Pertempuran Tarakan (1942)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pertempuran Tarakan
Bagian dari Perang Dunia II, Perang Pasifik
Japanese Troops Guarding Tarakan.jpg
Pasukan Jepang menjaga Tarakan setelah menangkap pulau tersebut
Tanggal11-12 Januari 1942
LokasiPulau Tarakan, Kalimantan
Hasil Kemenangan Jepang
Pihak terlibat
 Belanda Flag of Japan (1870–1999).svg Jepang
Tokoh dan pemimpin
Bendera Belanda Simon de Waal Menyerah
Bendera Belanda Anthonie van Versendaal 
Bendera Kekaisaran Jepang Shizuo Sakaguchi
Bendera Kekaisaran JepangShoji Nishimura
Kekuatan
1,365[1] 6,600
Korban
Sekitar 300 tewas[2]
871 ditawan[3]
215 dieksekusi
1 pemasang ranjau tenggelam
255 tewas
2 penyapu ranjau tenggelam

Pertempuran Tarakan terjadi pada tanggal 11-12 Januari 1942, sehari setelah Kekaisaran Jepang mendeklarasikan perang terhadap Kerajaan Belanda. Meskipun Tarakan hanya sebuah pulau berawa kecil di sebelah timur laut Borneo (sekarang dibagi antara Kalimantan, Indonesia dan Malaysia Timur, Malaysia) di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), fasilitas 700 sumur minyak, kilang, dan pangkalan udara (Lanud) nya menjadikan pulau ini salah satu tujuan penting bagi Jepang dalam Perang Pasifik.[4]

Sebelum Pertempuran[sunting | sunting sumber]

Penemuan dan Produksi Minyak Pra Perang[sunting | sunting sumber]

Meskipun posisinya terletak di tepi terpencil koloni Hindia Belanda dan hanya berdiameter 25 mil persegi, penemuan minyak pada kedalaman yang relatif rendah di bawah tanah (50 hingga 300 meter) membawa makna besar bagi Tarakan.[5]

Pamoesian (Pamusian) di sisi barat pulau menjadi lokasi pengeboran utama sebelum perang, di mana sekitar 700 sumur minyak didirikan oleh Bataafse Petroleum Maatschappij (BPM; "Perusahaan Minyak Batavia"). Di sekitar lokasi pengeboran, perumahan untuk karyawan Eropa BPM dan penduduk Tionghoa didirikan. Di posisi utara, BPM juga mendirikan lokasi pengeboran lain di Djoeata (Juwata).[6] Pada saat ini, sumur-sumur minyak tersebut telah menjadi sumber kehidupan bagi penduduk Tarakan.[7]

Terlepas dari kelaziman karena produksi besar-besaran ini, selama masa sebelum perang, sebagian besar medan berbukit Tarakan di pusat pulau, serta garis pantai berawa di timur tetap pada keadaan alami mereka. Jaringan jalan hanya terbatas untuk menghubungkan lokasi pengeboran Pamoesian dan Djoeata dengan fasilitas pelabuhan di Lingkas di barat[8] dan Lanud dengan landasan pacu sepanjang 1.500 m di utara.[9]

Belanda Mulai Membangun Pertahanan[sunting | sunting sumber]

Seiring bertumbuhnya produksi minyak, Belanda mulai merenungkan akan kemungkinan agresi militer Jepang, dan kebutuhan untuk melindungi fasilitas pulau, jika hal itu terjadi.

Pada tahun 1923, sebuah kompi infantri ditetapkan di Tarakan untuk menjadi pasukan penahan selama penghancuran kilang minyak dan instalasi produksi lainnya jika terjadi serangan yang tidak terduga. Ketegangan internasional yang meningkat memaksa perusahaan untuk diperkuat menjadi pasukan seukuran batalion.[10]

Pada tahun 1930, Komite Pertahanan Pelabuhan Minyak dibentuk, dengan tujuan untuk menganalisa pertahanan pelabuhan minyak utama di Hindia Belanda. Secara alamiah, Komisi ini menyimpulkan bahwa kehadiran pasukan yang lebih besar dari kompi di Tarakan adalah kebutuhan mutlak.[11]

Pada tahun 1933, sebuah "Detasemen Bala Bantuan" tiba dari Jawa untuk meningkatkan pertahanan Tarakan, ketika ketegangan di Pasifik pada saat itu sedang meningkat. Setelah 4 bulan, detasemen ini dikirim kembali dan hanya baru di 1934 sebuah batalion berkekuatan penuh dengan senjata tambahan datang untuk mempertahankan Tarakan.[12]

Kebutuhan Sumberdaya Jepang[sunting | sunting sumber]

Sebelum Perang Dunia Kedua, Tarakan memproduksi sekitar 6 juta barel minyak per tahun,atau sekitar 16% dari total konsumsi minyak tahunan di Jepang.[13] Konteks ini menjadikan pulau tersebut salah satu tujuan utama militer Jepang (terutama Angkatan Laut Kekaisaran Jepang[14]) dalam rencana mereka untuk menduduki Hindia Belanda pada tahun-tahun menjelang perang.

