Senyawa fitokimia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bunga

Senyawa fitokimia adalah senyawa kimia yang terdapat secara alami dalam tanaman (fito berarti "tanaman" dalam bahasa Latin). Beberapa bahan mempengaruhi warna atau sifat organoleptik lainnya, seperti ungu tua pada blueberries dan bau pada bawang putih. Senyawa fitokimia dapat memiliki signifikansi biologis, contohnya karotenoid atau flavonoid, tetapi tidak tersedia sebagai unsur hara.[1][2][3] Terdapat kurang lebih 4.000 senyawa fitokimia di alam.[2]

Senyawa fitokimia sebagai kandidat nutrien[sunting | sunting sumber]

Tanpa pengetahuan khusus aksi atau mekanisme selulernya, senyawa fitokimia telah diperhitungkan sebagai obat alternatif selama berabad-abad. Sebagai contoh, Hippocrates telah meresepkan daun dedalu untuk demam abate. Salicin, yang mempunyai sifat anti inflamasi dan pereda nyeri, pertama kali diekstraksi dari kulit kayu dedalu putih dan kemudian disintesis massal menjadi aspirin.[4][5]

Senyawa fitokimia spesifik, seperti serat pangan yang dapat difermentasi, memiliki klaim kesehatan terbatas yang diizinkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).[1]

Beberapa senyawa fitokimia dengan sifat fisiologis lebih berupa unsur dan bukan molekul organik kompleks. Sebagai contoh, selenium, yang melimpah dalam buah dan sayuran, adalah mineral diet yang terlibat dalam sebagian besar jalur metabolisme, termasuk metabolisme hormon tiroid dan fungsi imunitas.[6] Terutama, untuk nutrien esensial dan kofaktor untuk sintesis enzimatis glutathion, suatu antioksidan endogeny.[7]

Uji klinis dan status klaim kesehatan[sunting | sunting sumber]

Suplemen berbasis senyawa fitokimia dapat dibeli di pasaran.[8] Menurut American Cancer Society, "Bukti ilmiah yang tersedia tidak mendukung klaim bahwa mengkonsumsi suplemen fitokimia sama baiknya, dari sisi kesehatan jangka panjang, dengan mengkonsumsi langsung buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian."[8]

Pengolahan makanan dan senyawa fitokimia[sunting | sunting sumber]

Senyawa fitokimia dalam tanaman pangan yang baru dipanen dapat mengalami degradasi selama proses pengolahan, termasuk memasak.[9][10][11][12][13] Penyebab utama kehilangan senyawa fitokimia selama pemasakan adalah dekomposisi termal.[11]

