Yugur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Yugur
Family In Lanchow, China 1944 Fr. Mark Tennien Restored.jpg
Keluarga Yugur di Lanzhou, Gansu, 1944.
Total populasi
15.000 (perkiraan)
Kawasan dengan populasi yang signifikan
Sunan Yugur, Gansu, Tiongkok
Bahasa
Yugur Barat, Yugur Timur
Agama
Buddhisme Tibet, Tengrisem (Shamanisme Turk)

Yugur (Hanzi: 裕固族; Pinyin: Yùgù Zú), atau Uigur Kuning,[1] sebagaimana secara tradisional dikenal, adalah salah satu dari 56 bangsa yang resmi diakui oleh Cina, 13.719 orang terdaftar sebagai anggota menurut sensus tahun 2000.[2] Bangsa Yugur utamanya tinggal di Daerah Otonom Sunan Yugur di Gansu, Cina. Mereka menganut Buddha Tibet.[3][4]

Nama[sunting | sunting sumber]

Nama resmi bangsa ini yang sekarang, Yugur, berasal dari autonim: Yugur yang berbicara dengan bahasa Turki merujuk diri mereka sebagai Yogïr "Yugur" atau Sarïg Yogïr "Yugur Kuning", dan Yugur yang berbahasa Mongol juga menggunakan kata Yogor atau Šera Yogor "Yugur Kuning". Dokumen sejarah Cina telah mencatat etnonim-etnonim tersebut sebagai Sālǐ Wèiwùr atau Xīlǎgǔr. Selama Dinasti Qing, Yugur juga disebut dengan istilah yang di antaranya "fān", istilah Cina Klasik untuk kelompok etnis Tibet (Hanzi: 西喇古兒黃番; Pinyin: Xī Lǎgǔr Huáng Fān). Agar kedua kelompok tersebut dan bahasa mereka dapat dibedakan, ahli bahasa Cina menciptakan istilah Xībù Yùgùr "Yugur Barat" dan Dōngbù Yùgùr "Yugur Timur" berdasarkan distribusi geografis.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Yugur yang berbahasa Turki dianggap merupakan keturunan dari kelompok Uigur yang melarikan diri dari Mongolia ke arah selatan ke Gansu setelah runtuhnya Uigur Khaganat tahun 840, di mana mereka mendirikan Kerajaan Gansu Uigur yang makmur (Ganzhou Uighur Khanate) (870-1036) dengan ibukota di dekat Zhangye (sekarang) di kaki Pegunungan Qilian di lembah Ruo Shui.[5] Penduduk kerajaan ini, diperkirakan sejumlah 300.000 jiwa menurut catatan Song, mempraktikkan kepercayaan Manikheisme dan Buddha di berbagai kuil di seluruh negeri.

Pada 1037 Yugur dikuasai oleh Tangut.[6] Kerajaan Gansu Uigur secara paksa bergabung dengan Xia Barat setelah perang berdarah yang berkecamuk sejak 1028 hingga 1036. Mahmud al-Kashgari, yang hidup pada saat itu di Kashgar, menyatakan bahwa "Darah Uigur mengalir seperti sungai yang bergemuruh" selama perang ini.

Yugur yang berbahasa Mongol diperkirakan adalah keturunan dari salah satu kelompok berbahasa Mongol yang menginvasi Cina Utara selama penaklukan Mongol abad XIII. Yugur akhirnya bergabung dengan Cina Qing pada 1696 selama masa pemerintahan penguasa kedua Qing, Kaisar Kangxi (1662-1723).

