Pertempuran Tarakan (1942)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Pertempuran Tarakan
Bagian dari Perang Dunia II
Tarakan.png
Pulau Tarakan
Tanggal 11-12 Januari 1942
Lokasi Pulau Tarakan, Kalimantan
Hasil Kemenangan Jepang
Pihak yang terlibat
Flag of Japan (1870-1999).svg Kekaisaran Jepang  Belanda
Komandan
Mayor Jendral Shizuo Sakaguchi
Kolonel Kyohei Yamamoto
Overstee Simon de Waal
Kekuatan
Lebih dari 6.600 Lebih dari 1.300
Korban
255 tewas jumlah tewas tidak diketahui, 871 orang menjadi tawanan

Pertempuran Tarakan terjadi pada tanggal 11-12 Januari 1942. Meskipun Tarakan hanya pulau berawa-rawa kecil di Kalimantan timur laut di Hindia Belanda, tetapi terdapat 700 sumur minyak, penyulingan minyak dan lapangan udara, yang merupakan tujuan utama Kekaisaran Jepang dalam Perang Pasifik.

Sebelum Pertempuran[sunting | sunting sumber]

Pemerintah kolonial Hindia Belanda menerima berita tentang penyerangan Jepang atas Pearl Harbor pada tanggal 8 Desember 1941 pukul 04.00 pagi waktu Batavia. Mereka segera berkonsultasi dengan Pemerintah Belanda dalam pengasingan di London untuk menentukan sikap. Pada pukul 06.00 dikeluarkan perintah supaya semua kapal dagang di seantero Hindia Belanda mencari perlindungan di tempat yang aman. Kemudian pada pukul 06.30, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jhr. A.W.L Tjarda van Starkenborgh-Stachouwer mengumumkan pernyataan perang kepada Jepang melalui siaran radio.[1]

Jepang mulai melakukan misi pengintaian udara dengan mengirimkan empat pesawat terbang ke Borneo pada 25 Desember 1941. Pada 28 Desember 1941, 5 pesawat Brewster Bufallo KNIL-ML (Dinas Penerbangan Militer KNIL) menyergap 8 pesawat Mitsubishi A6M Jepang. Dua atau tiga Buffalo dan dua A6M tertembak jatuh. Seorang pilot Belanda dilaporkan hilang dan seorang lagi tewas. Sebuah pesawat terbang Belanda yang berada di lapangan terbang rusak akibat serangan ini.[2]

Pada tanggal 1 Januari 1942 Jepang menawarkan suatu persetujuan damai kepada Hindia Belanda, sambil mengabaikan pernyataan-pernyataan sebelumnya dan permusuhan-permusuhan yang sudah timbul. Hindia Belanda menjawab bahwa sikapnya tidak berubah dan menganggap dirinya dalam keadaan siap perang dengan Jepang. Akhirnya Tokyo pun memutuskan untuk mulai menyerang.[1] 

Pertempuran[sunting | sunting sumber]

Eskader Angkatan Laut Jepang di bawah Laksamana Madya Hirose Sueto berangkat dari Davao pada 7 Januari 1941 dan dari Jolo pada 8 Januari 1941 ke arah selatan menujut Borneo, Hindia Belanda. Di dalamnya terdapat kapal penabur ranjau, pemburu kapal selam, kapal pendarat cepat, dan 16 kapal angkut serta Resimen Tempur ke-56 dan Satuan Khusus Pendarat Angkatan Laut Kure ke-2 (2nd Kure Special Naval Landing Unit[3]). Untuk pengamanan serangan, ikut disiagakan Eskader Perusak ke-4, Eskader Perusak ke-2 dan ke-9. Dua kapal pengangkut pesawat terbang amfibi dan 23 pesawat tempur yang berpangkalan di Jolo dipersiapkan untuk memberikan bantuan udara.

Ketika pada 10 Januari 1942, pesawat ampibi Dornier Do 24 milik KNIL-ML mendeteksi keberadaan konvoi kapal-kapal tempur Jepang tersebut di utara Tarakan, komandan garnisun KNIL di Tarakan, Overstee Simon de Waal, segera memerintahkan evakuasi warga sipil dan penghancuran ladang-ladang minyak yang ada.

Pertempuran[sunting | sunting sumber]

Pada 11 Januari 1942 tengah malam, 20.000 tentara Right Wing Unit di bawah Mayor Jenderal Sakaguchi Shizuo mendarat di pantai timur Tarakan disusul Satuan Khusus Pendarat Angkatan Laut Kure ke-2 (pasukan marinir). Sebaliknya pasukan Belanda tidak banyak terkonsentrasi di pantai timur karena pantai barat dinilai lebih sesuai untuk pendaratan pasukan. Pesawat-pesawat pembom KNIL-ML beterbangan dari lapangan udara di Samarinda dan Balikpapan, mencoba menghadang gerakan pasukan Jepang tersebut.

1 kapal selam Belanda tipe K-X, kapal patroli Belanda tipe P-1 dan kapal cepat Aida diam-diam berlayar menyelinap pergi. Kapal penyebar ranjau HNLMS Prins van Oranje yang mencoba melarikan diri juga, terpergok kapal perusak IJN Yamakaze pimpinan Letnan Komodor Shuichi Hamanaka, dan berhasil ditenggelamkan dengan torpedo.

Setelah pertempuran selama 1 hari 1 malam, akhirnya pasukan KNIL menyerah pada 12 Januari 1942 pagi hari[4] Lebih dari setengah pasukan Belanda gugur. Seluruh tawanan perang dieksekusi mati dengan dipenggal kepalanya dengan samurai atau ditenggelamkan hidup-hidup ke kolam-kolam minyak yang tumpah dari kilang yang baru saja dibakar oleh pasukan KNIL tersebut, sebagai balasan atas tindakan pengrusakan fasilitas vital tersebut.[5] Jepang hanya kehilangan 225 prajuritnya.

Setelah Pertempuran[sunting | sunting sumber]

Dan dengan demikian Tarakan menjadi wilayah koloni Hindia Belanda pertama yang jatuh ke tangan Jepang dalam Teater Pasifik. Kota minyak ini tetap dikuasai Jepang hingga direbut oleh Australia dalam Pertempuran Tarakan II (1 Mei - 21 Juni 1945).

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Iwan Santosa(2004), "Tarakan:"Pearl Harbor" Indonesia (1942-1945)". Jakarta: Primamedia Pustaka. ISBN 979-696-301-9
  • Womack, Tom (2006), "The Dutch Naval Air Force Against Japan - The Defense of the Netherlands East Indies, 1941-1942", McFarland & Company, Inc., ISBN 0-7864-2365-X

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Onghokham,1987,Runtuhnya Hindia Belanda,Jakarta : Penerbit PT Gramedia.
  2. ^ Iwan Santosa halaman 19
  3. ^ 2nd Kure Special Naval Landing Unit
  4. ^ ibid, halaman 24
  5. ^ L, Klemen (1999–2000). "The capture of Tarakan Island, January 1942". Forgotten Campaign: The Dutch East Indies Campaign 1941-1942.

Koordinat: 3°21′0″LU,117°34′0″BT