Sembilan Naga
- Baris atas, dari kiri ke kanan:
- Baris bawah, dari kiri ke kanan:
Sembilan Naga adalah istilah yang merujuk pada sekelompok pengusaha keturunan Tionghoa berpengaruh di Indonesia, terutama yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintahan Orde Baru. Istilah ini sering dikaitkan dengan kekuatan ekonomi dan politik yang besar, meskipun keanggotaan kelompok ini tidak pernah dikonfirmasi secara resmi.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Istilah "Sembilan Naga" muncul pada era Orde Baru, yang dicirikan oleh hubungan yang saling menguntungkan antara pengusaha dan pemerintah.[1][2] Awalnya, istilah ini, yang juga dikenal sebagai 'Gang of Nine', memiliki konotasi negatif dan misterius.[1][3][4] Kelompok ini dikaitkan dengan bisnis gelap seperti judi, narkoba, dan penyelundupan, dan dianggap kebal hukum karena bekingan kuat dari pihak berwenang.[1] Setelah Orde Baru berakhir, konotasi "Sembilan Naga" bergeser menjadi lebih netral, merujuk pada pengusaha-pengusaha yang mendominasi perekonomian Indonesia, yang dianggap sebagai hasil simbiosis mutualisme dengan pemerintah Orde Baru.[1]
Anggota
[sunting | sunting sumber]Tidak ada sumber atau bukti konklusif yang mengidentifikasi anggota Sembilan Naga secara pasti.[1] Meskipun demikian, beberapa nama sering disebut-sebut sebagai anggota potensial, di antaranya: [3]
- Budi Hartono (Djarum Group)
- Anthony Salim (Salim Group)
- Dato' Sri Tahir (Mayapada Group)
- Aguan /Sugianto Kusuma (Agung Sedayu Group)
- Tommy Winata (Artha Graha Group)
- James Riady (Lippo Group)
- Rusdi Kirana (Lion Air Group)
- Edwin Soeryadjaya (Astra International)
- Sofjan Wanandi (Santini Group)
- Jacob Soetoyo (Gesit Group)
- Franky Widjaja (Sinar Mas)
- Prajogo Pangestu (Barito Pacific)
- Candra Ciputra (Ciputra Group)
- Jusuf Hamka (CMNP)
- John Kusuma (Bank Aladin)
- Hary Tanoesoedibjo (MNC Group)
- Susilo Wonowidjojo (Gudang Garam)
- Putera Sampoerna (HM Sampoerna)
- Husain Djojonegoro (ABC Holding)
- Tjandra Djojonegoro (OT Group)
- Eddy Katuari (Wings Group)
- Kuncoro Wibowo (Kawan Lama Group)
- Tatang Budiono (Tong Tji)
- Sosrodjojo (Sinar Sosro)
- Soedomo Mergonoto (Kapal Api Group)
- Jaya Suprana (Djamu Djago)
- Fanny Kurniati (Bintang Toedjoe)
- Irwan Hidayat (Sido Muncul)
- Mochtar Riady (San Diego Hills)
- Achmad Bakrie (Bakrie Group)
- Erick Thohir (Mahaka Group). [5]
Beberapa pengusaha yang namanya disebut-sebut telah membantah keterlibatan mereka, seperti Tommy Winata, yang menganggapnya sebagai imajinasi yang merugikan.[1]
Dampak
[sunting | sunting sumber]Keberadaan "Sembilan Naga" menunjukkan konsentrasi kekuatan ekonomi dan politik di tangan segelintir pengusaha.[1] Dominasi mereka tecermin dalam berbagai sektor penting seperti perbankan, properti, manufaktur, dan retail.[1] "Sembilan Naga" dianggap telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama selama era Orde Baru, dengan investasi besar-besaran mereka di berbagai sektor.[4] Namun, dominasi mereka juga memunculkan kekhawatiran tentang praktik monopoli, kesenjangan ekonomi, dan kurangnya persaingan yang sehat.[4]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 6 7 8 "Menelusuri Jejak 9 Naga di Indonesia, Siapa Mereka?". CNBC Indonesia. 2023-07-02. Diakses tanggal 2024-10-07.
- ↑ Yesidora, Amelia (2023-06-21). "Legenda Sembilan Naga, Kelompok Pengusaha Berjaya di Era Orde Baru". katadata.co.id. Diakses tanggal 2024-10-07.
- 1 2 "Inilah 9 Naga dengan Kekayaan dan Sepak Terjangnya di Indonesia". medcom.id. 2024-07-04. Diakses tanggal 2024-10-07.
- 1 2 3 Profil Tokoh (2024-08-19). "Siapa Saja 9 Naga Penguasa Ekonomi Indonesia? Ini Penjelasan Selengkapnya". kumparan. Diakses tanggal 2024-10-07.
- ↑ "Keakraban Jokowi, Prabowo, dan Sang 'Naga', Penuh Tawa di PIK". CNBC Indonesia. 2023-06-17. Diakses tanggal 2024-10-07.