The Great Hack

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


The Great Hack
SutradaraKarim Amer
Jehane Noujaim
ProduserKarim Amer
Jehane Noujaim
PenulisKarim Amer
Erin Barnett
PemeranCarole Cadwalladr
David Carroll
Brittany Kaiser
DistributorNetflix
Tanggal rilis
  • 26 Januari 2019 (2019-01-26) (Sundance Film Festival)
  • 24 Juli 2019 (2019-7-24)
Durasi
113 minutes
NegaraAmerika Serikat

The Great Hack adalah film dokumenter yang menceritakan skandal data Facebook–Cambridge Analytica.[1] Film yang dirilis di Netflix pada Juli 2019 tersebut merupakan karya Jehane Noujaim dan Karim Amer.[2]Film dokumenter ini berfokus pada Profesor David Carroll dari Parsons School of Design, Brittany Kaiser (mantan direktur pengembangan bisnis untuk Cambridge Analytica), dan jurnalis investigasi asal Inggris, Carole Cadwalladr.[3]Dengan caranya masing-masing, ketiganya mengungkap apa yang dilakukan Cambridge Analytica dalam kontestasi politik di berbagai negara, termasuk kampanye Brexit dan Pemilu AS 2016.

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Grup SCL adalah perusahaan riset dan komunikasi strategis Inggris dengan spesialisasi mempelajari dan memengaruhi perilaku massa. Mereka diduga memiliki keahlian dalam Operasi Psikologis (PsyOps) untuk membantu kliennya di sejumlah negara. Grup SCL bekerja dalam operasi militer dan politik di seluruh dunia pada akhir 1990-an, termasuk pemilihan di negara berkembang sepanjang awal 2000-an. Untuk menjalankan bisnisnya di Pemilu Amerika Serikat, Grup SCL membentuk anak perusahaan bernama Cambridge Analytica pada tahun 2012.

Pada 2015, Cambridge Analytica mulai bekerja pada kampanye Ted Cruz untuk memenangkan nominasi Partai Republik 2016. Mereka menggunakan Facebook sebagai sarana untuk "pengawasan pemegang hak pilih" melalui pengumpulan poin data pengguna. Setelah Ted Cruz keluar dari kontestasi, Cambridge Analytica menggunakan strategi yang sama untuk membantu Donald Trump pada Pemilu AS 2016. Investigasi independen terhadap penambangan data ilegal bersama pelapor pelanggaran yang mengaitkan dampak perusahaan pada Brexit, menyebabkan skandal tentang pengaruh media sosial dalam pemilihan politik.

Dalam film tersebut, skandal Cambridge Analytica diungkap oleh beberapa orang yang terlibat di dalamnya.[4]

Skandal[sunting | sunting sumber]

Cambridge Analytica, perusahaan yang bertanggung jawab atas skandal itu, memiliki keahlian dalam big data. Data yang dikumpulkan digunakan sebagai bagian dari strategi pembuatan kampanye besar-besaran yang membidik pengguna secara pribadi. Hasil dari kampanye ini akhirnya mengganggu politik AS dan Inggris hingga menyebabkan klaim keterlibatan perusahaan media sosial seperti Facebook.

Pengambilan data pribadi secara ilegal yang dilakukan Cambridge Analytica pertama kali dilaporkan pada Desember 2015 oleh Harry Davies, seorang jurnalis untuk The Guardian. Dia melaporkan bahwa Cambridge Analytica bekerja untuk Senator Amerika Serikat Ted Cruz dan menggunakan data yang diambil dari jutaan akun Facebook orang tanpa persetujuan mereka.[5] Facebook menolak untuk mengomentari laporan itu selain mengatakan bahwa pihaknya sedang menyelidikinya. Laporan selanjutnya yang mengulas Cambridge Analytica adalah publikasi Swiss, Das Magazin oleh Hannes Grasseger dan Mikael Krogerus pada Desember 2016, Carole Cadwalladr di The Guardian (mulai Februari 2017) dan Mattathias Schwartz di The Intercept (Maret 2017). Brittany Kaiser, mantan direktur Pengembangan Bisnis di Cambridge Analytica, mengungkapkan bahwa semua yang diterbitkan melibatkan Cambridge Analytica dalam kampanye Brexit dan kampanye Ted Cruz benar.

Skandal ini mencapai titik di mana Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, harus bersaksi secara resmi di depan komite khusus dari Amerika Serikat.[6]

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

Ketika mantan CEO Cambridge Analytica, Alexander Nix, terekspos di Channel 4 mengklaim memiliki 5.000 data poin pada setiap pemilih Amerika, Profesor David Carroll tergugah untuk melakukan sesuatu. Dia melakukan upaya hukum untuk mencoba mendapatkan kembali datanya dengan bantuan pengacara Ravi Naik dari ITN Solicitors, seorang ahli privasi data di Inggris.[7]Karena Cambridge Analytica memproses data pengguna melalui SCL di Inggris, keluhan Carroll berada di bawah yurisdiksi Inggris. Pada 4 Juli 2017, Carroll mengajukan pengaduan ke Kantor Komisi Informasi (ICO) Inggris. Kasusnya menjadi satu-satunya tindakan kriminal yang diambil kembali oleh SCL Elections Limited. Akibatnya, SCL didenda £15.000 karena kurangnya kepatuhan dengan ICO. Juga, sebagai akibatnya, Facebook membayar 500.000 Poundsterling atau sekitar Rp9 miliar atas "kurangnya transparansi dan masalah keamanan terkait dengan pengambilan data" dalam skandal tersebut.

