Lompat ke isi

Raja, Ngabang, Landak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Raja
Negara Indonesia
ProvinsiKalimantan Barat
KabupatenLandak
KecamatanNgabang
Kode Kemendagri61.08.01.2003 Suntingan nilai di Wikidata
Luas... km²
Jumlah penduduk... jiwa
Kepadatan... jiwa/km²
Peta
PetaKoordinat: 0°24′28.37″N 109°57′3.49″E / 0.4078806°N 109.9509694°E / 0.4078806; 109.9509694

Raja merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.

Pembagian Wilayah

[sunting | sunting sumber]

Desa Raja terdiri dari 4 Dusun/Kampung, yaitu:

  • Raiy
  • Pesayangan
  • Martalaya
  • Raja

Batas Wilayah

[sunting | sunting sumber]
  1. Timur berbatasan dengan Wilayah Desa Ambarang
  2. Selatan berbatasan dengan Wilayah Desa Hilir Kantor dan Desa Hilir Tengah
  3. Utara berbatasan dengan Wilayah Desa Mungguk
  4. Barat berbatasan dengan Wilayah Desa Amboyo Inti

Kepala Desa

[sunting | sunting sumber]
  1. Periode 2014-2020 s.d 2026=Zulkarnain,SE [1]

Tokoh Masyarakat Setempat

[sunting | sunting sumber]

Adapun tokoh-tokoh Masyarakat asli setempat (Tokoh Cendekiawan / Intelektual, Todat, Toga, Toda, dan Tokoh Seniman) , yang dikenal masyarakat, dan secara harfiah selalu aktif dibidang Pemerintahan dan Sosial Masyarakat pada Tahun 2021, saat ini :

  1. Gusti AGUS KURNIAWAN.
  2. HERIYANSYAH.
  3. Gusti HERMANSYAH.
  4. RONI KURNIAWAN.
  5. Budayawan SYAHLIMIN yang biasa disapa Wak Ulak Imin.

Tokoh Veteran : https://veteranri.go.id/index.php/kekuatan/detail/17/268

https://landaknews.id/2020/10/31/selasa-besok-peresmian-makan-nasional-pangeran-natakusuma-di-komp-pemakaman-raja-ngabang/https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kerajaan_Landak

Kerajinan

[sunting | sunting sumber]
  1. Tudung Saji Besak
  2. Tudung Saji Dinding
  3. Bakoel

Seni dan Budaya

[sunting | sunting sumber]
  1. Seni Silat.
  2. Seni Tari Jepen.
  3. Lomba Perau/Sampan.
  4. Robo-Robo Pesayangan.
  5. Tumpang Negeri.[2]

Makanan Tradisional

[sunting | sunting sumber]
  1. Kue Rotikap
  2. Kue Cucur,
  3. Nasi Ketan Lemak,
  4. Kue Butu Buloeh,
  5. Kue Dange,
  6. Bubur Pedas,
  7. Bubur Sunsum,
  8. Bubur Pusat,

Situs Peninggalan Sejarah dan Tempat Wisata

[sunting | sunting sumber]
  1. Keraton Ismahayana Landak
  2. Makam Kerajaan Landak
  3. Mungguk/Bukit Keramat Pesayangan
  4. Pagoeng Raja
  5. Danau Belut
  6. Goa Angging Dan Mungguk Angging
  7. Mungguk Tebelang

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Landak, Pmpd (1 Januari 2019). "Informasi Desa di Kabupaten Landak". Pmpd.landakkab.go.id. Diakses tanggal 8 Februari 2024.
  2. Author, Liputan6.com (4 Februari 2006). "Tumpang Negeri". liputan6.com. Diakses tanggal 6 Januari 2024. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]

Munggu Keramat/Bukit Keramat Pesayangan.

Yang biasa digunakan bagi masyarakat setempat/lokal khususnya Dusun Pesayangan sebagai tempat melaksanakan acara Adat Budaya Robo Robo.[1]

Menurut Cerita dan Versi masing-masing, merupakan Acara disakralkan yang dilaksanakan setiap tahunnya pada Bulan Safar.

Menurut cerita Rakyat, semasa dahulu didaerah tersebut sebelum Kerajaan Ismahayana berpindah di Dusun Raja, Raja sempat berdiam dan tinggal di Dusun Pesayangan dahulunya.

Sehingga menimbulkan cerita dan versi masing masing, mengatakan bahwa mungguk Keramat merupakan Makam Wali dari Banten, dari Banjar, dari Sambas, dari Jawa dan sebagainya sehingga ada yang mengatakan dan memberikan nama Lebai Rantau, secara harfiah orang yang beragama Muslim tidak berdoa dan mengadakan hal sakral di suatu Makam (kenapa dimakam orang lain, kenapa tidak dimakam orang tua sendiri yang jelas jelas melahirkan diistilahkan malaikat yang nyata) serta dan orang lokal sebelum memeluk Islam mereka tidak pernah melakukan hal sakral dimakam, dan bukti otentik masyarakat setempat memiliki makam lama yang bukan identik dengan Islam mungkin pada abad 15 sudah ada baik terbuat dari batu alam tanpa ukiran dan terbuat dari kayu lokal berukiran, bahkan terdapat kuburan lama seperti "Nek Pongkot/Nek Bongkok" yang berkerabat dengan Nek Sanggup, terdapat di Tepian sungai pada masa itu, dan kuburan umum "Tok Awank" beserta dengan kaum kerabatnya.

Menurut telaahan beberapa orang di masyarakat setempat, menceritakan itu sebagai makam, itu hanya kepentingan politik pada masa itu agar generasi selanjutnya hilang identitas dan budayanya sendiri.

