Sasirangan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kain sasirangan

Sasirangan adalah kain tradisional yang dibuat di Kalimantan Selatan. Sasirangan berasal dari kata Bahasa Banjar, yaitu sirang yang berarti menjelujur. Motifnya dibuat dengan jahitan dengan teknik jelujur. Awalnya, kain sasirangan diyakini dapat mengobati penyakit dan mengusir roh jahat sehingga pembuatannya dibatasi. Secara umum, pembuatannya masih menggunakan cara tradisional.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sasirangan mulai dibuat sejak abad ke-12 hingga ke-14 Masehi di Kalimantan Selatan. Pembuatannya dikenal dalam cerita rakyat yang membahas tentang masa Kerajaan Negara Dipa. Cerita ini membahas tentang Patih Lambung Mangkurat yang merupakan raja Kerajaan Negara Dipa. Ia bertemu dengan seorang wanita yang bernama Putri Junjung Buih. Keduanya mengadakan perjanjian untuk menikah dengan dua syarat. Syarat pertama adalah membuat sebuah istana yang hanya boleh dikerjakan oleh 40 bujangan dalam waktu sehari. Syarat kedua adalah membuat sehelai kain sasirangan berwarna kuning dalam waktu sehari yang hanya boleh dikerjakan oleh 40 perawan. Patih Lambung berhasil memenuhi kedua permintaan ini dan Putri Junjung Buih kemudian mengenakan kain sasirangan tersebut untuk melangsungkan pernikahan di istana yang telah didirikan. Ia meninggalkan Sungai Tabalong yang menjadi tempat persemayamannya dan menikah dengan Patih Lambung serta menjadi permaisuri dari Kerajaan Negara Dipa.[2]

Motif[sunting | sunting sumber]

Motif kain sasirangan menggunakan bentuk jelujur atau garis-garis vertikal dari atas ke bawah yang memanjang. Benda-benda alam di Kalimantan Selatan menjadi landasan gambar motif. Kain sasirangan terbagi menjadi tiga jenis motif utama, yaitu motif lajur, motif ceplok, dan motif variasi. Motif lajur menggunakan garis tegak lurus dan garis lengkung yang memanjang. Motif ceplok adalah motif tunggal yang berbentuk garis tegak lurus. Sedangkan motif variasi adalah motif tambahan untuk menghiasi motif ceplok atau motif lajur.[3] Tiap motif dapat dipakai oleh seluruh masyarakat tanpa ada pembedaan dan pelanggaran terhadap adat istiadat Suku Banjar.[4]

Pemanfaatan[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Kalimantan Selatan awalnya mempercayai bahwa kain sasirangan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kain sasirangan yang berwarna kuning dengan pingiran hijau dan bermotif ketupat merah menjadi penyembuh yang utama. Warna kuning merupakan persimbolan untuk dewa Wisnu, Kresna dan Ganesa dalam agama Hindu. Selain itu, warna kuning juga menjadi simbol kekeramatan dan penangkal dari roh jahat.[2] Sebelum digunakan, kain sasirangan diasapi dengan dupa dan dibacakan salawat tiap malam Senin dan Jumat. Kain sasirangan kemudian dipakaikan ke orang yang sakit sebagai sarung, ikat pinggang atau ikat kepala. Sebagai sarung, kain sasirangan dipercaya mengobati penyakit demam atau gatal-gatal. Sebagai ikat pinggang, kain sasirangan dapat menyembuhkan berbagai penyakit perut. Sedangkan penggunaan sasirangan sebagai ikat kepala diyakini dapat menyembuhkan sakit kepala.[5]

Pada awalnya, penggunaan kain sasirangan sebagai alat terapi sangat terbatas, karena pembuatnya juga terbatas. Keterampilan membuat sasirangan hanya diajarkan secara turun temurun dan memerlukan ritual khusus yang rumit. Para pengrajin harus menyiapkan sesajen berupa kue khas Banjar, segelas kopi manis dan kopi pahit. Sesajian ini harus diletakkan dekat dengan perapian bertabur dupa yang harum. Setelahnya diadakan pembacaan doa dan sesajen dimakan bersama oleh para pengrajin. Pembuatan sasirangan dilakukan setelah ritual selesai.[6]

