Terorisme siber
Artikel ini memiliki bagian pembuka yang terlalu panjang. (Oktober 2025) |
| Terorisme |
|---|
Terorisme siber (bahasa Inggris: cyberterrorism) adalah penggunaan internet untuk melakukan tindakan kejahatan dan kekerasan yang mengakibatkan atau mengancam hilangnya nyawa atau kerugian fisik yang signifikan untuk mencapai keuntungan politik melalui intimidasi. Hal ini juga terkadang dianggap sebagai tindakan terorisme Internet dalam aktivitas teroris, termasuk tindakan disengaja, gangguan jaringan komputer berskala besar, terutama komputer pribadi yang terhubung ke Internet, dengan alat seperti virus komputer.
Terorisme siber adalah istilah yang kontroversial. Beberapa penulis memilih definisi yang sangat sempit, berkaitan dengan penyebaran, oleh organisasi teroris yang diketahui, adanya serangan gangguan terhadap sistem informasi untuk tujuan utama menciptakan alarm dan kepanikan. Beberapa penulis lain memilih definisi yang terlalu luas yang cenderung salah memasukkan kejahatan siber padahal kenyataannya, terorisme siber dan kejahatan siber adalah dua isu yang sangat berbeda dan harus didefinisikan secara terpisah. Terorisme daring harus dianggap sebagai terorisme siber ketika ada ketakutan yang ditimbulkan pada sekelompok orang, sedangkan kejahatan siber adalah tindakan melakukan kejahatan atau kejahatan secara daring biasanya tanpa menggunakan rasa takut. Dengan definisi yang sempit dan luas ini, sulit untuk mengidentifikasi kasus terorisme daring mana yang menjadi terorisme siber atau kejahatan siber.[1]
Terorisme siber juga dapat didefinisikan sebagai penggunaan komputer, jaringan, dan internet umum yang disengaja untuk menyebabkan kerusakan dan bahaya bagi tujuan pribadi.[2] Pelaku teroris siber berpengalaman yang sangat ahli dalam hal peretasan dapat menangani kerusakan besar pada sistem pemerintah, catatan rumah sakit, dan program keamanan nasional, yang sering kali membuat negara menjadi kacau dan takut akan serangan lebih lanjut.[3] Tujuan teroris semacam itu mungkin bersifat politis atau ideologis karena hal ini dapat dilihat sebagai bentuk terorisme.[4]
Terorisme siber juga didefinisikan sebagai proses memenuhi kebutuhan logistik melalui tindakan kriminal kekerasan, aktivitas, dan propaganda yang dilakukan oleh anggota organisasi teroris dan individu yang terkait melalui sistem jaringan guna mencapai tujuan politik.[5] Adapun menurut Technolytics Institute dari Amerika Serikat, terorisme siber merupakan penggunaan kegiatan yang mengganggu atau ancaman secara terencana terhadap komputer dan/atau jaringan dengan maksud untuk menimbulkan kerugian atau memajukan tujuan sosial, ideologi, agama, politik, atau tujuan serupa dan juga untuk mengintimidasi siapa pun yang mendukung hal tersebut.[6]
Ada banyak kekhawatiran dari sumber pemerintah dan media tentang potensi kerusakan yang bisa diakibatkan oleh terorisme siber, dan hal tersebut telah mendorong upaya oleh badan pemerintah seperti Federal Bureau of Investigations (FBI) dan Central Intelligence Agency (CIA) untuk mengakhiri serangan siber dan terorisme siber.[3]
Ada beberapa kejadian besar dan kecil dari terorisme siber. Al-Qaeda memanfaatkan internet untuk berkomunikasi dengan para pendukungnya dan bahkan untuk merekrut anggota baru.[7] Estonia, sebuah negara Baltik yang terus berkembang dalam hal teknologi, menjadi medan pertempuran bagi teror siber pada bulan April 2007 setelah perselisihan mengenai penghapusan patung soviet PDII yang terletak di ibu kota Estonia, Tallinn.