Susunan Pasukan[sunting | sunting sumber]

Jepang[sunting | sunting sumber]

Pasukan Darat[sunting | sunting sumber]

Detasemen Sakaguchi (Komandan: Mayor Jenderal Shizuo Sakaguchi)[15]

  • Unit Sayap Kanan (Komandan: Kolonel Kyōhei Yamamoto)
    • Resimen Infanteri Ke-146 (minus Batalyon ke-2 dan ke-3)
    • Satu baterai artileri dan meriam anti-tank
    • Pasukan Pendaratan Khusus Kure Ke-2 (satu batalyon)
    • Kompi Zeni Ke-1 (minus satu peloton)
    • Unit Medis (minus separuh dari unit)
    • Unit Radio
  • Unit Sayap Kiri (Komandan: Kolonel Ken’ichi Kanauji)
    • Batalyon Infanteri Ke-2 (minus Kompi ke-6),
    • Satu baterai artileri dan meriam anti-tank
    • Satu peleton zeni
    • Unit Radio
  • Markas Besar Resimen Ke-56
  • Unit Mobil Lapis Baja Resimen Ke-56
  • Batalyon Artileri Lapangan Ke-1
  • Batalyon Artileri Antipesawat Lapangan Ke-44

Unit Angkatan Laut[sunting | sunting sumber]

Western Attack Unit (Komandan: Laksamana Muda Shoji Nishimura, berbasis di kapal penjelajah Naka)[16]

Grup Udara

  • Tender pesawat amfibi Sanyo Maru dan Sanuki Maru
  • Satu kapal tangki

Pasukan Pangkalan (Komandan: Laksamana Muda Sueto Hirose):

Belanda[sunting | sunting sumber]

Pasukan Darat[sunting | sunting sumber]

Pertemuan perwira Belanda saat Revolusi Nasional Indonesia, 1947. Berdiri di tengah (dengan kacamata debu) adalah Mayor Jenderal Simon de Waal.

Garnisun Tarakan (Komandan: Letnan Kolonel Simon de Waal):[17]

  • Batalyon Infanteri KNIL Ke-7
    • 3 Kompi dengan 177 serdadu masing-masing (dengan 18 senapan mesin di tiap kompi) dibawah komando F. Treffers, A.C. Saraber and L. Bendeler
    • 1 Kompi Senapan Mesin (18-24 Senapan Mesin Vickers dan 6 mortar 80mm) dibawah komando Kapten W. Everaars
    • 1 Detasemen bermotor dengan 80 serdadu (7 mobil lapis baja overvalwagen) dibawah komando Letnan Satu D.P. de Vos tot Nederveen Cappel
  • Artileri (Kompi Artileri Pantai dan Anti-Pesawat Ke-3) (Komandan: M.J. Bakker)
    • Tiga baterai artileri pantai:
      • 3 x meriam 75 mm diantara Peningki and Karoengan (Karungan) dibawah komando Letnan Satu J.W. Storm
      • 4 x meriam 120 mm di Karoengan dibawah komando Letnan Satu J.P.A. van Adrichem
      • 4 x meriam 75 mm dibawah komando Letnan Satu Cadangan Van der Zijde
    • Dua baterai artileri (non-mobil):
      • 3 x meriam 75 mm guns dekat Lingkas dibawah komando Letnan Satu Cadangan J. Verdam
      • 2 x meriam 70 mm guns (usang) diawaki oleh personil KNIL di area Lingkas
    • Dua baterai Anti-Pesawat dibawah komando Letnan Cadangan Nijenhuis:
      • 4 × meriam 40 mm
      • 4 × meriam 20 mm
    • Empat peleton senapan mesin Anti-Pesawat (10 - 12 x Senapan Mesin Berat kaliber 12,7 mm)
  • Dua peleton zeni (satu peleton 30 orang dan 40 karyawan BPM wajib militer) dibawah komando Letnan Satu J.W. van den Belt
  • Peleton Pembantu Pertolongan Pertama Mobil

