Sungai Patai, Sungayang, Tanah Datar
Sungai Patai | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Sumatera Barat | ||||
| Kabupaten | Tanah Datar | ||||
| Kecamatan | Sungayang | ||||
| Kode Kemendagri | 13.04.07.2001 | ||||
| Luas | 2,88 km² | ||||
| Jumlah penduduk | 2.308 jiwa | ||||
| |||||
Sungai Patai merupakan salah satu nagari yang termasuk dalam kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Nagari ini terletak di dekat Batusangkar, ibu kota dari kabupaten Tanah Datar.[1]
Sejarah Singkat
[sunting | sunting sumber]Pembentukan suatu nagari umumnya di daerah kawasan Minang sejak dahulunya sesuai istilah pepatah yang ada pada masyarakat adat Minang itu sendiri yaitu Dari Taratak manjadi Dusun, dari Dusun manjadi Koto, Dari Koto manjadi Nagari, Nagari ba Panghulu. Jadi dalam sistem administrasi pemerintahan di kawasan Minang dimulai dari struktur terendah disebut dengan Taratak, kemudian berkembang menjadi Dusun, kemudian berkembang menjadi Koto dan kemudian berkembang menjadi Nagari. Biasanya setiap nagari yang dibentuk tersebut minimal telah terdiri dari 4 suku yang mendomisili kawasan tersebut.[2]
Dahulunya ditempat itu terdapat air yang menyembur dari tanah. Air yang menyembur dengan tegak lurus itu oleh orang-orang sekitar disebut dengan aie tabik. Sekarang, air tabik itu jatuhnya di sebuah tabek yang ada di ateh lago.
Selain itu, versi lain dari nama nagari Sungai Patai merujuk pada kata Pata-i artinya Patahi, tempah untuk mematahkan atau membatalkan niat.[3]
Catatan tertulis dari penelitian kelompok yang beranggotakan sepuluh orang yang diketuai langsung oleh Wali Nagari saat itu yaitu N.Z. Datuak Paduko Jalelo angotanya adalah Abdul Malik Muhammad, Intan Penghulu, Mawardi Ibrahim, Nai Tan Marajo, Sutan Mangun, Khatib Kayo ditemukan informasi tentang asal-usul nama Sungai Patai. Dalam catatan para peneliti tersebut diuraikan bahwa Nagari asal Sungai Patai itu terletak di Talago air mancur yang berada pada lereng Bukit Barisan yang membujur dari arah Utara ke Selatan Sumatra di sisi Barat Gunung Sago. Asal-usul Kenagarian Sungai Patai[3][4] dari talago air macur terletak di sebelah timur Sungai Patai sekarang. Dahulunya ditempat itu terdapat air yang menyembur dari tanah. Air yang menyembur dengan tegak lurus itu oleh orang-orang sekitar disebut dengan aie tabik. Sekarang, air tabik itu jatuhnya di sebuah tabek yang ada di ateh lago.
“Turunlah orang dari angin Sepanjaringan, singgah sebentar di Sungai Jambu lalu ke Tigo batu menetap sakatiko di Sungai Tarab. Dan pada suatu katiko, hari elok katiko baiak, seorang Pengetuo dari rombongan itu melihat ke arah matahari hidup, lalu berkata kepada pengiringnya “ a Tu miang” sambil menunjuk tempat yang akan ditujunya. Sampai sekarang puncak bukit itu bernama juga Puncak Tumiang. Rombongan manusia ini berangkat menuju tempat yang ditunjuk Pengetuonya itu bersama-sama. Saat mereka pergi dari pariangan padang panjang mereka sudah membaawa hewan ternak.
Sesampainya mereka ditempat kaki bukit itu menemui anak sungai (sungai ini kelak nama asal negeri) lantas mereka menyeberangi sungai itu menuju arah puncak yang ditunjuk Pengetuonya. Mereka naik dari sawah lughah, ujung guntuang ateh guguak untuk naik ke puncak bukit yang mereka lihat dari saat akan berangkat. Sesampainya mereka di suatu dataran, mereka menemui taratak-taratak yang telah di diami manusia di sekitar sebuah talago yang mempunyai air mancur.
Pengetuo mereka menanyakan siapa yang punya teratak-teratak ini dan siapa Pengetuonya. Lantas seorang yang tinggal di sebuah Teratak Bundar (sekarang seperti bundaran tanah dan masih disebut Tanah Rajo) menjawab perkataan Pengetuo sambil menunjuk salah satu puncak bukit di sebelah selatannya. Ia menyebut Antalu (sampai sekarang puncak itu bernama juga puncak Antalu). Perkataan ini dimaksudkannya bahwa dialah yang memegang pucuk bulat urat tunggangnya di tempat itu ataukah dia mengatakan bahwa dialah yang memegang bulat boleh digolekkan, picak boleh dilayangkan di tempat itu ataukah dia mengatakan dialah yang menguasai tempat di sekitar bukit itu. Tapi ternyata kemudian hari betul turunnya yang jatuh ke daerah sekitarnya.
Dengan kebijaksanaan, orang yang datang dibolehkan tinggal bersama keluarga mereka. Orang yang datang memanggil orang yang tinggal di teratak bundar itu dengan sebutan Datuk Tuo, yang pada saat itu bukanlah sebutan untuk penghulu tetapi adalah panggilan terhadap orang yang sebaya dengan bapak orang tuanya serta penghormatan terhadap Pengetuo yang mereka tempati.
