Satrio
Satrio | |
|---|---|
| Menteri Kesehatan Indonesia ke-8 | |
| Masa jabatan 18 Februari 1960 – 25 Juli 1966 | |
| Presiden | Soekarno |
| Menteri Muda Kesehatan Indonesia ke-3 | |
| Masa jabatan 10 Juli 1959 – 18 Februari 1960 | |
| Presiden | Soekarno |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 28 Mei 1916 Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur, Hindia Belanda |
| Meninggal | 5 Mei 1986 (umur 69) Bandung, Jawa Barat, Indonesia |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Partai politik | Golkar (1978–1983) |
| Suami/istri | Ny. R.A. Isbandiyah |
| Anak | 3 |
| Orang tua |
|
| Pekerjaan | tentara, politikus |
| Profesi | dokter |
| Karier militer | |
| Dinas/cabang | |
| Masa dinas | 1945–1970 |
| Pangkat | |
| Satuan | Kesehatan (CKM) |
Satrio (28 Mei 1916 – 5 Mei 1986) adalah perwira tentara dan dokter Indonesia. Dia pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada 1960 hingga 1966 dan pernah memimpin Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto pada 1950 hingga 1952.[1][2][3]
Latar Belakang
[sunting | sunting sumber]Ayah Satrio yang bernama Kartosoesastro merupakan priyayi terpandang asal Kedu (Karanganyar, Kebumen) yang merantau ke Banyuwangi. Berasal dari keluarga priyayi membuat Satrio memperoleh keistimewaan dalam hal pendidikan. Ia menyelesaikan pendidikan kedokterannya di Jakarta pada tahun 1942. Sebelumnya ia mendapat pendidikan dasar di HIS Banyuwangi, MULO di Ketabang, Surabaya, Jawa Timur dan AMS di Malang, Jawa Timur.[4]
Pada tahun 1963 ia pernah membentuk tim akupuntur negara, dipimpin oleh Prof. Dr. Oei Eng Tie, yang bertugas memberikan pengobatan ala timur kepada Presiden Soekarno. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Palang Merah Indonesia.
Karier
[sunting | sunting sumber]Sebagai dokter (1942–1945)
[sunting | sunting sumber]Satrio memulai karirnya sebagai dokter dan asisten bagian anak di RSUP, setelah lulus pendidikan dokter Geneeskundige Hoogeschool te Batavia. Kemudian di tahun 1942 hingga 1943, ia menjadi Kepala Bagian Anatomi Djakarta Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran).
Sebagai dokter militer dan akademisi (1945–1963)
[sunting | sunting sumber]Pada 1945, ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ia juga bergabung di militer pada 1945, berprofesi sebagai dokter militer.[5] Ia ditunjuk sebagai Kepala Divisi I Kesehatan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dari 1945 hingga 1946. Ia juga merangkap sebagai Kepala Bagian Kesehatan Brig. Tirtayasa Divisi Siliwangi dari 1945 hingga 1950.[6]
Dari tahun 1950 hingga 1953, ia memimpin Kepala Biro Organisasi Kesehatan TNI Angkatan Darat. Selain itu, ia merangkap jabatan sebagai Kepala Rumah Sakit Tentara Pusat (RSTP) dari tahun 1950 hingga 1952. Di tahun 1952–1956, ia diangkat menjadi Wakil Direktur Djawatan Kesehatan Angkatan Darat.[6]
Di samping jabatannya sebagai dokter militer, ia juga berprofesi sebagai dan Lektor Luar Biasa Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dari tahun 1950. Pada 1957, ia dinobatkan sebagai guru besar dan profesor luar biasa.
Pada 1956 hingga 1963, ia diangkat menjadi Direktur Djawatan Kesehatan Angkatan Darat.[6]
Sebagai Menteri Kesehatan (1960–1966)
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 1959, ia ditunjuk sebagai Menteri Muda Kesehatan, kemudian menjadi Menteri Kesehatan tahun 1960. Gagasan yang paling dikenal Satrio ketika menjadi menteri kesehatan, ialah akupuntur dan moksibusi yang dijadikan ilmu kedokteran dan praktik kesehatan resmi di Indonesia. Gagasan ini muncul setelah kunjungannya di Tiongkok pada tahun 1961. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo merupakan rumah sakit pertama yang mengadakan praktek akupuntur dan moksibusi oleh Menteri Satrio.[7][6]
Perwira Tinggi, Kepala Pusat Kesehatan ABRI, dan Anggota MPRS (1966–1972)
[sunting | sunting sumber]
Usai menjabat sebagai Menteri Kesehatan, ia kembali ke jabatan militer sebagai Perwira Tinggi diperbantukan Menteri Panglima Angkatan Darat dari 1966 hingga 1967. Kemudian dipindahkan di Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) sebagai Perwira Tinggi diperbantukan Kepala BAKIN dari 1967–1972. Di tengah jabatannya di BAKIN, ia juga menjabat sebagai Kepala Pusat Kesehatan ABRI dan Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dari 1968 hingga 1970.[6]
Staf Ahli dan Anggota P7 (1972–1986)
[sunting | sunting sumber]Usai jabatan perwira tinggi, ia menjadi Staf Ahli di BAKIN (1972–1981) dan menjadi Anggota kemudian Wakil Ketua Tim Penasehat Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Tim P7) dari 1978 hingga 1986.
