Lompat ke isi

Pesinggahan, Dawan, Klungkung

Desa Pesinggahan (bahasa Bali: ᬤᬾᬰᬧᭂᬲᬶᬗ᭄ᬕᬳᬦ᭄) adalah desa di Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali, Indonesia.[1]

Pesinggahan
ᬧᭂᬲᬶᬗ᭄ᬕᬳᬦ᭄
Patung Kresna - Arjuna dengan latar Kantor Perbekel Pesinggahan
Patung Kresna - Arjuna dengan latar Kantor Perbekel Pesinggahan
Negara Indonesia
ProvinsiBali
KabupatenKlungkung
KecamatanDawan
Kode pos
80761
Kode Kemendagri51.05.04.2008 Suntingan nilai di Wikidata
Luas3,65 km²[2]
Jumlah penduduk3.797 jiwa (2015)[2]
3.729 jiwa (2010)[3]
Kepadatan1.021 jiwa/km² (2010)
Jumlah RW2 Desa Adat, 5 Banjar[2]
Peta
Peta
Peta
Peta
Koordinat:

Desa Pesinggahan adalah salah satu dari dua belas desa dinas, dan salah satu dari dua puluh desa adat yang ada di Kecamatan Dawan. Desa ini memiliki objek wisata religius yang terkenal yaitu Pura Goa Lawah.

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Menurut Monografi Desa Pesinggahan tahun 1983, Kata "Pesinggahan" berasal dari nama Arya Pasimpangan yang merupakan seorang penguasa di wilayah ini pada zaman pemerintahan Dalem Segening.[4]

Nama Desa Pesinggahan pada masa Bali Kuno (Bali sebelum jaman Pemerintahan Majapahit) belum ada disebutkan, mungkin wilayah ini dikuatkan dengan adanya pura-pura klan (paibon) Arya Simpangan di sekitar wilayah ini sampai ke Desa Adat Gelogor (Banjar Dinas Gelogor, Desa Pikat). Jadi, apabila hipotesis ini benar, maka nama Pesinggahan adalah berasal dari Arya Pasimpangan (Pasimpangan sama artinya dengan Pesinggahan) yang merupakan seorang penguasa di wilayah ini pada zaman pemerintahan Dalem Segening.

Mulanya, I Gusti Wayan Jelantik Pasimpangan (putra dari I Gusti Jelantik Paninggungan) berkuasa di wilayah ini. Ceritanya demikian pada zaman pemerintahan Dalem Pemayun Bekung di Bali (± tahun 1550–1580). Kiyai Pande Base Putra dari I Gusti Dauh Baleagung, mempunyai kedudukan jaksa dan mendapat hadiah wilayah timur Tukad Unda sebagai tanda kemenangan beliau di Sumbawa dan Tuban. Kiyai Pande Base bertempat tinggal di Desa Kamasan, sedangkan ayahanda beliau berdiam di Bukit Buluh, Desa Gunaksa.

Singkat cerita, pada zaman Kali, pemerintahan Dalem Bekung, Kiyai Pande Base bersama putranya yang bernama I Gusti Biasama gugur pada perang saudara di Gelgel yang terjadi pada tahun saka Sawang Sunia Panca Dewa (1504) atau 1582 M. Perang itu terjadi karena I Gusti Pande Base dianggap membangkang dan tidak mau turut dalam upacara Banyu Pengererata untuk menjernihkan suasana yang kusut karena kematian I Gusti Ngurah Telabah. I Gusti Dauh Baleagung mengira seluruh keturunannya telah habis tertumpas dalam perang saudara tersebut, akhirnya mengadopsi (meras) I Gusti Wayan Jelantik Pasimpangan sebagai putranya untuk melanjutkan tugas-tugasnya sebagai penguasa di wilayah ini.