Pada intinya dimungguk Keramat merupakan tempat masyarakat setempat dahulunya untuk melakukan hal sakral sesuai kepercayaan mereka pada masa itu, dan di buatlah Acara Robo Robo secara Islam, sehingga tidak melupakan Budaya Leluhur mereka yang biasa dilaksanakan sampai dengan saat ini.[2]

Masyarakat setempat merupakan penduduk asli, yang leluhur mereka juga berasal dari Jaring, Sungai Lubang, Behe, Parigi yang setia akan raja mereka, dan melakukan perkawinan dengan beragam suku pribumi, hingga Banjar, Bugis dan semasa indonesia merdeka dan melakukan perkawinan dengan orang luar seperti Batak, Jawa, Padang, dan lainnya.[3]

Dalam hal ini masyarakat setempat dahulunya, adanya adat Istiadat yang sangat Sakral antara lain :

  1. Bubur merah putih (bubur Abang) disimpan pada daun pisang, yang digunakan untuk pembangunan rumah, menanam padi Munggu/BeUme, Menanam Padi Sawah/Payak, acara sakral lainnya.
  2. tumpang kampung/sedekah kampung, di mana terdapat ayam panggang, cucur, tebu, ketupat, lemang, dan sebagainya.
  3. Beras kuning yang secara harpiah selalu digunakan setiap saat (baik penyambutan tamu, buang Buang),
  4. Mandek beras dan Tungkal tawar (biasanya dilaksanakan bagi orang selesai pengantin, kawinan dan acara tertentu),
  5. Air Tawar Rinjuang (biasanya direndam dalam satu malam dan dimandikan setelah itu digantung depan rumah bersama kain kuning/merah) sehingga diganti dengan tulisan arab,
  6. Buang teluk Kae (biasa digunakan pada acara acara tertentu),
  7. beremah (membuka Ume/Payak), membuat rumah, dengan alat peraga sesuai kebutuhan

Dalam hal ini, penulis mendapatkan sumber pada Cerita masyarakat setempat. Di mana hal dimaksud masyarakat setempat sudah adanya kontak hubungan interaksi sosial dengan orang orang Banjar dan Bugis Pada masa itu.[4]

Dan masih banyak cerita Rakyat pada masyarakat Dusun Pesayangan mengenai Cerita pada masa itu antara lain :

  1. Raja Pernah mendiami daerah tersebut (yang tidak pernah dituliskan atau diceritakan kepada hal layak ramai),
  2. Kayu Belian yang dibawa ke Banjar dan diikuti penduduk setempat untuk membangun mesjid di Banjar,
  3. Rombo "Saca" pada masa itu terdapat anak kecil mendapatkan Pudi sebesar Telur Ayam, dimainkan jika diambil Langit menjadi Gelap, jika dibuang lagi langit menjadi terang.
  4. Dan Cerita Kampung yang diberikan nama Pesayangan yang dulunya Sistem pemerintahan Raja menganut Sistem Era Malaya, bahasa yang digunakan bahasa Malaya, dikarenakan penduduk setempat merupakan Kesayangan Raja Menjadilah Pesayangan (ada juga kisah mengatakan, dahulu sistem pemerintahan masih kerajaan, banyak berinteraksi dengan orang atau saudagar Banjar dalam kata lain Gale Pudi/beli pudi (Jual Beli Pudi)serta ada juga ulama dari Banjar memberikan Nama kampung tersebut), dikarenakan dahulunya Orang Banjar datang menikah dengan orang setempat.

Tingkatan Sebutan Orang Laut khususnya pada masyarakat Lokal Desa Raja panggilan terhadap Saudaranya Jika Genap 12 Saudara :[5]

  1. Alonk,
  2. Alu,
  3. Andenk,
  4. Ayon,
  5. Apit,
  6. Angahnam,
  7. Angahjoeh,
  8. Acik,
  9. Ayun,
  10. Awank,
  11. Uwan,
  12. Usu,

Akan tetapi panggilan tersebut berbeda lagi, jika saudara berjumlah Genap atau Ganjil. Misalnya saudar 7 orang yang muncul panggilan ( Along, Alu, Andenk, Ayon, Angah, Acik, Usu) dan sejenisnya.

Jika mereka memiliki Keponakan, maka keponakan wajib memanggil dengan Nama Wakwe (Laki laki) Uwak (Perempuan) tinggal menambah Gelar Panggilan Nomor urut mereka, ini merupakan setingkat Om/Paman/Tante /Bibi saudara dari pada Ayah dan Ibu Mereka.

Adapun untuk Tingkatan Generasi/Leluhur mereka :

  1. Ama dan Umak (panggilan untuk ayah dan Ibu),
  2. Akenk dan Inek (panggilan untuk orang tuah ayah dan ibu mereka),
  3. Uyut dan Uyam (dsb),
  4. Atoek dan Atok (dsb)
  5. Engkek dan Engkik (dsb)
  6. Ungkek dan Ungkik (dsb)
  7. Datoek dan Dayam (dsb)

Dalam menjalin kekeluargaan antara mertua "Besanan, Warang, Entua" , sering digunakan dituturkan, dalam Bahasa Etnis Laut ngabang sudah banyak bercampur dengan bahasa Indonesia, sehingga penuturan sebutan benda benda kebanyak sudah menggunakan campuran bahasa Indonesia.

Contoh (Longop=Jendela, Lawang=Pintu, Sorok=Laci).[6]

  1. https://www.dailynusantara.id/2023/09/momen-festival-robo-robo-dusun.html
  2. Achmad. ;
  3. https://www.dailynusantara.id/2023/09/momen-festival-robo-robo-dusun.html
  4. Achmad.
  5. menurut referensi masyarakat setempat
  6. Seman, Seman (2025-11-16). [Cerita relevan "Pranalar luar"]. Tidak ada.