Datuk Tuo mempunyai tempat jatuhnya ke Sungayang Jolelo, ke Tanjung nan putih, ke Andaleh Jo labiah, ke Sungai Patai Jo Mandur.
Rombongan manusia yang datang ke Talago bertambah-tambah dan tiap-tiap yang datang tetap mempunyai Pengetuo, kelak saat seorang Pengetuo meninggal, kemenakan mereka memakai nama asal Pengetuo mereka sebagai gelaran asal tutunan mereka.
Pada saat itu jika mereka menghadapi suatu keadaan mereka serta merta berkumpul di suatu tempat guna membulatkan niat mereka, dan terdapatlah pepatah tertelungkup sama makan tanah tertelentang sama makan angin.”
Di sebelah Barat, daerah Sungai Patai dipagar dengan aur yang ditanam beraturan, ini dilakukan supaya daerah pesawahan tersebut tertata dan penularan penyakit dari kerbau tidak sampai ke daerah perkampungan. Pada masa itu mereka sudah mulai membuat sawah serta ladang dan memelihara ternak. Sawah serta ladang tersebut saat ini telah jadi parak dan padang tempat orang menggembalakan kerbau. Sawah tersebut kemudian menjadi nama sawah polak dan padang gembala disebut padang kobou atau kubang. Untuk membatasi ternak agar tidak masuk keperkampungan saat berada di talago Air Mancur maka dibatasi dengan aua bagighik (berderet). Saat berada di Ate lago masyarakat sudah mempunyai Masjid yang terletak di samping balai medan nan bapaneh. Air untuk di masjid ini dialiri dengan pincuan panjang sehingga sampai sekarang dimanakan dengan pincuan panjang.
Orang yang tinggal di Talogo sudah mulai rami, masyarakat yang telah bermukim disana mencermati daerah dibawahnya. Bentuknya mirip dengan buah petai jika dilihat dari Talago Air Mancur tersebut. Oleh karena itu orang-orang Talago Air Mancur merencanakan untuk dibangun perkampungan karena masyakarat di Talago Air Mancur sudah mulai banyak. Di tempat itu dahulunya menetap kelompok demi kelompok manusia dengan dikepalai oleh seorang Pengetuo. Pengetuo tersebut bercirikan badan besar lagi perkasa dan mempunyai sikap yang arif serta budiman. Mereka tinggal di taratak-taratak yang didirikan di sekitar talago air mancur tersebut.
Penamaan Sungai Patai dikarenakan di sepanjang aliran sungai yang mengitarinya daerah itu terdapat pohon-pohon patai yang sangat besar. Ketika masyarakat mulai menyebar dari Talago Tinggi, mereka lebih memilih membuka lahan di sekitaran pohon-pohon petai tersebut. Sehingga, nama perkampungan tersebut menjadi Sungai Patai.
Dalam catatan penelitian N.Z. Datuak Paduko Jalelo masih berkaitan dengan asal-usul Kenagarian Sungai Patai dituliskan yang berhubungan dengan sistem persyaratan sebuah nagari di Minangkabau. Sistem dan syarat sebuah Nagari tersebut di antaranya adalah:
“adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, penghulu mamagang sako jo pusako, panghulu nagari jo kerapatan dan nagari balabuah batapian, bamusajik-balai.”
Pada saat itu, setiap yang akan pindah ke diwajibkan untuk membuat Rumah gadang yang dilakukan sekcara gotogn royong. Namun, masyarakat di sana kekurangan salah satu dari syarat-syarat tersebut yaitu tidak mempunyai labuah. Untuk menanggulangi masalah itu, diadakanlah suatu pertemuan di balai-balai tanpa atap untuk merembukkan hal-ihwal tersebut. Tempat pertemuan iu sekarang dinamakan dengan medan Nan Bapaneh. Di medan nan bapeneh terdaftar di Balai Purbaka cagar budaya (BPCB) Batusangkar dengan No Regestrasi 22/BCB-TB/A/12/2007, terdapat batu sandaran tempat duduk. Ada sekitar 30 buah dengan posisi batu Leter U ditengah-tengahnya terdapat onggokan batu.
Pada saat itu, mereka juga kekurangan bahan makanan yang disebabkan perkembangan penduduk yang demikian pesat. Atas kesepakatan Datuk nan Tigo Puluh dan Tuanku nan Empat Puluh dibawah pimpinan Datuk Djo Mandur, maka mereka sepakat untuk pindah tempat. Kaum pada saat itu pun pindah dan kemudian membuat daerah di Koto Rajo. Maka lahirlah istilah mereka:
“nan bajanjang di Sungai Patai dan bapintu ka Koto Rajo”.[5]
Semua orang mematuhi pimpinan mereka. Bersama Dt. Djo Mandur, mereka melewati jalan baru dari balai-balai Atas Ngungun. Dari situ Djo Mandur menunjuk koto, daerah yang dimulai dari Ikua Koto sampai Kapalo Koto. Disitulah jalan baru dibangun.
Hampir bersamaan waktunya dengan membuat mesjid di dusun, mereka meneruka sawah yang pertama. Tempat pengairan sawah yang mereka buat itu dinamakan Bandar Buluh Kasok. Tempat itu merupakan daerah yang masih banyak akar hulu dan Bandar Buluh. Selain itu disana banyak terdapat akar-akar terutama buluh sikasok.
Setelah membuat pengairan untuk persawahan, mereka pun membuat pengairan untuk kepentingan perkampungan. Pengairan yang berupa bandar dinamakan Banda Pulang. Kemudian menyusul pula pembuatan pengairan yang lain yang disebut dengan Bandar Baru. Kesemua sarana irigasi itu dibuat pada masa Kelarasan Sungai Tarab.