Demikian nama Desa Pesinggahan menurut sejarah berasal dari nama seorang penguasa yang sangat dihormati (sejarah ini dikutip dari Monografi Desa Pesinggahan tahun 1983).[4]

Pemerintahan

[sunting | sunting sumber]

Pembagian administratif

[sunting | sunting sumber]

Desa Pesinggahan terbagi menjadi 5 banjar dinas, yaitu:

  1. Banjar Dinas Belatung[a]
  2. Banjar Dinas Kanginan
  3. Banjar Dinas Pundukdawa
  4. Banjar Dinas Sukahati
  5. Banjar Dinas Suwitrayasa

Pembagian adat

[sunting | sunting sumber]

Desa Pesinggahan terbagi atas 2 desa adat/pakraman, yaitu:[5]

  1. Desa Adat/Pakraman Pesinggahan
  2. Desa Adat/Pakraman Pundukdawa

Desa Pesinggahan merupakan desa yang terletak di ujung timur Kabupaten klungkung dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Karangasem.

Batas Wilayah

[sunting | sunting sumber]

Batas wilayah Desa Pesinggahan adalah sebagai berikut:[6]

UtaraDesa Pikat
TimurKabupaten Karangasem
SelatanSelat Badung, dan Desa Kusamba
BaratDesa Gunaksa, dan Desa Dawan Klod

Pariwisata

[sunting | sunting sumber]

Desa Pesinggahan merupakan desa yang memiliki posisi strategis karena berada di wilayah pantai dan perbukitan sehingga penduduknya sebagian bermata pencaharian sebagi nelayan, sebagian sebagai petani, dan sebagian pula ada sebagai PNS dan pedagang. Potensi pendapatan asli desa sebagian besar bersumber dari objek Wisata Pura Goa lawah dan hal ini perlu dikembangkan dan digali secara lebih maksimal. Di desa Pesinggahan juga terkenal dengan Warung Lesehan Sate Ikan Lautnya karena di Desa Pesingahan terdapat beberapa Warung Lesehan khas Pesinggahan seperti Warung Sari Segara, Merta sari, Baruna, Rahayu dan sebagainya.

Saat ini Desa Pesinggahan juga sudah memiliki pelabuhan rakyat yang bekerja sama dengan PT Caspla Bali. Adapun rute yang dilayani adalah penyebrangan Pesinggahan-Buyuk (Nusa Penida dan Lembongan). Ke depan juga akan segera dibuka pelabuhan dari Pesinggahan ke Kepulauan Gili di Lombok.

Demografi

[sunting | sunting sumber]

Penduduk desa Pesinggahan sampai dengan tahun 2015 sebanyak 3.797 jiwa terdiri dari 1.844 laki-laki dan 1.953 perempuan dengan sex ratio 94.[2]

  1. Belatung merupakan banjar dinas yang paling muda karena baru bergabung dengan Desa Pesinggahan, sebelumnya merupakan bagian dari Desa Pikat. Perpindahan ini disebabkan karena Banjar Dinas Belatung secara de facto berada di wilayah Desa Pesinggahan walaupun sejarah menunjukkan sebagian besar penduduknya berasal dari Banjar Dinas Pangi, Desa Pikat.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019.
  2. 1 2 3 4 "Kecamatan Dawan dalam Angka 2015". Badan Pusat Statistik Indonesia. 2017. Diakses tanggal 19 Mei 2020.
  3. "Penduduk Indonesia Menurut Desa 2010" (PDF). Badan Pusat Statistik. 2010. hlm. 1379. Diakses tanggal 14 Juni 2019.
  4. 1 2 "Sejarah Desa Pesinggahan". Website Resmi Desa Pesinggahan Kec. Dawan Kab. Klungkung Prov. Bali. Diakses tanggal 16 Agustus 2025.
  5. "Awig-Awig". Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Adat Provinsi Bali. Diakses tanggal 15 Agustus 2025.
  6. "Profil Wilayah Desa Pesinggahan". Website Resmi Desa Pesinggahan Kec. Dawan Kab. Klungkung Prov. Bali. Diakses tanggal 16 Agustus 2025.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]

8°33′06″S 115°27′45″E / 8.551700°S 115.462622°E / -8.551700; 115.462622