Toko Aneka Jaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Toko Aneka Jaya terletak di Jalan Semeru No. 20, Kelurahan Kalicacing, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah.

Toko Aneka Jaya adalah bangunan cagar budaya yang terletak di Jalan Semeru No. 20, Kelurahan Kalicacing, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah. Rumah toko ini merupakan salah satu bukti fisik yang mewakili kawasan pecinan di Kota Salatiga pada masa pemerintahan gemeente (kotapraja). Kondisi fisik bangunan rumah toko tersebut kurang terawat pada 2020, tetapi bentuk depannya masih asli dengan ciri khas bangunan kolonial.

Keadaan bangunan[sunting | sunting sumber]

Keadaan bangunan Toko Aneka Jaya tahun 2018.

Rumah toko ini diperkirakan dibangun pada 1912 dan berusia lebih dari 100 tahun serta menjadi salah satu bukti fisik yang mewakili kawasan pecinan di Kota Salatiga pada masa pemerintahan gemeente.[1] Lokasinya berada di kawasan Jalan Semeru atau sebelah utara Jalan Ahmad Yani (dahulu bernama Kampementsweg).[2] Pada masa gemeente, kawasan tersebut berkembang menjadi pusat permukiman masyarakat Tionghoa yang dikenal dengan nama Chinese Wijk.[3][4] Wilayah Chinese Wijk atau sekitar Pasar Salatiga memang memiliki banyak peninggalan bangunan kolonial bercorak Tionghoa, yaitu gudang, rumah lelang, rumah pemotongan hewan, dan gedung opera.[3] Menurut Prakosa dan Supangkat, kawasan ini hanya boleh ditempati oleh masyarakat Tionghoa yang dianggap setara dengan warga Eropa.[5][6]

Meskipun kondisinya kurang terawat pada 2020, bangunan rumah toko ini merupakan bangunan dengan ciri arsitektur campuran, yaitu Tionghoa dan Eropa. Ciri arsitektur Tionghoa terlihat di atapnya yang menggunakan pelana, sedangkan arsitektur Eropa terlihat di ornamen façade (bubung) depan bangunan dengan tulisan Anno 1912. Bangunan ini merupakan salah satu dari dua bangunan yang memiliki elemen entablature (elemen yang memperlihatkan arsitektur klasik dan turunannya).[7] Bangunan lain di Kota Salatiga yang memiliki elemen ini adalah Rumah Tinggal Dokter Gigi Kristine.[8]

Kompensasi pelestarian[sunting | sunting sumber]

Rumah toko ini terdaftar sebagai salah satu cagar budaya di Kota Salatiga dengan Nomor Inventaris 11-73/Sla/109.[a][9] Pada 17 Juni 2015, bangunan ini menerima penghargaan dalam bentuk pemberian kompensasi pelestarian dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah bersama dengan empat bangunan lain di Kota Salatiga. Kompensasi tersebut diserahkan kepada Heriyanto selaku pemilik dan pengelola bangunan. Adapun empat bangunan lain itu adalah GPIB Tamansari Salatiga (diserahkan kepada Marthinus Mijan Rukait selaku Ketua IV Pelaksana Harian Majelis GPIB Tamansari Salatiga), Susteran OSF St. Fransiskus Xaverius (diserahkan kepada Suster Kepala Maria Gratia Surtinan), Rumah Tinggal Hasmo Sugiarto (diserahkan kepada Sri Kadarinah selaku pemilik dan pengelola bangunan), dan Rumah Tinggal Notosoegondo (diserahkan kepada Hendriani selaku pemilik dan pengelola bangunan).[10][11]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Berdasarkan hasil kajian dan identifikasi bangunan bersejarah di Kota Salatiga yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Salatiga bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah tahun 2009 (Hatmadji, dkk 2009, hlm. 3).

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Hatmadji, dkk (2009), hlm. 184: "Kejamakan : Mewakili bangunan rumah tinggal masyarakat Tionghoa (...)"
  2. ^ Supangkat (2012), hlm. 21: "Beberapa nama jalan lain yang "berbau" Belanda misalnya: Koffiestraat yang kemudian diganti Prins Hendriklaan (sekarang Jalan Yos Soedarso), Emmalaan (sekarang Jalan Adisutjipto), Prinsenlaan (sekarang Jalan Tentara Pelajar), Julianalaan (sekarang Jalan Moh. Yamin) (...)"
  3. ^ a b Anwar (2019), hlm. 147: "Untuk wilayah yang saat ini bernama Jalan Diponegoro, Jalan Yos Sudarso, Jalan Patimura, Jalan Moh. Yamin, pada masa kolonial adalah zona Europeesche Wijk dihuni oleh orang Eropa yang kaya-raya (...)"
  4. ^ Rohman (2020), hlm. 124: "Di sisi lain, orang-orang Tionghoa yang dianggap setara dengan warga Eropa mendapatkan kawasan permukiman di sekitar ruas Soloscheweg, yang dikenal dengan nama Chinese Wijk (...)"
  5. ^ Prakosa (2017), hlm. 27: "Selain diskriminasi dalam lapangan politik, ekonomi, sosial, dan hukum, pemerintah kolonial juga membedakan penduduk dalam pola permukiman. Mereka dikelompokkan dalam lokasi tertentu berdasarkan golongan etnis. Golongan Eropa, misalnya, bermukim di sekitar Toentangscheweg (...)"
  6. ^ Supangkat (2012), hlm. 36: "(...) Bila di sekitar ruas jalan Toentangscheweg dijadikan kawasan permukiman orang-orang eropa, orang-orang Tionghoa yang dianggap setara dengan warga Eropa mendapat kawasan permukiman di ruas Soloscheweg (...)"
  7. ^ Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah (17 Mei2018). "Bangunan Rumah Tinggal Jl. Semeru 20 Salatiga (Toko Aneka Jaya)". Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 16 Mei 2020. 
  8. ^ Hatmadji, dkk (2009), hlm. 278: "Kelangkaan : Salah satu dari dua bangunan yang memiliki elemen entablature (...)"
  9. ^ Hatmadji, dkk (2009), hlm. 183-184: "Nama BCB/Situs : Rumah Tinggal (Toko Aneka Jaya); No. Inventaris : 11-73/Sla/109; Lokasi : Jl. Semeru 20 Salatiga (...)"
  10. ^ Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah (19 Juni 2015). "Pemberian Kompensasi Pelestari Cagar Budaya Kota Salatiga". Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 11 Maret 2020. 
  11. ^ Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah (19 Juni 2015). "Bangunan-Bangunan di Kota Salatiga Penerima Kompensasi Pelestarian". Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 11 Maret 2020. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Buku

  • Prakosa, Abel Jatayu (2017). Diskriminasi Rasial di Kota Kolonial: Salatiga 1917-1942. Semarang: Sinar Hidoep. ISBN 978-602-6196-60-6. 
  • Supangkat, Eddy (2012). Salatiga: Sketsa Kota Lama. Salatiga: Griya Media. ISBN 978-979-7290-68-9. 

Jurnal ilmiah

Lainnya

  • Hatmadji, Tri, dkk (2009). "Cagar Budaya Salatiga". Klaten: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]