Pasar terapung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Suasana di Pasar Terapung.
Lukisan Pasar Terapung menurut seorang pelukis.

Pasar Terapung adalah sebutan untuk sarana jual beli yang terletak di atas perairan, misalnya sungai atau danau. Para penjual dan pembeli masing-masing berada di atas perahu-perahu. Ada sejumlah pasar terapung yang aktif beroperasi selama bertahun-tahun di Asia, antara lain di Indonesia dan Thailand.

Pasar Terapung Lok Baintan[sunting | sunting sumber]

Pasar Terapung Lok Baintan dapat ditempuh sekitar 30 menit dengan menggunakan transportasi sungai dari kota Banjarmasin menyusuri sungai Martapura. Pasar ini berlokasi di desa Lok Baintan, Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.

Pasar Terapung Langkat[sunting | sunting sumber]

Di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara juga terdapat pasar terapung. Namun, pasar terapung ini sengaja dibuat dan berlokasi di Desa Pulau Sembilan, Kecamatan Pangkalan Susu, yang berdekatan dengan perbatasan Provinsi Aceh. Pasar terapung ini diresmikan oleh Bupati Langkat Yunus Saragih pada tanggal 9 Februari 2009. Pasar ini dimaksudkan untuk menjaga kestabilan harga ikan kerapu yang kini sedang merosot di pasaran.[1][2]

Pasar Terapung Bangkok[sunting | sunting sumber]

Pasar Terapung Damnoen Saduak di Ratchaburi, Thailand.

Di Thailand juga terdapat sebuah pasar terapung yang bernama The Damnoen Saduak Floating Market atau Pasar Terapung Damnoen Saduak di Provinsi Ratchaburi. Pasar Terapung ini berjarak sekitar 110 km sebelah barat kota Bangkok. Melancong ke pasar terapung Damnoen Saduak masih layak untuk dilakukan. Situasinya benar-benar kacau dan semrawut, kanal kecil yang disebut khlongs dipenuhi perahu datar yang diisi penuh dengan tumpukan produk makanan segar, masing-masing berebut posisi. Perahu yang didayung oleh wanita siap untuk berhenti dan melakukan tawar-menawar pada saat itu juga. Penuh warna, berisik, amat menarik bagi turis, tapi sangat menyenangkan. Selama perahu berekor panjang berjalan ke pasar, Anda akan melewati kebun-kebun, rumah-rumah kayu jati tradisional dan masyarakat lokal yang berangkat demi penghidupan mereka.[3] [4]

Terancam hilang[sunting | sunting sumber]

Aktivitas pasar terapung menghadapi ancaman besar beberapa tahun ke belakang. Transaksi perdagangan tidak lagi ramai. Dampaknya, banyak wisatawan yang kecewa. Bihman Mulyansyah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Selatan mengakui penurunan itu. Dulu, di Kuin Selatan ada sekitar 300 pedagang. Kini, hanya tersisa puluhan orang.

"Harapan tersisa ada di Lokbaintan. Namun kegiatan pasar terapung yang mengandalkan musim panen juga terganggu akibat gagal panen dan bencana banjir." Modernisasi juga membuat pesona pasar terkikis. Saat transportasi darat belum berkembang, sungai menjadi sarana perjalanan utama. Pasar terapung pun ikut berkembang pesat.

Pemerintah provinsi maupun kabupaten tidak tinggal diam. Pada 2009 lalu, digulirkan bantuan berupa 40 klotok dan jukung untuk pedagang. Selain itu, juga dibangun kampung wisata di sekitar pasar terapung Kuin Selatan. Masyarakat yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai di sekitar lokasi pasar terapung diberi bantuan permodalan usaha. Mereka bisa mendirikan warung dan usaha kerajinan khas Banjar.

Target yang hendak dicapai tidak muluk-muluk. Pada 2010 ini, Kalimantan Selatan diharapkan mampu menarik wisatawan asing sebanyak 19 ribu orang. Maklum, karena dua tahun terakhir terjadi penurunan jumlah pengunjung. Jika pada 2008 ada 24 ribu turis asing yang datang, setahun kemudian turun menjadi 22 ribu orang.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Galeri[sunting | sunting sumber]