Unit Udara[sunting | sunting sumber]

Militaire Luchtvaart Ke-304 (ML-KNIL):

  • 3 x Glenn Martin B-10 (Ditransfer ke Pangkalan Udara Samarinda II bulan Desember 1941; Lanud Tarakan dianggap terlalu kecil untuk pembom bermesin dua)
  • 4 x Brewster Buffalo dibawah komando Letnan Satu P.A.C. Benjamins

Unit Laut[sunting | sunting sumber]

Koninklijke Marine:

Rencana Belanda[sunting | sunting sumber]

Peta Pertahanan Belanda di Tarakan, 1942

Rencana awal Belanda sebelum tahun 1941 meminta ladang minyak dan instalasi dipertahankan dengan segala cara. Jika dianggap tidak memungkinkan, pasukan Belanda harus menghancurkan semua fasilitas produksi minyak di Tarakan sebelum mundur ke pulau Kalimantan.

Satu rintangan utama dalam pertahanan Tarakan adalah pangkalan udaranya yang tidak sesuai untuk mengakomodasi pesawat pemburu dan pembom. Namun, rencana Belanda tetap mengharuskan agar pangkalan udara ini dipertahankan. Jika mempertimbangkan ukuran lapangan terbang dan kekuatan militer Jepang, - khususnya keseimbangan laut dan udara keseluruhan - tugas ini akan membawa hasil yang terbatas.

Penyebaran Garnisun Tarakan disesuaikan untuk mencegah musuh dari menduduki kompleks pelabuhan di bagian barat pulau. Posisi pertahanan yang ada terdiri dari beberapa "Lini" Lini-lini ini berisi dua baris pagar penghalang:[18]

  • Lini Lingkas, yang mempertahankan kompleks pelabuhan
  • Lini Utara (NoordFront), yang mempertahankan titik akses ke pangkalan udara
  • Posisi pertahanan pendukung di dan sekitar Pangkalan Udara Tarakan
  • Lini Timur (OostFront), yang mempertahankan ladang minyak Pamoesian (lini ini tidak memiliki koneksi langsung ke Lini Utara; unit khusus menjaga celah antara kedua front)
Gardu pertahanan Belanda. Direbut oleh pasukan Jepang pada Januari 1942, Gardu ini terputarbalikkan oleh ledakan bom saat pertempuran di Tarakan bulan Mei 1945

Di Pantai Timur, pasukan Belanda menyiapkan peleton pendukung peleton di mulut Sungai Amal. Unit ini bertugas menghalangi pendaratan musuh untuk sesaat, sebelum mundur ke Lini Timur. Pasukan pelindung tambahan dialokasikan juga ke baterai Djoeata, Peningki dan Karoengan.

Posisi-posisi pendukung, di mana setiap lini didirikan, ditempati 25 serdadu. Setiap posisi didukung oleh dua senapan mesin ringan dan dua senapan mesin sedang. Bertempat di gardu-gardu pertahanan yang terbuat dari beton, setiap posisi pendukung dikelilingi oleh dua baris pagar penghalang, namun jumlah tentara yang sedikir mengakibatkan tidak mungkin untuk menempati semua posisi pendukung pada saat yang sama.

Baterai pantai memantau ladang ranjau dan jalur masuk ke pelabuhan. Artileri di Lini Lingkas juga dapat digunakan untuk mendukung pertempuran di darat.

Awalnya, Lanud Tarakan hanya dipertahankan dengan meriam anti-pesawat 20 mm dan senapan mesin. Ditinggalkan sebelum pendaratan Jepang, tiga meriam anti-pesawat 40 mm ditempatkan di lanud, sementara semua meriam 20 mm dipindahkan untuk mempertahankan baterai Peningki dan Karoengan.

Angkatan Laut Belanda (Koninklijke Marine) meletakkan ladang ranjau yang luas di jalur laut yang mengarah ke pelabuhan. Jika terjadi serangan, jalur laut yang masih terbuka akan diblokir oleh pemasang ranjau Hr.Ms. Prins van Oranje.