Setelah orang-orang turun dari Talago Tinggi, dibuat masjid dan balai-balai adat dalam sistem pemerintahan nagari Sungai Patai. Sistem kepemimpinan di Sungai Patai terdiri dari 30 penghulu. Kepemimpinan Sungai Patai masuk dalam persekutuan adat (adat federate) dimana nagari ini berhulu yaitu persekutuan Sungai Tarab.
Sistem adat yang dipakai di Nagari Sungai Patai tersebut tertuang dalam ungkapan adat yang berbunyi:
Ramo – ramo sikumbang jati, kati endah pulang bakudo, patah tumbuah hilang baganti, soko lamo baitu juo. Biriak – biriak tabang kasasak, dari sasak tabang ka halaman, dari ninik turun kamamak dari mamak turun ka kamanakan.
Ungkapan adat diatas mengandung makna bahwa pewarisan gelar penghulu di Nagari Sungai Patai diwariskan secara turun temurun. Gelar penghulu yang dipangku oleh seorang mamak akan diturunkan kepada seorang kemenakan yang dianggap pantas untuk menerima dan mengemban tanggung jawab menyandang gelar penghulu. Sistem itu bertujuan agar tidak punah garis keturunan penghulu dalam sebuah kaum dan adat pusako tetap bertahan walaupun zaman telah mengalami banyak pergeseran yang merupakan ancaman bagi adat istiadat.
Dalam kehidupan sosial dipakai sistem:
“karajo baiak bahimbaoan karaojo buruak samo – samo malarang.”
Pekerjaan baik dikabarkan, pekerjaan buruk sama-sama dilarang.
Ungkapan adat diatas lebih merujuk pada pengaturan kehidupan sosial masyarakat Sungai Patai. Mereka hidup saling tolong menolong dan melakukan pekerjaan untuk kepentingan bersama dengan bergotong royong, sehingga apapun pekerjaan yang akan dikerjakan diselesaikan bersama-sama. Keberadaan sistem tersebut diperkuat dengan adanya lembaga dan pengurus pemangku adat Nagari, Balai-balai Adat Nagari, dengan adanya lembaga dan sistem itu berkembang pula tradisi khas Nagari berupa silek Sungai Patai dan kesenian Nagari lainnya.
Batas-Batas Nagari
[sunting | sunting sumber]Nagari Sungai Patai merupakan salah satu nagari dari lima nagari yang ada di bagian utara Kecamatan Sungayang. Dari data RPJM[2] daerah Sungai Patai disebutkan bahwa Nagari Itu berhawa sejuk dan tanahnya subur. 85% penduduk Sungai Patai hidup sebagai petani. Antar anggota masyarakat saling menghargai sehingga terjaga rasa kegotongroyongan. Masyarakat Nagari Sungai Patai memiliki integritas dan solidaritas yang tinggi antar sesama.[6]
Batas-batas wilayah Nagari Sungai Patai dapat ditelusuri dari sumber I.G.O (Comitte Dimentie) yang dibuat pada tahun 1914 semasa pemerintahan Kolonial Belanda. Dokumen ini tetap dipakai dan dipedomani saat Indonesia merdeka tahun 1945. Selanjutnaya setelah tahun 1945 arsip dokumen tentang letak geografis Nagari Sungai Patai diperbaharui oleh Dt. Naro pada bulan Juni 1952. Dt. Naro teersebut saat itu menjabat sebagai Wali Nagari Sungai Patai.[6]
Dokumen tersebut memuat batas-batas wilayah Nagari Sungai Patai sebagai berikut:[6]
“Ka timur Kewalian Situjuah Ladang laweh, Gunuang Sago, kayu bapilin Padang nan Tigo, hinggo Bukik Sungkiang, aua basurek, bajanjang ka Sungai Patai, bapintu ka koto Rajo. Batu kapugh godang sungai potai jo andoleh hinggo aia balam
Ka selatan kewalian Tanjung Sungayang batu kapugh, sawah godang indak baghinduak, hinggo Galanggang Cigak, Paraku Anjiang, Labuah Sampik, mahligai tuak Gamuak, batu lanciang Putiah, kampuang ranah Sungayang.
Ka barat babateh jo kewalian nagari Sumanik hinggo munggu sudang, sawah ulagh lidi, Batu Biliak, Guguak Situnggak Puncak nan Duo.
Ka utara kewalian Situmbuak hinggo Lakuak Tarok, Bukik Tigo Sakumpa hinggo Lakuk Sikumbang”.
Letak Geografis Kenagarian Sungai Patai (sekarang). Berdasarkan data dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kenagarian Sungai Patai (2010), maka secara administratif, Nagari Sungai Patai berbatasan dengan:[7]
· Sebelah Utara berbatasan dengan Nagari Situmbuk.
· Sebelah Selatan berbatasan dengan Nagari Sungayang.
· Sebelah Timur berbatasan dengan Nagari Ladang Laweh Kabupaten 50 Kota.
· Sebelah Barat berbatasan dengan Nagari Sumanik.
POTENSI NAGARI
[sunting | sunting sumber]Rumah Gadang Saat ini Rumah Gadang di Sungai Patai masih banyak karena ada aturan yang ketat dari Kerapatan Adat untuk Pembongkaran Rumah Gadang. Maka secara adat keberadaaan rumah gadang dijaga oleh Masyarakat.[8]
Balai-balai adat Balai-balai adat di Sungai Patai masih ada dan berfungsi sebagai tempat bermufakat niniak mamak.
