Ini adalah versi suara dari artikel ini

Teori kuantitas uang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Teori kuantitas uang merupakan teori dalam ekonomi yang menyatakan tentang hubungan antara peredaran uang dan tingkat inflasi. Irving Fisher menjadi pencetus teori ini. Teori kuantitas uang digunakan dalam proses pemindahan moneter jalur uang. Pandangan utamanya adalah adanya faktor penyebab inflasi yang mencakup sifat langsung dalam pemindahan moneter, jumlah uang beredar dan pertumbuhannya.[1] Dalam ekonomi moneter, teori kuantitas uang menyatakan bahwa tingkat harga umum barang dan jasa bergantung langsung pada jumlah uang yang beredar, atau persediaan uang.[2] Teori tersebut ditantang oleh ekonomi Keynesia,[3] namun diperbaharui dan dirombak oleh mahzab ekonomi moneteris. Meskipun para ekonom arus utama sepakat bahwa teori kuantitas memegang kebenaran dalam jangka panjang, masih ada ketidaksepakatan soal keabsahannya dalam jangka pendek.

Pencetus[sunting | sunting sumber]

Irvinf Fisher menjadi pencetus teori kuantitas uang yang kemudian menjadi bagian dari teori permintaan uang. Dalam pandangan Fisher, keseimbangan keuangan selalu terjadi di dalam masyarakat. Fisher menetapkan bahwa fungsi uang yang utama adalah sebagai alat tukar. Keseimbangan ini teramati dengan kesamaan jumlah uang yang diterima oleh penjual dengan jumlah uang yang dibayarkan oleh pembeli. Nilai dari barang atau jasa yang dibeli sama dengan nilai barang atau jasa yang dijual pada suatu periode tertentu. Banyaknya kegiatan transaksi dikalikan dengan rerata harga barang merupakan nilai dari barang-barang yang dijual. Banyaknya uang sama dengan nilai dari barang yang ditransaksikan di dalam masyarakat dikalikan dengan beberapa kali rata-rata perputaran uang dalam periode yang sama. Teori kuantitas uang Fisher awalnya tidak ditujukan untuk teori moneter. Pengembangannya menjadi teori moneter didasarkan pada beberapa asumsi. Asumsi pertama adalah uang selalu dimiliki oleh orang karena kegunaannya dalam proses transaksi. Lembaga sosial yang ada di masyarakat turut mempengaruhi kepemilikan uang. Dalam jangka pendek, jumlah uang dapat dianggap konstan dan tetap. Pengeluaran masyarakat atau pendapatan nasional menentukan jumlah transaksi dalam satu periode tertentu.[4]

Pandangan[sunting | sunting sumber]

Teori kuantitas uang digunakan oleh para ekonom untuk analisis ekonomi makro. Dalam ilmu ekonomi, teori kuantitas uang menjadi cara untuk mengemukakan pandangan mengenai hubungan antara penawaran uang dan tingkat harga. Para ekonom membagi teori kuantitas uang ke dalam tiga pandangan. Pandangan pertama menyatakan bahwa seluruh penawaran uang yang terdapat dalam perekonomian digunakan untuk transaksi. Tujuan dari transaksi adalah untuk membiayai pembelian barang dan jasa. Pandangan kedua adalah adanya jumlah uang beredar yang tetap. Pandangan ini didasarkan pada kegiatan belanja dan menerima uang bagi setiap orang relatif tetap. Pandangan ketiga merupakan asumsi bahwa tingkat kesempatan kerja penuh selalu tercapai dalam perekonomian. Produksi nasional secara maksimal terjadi dalam perekonomian dan tidak dapat ditambah lagi.[5]

Kritik[sunting | sunting sumber]

John Maynard Keynes memberikan kritik terhadap analisis ahli ekonomi klasik dalam teori kuantitas uang. Kritik Keynes berkaitan dengan pandangan mazhab ekonomi klasik terhadap pengaruh uang atas harga-harga dan tingkat kegiatan ekonomi. Keynes berlainan pendapat dengan teori kuantitas uang. Ia meyakini bahwa perubahan yang sama atas tingkat harga tidak selalu disebabkan oleh perubahan uang dalam peredaran. Selain itu, Keynes juga meyakini bahwa perubahan atas pendapatan nasional tidak dipengaruhi oleh perubahan jumlah uang beredar. Keynes meyakini bahwa harga dapat dinaikkan dengan pertambahan uang beredar. Namun perubahan harga tidak selalu sebanding dengan pertambahan uang beredar. Dalam pemikiran Keynes, teori kuantitas uang tidak berlaku dalam ekonomi negara dengan keadaan jumlah pengangguran yang banyak. Selain itu, Keynes juga menambahkan faktor kenaikan biaya produksi agar harga dapat dipengaruhi oleh jumlah uang beredar.[6]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Natsir, M. (2009). Ekonomi Moneter: Teori, Kebijakan, dan Kajian Empiris (PDF). Malang: Tunggal Mandiri. hlm. 10. ISBN 978-979-19760-6-0. 
  2. ^ "quantity theory of money". 
  3. ^ Minsky, Hyman P. John Maynard Keynes, McGraw-Hill. 2008. p.2.
  4. ^ Sanjaya, Putu Krisna Adwitya (2019). Ekonomika Uang: Based on Empirical Research (PDF). Bandung: CV. Sadari. hlm. 13. ISBN 978-623-7491-00-2. 
  5. ^ Muchtolifah. Ekonomi Makro (PDF). Unesa Press. hlm. 55. ISBN 978-979-028-241-4. 
  6. ^ Abdullah, T., dan Sintha Wahjusaputri (2018). Bank dan Lembaga Keuangan (PDF) (edisi ke-2). Jakarta: Mitra Wacana Media. hlm. 70. 

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]