Terlepas dari semua persiapan ini, setelah serangan Pearl Harbor, suasana yang yakin akan kekalahan telah menyelimuti para serdadu bahkan sebelum ada tanda-tanda invasi.[19]

Rencana Jepang[sunting | sunting sumber]

Untuk merebut Tarakan, pasukan Jepang berencana untuk mendarat dari dua sisi timur pulau. Satu bagian dari pasukan mereka, Unit Sayap Kanan (dibawah komando Kol. Yamamoto), akan mendarat di pantai dekat Sungai Amal dan menghancurkan pasukan Belanda di sana. Tanpa menunggu pendaratan selesai, unit ini kemudian akan bergerak ke barat melalui hutan dan meluncurkan serangan kejutan untuk merebut ladang minyak Pamoesian. Setelah mengamankan Pamoesian, pasukan Yamamoto akan maju untuk mengamankan instalasi di pelabuhan Lingkas sebelum Belanda dapat menghancurkannya.[20]

Bagian kedua, Unit Sayap Kiri, akan mendarat lebih ke selatan di Tandjoeng Batoe (Tanjung Batu) dan maju ke barat untuk merebut baterai Peningki-Karoengan, sebelum bergerak ke Lingkas di utara, melewati Pasukan Pendaratan Khusus Kure Ke-2 yang akan berada di Lanud Tarakan, untuk menyerang dan merebut ladang minyak Gunung Cangkol dan Djoeata serta baterai Djoeata. Setelah tempat-tempat utama di Pulau Tarakan ini telah direbut, Angkatan Darat akan menyerahkan tugas penjagaan kepada Angkatan Laut, dan pasukan akan berkumpul di Tarakan dan sekitarnya; mereka akan bersiap untuk merebut Balikpapan.[21]

Pertempuran[sunting | sunting sumber]

Tanggal 10 Januari 1942, setelah sebuah Dornier Do 24 milik Marine Luchtvaartdienst (MLD; Layanan Penerbangan Angkatan Laut Belanda) menemukan armada invasi Jepang yang mengarah ke Tarakan, Letkol Simon de Waal memerintahkan agar semua instalasi minyak di pulau itu dihancurkan.[22] Para peleton zeni mendinamitkan pipa-pipa pengeboran yang menyebabkan ledakan bawah tanah yang mencegah minyak di bawah semua sumur untuk diekstraksi dalam waktu dekat. Pada pukul 10:00 malam, sebanyak 100.000 ton minyak telah dilalap api.[23]

Pukul 03:00 pagi tanggal 11 Januari, Sersan Mayor C.P.E. Spangenberg, yang mengkomandoi titik dukungan Sungai Amal (dengan 53 tentara) melaporkan melihat kapal-kapal pendaratan di dekat pantai.[24] Pada saat itu, Unit Sayap Kanan dari pasukan invasi Jepang mulai mendarat di bagian timur Tarakan di bawah siluet ladang minyak yang terbakar.

Karena pasukan Belanda telah mengatur posisi mereka untuk mempertahankan serangan dari arah barat, mereka masih tidak yakin bahwa pasukan musuh yang telah berkonsentrasi pada bagian timur pulau itu merupakan kekuatan serangan utama. Pendaratan dan manuver pengalihan masih dipertimbangkan, bahkan ketika pasukan pendaratan Jepang lainnya sudah terlihat pada pukul 05:00 pagi oleh posisi pertahanan di Tandjoeng Batoe, di sisi selatan pulau.

Rute serangan Jepang ke Tarakan (dan tenggelamnya Hr. Ms. Prins Van Oranje serta kapal penyapu ranjau W-13 dan W-14), 11-12 Januari 1942

Unit Sayap Kanan[sunting | sunting sumber]

Barak pasukan Belanda di Lingkas (Tarakan). Direbut oleh pasukan Jepang tahun 1942, pasukan Australia merebutnya kembali bulan Mei 1945

Unit Sayap Kanan dibawah Kol. Yamamoto, setelah salah mengira api di ladang minyak Gunung Cangkol datang dari ladang minyak Lingkas di selatan, mendarat empat hingga enam km lebih jauh ke utara dari titik pendaratan yang direncanakan, yaitu mulut Sungai Amal.[25] Pasukan Spangenberg juga salah mengira kapal pendaratan Jepang, yang berputar-putar pada saat itu, melakukan upaya pendaratan langsung dan memerintahkan pasukannya untuk menembaki mereka.[26]