Datuak atau penghulu gelar penghormatan kepada tetaua-teua adat di Minangkabau, Datuak atau yang lebih jamak dikenal dengan niniak mamak adalah perangkat adat yang mengatur tata kelola pemerintahan tradisional yang mengurus urusan adat, tanah ualayat, aturan moral di masyarakat Minangkakabau. Gelar niniak mamak menurut aturan adat minangkabau yang mengacu pada praktek pemerintahan tradisional. Praktek pemerintahan tradisional disebut dengan sistem kelarasan. Sistem kelarasan di Minangkabau dibagi menjadi 3 bagian yaitu Kelarasan Koto Piliang (Monarki), Kelarasan Bodi Chaniago (Demokrasi), Kelarasan Nan Bunta atau lareh nan panjang ( persilangan antara kedua demokrasi dan Monarki atau boleh dikatakan pada tahap aristokrasi).[9]
Dalam sistem pemerintahan tradisional diangkat seorang datuak/penghulu sebagai pemimpin kaun (Klan). Pengangkat ini disebut dengan malewakan gala dengan segala kemegahanya. Ketika seorang penghulupun meninggal juga ada prosesinya. Akan tetapi acaranya tidak semegah ketika malewakan gala. Di Minangkabau, tidak semua daerah mengadakan prosesi kematian penghulu. Hanya segelintir daerah di dalam lingkup Minangkabau yang masih menjalani prosesi penyelenggaraan jenazah penghulu saat ini. Mangkatnya seorang yang dihormati maka dipakaikan “kacangpali” semacam panca persada sekarang ini. Kacang pali ini untuk penandaan kebesaraan seseorang.[10] Bagi masyarakat Nagari Sungai Patai, kebesaran seorang penghulu tidak hanya digambarkan dari upacara pengangkatan melewakan gelar dari penghulu, tetapi juga tergambar ketika penghulu tersebut tutup usia. Masyarakat Sungai Patai melakukan penghormatan kepada penghulu dengan menyelenggarakan upacara penyelenggaraan jenazah penghulu. Upacara penguburan ini disebut dengan Adat Osong Kapali. Osong dalam bahasa Indonesia diberarti angkut sedangkan Kapali bermakna keranda. Jadi Osongkapali adalah Keranda pengangkut.[11][12][13]
Prosesi penyelenggaraan jenazah penghulu di Nagari Sungai Patai terbilang unik di antara tahapan prosesi ialah Osongkapali dan Marocak. Keunikan Osongkapali dikarenakan bahan dan cara pembuatan Osongkapali dibuat dari bahan dasar bambu, sementara secara umum keranda dibuat dari besi atau papan. Osongkapali dihiasi dengan simbol-simbol yang menggambarkan kebesaran seorang penghulu di Minangkabau.[3][12][14]
Selain Osongkapali, keunikan dari prosesi penyelenggaraan jenazah penghulu di Nagari Sungai Patai adalah marocak. Menebar uang koin yang disebut marocak oleh masyarakat Sungai Patai merupakan prosesi paling unik dari prosesi lainnya. Proses upacara yang dilakukan tahap demi tahap ini tentu belum terdokumntasikan secara detail dan menyeluruh hanya pada ranah tematis.Pendokumentasian ini merekam, mencatat dan mendokumentasi secara menyeluruh.[11][15]
SILEK SUNGAl PATAI.
Sungai patai yang terkenal dengan silat sungai patainya. Salah satu Gerak Silat Sungai Patai.[16] Di sebelah Barat, daerah Sungai Patai dipagar dengan aur yang ditanam beraturan, ini dilakukan supaya daerah pesawahan tersebut tertata dan penularan penyakit dari kerbau tidak sampai ke daerah perkampungan. Pada masa itu mereka sudah mulai membuat sawah serta ladang dan memelihara ternak. Sawah serta ladang tersebut saat ini telah jadi parak dan padang tempat orang menggembalakan kerbau. Sawah tersebut kemudian menjadi nama sawah polak dan padang gembala disebut padang kobou atau kubang. Untuk membatasi ternak agar tidak masuk keperkampungan saat berada di talago Air Mancur maka dibatasi dengan aua bagighik (berderet). Saat berada di Ateh lago masyarakat sudah mempunyai Masjid yang terletak di samping balai medan nan bapaneh. Air untuk di masjid ini dialiri dengan pincuan Panjang sehingga sampai sekarang dimanakan dengan pincuan panjang.[17]
Suatu ketika, terjadi serangan harimau dari Pinggang Gunung Malintang (Sago) terhadap kerbau-kerbau milik masyarakat ateh lago teletak di Kubang (Tempat gembala kerbau masyarakat Ateh Lago). Awalnya sudah ada beberapa aur berduri yang ditanam masyarakat sebagai penangkal penyakit menular dari kerbau. Dikarenakan aur yang ditanam tidak bisa memagari hewan buas. Dalam masa penunggu tersebut, terjadi Serangan harimau di padang Kobau atau Kubang terhadap kerbau milik pengetuo. Dari kejauhan pengetuo memperhatikan cara harimau memburu kerbau dan cara harimau menangkap kerbau tersebut. Akhirnya harimau itu dapat dilumpuhkan oleh beberapa orang dengan mengunakan tombak. Kearifan dan kebijasanan pengetua itu, dia menciptakan gerak yang mengambil sifat-sifat harimau yaitu Mencekam tidak pernah lepas. Dari gerak-gerak inilah diajarkan kepada orang-orang yang akan diutus.[17]
