Rumah Tinggal Notosoegondo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Rumah Tinggal Notosoegondo terletak di Jalan Diponegoro No. 21/23, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah.

Rumah Tinggal Notosoegondo atau Omah Pala adalah bangunan yang terinventarisasi untuk ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya, yang terletak di Jalan Diponegoro No. 21/23, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah. Bangunan rumah yang dibangun pada awal abad ke-20 ini merupakan salah satu bukti fisik dari konsep kota modern, yang memperlihatkan ciri arsitektur kolonial di Kota Salatiga. Pada 17 Juni 2015, bangunan ini menerima penghargaan dalam bentuk pemberian kompensasi pelestarian dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah bersama dengan empat bangunan lain, yaitu GPIB Tamansari Salatiga, Susteran OSF St. Fransiskus Xaverius, Rumah Tinggal Hasmo Sugiarto, dan Toko Aneka Jaya.

Keadaan bangunan[sunting | sunting sumber]

Rumah ini dibangun pada awal abad ke-20 dan diperkirakan berusia lebih dari 100 tahun.[1] Lokasinya berada di kawasan strategis, yaitu Jalan Diponegoro (dahulu bernama Toentangscheweg).[2] Pada masa pemerintahan gemeente (kotapraja), kawasan tersebut berkembang menjadi pusat kota yang dikenal dengan nama Europeesche Wijk.[3][4] Menurut Prakosa dan Supangkat, kawasan ini hanya boleh ditempati oleh orang-orang Eropa, Timur Asing, dan masyarakat pribumi yang memiliki penghasilan setara dengan pegawai Eropa, yaitu kategori golongan gaji A (gaji tertinggi).[5][6]

Bangunan rumah ini merupakan salah satu bukti fisik dari konsep kota modern, yang memperlihatkan ciri arsitektur kolonial di Kota Salatiga.[1] Gaya romantisme bangunan tersebut terlihat di fondasi batu belah yang kokoh, interior ruangan berbentuk garis melengkung, atap berbentuk perisai segi delapan, serta jendela-jendela yang simetris dengan dinding bangunan. Desain bangunan rumah itu memanfaatkan lahan yang sempit dan memanjang, tetapi keunikannya berkurang karena lokasinya lebih rendah dari jalan raya. Salah satu ciri khas dari bangunan tersebut adalah adanya pohon pala yang tumbuh di sebelah kanan halaman depan rumah. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat Salatiga juga menyebut rumah ini dengan "omah pala".[7]

Setelah Revolusi Nasional Indonesia dan bubarnya Republik Indonesia Serikat (RIS), rumah ini ditempati oleh keluarga Notosoegondo, dosen ekonomi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), yang juga dipercaya untuk memimpin Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota Salatiga. Hingga tahun 2020, kondisi fisik bangunannya terawat dengan baik, meskipun ahli waris tidak menetap di rumah itu.[8]

Kompensasi pelestarian[sunting | sunting sumber]

Rumah tinggal yang berdekatan dengan Wisma BCA Salatiga tersebut terinventarisasi untuk ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Kota Salatiga dengan Nomor Inventaris 11-73/Sla/15.[a][9] Pada 17 Juni 2015, bangunan ini menerima penghargaan dalam bentuk pemberian kompensasi pelestarian dari BPCB Jawa Tengah bersama dengan empat bangunan lain di Kota Salatiga. Kompensasi tersebut diserahkan kepada Hendriani selaku pemilik dan pengelola bangunan. Adapun empat bangunan lain itu adalah GPIB Tamansari Salatiga (diserahkan kepada Marthinus Mijan Rukait selaku Ketua IV Pelaksana Harian Majelis GPIB Tamansari Salatiga), Susteran OSF St. Fransiskus Xaverius (diserahkan kepada Suster Kepala Maria Gratia Surtinan), Rumah Tinggal Hasmo Sugiarto (diserahkan kepada Sri Kadarinah selaku pemilik dan pengelola bangunan), dan Toko Aneka Jaya (diserahkan kepada Heriyanto selaku pemilik dan pengelola bangunan).[10][11][12]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Berdasarkan hasil kajian dan identifikasi bangunan bersejarah di Kota Salatiga yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Salatiga bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah tahun 2009 (Hatmadji, dkk 2009, hlm. 3).