Saat mereka mencapai mulut sungai Amal pukul 05:00 pagi, Unit Sayap Kanan menyerang dan mengepung gardu pertahanan pasukan Spangenberg dari dua sisi, dan dengan itu mengalahkan pasukannya.[27] Dengan 25-30 pasukannya yang tersisa, Spangenberg mundur ke posisi pendukung baru di dekat Sungai Pamoesian.[28] Karena api dari ladang minyak merusak banyak posisi pendukung, posisi baru pasukan Spangenberg menjadi garis pertahanan utama di Lini Timur. Di bawah komando Kapten Saraber, posisi ini menjadi pangkalan berkumpul untuk pasukan yang mundur, dan dengan ini memungkinkan Belanda untuk menetapkan garis depan baru.[29]

Untuk mendukung posisi ini, pasukan Belanda membangun garis pertahanan kedua di belakang garis Saraber. Ditempati oleh sekitar 650 tentara, garis ini didukung oleh kompi senapan mesin Everaars, kompi pasukan Treffers dan beberapa mobil lapis baja overvalwagens. Namun kompi Everaars tidak menerima pelatihan yang memadai; banyak dari senapan mesin yang ada tidak berfungsi dan persediaan amunisi sangat terbatas.[30]

Sementara itu, dari informasi yang didapat dari tentara Belanda yang mereka tangkap, Unit Sayap Kanan bergerak ke sisi utara ladang-ladang minyak di Tarakan. Ketika mereka mendekati ladang-ladang ini, gerak maju Unit Kanan dihentikan oleh tembakan artileri dan mortir dari posisi Saraber.[31] Belanda berusaha melancarkan ofensif mereka sendiri, didukung oleh artileri dan dipimpin oleh kompi Treffers dalam pertempuran pertama mereka. Serangan ini gagal, dan Treffer tidak bisa maju melampaui garis depan kedua.[32]

Frustrasi oleh perlawanan Belanda, Mayjen Sakaguchi meminta dukungan serangan udara pada baterai Djoeata di utara dan di Pulau Sadau di ujung barat Tarakan, berserta kota Tarakan sendiri pada hari berikutnya.[33] Ketika malam tiba, kedua belah pihak berusaha untuk meluncurkan serangan balik. de Waal merencanakan upaya serangan terakhir pasukan Belanda pukul 05:15 pagi di hari berikutnya dengan semua personilnya yang tersedia (termasuk insinyur, staf amunisi, juru tulis, dan koki).[34]

Namun pasukan Jepang mengambil inisiatif ini terlebih dahulu. Kol. Yamamoto meluncurkan serangkaian serangan malam di hari yang sama, dan berhasil menangkap kedua kompleks barak Belanda. Di tengah kekacauan karena serangan ini, Unit Sayap Kanan membunuh banyak pasukan Belanda, termasuk Bakker dan van den Belt. Treffers juga terbunuh, ketika kompinya sedang mundur ke Markas Besar.[35] Meskipun demikian, Unit Sayap Kanan gagal menangkap Markas Besar pasukan Belanda.[36]

Dengan persediaan berkurang, jumlah pasukan menipis dan komunikasi dengan artileri pantai terputus, pasukan Belanda akhirnya memutuskan untuk menyerah. Pada pukul 07:30 pagi tanggal 12, Lt. Col. de Waal mengirim pembawa bendera gencatan senjata untuk mengumumkan penyerahan diri. Kol. Yamamoto segera mengirim kawat kepada Komandan Detasemen Sakaguchi, dengan menyatakan: "Komandan [Belanda] dan orang-orangnya telah mengumumkan menyerah pada 08:20. Oleh karena itu, diminta untuk segera mendaratkan komandan detasemen melalui Dermaga Lingkas. ”[37]

Unit Sayap Kiri[sunting | sunting sumber]

Baterai artileri pantai di Peningki. Direbut oleh pasukan Jepang tahun 1942, pasukan Australia merebutnya kembali bulan Mei 1945

Unit Sayap Kiri Mayor Kanauji mendarat di dekat Tandjoeng Batoe pada pukul 04:00 pagi tanggal 11 Januari, tetapi pada pukul 17:00 pada hari yang sama, keberadaannya masih tidak diketahui. Pada saat itu, setelah mendarat, Ken'ichi dan pasukannya mencoba untuk maju langsung melalui hutan menuju belakang baterai Karoengan. Namun, karena tetumbuhan yang lebat dan medan hutan yang curam, unit ini hanya bisa bergerak sekitar 100 meter per jam, sementara sangat terdisorientasi tentang lingkungan sekeliling mereka.[38]