Pada rumpun aur berduri yang paling rimbun bersaranglah seekor ular besar. Ular besar ini juga sedang mengintai kerbau-kerbau di Padang Kobou. Beberapa hari setelah serangan harimau, terdengar kabar kerbau di padang kobao ada yang hilang. Setelah dicari ternyata ada seekor kerbau yang sedang dililit oleh ular dirumpun bambu ini. Pengetuo yang menyaksikan bersama masyarakat mendapatkan ide juga untuk menirukan lilitan ular yang kuat dalam gerak silat.[17]
Sebelum mengajari anak kemenakannya untuk gerak-gerak bela diri ini, mereka melakukan perenungan di Puncak Batu Kapur. Lahirlah sebuah pembelajaran untuk menirukan sifat-siat dari binatang yang mereka temui. Maka mereka Menirukan Tangkapan seperti tangkapan harimau, mereka menirukan ikatan ular yang sangat kuat. salah seorang pengetuo bertanya kekuatan untuk menghidari lawan dari binatang apa yang akan kita pakai. akhirnya mereka sama-sama bermenung. terlintas dalam pikiran pengetuo untuk mengambil kekuatan kerbau, Namun yang satu lagi membantah bagaimana kalau kekuatan gajah. akhirnya mereka sepakat untuk menirukan kekuatan gajah. Maka sebutkah langkah awal ini sebagai langkah Tiga.[17]
Setelah sampai di Ateh lago pengetuo ini mengajarkan gerak-gerak ini yang kemudian menjadi cikal bakal dari Silek Sungai Patai. Akhirnya gerak-gerakan ini berkembang sesuai dengan alam takambang. maka dari itu datanglah orang-orang belajar ke pengetuo ini dari koto-koto sekitaran ateh lago, Palakoto, Ikua Koto, Lokuak koto, koto talang, Puncak Selo, Koto Talao, Koto Saok Mudiak, koto Ateh Guguak. Pengetuo membuat sumpah jika nanti pemuda ini tidak Kembali dan tinggal di negeri orang, ajarkanlah silek ini untuk anak cucunya. Alun rabah lah ka ujuang, Tatungkuik samo makan tanah, tatilantang samo minum aia, Maukua samo panjang, mambilai samo laweh, Ingek di rantiang ka mancucuak, Tahu didahan ka maimpok, Duduak Marauik Ranjau Tagak Maninjau Jarak, jika indak menghargai nagari sungai patai sebagai asal silek mako ompang murah lopek, takobek takunci, tajatuah dicakam tanah, tasapu tabulinang patah, tali nan dijago putuih, raso nan dipalihari ilang.[17]
Dalam prosesnya, pengajaran pengetuo membagi 2 macam gerak dengan ciri khas masing-masing, gerak yang diambil dari harimau ini memiliki keindahan gerak yang akhirnya bekembang menjadi silek bungo sedangkan Gerak dari Sifat ular mengembangkan gerak menjadi goluik. Di masa itu pendidikan di mulai dari mempelajari teknik silat, karena silat Sungai Patai berasal dari ALAM TAKAMBANG JADI GURU. Artinya nenek moyang Sungai Patai menciptakan teknik silat dengan cara mempelajari alam semesta dan menjadikan metode pendidikan untuk generasi selanjutnya. Langkah 3 itu untuk dipergunakan sebagai pembela diri, pagar diri sedangkan Langkah empat yang menghasilkan karya seni bertujuan untuk mengembangkan pola pikir manusia. Langkah galuik menghasilkan rasa dan perasaan. Langkah tiga yang menghasilkan pembelajaran diri dan pertahanan diri.[17]
SetelahIslam Masuk Tradisi pembelajaran silek Sungai patai lebih disempurnakan dengan peganan islam. Menurut Sejarah lisan yang diterima dari tuo-tuo silat dan guru silat Sungai Patai, silat ini dibawa langsung oleh syekh Abdul Manan Ongku Goduik, masyarakat Sungai Patai lebih mengenalnya dengan sebutan Ongku Gaduik. Masih menurut cerita, beliau Belajar agama di daerah Gaduik di kabupaten lima puluh kota. Makanya dikenal dengan angku gaduik. Silat berfungsi sebagai pelindung atau pamaga/ panjago. Pada dasarnya petunjukan silat di gelanggang disebut oleh tetua silat sebagai pencak atau gerakan silat untuk kesenian. Dalam isilah di Sungai Patai, bersilat di hadapan musuh disebut dengan Goluik atau mangaji duduk di Surau (Tasawuf). Sedangkan bersilat untuk pertunjukan disebut bungo. Belajar silat di Sungai Patai dilakukan pada malam hari. Ini bertujuan untuk meningkatkan kelincahan, ketajaman rasa dan mengetahui secara perasaan arah gerakan yang datang.[17]
Pendidikan
[sunting | sunting sumber]Dibidang pendidikan, Pemerintahan Nagari selalu mengupayakan hal terbaik untuk masyarakatnya. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan, melalui Pemnas mengusulkan pemberian bea siswa. Selain itu Pemerintah memberikan dukungan sepenuhnya untuk kegiatan-kegiatan pokok maupun ekstra kepada lembaga pendidikan baik pendidikan formal maupun non formal. Di Sungai Patai ada 2 buah sekolah dasar dan 1 sekolah Agama tingkat SLTP yang dibangun secara swasta masyaraka yaitu Madrasah Tsanawiah Swasta (MTsS) Sungai Patai.[18] Pemahaman dan pengamalan ajaran islam cukup tinggi. Disetiap jorong terdapat mushalla/surau sebagai pusat ibadah dan kegiatan agama lainnya. Disamping itu ada kelompok-kelompok yang kegiatannya dibidang agama seperti, majlis taklim dan kelompok Yasinan. Di Nagari Sungai Patai terdapat 1 Masjid,[19] 12 Surau, 11 TPA dan 4 kelompok Yasinan.