Kematian
[sunting | sunting sumber]Satrio meninggal dunia hari Senin, 5 Mei 1986 di Bandung ketika memberikan ceramah penutupan pada peserta kursus reguler Sekolah Staf Militer Angkatan Darat (Sesminad), Sekolah Staf Teknik Angkatan Darat (Sesnikad) TP.1985–1986 di Sesko Angkatan Darat, Kota Bandung, Jawa Barat.[6]
Pengabadian nama
[sunting | sunting sumber]Namanya saat ini diabadikan sebagai jalan penghubung antara kawasan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan HR Rasuna Said di Jakarta.
Selain itu namanya juga diabadikan jadi nama gedung dan tower, yakni Gedung Prof. dr. Satrio, RSPAD Gatot Soebroto di Jakarta;[8] Satrio Tower di Jakarta; [9] serta Gedung Prof. Dr. Satrio Seskoad di Bandung, Jawa Barat.[10]
Penghargaan
[sunting | sunting sumber]
Bintang Mahaputera Utama (Kelas III)
Bintang Dharma
Bintang Gerilya
Bintang Kartika Eka Paksi Nararya (Kelas III)
Bintang Sewindu- Satyalancana Kemerdekaan
Satyalancana Perang Kemerdekaan I
Satyalancana Perang Kemerdekaan II
Satyalancana G.O.M II
Satyalancana Penegak
Satyalancana Kesetiaan XXIV (24 tahun)
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Saelan, Maulwi (2008). Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66 : kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa. Jakarta: Yayasan Hak Bangsa.
- ↑ Menteri Kesehatan Mayor Jenderal Prof.Dr.Satrio membuka dengan resmi konperensi kesehatan Buruh Asia Afrika di gedung Batik Indonesia. Jakarta: Yayasan Idayu. 11 Mei 1964. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-02-04. Diakses tanggal 2017-02-04.
- ↑ "Dr. Satrio, Bekas Gerilyawan yang Jadi Menkes Terakhir Sukarno". tirto.id. Diakses tanggal 2019-11-22.
- ↑ ""Tokoh Kita: Prof Satrio"". Diarsipkan dari asli tanggal 2010-07-24. Diakses tanggal 2009-09-24.
- ↑ PB IDI (1995). Kiprah Dokter dalam Era 50 Tahun Indonesia Merdeka. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia. hlm. 46. ISBN 9789798129742. Diakses tanggal 6 Januari 2026.
- 1 2 3 4 5 6 Satrio; Majid, Dien; Lohanda, Mona (1986). "Perjuangan dan Pengabdian: Mosaik Kenangan Prof. Dr. Satrio, 1916–1986". hlm. 355–362. Diakses tanggal 6 Januari 2026.
- ↑ Mimbar Indonesia Volume 18. Pembangunan Politik, Ekonomi, Sosial dan Kebudajaan. 1964. hlm. 27. Diakses tanggal 6 Januari 2026.
- ↑ "Peresmiaan Auditorium dr Partomo gedung Prof. dr. Satrio RSPAD Gatot Soebroto". RSPAD Gatot Soebroto. 16 Juni 2014. Diakses tanggal 6 Januari 2026.
- ↑ "Informasi Gedung: Satrio Tower". Jones Lang LaSalle, IP, Inc. Diakses tanggal 6 Januari 2026.
- ↑ "Kasad tutup Dikreg LXV Seskoad : Seskoad Cetak Pemimpin Berkarakter dan Adaptif". Perpustakaan SESKO TNI. 31 Mei 2025. Diakses tanggal 6 Januari 2026.
| Jabatan militer | ||
|---|---|---|
| Jabatan baru | Direktur Rumah Sakit Tentara Pusat 1950–1952 |
Diteruskan oleh: Letkol CKM dr. Reksodiwiryo Wiyotoarjo |
| Jabatan baru | Kepala Pusat Kesehatan ABRI 1968–1970 |
Diteruskan oleh: Mayjen TNI dr. Suyoto |
| Jabatan politik | ||
| Jabatan lowong Terakhir dijabat oleh Satrio Sastrodiredjo |
Menteri Muda Kesehatan Indonesia 1959–1960 |
Jabatan lowong Selanjutnya dijabat oleh Ali Ghufron Mukti |
| Didahului oleh: Azis Saleh |
Menteri Kesehatan Indonesia 1960–1966 |
Diteruskan oleh: G. A. Siwabessy |