Pada tahun 1893, Grigory Potanin (seorang penjelajah Rusia), ilmuwan Barat pertama yang mempelajari Yugur, menerbitkan glosarium mini yang memuat kata-kata Yugur bersama dengan catatan mengenai situasi administrasi dan geografis.[7] Kemudian, pada tahun 1907, Carl Gustaf Emil Mannerheim mengunjungi desa Yugur Barat di Lianhua (Mazhuangzi) dan Kuil Kangle Yugur Timur. Mannerheim adalah yang pertama yang mengadakan investigasi etnografi Yugur secara rinci. Pada tahun 1911, ia menerbitkan temuannya dalam sebuah artikel untuk Masyarakat Finno-Ugrian.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Sekitar 4.600 jiwa bangsa Yugur berbicara dengan bahasa Yugur Barat (bahasa Turki) dan sekitar 2.800 dengan bahasa Yugur Timur (bahasa Mongol). Yugur Barat melestarikan banyak arkaisme dari Uigur Kuno.[8][9] Bangsa Yugur yang tersisa di daerah otonom tersebut tidak lagi menggunakan bahasa Yugur mereka masing-masing dan sekarang berbahasa Cina. Sejumlah sangat kecil dari bangsa Yugur dilaporkan bercakap dengan bahasa Tibet. Mereka menggunakan bahasa Cina dalam pergaulan.

Kedua bahasa Yugur tidak lagi dipakai dalam tulisan meskipun alfabet Uigur Kuno masih digunakan oleh beberapa komunitas Yugur sampai akhir abad XIX.[10]

Orang[sunting | sunting sumber]

Yugur pengguna bahasa Turki terutama tinggal di bagian barat di Distrik Mínghuā, di Kota Liánhuā dan Mínghǎi, dan di Distrik Dàhé, di daerah pusat. Yugur pencakap bahasa Mongol terutama tinggal di daerah tersebut di bagian timur, di Distrik Huángchéng, dan di Distrik Dàhé dan Kānglè, di pusat daerah.

Sebagian besar bangsa Yugur bekerja di bidang peternakan.

Agama[sunting | sunting sumber]

Agama tradisional bangsa Yugur adalah Buddha Tibet, yang dipraktikkan bersama perdukunan.

Budaya Populer[sunting | sunting sumber]

Sarig Yogir merupakan salah satu bangsa yang dapat dimainkan di Europa Universalis IV.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Justin Jon Rudelson; Justin Ben-Adam Rudelson (1997). Oasis Identities: Uyghur Nationalism Along China's Silk Road. Columbia University Press. hlm. 206–. ISBN 978-0-231-10786-0. 
  2. ^ Justin Keith Brown, Sarah Ogilvie (2009). Concise encyclopedia of languages of the world. Elsevier. hlm. 1142. ISBN 0-08-087774-5. Diakses tanggal 2010-10-31. 
  3. ^ Justin Ben-Adam Rudelson, Justin Jon Rudelson (1997). Oasis identities: Uyghur nationalism along China's Silk Road. Columbia University Press. hlm. 178. ISBN 0-231-10786-2. Diakses tanggal 2010-10-31. 
  4. ^ Wong, Edward (September 28, 2016). "Modern Life Presents Nomads of China's Steppe With a 'Tragic Choice'". New York Times. 
  5. ^ Edward Allworth (1994). Central Asia, 130 years of Russian dominance: a historical overview. Duke University Press. hlm. 89. ISBN 0-8223-1521-1. Diakses tanggal 2010-10-31. 
  6. ^ Michael Dillon (2004). Central Xinjiang: China's Muslim far northwest. Psychology Press. hlm. 10. ISBN 0-415-32051-8. Diakses tanggal 2010-10-31. 
  7. ^ Eric Enno Tamm. (2010) "The Horse That Leaps Through Clouds: A Tale of Espionage, the Silk Road and the Rise of Modern China."
  8. ^ Aslı Göksel, Celia Kerslake, ed. (2000). Studies on Turkish and Turkic Languages: Proceedings of the Ninth International Conference on Turkish Linguistics. Harrassowitz. hlm. 430–431. ISBN 978-3447042932. 
  9. ^ Lars Johanson, Éva Csató (1998). The Turkic languages. Taylor & Francis. hlm. 397. ISBN 0-415-08200-5. Diakses tanggal 2010-10-31. 
  10. ^ Dru C. Gladney (2004). Dislocating China: reflections on Muslims, minorities and other subaltern subjects. C. Hurst & Co. Publishers. hlm. 212. ISBN 1-85065-324-0. Diakses tanggal 2010-10-31. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]