Ekonomi
[sunting | sunting sumber]Percepatan pemulihan ekonomi merupakan salah satu prioritas rencana strategi pembangunan daerah Nagari Sungai Patai. Seperti halnya kondisi perekonomian di Sumatera Barat, perekonomian Nagari Sungai Patai juga menunjukan pertumbuhan positif, walaupun masih jauh dari harapan dalam arti perbaikan ( Recovery) ekonomi yang sesungguhnya. Pemerintah nagari Sungai Patai senantiasa berusaha mengarahkan kebijakan pembangunan ekonomi kepada pemulihan ekonomi dan mewujudkan landasan pembangunan yang lebih kokoh bagi pembangunan ekonomi bekelanjutan. Kondisi tersebut akan dicapai melalui pemberdayaan masyarakat dan seluruh kekuatan ekonomi yang ada terutama usaha kecil, menengah dan koperasi. Sampai saat ini, di Nagari Sungai Patai terdapat berbagai potensi sektor perekonomian Nagari yaitu terutama sektor pertanian yang memang sangat berperan penting. Selain itu sektor lain yang cukup menjanjikan dan belum dikelola secara optimal adalah sektor industri rumah tangga. Diharapkan pengembangan potensi ini mampu meningkatkan pendapatan Nagari dan tentu juga tingkat kesejahteraan masyarakat.
Kepariwisataan : Potensi kekayaan
[sunting | sunting sumber]Memperkaya Obyek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) di suatu desa wisata, dapat dibangun berbagai fasilitas dan kegiatan sebagai berikut : Eco-lodge: Renovasi homestay agar memenuhi persyaratan akomodasi wisatawan, atau membangun guest house berupa, bamboo house, traditional house, log house, dan lain sebagainya. Antara lain, Rumah Gadang, Pondok –pondok di tengah sawah. Eco-recreation : Kegiatan pertanian, pertunjukan kesenian lokal, memancing ikan di kolam, jalan-jalan di desa (hiking), biking di desa dan lain sebagainya. Eco-education: Mendidik wisatawan mengenai pendidikan lingkunagn dan memperkenalkan flora dan fauna yang ada di desa yang bersangkutan. Meneliti flora dan fauna yang ada di desa, dan mengembangkan produk yang dihasilkan di desa, serta meneliti keadaan sosial ekonomi dan budaya masyarakat di desa tersebut, dan sebbagainya. Menanam jenis-jenis pohon yang buahnya untuk makanan burung atau binatang liar, tanaman hias, tanaman obat, dll, agar bertambah populasinya. Eco-promotion : Promosi lewat media cetak atau elektronik, dengan mengundang wartawan untuk meliput mempromosikan kegiatan desa wisata.
Purbakala
Situs ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi orang sungai patai. Setiap masyarakat hampir semua orang pernah datang ke sini. Setidaknya situs ini diduga menjadi tempat bermusyawah oleh para datuk-datuk yang ada di sungai patai yang dulunya bernama nagari talago. Menurut tambo yang secara umum dketahui, masayarakat sungai patai yang ada dipemukiman sekarang ini berasal dari Talago.
Di medan nan bapeneh terdaftar di Balai Purbaka cagar budaya (BPCB) Batusangkar dengan no regestrasi 22/BCB-TB/A/12/2007, terdapat batu sandaran tempat duduk. Ada sekitar 30 buah dengan posisi batu Leter U ditengah-tengahnya terdapat onggokan batu. Luas Area untuk medan Nan Bapaneh d Sungai Patai 532 m²
Selain itu, Di batu sandaran yang paling besar, terdapat relief manusia yang sedang menaiki kuda. Ukruran batu ini tinggi 1,15 M dan lebar 85 cm. Ukiran manusia di batu ini berbentuk segitiga.
Selain itu terdapat menhir di sungai patai. Lokasi penemuan menhir di Sungai Patai ini tidak jauh dari medan nan bapaneh ateh lago yang sudah menjadi situs cagar budaya. Motif menhir ini msih dapat dilihat. menhir biasanya didirikan secara tunggal atau berkelompok sejajar di atas tanah, tetapi pada kurang lebih tradisi juga diletakkan terlentang di tanah. menhir, bersama-sama beserta dolmen dan sarkofagus, megalit. bagaikan salah satu penciri utama budaya megalitik, pembuatan menhir telah dikenal sejak periode neolitikum ( berangkat 6000 sebelum masehi). kurang lebih menhir menyimpan pahatan pada permukaannya se sampai membentuk figur tertentu atau menampilkan pola-pola hiasan.
Keindahan alam : goa dan pemandang
Beberapa goa terdapat keindahan dan dapat mengeluarkan suara seperti bunyi talempong bernama ngalau aguang di goa batu sumanyigh terdapat bentukan stalaktik berbentuk patung Buddha. Keindahan puncak tamiang dengan lumut yang seperti tidur diatas kasur. Alami dan masih terjaga sampai sekarang.