Sementara itu, ketika semakin terlihat bahwa pasukan Jepang menyerang dari timur, de Waal memindahkan beberapa pasukannya untuk melindungi baterai Kaorengan dan Peningki. Pada malam tanggal 11 Januari, kompi Kapten Bendeler yang beranggotakan 65 serdadu meninggalkan Kota Tarakan, setelah ditugaskan untuk mengambil posisi di sekitar Tandjoeng Batoe dan untuk menjaga jalan yang mengarah ke baterai. Terperangkap oleh kegelapan, kompi ini tersesat di hutan, sebelum bertemu dengan Unit Sayap Kiri. Tanpa bertukar tembakan, Bendeler dan setengah dari kompinya ditangkap, sementara setengah lainnya segera dieksekusi. Ketika anggota-anggota yang ditangkap dari kompinya menolak untuk membimbing Unit Sayap Kiri melalui hutan, mereka diikat bersama-sama dalam kelompok dan di-bayonet saat fajar. Bendeler dan beberapa perwiranya selamat.[39]

Menjelang siang di tanggal 12, Kanauji dan pasukannya baru saja berhasil mencapai bagian belakang baterai. Namun karena dia tidak dapat berkomunikasi dengan pasukan Jepang lainnya, tepat sebelum tengah malam pada tanggal 11, Sakaguchi memerintahkan sebuah kompi infantri dibawah komando Letnan Kolonel Namekata untuk mendarat di titik pendaratan Unit Sayap Kiri dan bergerak di sepanjang pantai untuk merebut baterai. Meskipun kompi ini berhasil mencapai bagian depan baterai, medan alam yang kasar juga menghalangi kemajuan mereka.[40]

Bahkan setelah Belanda menyerah, terputusnya komunikasi mengakibatkan baterai Karoengan dan Peningki masih beroperasi pada saat itu. Sakaguchi mengirim pesan kepada Angkatan Laut: "Meskipun musuh telah menawarkan penyerahan, dikhawatirkan bahwa baterai di ujung selatan pulau tidak menyadari hal ini dan melanjutkan ke Dermaga Tarakan akan berbahaya, oleh karena itu, tunda pelayaran anda."[41]

Penenggelaman Penyapu Ranjau W-13 & W-14[sunting | sunting sumber]

Penyapu Ranjau W-13

Mengabaikan peringatan Sakaguchi, pada pukul 12:00, enam penyapu ranjau dari Divisi Penyapu Ranjau Ke-11 dan Ke-30 segera mendekati Tanjung Mengacu untuk membersihkan jalur di sekitar pelabuhan dari ranjau.[42] Segera setelah Penyapu Ranjau W-13 mengubah arah menuju Lingkas, baterai Karoengan melepaskan tembakan dari jarak sekitar 2 km. Pada saat mereka menembakkan salvo ketiga, W-13 menerima tembakan langsung di lambung tengah kapal dekat garis air; W-14 sekarang mulai menembak kembali dan kedua kapal meningkatkan kecepatan mereka menuju Lingkas.[43]

Setelah terkena tembakan untuk kedua kalinya, W-13 menerima tembakan lagi di dekat anjungan dan mulai berbelok ke arah pelabuhan. Penyapu ranjau itu mengambil gerakan mengelak untuk menghindari tembakan, sebelum berhenti sejenak. Ketika W-13 mencoba untuk berlayar kembali, kemudinya kelihatan rusak, mengakibatkan kapal mengarah terus menerus ke kiri, ke arah Lingkas. Ketika W-13 mulai mengambil gerakan mengelak lagi, artileri Belanda mengubah fokus tembakan mereka ke W-14. Segera, kapal penyapu ranjau itu menerima tembakan terus menerus di anjungan, tengah kapal dan buritan. Tak lama kemudian, sebuah tembakan berhasil mengenai muatan bom laut (depth charge) kapal, menyebabkan ledakan besar yang membelah W-14 di dekat bagian belakang, sementara satu tembakan lain melemparkan salah satu meriam 120 mm W-14 ke laut.[44]