[1]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Beberapa peristiwa penting mengungkapkan betapa besar dampak yang dapat ditimbulkan oleh serangan siber. Salah satu yang paling mencolok adalah insiden Worm Morris pada 1988, di mana worm yang tak sengaja dilepaskan oleh Robert Tappan Morris menginfeksi ribuan komputer dan menyebabkan gangguan besar di jaringan internet Amerika Serikat. Ini membuka mata dunia tentang potensi kerusakan dari serangan digital. Pada 2007, serangan DDoS terhadap Estonia menunjukkan bagaimana terorisme siber dapat menjadi alat geopolitik. Ribuan situs penting lumpuh akibat serangan yang diduga terkoordinasi dengan aktor negara. Ini menandai penggunaan serangan digital dalam strategi politik internasional. Lebih lanjut, kelompok ISIS memanfaatkan media sosial antara 2014–2017 untuk menyebarkan propaganda dan merekrut anggota dengan teknik canggih seperti enkripsi dan video manipulatif. Ini menunjukkan bagaimana dunia maya digunakan untuk radikalisasi dan manipulasi ideologi.[8]
Ancaman terorisme siber juga meluas dengan serangan DDoS yang semakin merugikan finansial, serta teknik social engineering yang memungkinkan peretas mengakses informasi sensitif. Selain itu, perangkat lunak pihak ketiga yang rentan menambah tantangan bagi perusahaan dalam menjaga keamanan data. Terorisme siber lebih dari sekadar ancaman teknis; ia melibatkan aspek psikologis dan sosial yang dapat merusak stabilitas global. Keamanan dunia maya kini menjadi prioritas utama untuk mencegah serangan yang semakin canggih.[9]
Tingkat kemampuan
[sunting | sunting sumber]Di tahun 1999, Sekolah Pascasarjana Angkatan Laut di Monterey, California bagian Center for the Study of Terrorism and Irregular Warfare membahas tentang tingkat kemampuan dalam terorisme siber:[10]
- Sederhana-Tidak Terstruktur: Kemampuan dalam melakukan peretasan sistem milik individualnya masih dasar dan menggunakan alat yang dibuat oleh orang lain. Biasanya, dalam tingkatan ini pihak teroris hanya memiliki kemampuan yang sedikit dalam menganalisis target dan memegang kendali.
- Terstruktur-Lanjutan: Sudah memiliki kemampuan untuk meretas dengan cara yang lebih canggih dan bisa menciptakan sebuah alat peretasan dasar. Pihak teroris pada tahap ini sudah memiliki kemampuan dasar untuk menganalisis target dan memegang kendali.
- Terkoordinasi-Kompleks: Mampu melakukan penyerangan secara terkoordinasi yang menyebabkan gangguan massal terhadap pertahanan yang sudah terintegrasi, serta menciptakan alat peretas yang canggih. Pihak teroris pada tahap ini memiliki kemampuan yang sangat mumpuni dalam mengakses target dan memegang kendali.
Motivasi
[sunting | sunting sumber]Pada umumnya, terorisme siber didasarkan oleh empat motivasi umum,[11] yaitu adanya kesempatan untuk bertindak yang mana hal ini juga berkaitan dengan adanya anonimitas di dunia maya. Di dunia maya, semua orang tidak diwajibkan untuk menunjukkan identitas mereka sebagai seorang pengguna internet, hal inilah yang pada akhirnya membuat seseorang dapat melakukan seluruh tindakan secara anonim tanpa membuat orang lain tahu tentang siapa ia sebenarnya. Kemudian, terorisme siber juga dapat dilatarbelakangi oleh keinginan seseorang untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok yang menurutnya sejalan dengan ideologi yang ia punya.
Selain itu, pelaku terorisme siber juga dapat melakukan aksinya jika ia ingin mendapatkan status sosial atau pengakuan. Hal tersebut tentunya akan sangat mungkin terjadi apabila aksi terornya memiliki dampak yang dirasakan oleh masyarakat luas. Apabila tujuan ini tercapai, maka si pelaku terorisme siber tentunya akan mendapatkan pengakuan ataupun atensi yang ia inginkan. Motivasi terakhir yang dapat melatarbelakangi seseorang melakukan aksi terorisme siber berkaitan dengan keinginannya untuk mendapatkan keuntungan finansial. Biasanya, hal tersebut bisa ia capai dengan aksi pemerasan dan ancaman. Pelaku terorisme siber akan meminta sang korban untuk mengirimkan sejumlah nominal uang jika sang korban ingin keamanannya terjaga. Akan tetapi, keuntungan finansial yang didapatkan oleh para pelaku terorisme siber juga dapat berasal dari cryptocurrency, ransomware, dan lain sebagainya.