Selama upaya hukum yang ditempuh Carroll, SCL Elections mengajukan kebangkrutan perusahaan dan menutup operasinya. Pekerjaan Cambridge Analytica dinyatakan melanggar undang-undang privasi Inggris. ICO mengeluarkan pernyataan yang mengatakan, "Seandainya SCL Elections masih ada dalam bentuk aslinya, niat kami adalah mengeluarkan denda besar bagi perusahaan untuk pelanggaran prinsip salah satu DPA1998 (Data Protection Act 1998) karena memproses data orang secara tidak adil untuk tujuan politik termasuk tujuan yang terhubung dengan kampanye Presiden AS 2016".

Sementara upaya hukum David Carroll terus berjalan, jurnalis investigasi Carole Cadwalladr melanjutkan pekerjaannya meneliti pengaruh Cambridge Analytica.[8] Apa yang dilakukan Carole menuntunnya ke pelapor pelanggaran (whistle-blower) Christopher Wylie, yang menjelaskan bagaimana penargetan mikro, dikombinasikan dengan pengumpulan data secara massal, dapat digunakan untuk mempengaruhi pemilihan umum. Wawancara eksklusif Cadwalladr dengan Wylie dalam The Observer mengungkap bagaimana taktik pemprofilan psikografis dilakukan dengan data pengguna yang diambil dari Facebook dengan bantuan Profesor Cambridge Aleksandr Kogan.[9] Tuduhan ini membawa publik pada skandal Cambridge Analytica di mana Wylie bersaksi di Parlemen Inggris dan menyebutkan nama mantan direktur di Cambridge Analytica, Brittany Kaiser.

Kru film melacak Brittany Kaiser di Thailand, di mana ia mempertimbangkan menjadi pelapor pelanggaran dan mengungkap Cambridge Analytica ke publik, atau menghindari pertanyaan pers. Dengan bantuan wirausahawan sosial kelahiran Inggris, penulis, dan penyelenggara Paul Hilder, ia memutuskan untuk kembali ke Washington, D.C. dan berterus terang. Melalui dokumen spesifik dari arsip Cambridge Analytica yang dimilikinya, Kaiser menjelaskan efektivitas penargetan mikro pada individu yang belum menentukan pilihan, yang ia sebut "persuadable," oleh Cambridge Analytica dalam pemilihan umum A.S. 2016.

Pemeran[sunting | sunting sumber]

  • Carole Cadwalladr, jurnalis investigasi Inggris dan penulis feature untuk The Observer.
  • David Carroll, professor muda desain media di Parsons School of Design di The New School yang mengajukan gugatan resmi terhadap Cambridge Analytica di bawah Perlindungan Data AS tahun 1998 untuk mendapatkan data pribadi miliknya.[10]
  • Brittany Kaiser, mantan direktur pengembangan bisnis Grup SCL, perusahaan induk dari Cambridge Analytica.
  • Julian Wheatland, mantan COO & CFO Cambridge Analytica dan Grup SCL.
  • Roger Mc Namee, fund manager dan pemodal ventura, investor awal di Facebook.
  • Christopher Wylie, mantan direktur penelitian di Cambridge Analytica dan pelapor pelanggaran (whistleblower) skandal Cambridge Analytica.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Robertson, Adi (2019-01-30). "Netflix documentary The Great Hack turns the Cambridge Analytica scandal into high drama". The Verge (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-02-24. 
  2. ^ "The Great Hack, Dokumenter Soal Cambridge Analytica Rilis Hari Ini". tirto.id. Diakses tanggal 2020-02-24. 
  3. ^ Bradshaw, Peter (2019-07-23). "The Great Hack review – searing exposé of the Cambridge Analytica scandal". The Guardian (dalam bahasa Inggris). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2020-02-24. 
  4. ^ "'The Great Hack': Film Review | Sundance 2019". The Hollywood Reporter (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-02-26. 
  5. ^ Davies, Harry (2015-12-11). "Ted Cruz campaign using firm that harvested data on millions of unwitting Facebook users". The Guardian (dalam bahasa Inggris). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2020-02-26. 
  6. ^ Wong, Julia Carrie (2018-03-22). "Mark Zuckerberg apologises for Facebook's 'mistakes' over Cambridge Analytica". The Guardian (dalam bahasa Inggris). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2020-02-26. 
  7. ^ "One Man's Obsessive Fight to Reclaim His Cambridge Analytica Data". Wired (dalam bahasa Inggris). ISSN 1059-1028. Diakses tanggal 2020-02-27. 
  8. ^ Judah, Story by Ben. "Britain's Most Polarizing Journalist". The Atlantic. ISSN 1072-7825. Diakses tanggal 2020-03-01. 
  9. ^ Cadwalladr, Carole (2018-03-18). "'I made Steve Bannon's psychological warfare tool': meet the data war whistleblower". The Guardian (dalam bahasa Inggris). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2020-03-01. 
  10. ^ Paris, Martine. "What's My Score? Great Hack Star Says You Should Know". Forbes (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-02-24. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]