Keunikan dari goa aia buluih ini adalah air yang mengalir kedalam goa yang sebesar sungai akan tetapi tidak dapat ditelusuri ujungnya. Menurut cerita para pencari sarang burung wallet, air ini mengalir sampai ke daerah koto Rajo kab. Ladang Laweh Lima Puluh Kota. Menurut orang Koto rajo yang didalam Goa ini ada semacam kolom besar di dalam goa jika masuk dari Koto Rajo.
Ornament goa menyerupai perjalan di pinggir tebing sungai. Goa ini tentunya cocok untuk pera pecinta caving. Masyarakat Minangkabau memiliki kecendrungan pemberian nama sebuah daerah sesuai dengan kondisi alam sekitarnya atau tutur kata yang pertama kali terucapkan. Hal ini sampai sekarang masih dapat ditemui dengan penamaan daerah berdasarkan kondisi alam seperti penamaan sungai, maupun berdasarkan penamaan tumbuhan atau buah-buahan. Seperti Sungai Patai, nagari yang penamaannya berdasarkan pengabungan antara nama kondisi alam dan nama tanaman. Sungai Patai daerah yang terletak di kaki Gunung Sago dalam wilayah administratif Kabupaten Tanah Datar dan berbatasan langsung dengan daerah Lima Puluh Kota. Konon menurut tutur masyarakat. Disini ada sebuah puncak yang penasaran orang yang melihatnya. Ini disebabkan karena dari kejauhan terlihat air yang mencebur tinggi sampai ke puncak bukit. “Tan a Miang” perkataan yang pertama kali muncul dari rasa penasaran sehingga sekelompok orang melakukan migrasi untuk melihat sumber air tersebut. Tan berarti kata tunjuk arah sedangkan Miang dalam bahasa sehari-hari di Sungai Patai adalah kata ganti orang kedua untuk laki-laki. Sehingga akhirnya Puncak tersebut dinamakan Puncak Tamiang. Puncak Tamiang inilah menjadi titik awal dari kehadiran penduduk di Sungai Patai. orang-orang yang melakukan migrasi dari Angin Sipenjaringan, Pariangan. Sehingga masyarakat menetap sesuai dengan pola pembangunan sebuah nagari di Minangkabau yaitu Bataratak, badusun, bakoto dan mendirikan nagari. Akhirnya nagari ini diberi nama Talago Sungai Patai. Nagari ini menjadi daerah perlintasan dari utara ke selatan menyisir arah barat Gunung Sago.
Masa Pemerintahan Kolonial Belanda[3]
[sunting | sunting sumber]Saat ini peninggalan Belanda yang masih terlihat adalah jembatan sebagai pintu masuk ke Sungai Patai. ada 2 jembatan Peninggalan Belanda, pertama di sebelum masuk Sungai Patai tahun 1918 dan Jembatan Ngungun yang dibangun 1930.
Tangsi Belanda, Bekas Perkebunan Kopi dan Kina Pada saat tanam paksa kopi di zaman Belanda. Jembatan Tabek dewagh dan Jembatan Ngungun, Jembatan ini di buat pada zaman Belanda tahun 1918 dan 1930. Jembatan ini merupakan bagian penting dari sungai Patai karena jembatan ini sekarang dipergunakan sebagai jalan utama dan pintu masuk nagari Sungai Patai.[20]
Masa Pendudukan Jepang[3]
[sunting | sunting sumber]Rentang tahun 1934-1945 ada beberapa badan yang dibentuk oleh Jepang di Sungai Patai yaitu Sukarela, Hei-Ho, Giu-Gum dan lascar Rakyat anggotanya adalah Ramli Jamil, Muhammad Rasyid Manan Rusli Shaloh, Muruk, Nana, Nasar Bohar, Satin Biran, Buyuang Rambau dan Buyuang Tamba. PMT ini benar-benar dapat memporak-porandakan pasukan Belanda. Untuk mengantisipasi sergapan PMT Belanda meningkatkan tekanan militer terus menerus. Dalam pasukan PMT ini meniggal akibat serangan Belanda adalah Tutin dan Nazaruddin.
Masa Perang Kemerdekaan[3]
[sunting | sunting sumber]Pada masa perang kemerdekaan Sungai Patai pernah diserbu oleh Belanda lebih kurang 1 peleton dan menangkapi orang Sungai Patai beberapa orang yang meninggal yaitu Bahaudin, Ilyas, dan seorang Wanita. Di awali tahun 1949 terbentuk suatu unit gerilya yang bernama Pasukan Mobil Teras (PMT). Anggota PMT ini berasal dari pemuda yang telah mendapat latihan militer dari tentara Jepang dahulu.
Nagari adalah merupakan suatu masyarakat hokum. Nagari adalah gabungan dari beberapa buah suku, minimal mempunyai 4 buah suku, jadi federasi genealogis. Menurut hokum adat (undang undang Nagari), ada empat syarat untuk mendirikan sebuah Nagari, yang pertama harus mempunyai sedikitnya 4 suku, kedua harus punya balairung untuk bersidang, ketiga sebuah mesjid untuk beribadah, ke empat sebuah tepian tempat mandi.
Abdul Rahman putra asli Sungai Patai, Rumahnya di Tanjung Malintang (dirumah Datuk Bagindo Sinyato, Kampung Tanjung Malintang, Suku Piliang, Nagari Sungai Patai Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat).
