Taman Hutan Raya Sultan Adam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Taman Hutan Raya Sultan Adam adalah tahura yang terdapat di Kalimantan Selatan.

Luas, Letak dan Dasar Hukum[sunting | sunting sumber]

  • Luas : 112.000 hektare
  • Letak administratif :
    • meliputi Kecamatan :
  1. Aranio, Banjar
  2. Karang Intan, Banjar
  3. Pelaihari, Tanah Laut
  4. Batu Ampar, Tanah Laut
  5. Jorong, Tanah Laut
  6. Kintap, Tanah Laut
  • Kabupaten : Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut

Letak astronomis[sunting | sunting sumber]

  • Bujur : 114º 54’ - 115º 10’ BT
  • Lintang : 3º 20’ - 3º 45’ LS

Dasar hukum[sunting | sunting sumber]

Penetapan Keppres RI No. 52 tahun 1989 tanggal 18 Oktober 1989

Aksesibilitas[sunting | sunting sumber]

Dari Martapura, Banjar dan Kota Banjarbaru jarak tempuh ± 20 km, sedangkan dari Kota Banjarmasin berjarak ± 50 km.

Kondisi Fisik[sunting | sunting sumber]

  • Topografi : Bervariasi dari datar sampai sangat curam
  • Ketinggian : 63 - 1.373 mdpl
  • Tanah : Podsolik merah kuning, latosol dan litosol
  • Geologi : Batuan induknya merupakan formasi sedimen pra-tersier, batuan pluton dan batuan basa
  • Iklim : Tipe iklim A dan B (Schmidt dan Ferguson)

Curah hujan (rata-rata) : 1.150 - 2.000 mm/tahun Temperatur (rata-rata) : 20 - 35 °C Kelembaban (rata-rata) : 73 – 82 %.

Potensi Kawasan[sunting | sunting sumber]

Tipe ekosistem[sunting | sunting sumber]

Hutan hujan tropika

Flora[sunting | sunting sumber]

meranti (Shorea spp.), ulin (Eusideroxylon zwageri), kahingai (Santiria tomentosa), damar (Dipterocarpus spp.), pampahi (Ilexsimosa spp.), kuminjah laki (Memecylon leavigatum), keruing (Dipterocarpus grandiflorus), mawai (Caethocarpus grandiflorus), jambukan (Mesia sp.), kasai (Arthocarpus kemando), dan lain-lain.

Fauna[sunting | sunting sumber]

bekantan (Nasalis larvatus), owa-owa (Hylobates muelleri), lutung merah (Presbytis rubicunda), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kijang merah (Muntiacus muntjak), kijang mas (Muntiacus atherodes), pelanduk (Tragulus javanicus), landak (Hystrix brachyura), musang air (Cynogale benetti), macan dahan (Neofelis nebulosa), kuau/harui (Argusianus argus), rangkong badak (Buceros rhinoceros), enggang (Berenicornis comatus), elang hitam (Ictinaetus malayensis), elang bondol (Haliastur indus), raja udang sungai (Alcedo atthis), raja udang hutan (Halycon chloris), dan lain-lain

Potensi Wisata Alam[sunting | sunting sumber]

Waduk Riam Kanan / Waduk PLTA Ir. P.M. Noor[sunting | sunting sumber]

Berupa Danau / Waduk seluas lebih kurang 8.000 Ha dengan fungsi utama sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air satu-satunya di Provinsi Kalimantan Selatan. Berperan penting sebagai pengatur tata air, mencegah erosi dan banjir, sebagai objek wisata alam, danau/waduk ini memiliki bentang alam yang menarik dengan panorama danau, lembah dan bukit disekelilingnya serta untuk kegiatan olahraga air.

Pulau Pinus[sunting | sunting sumber]

Berupa pulau seluas lebih kurang 3 Ha, terletak di tengah danau/waduk, dapat ditempuh lebih kurang 15 menit dari Pelabuhan Tiwingan. Pulau ini didominasi oleh tanaman Pinus Merkussi.

Pulau Bukit Batas[sunting | sunting sumber]

Pulau seluas lebih kurang 1 Ha ini berdekatan letaknya dengan pulau pinus, dapat ditempuh lebih kurang 30 menit dari pelabuhan Tiwingan. Seperti halnya dengan pulau pinus, kawasan ini cocok untuk rekreasi santai dan olahraga air.

Air Terjun Surian[sunting | sunting sumber]

Air terjun ini terdiri dari air terjun Surian, air terjun Batu Kumbang, dan air terjun Mandin Sawa yang sangat menunjang kegiatan Bina Cinta Alam. Dari sungai Hanaru dapat dicapai lebih kurang 2 jam dengan menelusuri sungai Hanaru atau lebih kurang 3 jam melalui jalan patroli yang sudah ada.