Empat motivasi umum yang telah dijabarkan sebelumnya tentu memiliki kaitan dengan tiga tema utama, yaitu persepsi atas ketidakadilan, keinginan untuk membalas dendam, serta kebingungan identitas.[12] Pertama-tama, jika membahas mengenai persepsi atas ketidakadilan, maka erat kaitannya dengan pola pikir suatu individu yang cenderung membenarkan tindakannya dalam merespons suatu hal yang ia anggap kurang adil untuk dirinya sehingga akan mengarah pada proyeksi suatu tindakan agresif kepada orang-orang yang ia anggap bersalah atau dianggap sebagai musuh. Kemudian, ada keinginan untuk membalas dendam yang berkaitan dengan bagaimana seorang individu merasa butuh untuk melakukan suatu tindakan untuk mempertahankan harga dirinya setelah mendapat penghinaan atau merasakan sebuah ketidakadilan. Lalu, kebingungan identitas berkaitan dengan bagaimana suatu individu yang tidak mengalami perkembangan identitas dengan baik akan cenderung terjerumus pada suatu pandangan atau ideologi yang salah sehingga dapat menjadi penyebab dari adanya inisiasi tindakan radikalisme.
Dampak
[sunting | sunting sumber]Adapun dampak terorisme siber terhadap kondisi psikologis korban, yaitu:[13]
- Peningkatan Kecemasan dan Ketidakamanan. Korban terorisme siber sering kali mengalami peningkatan tingkat stres dan kecemasan secara signifikan. Serangan yang bersifat anonim dan tak terduga menimbulkan perasaan tidak berdaya, takut, dan kehilangan rasa aman, baik di dunia maya maupun di kehidupan nyata. Ketidakpastian atas kemungkinan serangan lanjutan membuat individu merasa terus-menerus berada dalam ancaman, sehingga menurunkan stabilitas emosional dan psikologis.
- Persepsi Risiko yang Tinggi. Terorisme siber juga mendorong masyarakat untuk membentuk persepsi risiko yang lebih tinggi terhadap penggunaan teknologi. Kekhawatiran terhadap kemungkinan terulangnya serangan membuat mereka menjadi lebih waspada dan curiga dalam menjalani aktivitas digital sehari-hari. Hal ini dapat memengaruhi cara individu berinteraksi dengan teknologi, misalnya dengan membatasi penggunaan perangkat digital, menghindari transaksi online, atau bahkan menarik diri dari aktivitas sosial berbasis internet. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan perubahan perilaku yang signifikan serta berdampak pada kualitas hidup masyarakat secara umum.
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]- Serangan siber di Estonia 2007
- Serangan siber saat perang Ossetia Selatan 2008
- Kejahatan melalui komputer
- Cyber Operations
- Perang dunia maya
- FBI Cyber Division
- Internet dan terorisme
- Peretasan patriotik
- US-CERT (United States Computer Emergency Readiness Team)
- Gangguan listrik disebabkan oleh tupai
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 Hower, Sara; Uradnik, Kathleen (2011). Cyberterrorism (Edisi 1st). Santa Barbara, CA: Greenwood. hlm. 140–149. Diakses tanggal 4 Desember 2016.
- ↑ Matusitz, Jonathan (April 2005). "Cyberterrorism:". American Foreign Policy Interests. 2: 137–147.
- 1 2 Laqueur, Walter; C., Smith; Spector, Michael (2002). Cyberterrorism. Facts on File. hlm. 52–53. Diakses tanggal 5 December 2016.
- ↑ "India Quarterly : a Journal of International Affairs". 42–43. Indian Council of World Affairs. 1986: 122.
The difficulty of defining terrorism has led to the cliche that one man's terrorist is another man's freedom fighter
- ↑ Havle, Nedim; Aksoy, Sudiye (2024-03-31). "THEORETICAL APPROACHES TO THE PSYCHOLOGY OF CYBERTERRORISM". Adli Bilimler ve Suç Araştırmaları (dalam bahasa Inggris). 6 (1): 3–21. ISSN 2687-3397.
- ↑ "Cyber Operations and Cyber Terrorism, Handbook Number 1.02". 2005-08-15.
- ↑ Worth, Robert (25 Juni 2016). "Terror on the Internet: The New Arena, The New Challenges". New York Times Book Review: 21. Diakses tanggal 5 Desember 2016.
- ↑ Kadir, Nadiah Khaeriah; Judhariksawan, Judhariksawan; Maskun, Maskun (2019-11-15). "Terrorism and Cyberspace: A Phenomenon of Cyber-Terrorism as Transnational Crimes". Fiat Justisia: Jurnal Ilmu Hukum (dalam bahasa Inggris). 13 (4): 333–344. doi:10.25041/fiatjustisia.v13no4.1735. ISSN 2477-6238.
- ↑ "Yustisia". jurnal.uns.ac.id (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-10-09.
- ↑ Dorothy E. Denning (23 May 2000). "Cyberterrorism". www.cs.georgetown.edu. Diakses tanggal 2025-10-09. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ↑ Havle, Nedim; Aksoy, Sudiye (2024-03-31). "THEORETICAL APPROACHES TO THE PSYCHOLOGY OF CYBERTERRORISM". Adli Bilimler ve Suç Araştırmaları (dalam bahasa Inggris). 6 (1): 3–21. ISSN 2687-3397.