Abdul Rahman ini adalah guru agama yang mengajarkan Tafsir Al Quran. Muridnya datang dari berbagai Nagari. Tempat pengajaran Abdul Rahman terletak di Surau Tangah, Tepatnya di Belakang SD inpres Tanah Lapang (SD Dibawah).
Pada Agresi Militer Belanda Kedua, Tempat pengajian Buya Abdul Rahman ini di gerebek oleh Belanda yang pasukannya datang dari Batusangkar. Tawanan- tawanan yang ditangkap oleh Belanda, ada yang ditempak mati seperti Bahaudin dan ada 2 orang laki-laki serta 1 prang perempuan. dan tiga orang lainnya disuruh untuk memetik kelapa muda. Buya Abdul Rahman dibelenggu dan dia duduk di samping mobil. Orang yang disuruh untuk memetik kelapa adalah:
- Abdul Malik Muhammad
- Martunus Uhid
- Sudin BinuSelesai Minum air kelapa muda ini. Komandan Belanda ini memerintahkan untuk membawa Buya Abdul Rahman ke dalam mobil dalam keadaan tangan terbelenggu. Buya Abdul Rahman di bawa ke Batusangkar
Referensi[21]
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Home Offcial Website Tanah Datar". www.tanahdatar.go.id. Diakses tanggal 2025-10-28.
- ↑ A Dt. Batuah & A Dt. Madjoindo, (1959), Tambo Minangkabau dan Adatnya, Jakarta: Balai Pustaka.
- 1 2 3 4 5 6 KAN SUNGAI PATAI (2018). Monografi Adat Salingka Nagari Sungai Patai. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Dt Paduko Jalelo (1973). Sejarah Sungai Patai. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ "ALAM MINANGKABAU". Diakses tanggal 2025-10-28.
- 1 2 3 Monografi Sumatera Tengah. Jakarta: Proyek Media Kebudayaan Ditjen. Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I. 1952. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Datar, Kominfo Tanah. "Peta Tanah Datar". tanahdatar.go.id. Diakses tanggal 2025-10-28.
- ↑ "SUNGAI PATAI: Sejarah Sungai Patai". SUNGAI PATAI. 2015-03-16. Diakses tanggal 2025-10-28.
- ↑ "Melihat ritual Batagak Pangulu di Sumatra Barat". BBC News Indonesia. Diakses tanggal 2025-10-28.
- ↑ DT Sanggoeno Diradjo, Ibrahim (1988). Mustika adat alam Minangkabau. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 Samiran, Fahmil; Elfiani, Elfiani; Daipon, Dahyul; Rahmiati, Rahmiati; Hendri, Hendri (2022-11-19). "Values behind Osong Kapali Ceremony: Sociocultural Review of Indigenous and Religious Tradition". el Harakah: Jurnal Budaya Islam. 24 (2): 263–281. doi:10.18860/eh.v24i2.17338. ISSN 2356-1734.
- 1 2 FANDI, PRATAMA (2015-07-10). "PROSESI PENYELENGGARAAN JENAZAH PENGHULU DI NAGARI SUNGAI PATAI KABUPATEN TANAH DATAR (DOKUMENTASI DAN DESKRIPSI)". FAKULTAS ILMU BUDAYA.
- ↑ "Osong kapali » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-10-28.
- ↑ Rosemary. "Upacara Kematian di Sumatera Barat, Ritual Pemakaman untuk Penghulu, Kepala Suku Minangkabau, Bagian 48 - Nusantara 62". Upacara Kematian di Sumatera Barat, Ritual Pemakaman untuk Penghulu, Kepala Suku Minangkabau, Bagian 48 - Nusantara 62. Diakses tanggal 2025-10-28.
- ↑ Sungai Patai Channel (2021-05-18), Adat Osong Kapali : Tradisi Pemakaman Datuk di Minangkabau Cerita Budaya Desaku, diakses tanggal 2025-10-28
- ↑ Qayyumnews, Redaksi (2022-01-27). "Silek Sungai Patai dikukuhkan KemenKumham sebagai Kekayaan Intelektual Budaya". QAYYUMNEWS.ID. Diakses tanggal 2025-10-28.
- 1 2 3 4 5 6 7 Dt Paduko Jalelo (1973). Asal dan Usul Silek Sungai Patai. Sungai Patai: KAN Sungai Patai. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ "MTsS SUNGAI PATAI". MTsS SUNGAI PATAI. 2023-12-09. Diakses tanggal 2025-10-28.
- ↑ Datar, Kominfo Tanah. "Pembangunan Rampung, Masjid Ihsan Sungai Patai Diresmikan". tanahdatar.go.id. Diakses tanggal 2025-10-28.
- ↑ KAN Sungai Patai (2018). Monografi Adat Salingka Nagari Sungai Patai. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Catatan tertulis dari penelitian kelompok yang beranggotakan sepuluh orang yang diketuai langsung oleh Wali Nagari saat itu yaitu N.Z. Datuak Paduko Jalelo angootanya adalah Abdul Malik Muhammad, Intan Penghulu, Mawardi Ibrahim, Nai Tan Marajo, Sutan Mangun, Khatib Kayo ditemukan informasi tentang asal-usul nama Sungai Patai. Dalam catatan para peneliti tersebut diuraikan bahwa Nagari asal Sungai Patai itu terletak di Talago air mancur yang berada pada lereng Bukit Barisan yang membujur dari arah Utara ke Selatan Sumatera di sisi Barat Gunung Sago.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- (Indonesia) Situs web resmi Kabupaten Tanah Datar