Warna dari kain sasirangan yang dibuat menentukan jenis khasiat pengobatannya. Warna yang umum ditemukan yaitu warna kuning, merah, hijau, hitam, ungu, dan cokelat. Kain sasirangan yang berwarna kuning digunakan untuk mengobati penyakit kuning. Kain sasirangan yang berwarna merah untuk mengobati penyakit sakit kepala dan sulit tidur. Kain sasirangan yang berwarna hijau untuk mengobati kelumpuhan. Kain sasirangan yang berwarna hitam untuk mengobati penyakit demam dan kulit gatal-gatal. Kain sasirangan yang berwarna ungu untuk mengobati sakit perut. Sedangkan kain sasirangan yang berwarna cokelat untuk mengobati penyakit stres.[7]

Saat ini, kain sasirangan memiliki tiga fungsi yaitu sebagai kain ritual, kain tradisional, dan kain modern. Pemanfaatannya disesuaikan dengan motif berikut:[3]

Motif sasiringan dan penggunaannya
Nomor Nama motif Penggunaan
1 Sari Gading Ritual
2 Kangkung Kaokamban Tradisional
3 Gigi Haruan Tradisional
4 Daun Jeruju Tradisional
5 Kembang Kacang Tradisional
6 Tampuk Manggis Tradisional
7 Hiris Pudak Tradisional
8 Kembang Sakaki Tradisional
9 Bayam Raja Tradisional
10 Ombak Sinapur Karang Tradisional
11 Naga Balimbur Tradisional
12 Bintang Modern
13 Jajumputan Modern
14 Daun Katu Modern
15 Gradasi Modern
16 Langsat Modern
17 Naga Modern
18 Laba-laba Modern
19 Dara Menginang Modern
20 Bakantan Modern
21 Pasar Terapung Modern
22 Ketupat Modern

Pemaknaan[sunting | sunting sumber]

Tiap motif sasirangan memiliki makna berikut:[8]

Nomor Nama motif Pemaknaan
1 Sari Gading Kekuasaan, Martabat
2 Kangkung Kaokamban Pantang menyerah dan putus asa
3 Gigi Haruan Berpemikiran tajam
4 Daun Jeruju Menghindari bencana dan malapetaka
5 Kembang Kacang Kekerabatan dan keakraban
6 Tampuk Manggis Kejujuran
7 Hiris Pudak Tanaman khas masyarakat Banjar
8 Kembang Sakaki Keindahan
9 Bayam Raja Bermartabat dan dihormati
10 Ombak Sinapur Karang Ujian dalam kehidupan manusia
11 Naga Balimbur Kegembiraan dan kesenangan
12 Bintang Keagamaan
13 Jajumputan Persilangan budaya dengan budaya jawa
14 Daun Katu Keindahan
15 Gradasi Keindahan
16 Langsat Buah khas Tanjung
17 Naga Keindahan
18 Laba-laba Keindahan
19 Dara Menginang Keindahan
20 Bakantan Hewan khas Kalimantan Selatan
21 Pasar Terapung Budaya masyarakat Kalimantan Selatan
22 Ketupat Makanan khas Kandangan

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Pratomo; et al. (2018). "Optimasi E-Commerce dengan Penerapan Teknik SEO (Search Enginee Optimization) untuk Meningkatkan Penjualan pada UKM Nida Sasirangan". Impact: Jurnal Implementation and action. 1 (1): 36. 
  2. ^ a b Andriana 2018, hlm. 79.
  3. ^ a b Almas 2018, hlm. 214.
  4. ^ Andriana 2018, hlm. 81–82.
  5. ^ Andriana 2018, hlm. 79–80.
  6. ^ Andriana 2018, hlm. 80.
  7. ^ Andriana 2018, hlm. 80–81.
  8. ^ Almas 2018, hlm. 217–218.

Daftar Pustaka[sunting | sunting sumber]