- ↑ Shadach, E.; Geller, S.; Barak, M.; Hill, I.; Azani, E. (2021-05). "A psychological typology of terror organizations". Aggression and Violent Behavior (dalam bahasa Inggris). 58: 101562. doi:10.1016/j.avb.2021.101562.
- ↑ Gross, Michael L.; Canetti, Daphna; Vashdi, Dana R. (2017-02-15). "Cyberterrorism: its effects on psychological well-being, public confidence and political attitudes". Journal of Cybersecurity (dalam bahasa Inggris). doi:10.1093/cybsec/tyw018. ISSN 2057-2085.
Bacaan lebih lanjut
[sunting | sunting sumber]- Alexander, Yonah Swetman, Michael S. (2001). Cyber Terrorism and Information Warfare: Threats and Responses. Transnational Publishers Inc.,U.S. ISBN 1-57105-225-9. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- Bibi van Ginkel, "The Internet as Hiding Place of Jihadi Extremists" (International Centre for Counter-Terrorism – The Hague, 2012) Diarsipkan 2014-10-29 di Wayback Machine.
- Colarik, Andrew M. (2006). Cyber Terrorism: Political and Economic Implications. Idea Group, U.S. ISBN 1-59904-022-0.
- Hansen, James V.; Benjamin Lowry, Paul; Meservy, Rayman; McDonald, Dan (2007). "Genetic programming for prevention of cyberterrorism through dynamic and evolving intrusion detection". Decision Support Systems. 43 (4): 1362–1374. doi:10.1016/j.dss.2006.04.004. SSRN 877981.
- Verton, Dan (2003). Black Ice: The Invisible Threat of Cyber-terrorism. Osborne/McGraw-Hill, U.S. ISBN 0-07-222787-7.
- Weimann, Gabriel (2006). Terror on the Internet: The New Arena, the New Challenges. United States Institute of Peace, U.S. ISBN 1-929223-71-4.
- Blau, John (November 2004). "The battle against cyberterror". NetworkWorld. Diakses tanggal March 20, 2005.
- Gross, Grant (Nov 2003). "Cyberterrorist attack would be more sophisticated that past worms, expert says". ComputerWorld. Diakses tanggal March 17, 2005.
- Poulsen, Kevin (August 2004). "South Pole 'cyberterrorist' hack wasn't the first". SecurityFocus News. Diakses tanggal March 17, 2005.
- Thevenet, Cédric (November 2005). "Cyberterrorisme, mythe ou réalité?" (PDF) (dalam bahasa French). terrorisme.net. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- U.S. Army Cyber Operations and Cyber Terrorism Handbook 1.02
- Rayamajhi, shreedeep (2009). "Research Paper -A Synopsis on Cyber Terrorism and Warfare". Scribd.
- Jacqueline Ching (2010). Cyberterrorism. Rosen Pub Group. ISBN 1-4358-8532-5.
- Rolón, Darío N., (2013) Control, vigilancia y respuesta penal en el ciberespacio, Latinamerican´s new security thinking, Clacso.
- Costigan, Sean (2012). Cyberspaces and Global Affairs. Ashgate. ISBN 978-1-4094-2754-4. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-04-02. Diakses tanggal 2017-07-02.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]Umum
[sunting | sunting sumber]- CRS Report for Congress – Computer Attack and Cyber Terrorism – 17/10/03
- Cyber-Terrorism: Propaganda or Probability? Diarsipkan 2011-07-24 di Wayback Machine.
- How terrorists use the Internet Wawancara ABC Australia dengan Profesor Hsinchun Chen
- Department of Defense Cyber Crime Center
- defcon.org Diarsipkan 2019-09-28 di Wayback Machine.
- RedShield Association- Cyber Defense Diarsipkan 2017-06-23 di Wayback Machine.
- Cyber Infrastructure Protection – Strategic Studies Institute
- strategicstudiesinstitute.army.mil
- Cyber-Terrorism and Freedom of Expression: Sultan Shahin Asks United Nations to Redesign Internet Governance New Age Islam
- Global response to cyberterrorism and cybercrime: A matrix for international cooperation and vulnerability assessment
Berita
[sunting | sunting sumber]- Cyber Security Task Force Takes ‘Whole Government’ Approach Diarsipkan 2016-06-02 di Wayback Machine. FBI, 20 Oktober 2014
- BBC News – US warns of al-Qaeda cyber threat – 01/12/06
- BBC News – Cyber terrorism 'overhyped' – 14/03/03