Meskipun mengalami kerusakan berat, W-14 sekarang berbalik dan berlayar dengan kecepatan penuh ke arah baterai Karoengan; satu meriamnya masih memembaki pantai. Ketika mendekati Tanjung Mengacu, satu badan air naik secara tiba-tiba didekat garis air, mengindikasikan bahwa kapal itu telah mengenai ranjau. Pada pukul 12:05, W-14 akhirnya tenggelam, dengan haluan terlebih dahulu, di dekat pantai Tanjung Mengacu. Segera setelah itu, baterai Karoengan memfokuskan kembali tembakan mereka pada W-13, yang tampaknya masih menuju ke Lingkas. Ketika kapal itu mulai melambat, tembakan artileri Belanda menjadi lebih akurat; satu tembakan menghantam anjungan kapal, menghancurkan salah satu senjatanya dan menyebabkan kebakaran besar di atas kapal. W-13 akhirnya miring ke kiri dan mulai tenggelam dari haluan, sebelum akhirnya tenggelam pada 12:15.[45]

Selain dua kapal penyapu ranjau diatas, baterai Karoengan juga menenggelamkan sebuah kapal pendarat Jepang.[46] Karena pihak Belanda telah meletakkan ranjau di perairan yang sempit dimana pertempuran terjadi, kapal-kapal Jepang lainnya tidak dapat menyelamatkan para penyintas dengan cepat. Komandan Divisi Penyapu Ranjau Ke-11, Wakito Yamakuma terbunuh bersama 156 personil lainnya, sementara 53 pelaut dari kedua kapal selamat.[47] Empat kapal penyapu ranjau yang tersisa mundur berdasarkan perintah. Unit Sayap Kiri, terhalang oleh komunikasi yang buruk dan kemajuan yang lambat, baru berhasil merebut baterai Karoengan pukul 17:10 tanggal 13 Januari, sehari setelah de Waal menyerah.[48]

Penenggelaman Pemasang Ranjau Hr.Ms. Prins van Oranje[sunting | sunting sumber]

Hr. Ms. Prins Van Oranje tahun 1932. Kaptennya pada waktu itu adalah Letnan-Komandan Karel Doorman, yang kemudian menjadi komandan angkatan laut ABDA di Pertempuran Laut Jawa.

Pada malam 11 Januari, sebelum Jepang memblokade perairan disekitar Tarakan, kapal selam Belanda K-X, kapal patroli P-1, dan sekunar motor BPM Aida menyelinap ke perairan yang masih berada dibawah kendali Belanda. P-1, dengan bersamar di bawah cabang-cabang palma, berhasil mencapai pantai Kalimantan dan melayari sungai dari hulu ke Samarinda.[49]

Pemasang Ranjau Belanda Hr. Ms. Prins van Oranje mencoba melarikan diri ke arah timur. Tetapi pada 21:57, kapal perusak Jepang Yamakaze, di bawah komando Letnan-Komandan Shuichi Hamanaka, dan kapal patroli P-38 yang berpatroli di timur laut Tarakan melihat siluet Prins van Oranje dan diam-diam mengikutinya ke arah perairan yang lebih luas di timur.[50]

Pada pukul 23:18, Yamakaze meningkatkan kecepatannya menjadi 26 knot dan mulai mendekati kapal pemasang ranjau Belanda itu. Pada pukul 23:22, kedua kapal mulai melepas tembakan pada jarak rata-rata 1.800 meter, tetapi pertempuran ini menjadi pertarungan satu sisi dengan segera. Setiap salvo meriam Yamakaze mengenai Prins van Oranje, namun salvo dari kapal Belanda itu hanya melewati udara diatas perusak.[51]

Hanya dalam 10 menit, Prins van Oranje tenggelam, menewaskan 102 dari 118 anggota awaknya. Kapten kapal, Anthonie van Versendaal dan tiga perwira lainnya termasuk di antara yang tewas dalam pertempuran ini. Awak Yamakaze menemukan 16 penyintas dan mendaratkan mereka di Tarakan.Setelah perang, Letnan-Komandan van Versendaal secara anumerta didekorasi dengan Singa Perunggu, dekorasi militer tertinggi kedua di Belanda.[52]

Pertempuran Udara Di Tarakan[sunting | sunting sumber]

Sepanjang pertempuran Tarakan, Angkatan Udara Hindia Belanda (ML-KNIL) melakukan banyak serangan udara dari Lanud Samarinda II untuk membendung serangan Jepang. Meskipun demikian, karena cuaca buruk, khususnya pada 11 Januari, upaya mereka datang terlambat untuk para pasukan di Tarakan. Hasil dari serangan-serangan ini dirangkum di bawah :

Tanggal Unit yang Dikerahkan (Kerugian) Hasil
10 Januari 1942 6 Glenn Martin B-10

2 Brewster Buffalo

(Satu Glenn Martin)

