² ).
    • 2000: 8.255 hektaree ( 83 km², 20.399 acres, 32 mile²).
    • 2001: 14.351 hektaree (144 km², 35.462 acres, 55 mile²).
    • 2002: 36.691 hektaree (367 km², 90.665 acres, 142 mile²).
    • 2003: 3.745 hektaree ( 37 km², 9.254 acres, 14 mile²).
    • 2004: 13.991 hektaree (140 km², 34.573 acres, 54 mile²).
    • 2005: 13.328 hektaree (133 km², 32.934 acres, 51 mile²).

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Penyebab Kebakaran hutan, antara lain:

  • Sambaran petir pada hutan yang kering karena musim kemarau yang panjang.
  • Kecerobohan manusia antara lain membuang puntung rokok sembarangan dan lupa mematikan api di perkemahan.
  • Aktivitas vulkanis seperti terkena aliran lahar atau awan panas dari letusan gunung berapi.
  • Tindakan yang disengaja seperti untuk membersihkan lahan pertanian atau membuka lahan pertanian baru dan tindakan vandalisme.
  • Kebakaran di bawah tanah/ground fire pada daerah tanah gambut yang dapat menyulut kebakaran di atas tanah pada saat musim kemarau.

Dampak[sunting | sunting sumber]

Dampak yang ditimbulkan dari kebakaran liar antara lain:

  1. Menyebarkan emisi gas karbon dioksida ke atmosfer. Kebakaran hutan pada 1997 menimbulkan emisi / penyebaran sebanyak 2,6 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer (sumber majala Nature 2002). Sebagai perbandingan total emisi karbon dioksida di seluruh dunia pada tahun tersebut adalah 6 miliar ton.
  2. Terbunuhnya satwa liar dan musnahnya tanaman baik karena kebakaran, terjebak asap atau rusaknya habitat. Kebakaran juga dapat menyebabkan banyak spesies endemik/khas di suatu daerah turut punah sebelum sempat dikenali/diteliti.
  3. Menyebabkan banjir selama beberapa minggu di saat musim hujan dan kekeringan di saat musim kemarau.
  4. Kekeringan yang ditimbulkan dapat menyebabkan terhambatnya jalur pengangkutan lewat sungai dan menyebabkan kelaparan di daerah-daerah terpencil.
  5. Kekeringan juga akan mengurangi volume air waduk pada saat musim kemarau yang mengakibatkan terhentinya pembangkit listrik (PLTA) pada musim kemarau.
  6. Musnahnya bahan baku industri perkayuan, mebel/furniture. Lebih jauh lagi hal ini dapat mengakibatkan perusahaan perkayuan terpaksa ditutup karena kurangnya bahan baku dan puluhan ribu pekerja menjadi penganggur/kehilangan pekerjaan.
  7. Meningkatnya jumlah penderita penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan kanker paru-paru. Hal ini bisa menyebabkan kematian bagi penderita berusia lanjut dan anak-anak. Polusi asap ini juga bisa menambah parah penyakit para penderita TBC/asma.
  8. Asap yang ditimbulkan menyebabkan gangguan di berbagai segi kehidupan masyarakat antara lain pendidikan, agama dan ekonomi. Banyak sekolah yang terpaksa diliburkan pada saat kabut asap berada di tingkat yang berbahaya. Penduduk dihimbau tidak bepergian jika tidak ada keperluan mendesak. Hal ini mengganggu kegiatan keagamaan dan mengurangi kegiatan perdagangan/ekonomi. Gangguan asap juga terjadi pada sarana perhubungan/transportasi yaitu berkurangnya batas pandang. Banyak pelabuhan udara yang ditutup pada saat pagi hari di musim kemarau karena jarak pandang yang terbatas bisa berbahaya bagi penerbangan. Sering terjadi kecelakaan tabrakan antar perahu di sungai-sungai, karena terbatasnya jarak pandang.
  9. Musnahnya bangunan, mobil, sarana umum dan harta benda lainnya.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Baumgardner, D., et al. 2003. Warming of the Arctic lower stratosphere by light absorbing particle. American Geophysical Union fall meeting. Dec. 8-12. San Francisco.
  • Fromm, M., et al. 2003. Stratospheric smoke down under: Injection from Australian fires/convection in January 2003. American Geophysical Union fall meeting. Dec. 8-12. San Francisco.
  • Makarim, N., et al. (BAPEDAL and CIDA-CEPI). 1998, Assessment of 1997 Land and Forest Fires in Indonesia: National Coordination. From "International Forest Fire News" #18, page 4-12, January 1998.
  • Wang, P.K. 2003. The physical mechanism of injecting biomass burning materials into the stratosphere during fire-induced thunderstorms. American Geophysical Union fall meeting. Dec. 8-12. San Francisco.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

(Indonesia) Kliping Kebakaran Lahan dan Hutan, i-library.org