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Supangkat (2019), hlm. 20: "Rumah tinggal yang ada di Jalan Diponegoro No. 21 ini dibangun pada awal abad ke-20 dan merupakan bangunan yang secara jelas memperlihatkan ciri arsitektur kolonial (...)"
  2. ^ Raap (2015), hlm. 19: "Lokasi di foto ini disebut alun-alun karena merupakan lapangan luas di tengah kota, sedangkan kawasan di sekitar kantor asisten residen yang kini menjadi rumah wali kota disebut dengan Toentangscheweg (...)"
  3. ^ Anwar (2019), hlm. 147: "Untuk wilayah yang saat ini bernama Jalan Diponegoro, Jalan Yos Sudarso, Jalan Patimura, Jalan Moh. Yamin, pada masa kolonial adalah zona Europeesche Wijk dihuni oleh orang Eropa yang kaya-raya (...)"
  4. ^ Rohman (2020), hlm. 124: "Pada masa pemerintahan gemeente, kawasan di sekitar rumah dinas asisten Salatiga memang berkembang menjadi pusat kota. Perkembangan ini turut mendorong orang-orang kulit putih untuk menjadikan daerah tersebut sebagai kawasan elite (...)"
  5. ^ Prakosa (2017), hlm. 27: "Selain diskriminasi dalam lapangan politik, ekonomi, sosial, dan hukum, pemerintah kolonial juga membedakan penduduk dalam pola permukiman. Mereka dikelompokkan dalam lokasi tertentu berdasarkan golongan etnis. Golongan Eropa, misalnya, bermukim di sekitar Toentangscheweg (...)"
  6. ^ Supangkat (2012), hlm. 35: "(...) Itulah sebabnya mereka seakan berlomba membangun rumah-rumah dan bangunan dengan arsitektur Eropa yang berhalaman luas di kanan-kiri Toentangscheweg, sampai akhirnya daerah tersebut benar-benar menjadi kawasan permukiman orang Eropa (Europeesche Wijk)".
  7. ^ Supangkat (2019), hlm. 21: "Rumah ini semula milik seorang warga Belanda, tetapi setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Republik Indonesia, rumah ini menjadi milik keluarga Notosoegondo (...)"
  8. ^ Rahardjo, dkk (2013), hlm. 133–134: "Sejak perang kemerdekaan selesai dan negara RIS bubar kembali ke NKRI, rumah di Jl. Diponegoro No. 21 ditempati oleh keluarga Drs. Notosoegondo (...)"
  9. ^ Hatmadji, dkk (2009), hlm. 60–61: "Nama BCB/Situs : Rumah Tinggal; No. Inventaris : 11-73/Sla/15; Lokasi : Jl. Diponegoro 21/23 Salatiga (...)"
  10. ^ Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah (19 Juni 2015). "Pemberian Kompensasi Pelestari Cagar Budaya Kota Salatiga". Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 11 Maret 2020. 
  11. ^ Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah (19 Juni 2015). "Bangunan-Bangunan di Kota Salatiga Penerima Kompensasi Pelestarian". Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 11 Maret 2020. 
  12. ^ Supangkat (2019), hlm. 20–21: "Oleh karena itu, tidak salah kiranya bila beberapa waktu lalu Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah memberikan piagam penghargaan (...)"

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Buku

  • Prakosa, Abel Jatayu (2017). Diskriminasi Rasial di Kota Kolonial: Salatiga 1917–1942. Semarang: Sinar Hidoep. 
  • Raap, Olivier Johannes (2015). Kota di Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 
  • Rahardjo, Slamet, dkk (2013). Sejarah Bangunan Cagar Budaya Kota Salatiga. Salatiga: Pemerintah Daerah Kota Salatiga. 
  • Supangkat, Eddy (2019). Gedung-Gedung Tua yang Melewati Lorong Waktu Salatiga. Salatiga: Griya Media. 
  • Supangkat, Eddy (2012). Salatiga: Sketsa Kota Lama. Salatiga: Griya Media. 

Jurnal ilmiah

Lainnya

Pranala luar[sunting | sunting sumber]