Air Terjun Bagugur[sunting | sunting sumber]

Air terjun ini terletak di hulu sungai Tabatan. Dari desa Kalaan dapat ditempuh lebih kurang 1 – 2 jam melalui jalan reboisasi dan areal bekas perladangan berpindah.

Bumi Perkemahan Awang Bangkal[sunting | sunting sumber]

Bumi perkemahan ini seluas lebih kurang 6 Ha terletak di daerah Awang Bangkal. Tidak jauh dari jalan raya Banjarbaru – Pelabuhan Tiwingan, berada didekat sungai Tambang Baru, sehingga mudah mendapatkan air. Bentang alam dari bukit disekelilingnya serta tepian sungai Tambang Baru merupakan daya tarik tersendiri.

Pusat Pengelola/Informasi di Mandiangin[sunting | sunting sumber]

Kawasan ini terletak di daerah Mandiangin merupakan suatu komplek bangunan yaitu kantor pusat pengelola, kantor pusat informasi sumber daya alam, plaza dan bumi perkemahan. Di areal ini terdapat prasasti peresmian berdirinya TAHURA Sultan Adam dan Puncak Penghijauan Nasional (PPN) ke 29 yang ditandatangani oleh Presiden RI Bapak Soeharto. Di lokasi ini pula pusat pengelolaan hutan pendidikan Fakultas Kehutanan UNLAM. Pada pengembangan selanjutnya kawasan ini dikembangkan menjadi arboretum, penangkaran satwa, taman safari, kolam renang, taman burung, bumi perkemahan dilengkapi dengan souvenir shop dan lain-lain.

Pengelolaan[sunting | sunting sumber]

Sejarah Kawasan[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan Keppres RI Nomor 52 tahun 1989 Tahura Sultan Adam mempunyai luas sebesar 112.000 Ha yang terdiri dari beberapa kawasan yaitu :

Hutan Lindung Riam Kanan[sunting | sunting sumber]

Kawasan ini ditetapkan dengan Sk Menteri Pertanian Nomor: 10/Kpts/UM/I/1975 tgl 8 Januari 1975 seluas lebih kurang 55.000 Ha.

Kawasan Kinain Buak[sunting | sunting sumber]

Kawasan ini ditunjuk melalui SK Gubernur Jenderal Nomor: 33 tgl 8 Mei 1926 seluas lebih kurang 13.000 Ha.

Suaka Margasatwa Pelaihari – Martapura[sunting | sunting sumber]

Kawasan ini ditetapkan dengan SK Menteri Pertanian Nomor: 65/kpts/Um/2/1974 tanggal 13 Februari 1974 dan Nomor: 765/Kpts/Um/10/1980 tanggal 23 Oktober 1980 seluas lebih kurang 36.400 Ha.

Hutan Pendidikan Unlam[sunting | sunting sumber]

  • Kawasan ini ditunjuk melalui SK. Gubernur Nomor: DA.144/PH/1980 tanggal 31 Desember 1980 dengan luas lebih kurang 2.000 Ha berlokasi di Mandiangin.
  • Dalam hal pengelolaan, kawasan Tahura Sultan Adam dikelola sejak tahun 1990 oleh suatu Badan Pengelola yang ditetapkan dengan Surat Gubernur Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan Nomor: 0155 Tahun 1990 tanggal 2 Mei 1990. Dalam perkembangan pengelolaannya (era otonomi), pada tahun 2003 Badan Pengelola sebelumnya ditinjau kembali, dan selanjutnya dibentuk kembali dengan Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan Nomor: 0283 Tahun 2003 tanggal 15 September 2003 tentang Pembentukan Badan Pengelola Tahura Sultan Adam Provinsi Kalimantan Selatan.

Penataan batas[sunting | sunting sumber]

Tata batas (buatan)[sunting | sunting sumber]

  • Suaka Margasatwa Pleihari Martapura : 113 km Tahun 1981/1982
  • Hutan Lindung Kinain Buak : 134,5 km Tahun 1976/1977
  • Hutan Lindung Riam Kanan : 104,5 km Tahun 1976/1977
  • Hutan Pendidikan Gunung Waringin dan Pegunungan Babaris : 22,45 km Tahun 2001

=Rekonstruksi[sunting | sunting sumber]

  • Suaka Mragasatwa Pleihari Martapura : 113 km Tahun 1990/1991, 1996/1997

Permasalahan[sunting | sunting sumber]

Jenis Permasalahan[sunting | sunting sumber]

  • Penebangan liar, perladangan liar, penambangan liar dan kebakaran hutan

Upaya[sunting | sunting sumber]

  • Pengamananan kawasan, penyuluhan dan pembinaan daerah penyangga, koordinasi dengan instansi terkait, dan usulan rehabilitasi kawasan.

Referensi[sunting | sunting sumber]