Suatu diskusi muncul dalam kasus karotenoid, seperti likopena dalam tomat, yang mungkin tetap stabil atau bertambah kadarnya selama pemasakan akibat pembebasan dari membran seluler dalam makanan matang.[14][15] Teknik pengolahan makanan seperti pengolahan mekanis dapat pula membebaskan karotenoid dan senyawa fitokimia lainnya dari matriks makanan, meningkatkan kadar asupan.[16][11]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b US FDA, Guidance for Industry: Evidence-Based Review System for the Scientific Evaluation of Health Claims
  2. ^ a b "Fruits and Veggies, More Matters. What are phytochemicals?". Produce for Better Health Foundation. 2014. 
  3. ^ "Micronutrient Information Center: Phytochemicals". Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis, Oregon. 2014. 
  4. ^ Sneader, W. (2000). "The discovery of aspirin: A reappraisal". BMJ (Clinical research ed.) 321 (7276): 1591–1594. doi:10.1136/bmj.321.7276.1591. PMC 1119266.PMID 11124191.
  5. ^ Landau E (22 Dec 2010). "From a tree, a 'miracle' called aspirin". CNN. 
  6. ^ Brown, KM; Arthur, JR (2001). "Selenium, selenoproteins and human health: a review". Public health nutrition. 4 (2B): 593–9. doi:10.1079/PHN2001143. PMID 11683552. 
  7. ^ Papp, LV; Lu, J; Holmgren, A; Khanna, KK (2007). "From selenium to selenoproteins: synthesis, identity, and their role in human health". Antioxidants & redox signaling. 9 (7): 775–806. doi:10.1089/ars.2007.1528. PMID 17508906. 
  8. ^ a b "Phytochemical". American Cancer Society. 17 January 2013. 
  9. ^ Bongoni, R; Steenbekkers, L.P.A; Verkerk, R; van Boekel, M.A.J.S; Dekker, M (2013). "Studying consumer behaviour related to the quality of food: A case on vegetable preparation affecting sensory and health attributes". Trends in Food Science & Technology. 33 (2): 139–145. doi:10.1016/j.tifs.2013.08.004. 
  10. ^ Bongoni, R; Verkerk, R; Steenbekkers, B; Dekker, M; Stieger. "Evaluation of Different Cooking Conditions on Broccoli (Brassica oleracea var. italica) to Improve the Nutritional Value and Consumer Acceptance". Plant foods for human nutrition. doi:10.1007/s11130-014-0420-2. 
  11. ^ a b c Palermo, M; Pellegrini, N; Fogliano, V (2014). "The effect of cooking on the phytochemical content of vegetables". Journal of the Science of Food and Agriculture. 94 (6): 1057–70. doi:10.1002/jsfa.6478. PMID 24227349. 
  12. ^ Liu, RH (2004). "Potential synergy of phytochemicals in cancer prevention: mechanism of action". Journal of Nutrition. 134 (12 Suppl): 3479S–3485S. PMID 15570057. 
  13. ^ Rao, AV; Rao, LG (2007). "Carotenoids and human health". Pharmacological research. 55 (3): 207–16. doi:10.1016/j.phrs.2007.01.012. PMID 17349800. 
  14. ^ Agarwal, A; Shen, H; Agarwal, S; Rao, AV (2001). "Lycopene Content of Tomato Products: Its Stability, Bioavailability and in Vivo Antioxidant Properties". Journal of medicinal food. 4 (1): 9–15. doi:10.1089/10966200152053668. PMID 12639283. 
  15. ^ Dewanto, V; Wu, X; Adom, KK; Liu, RH (2002). "Thermal processing enhances the nutritional value of tomatoes by increasing total antioxidant activity". Journal of Agricultural and Food Chemistry. 50 (10): 3010–4. doi:10.1021/jf0115589. PMID 11982434. 
  16. ^ Hotz, C; Gibson, R. S. (2007). "Traditional food-processing and preparation practices to enhance the bioavailability of micronutrients in plant-based diets". The Journal of nutrition. 137 (4): 1097–100. PMID 17374686. 

Bacaan lain[sunting | sunting sumber]

  • (Inggris) Higdon, J. An Evidence – Based Approach to Dietary Phytochemicals. 2007. Thieme. ISBN 978-1-58890-408-9.
  • (Inggris) Rosa, L.A. de la / Alvarez-Parrilla, E. / González-Aguilar, G.A. (eds.) Fruit and Vegetable Phytochemicals: Chemistry, Nutritional Value and Stability. 2010. Wiley-Blackwell. ISBN 978-0-8138-0320-3.
  • (Inggris) Bongoni R, Steenbekkers LPA, Verkerk R, van Boekel MAJS, Dekker M. Studying consumer behaviour related to the quality of food: A case on vegetable preparation affecting sensory and health attributes. Trends in Food Science & Technology. 2013;33(2):139-45.
  • (Inggris) Rao AV, Rao LG. Carotenoids and human health. Pharmacological Research. 2007;55(3):207-16.
  • (Inggris) Liu RH. Potential Synergy of Phytochemicals in Cancer Prevention: Mechanism of Action. J Nutr. 2004;134(12):3479S-85.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]