Tidak ada

Sebuah Mitsubishi F1M ditembak jatuh oleh pesawat pemburu Brewsters

11 Januari 1942 3 Glenn Martin B-10

7 B-17 Flying Fortress

Tidak ada karena cuaca buruk

Sebuah Mitsubishi Zero ditembak jatuh oleh sebuah B-17

12 Januari 1942 12 Glenn Martin B-10

Tiga kembali dalam perjalanan

(Satu Glenn Martin)

Dua kapal pengangkut dan satu kapal perusak rusak

Dua Mitsubishi F1M ditembak jatuh

13 Januari 1942 15 Glenn Martin B-10

Satu kembali dalam perjalanan; Satu dipanggil kembali

(Lima Glenn Martin)

Sebuah kapal penjelajah ringan atau kapal perusak rusak

Lanud Tarakan rusak

Pasca-Pertempuran[sunting | sunting sumber]

Keadaan sekliling Tarakan setelah pertempuran

Pada 13 Januari, Detasemen Sakaguchi telah mengumpulkan semua tahanan dan material perang yang direbut, serta menyerahkan urusan administrasi kepada Angkatan Laut pada hari berikutnya.[53] Fasilitas minyak di Tarakan pada saat itu telah hancur secara substansial. Di Lingkas, meskipun sebagian besar minyak telah dikonsumsi oleh api, masih ada 12.300 ton minyak berat yang tersisa di tangki yang tidak terbakar, dan 120 drum minyak berat.[54] Pada bulan Juni 1942, sumur-sumur telah diperbaiki dan produksi minyak berlanjut tanpa hambatan serius sampai pertengahan Agustus 1943, ketika serangan udara Sekutu pertama di Tarakan dimulai.[55]

Korban[sunting | sunting sumber]

Korban Jepang dari pertempuran adalah sebagai berikut:[56][57]

  • Detasemen Sakaguchi: 8 tewas (7 di darat, 1 di laut)
  • Angkatan Laut Kekaisaran Jepang: 247 (47 di darat, 200 di laut, termasuk 156 dari kapal penyapu ranjau W-13 & W-14)

Sekitar 300 tentara Belanda terbunuh dalam pertempuran ini.[58] Jepang menawan 871 tentara Belanda, 9 senjata anti-pesawat, 69 senapan mesin berat, 556 senapan, 15 mobil lapis baja, 67 motor serta amunisi.[59]

Beberapa prajurit Belanda, seperti Everaars, berhasil melarikan diri dan menyeberang ke Kalimantan, sebelum akhirnya ditangkap. Prajurit yang lain bersembunyi dalam hutan di Tarakan, sebelum akhirnya jatuh ke nasib yang sama. Spangenberg ditangkap pada 20 Maret 1942.[60]

Pembalasan[sunting | sunting sumber]

Menanggapi hilangnya kapal penyapu ranjau W-13 & W-14, banyak tawanan perang Belanda, terutama dari baterai Karoengan, dieksekusi oleh Jepang. Pada tanggal 18 Januari, 215 tahanan dikeluarkan dari kamp POW (Prisoners of War; Tahanan Perang) dan dijatuhkan kedalam laut di dekat tempat kedua kapal penyapu ranjau tenggelam.[61][62] Laporan lain menyatakan, para penyintas dari dua kapal ranjau yang tenggelam memenggal kepala para tahanan atau mengikat tangan dan kaki mereka dan melemparkan mereka ke rawa-rawa untuk tenggelam atau dimakan hidup-hidup oleh buaya.[63]

Misi Pemboman Belanda[sunting | sunting sumber]

Pesawat-pesawat Belanda menerbangkan beberapa misi pemboman dari Lanud Samarinda II di Kalimantan Timur ke Lanud Tarakan pada 13-14 Januari.15 personil Angkatan Laut tewas, dan 27 lainnya terluka dalam serangan ini.[64] Namun, perbaikan oleh zeni Pasukan Pangkalan Ke-2 membuat lanud dapat kembali beroperasi tanggal 16 Januari, ketika pesawat-pesawat dari Armada Udara Ke-23 dan Armada Udara Tinian terbang dari Jolo. Lanud ini kemudian akan menjadi pangkalan persiapan untuk invasi Jepang ke Balikpapan.[65]

Pembebasan[sunting | sunting sumber]

Tarakan berada di bawah pendudukan Jepang hingga Mei 1945, ketika pasukan Australia merebut pulau ini kembali.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Nortier (1980), pp. 305
  2. ^ Remmelink (2018), pp. 145
  3. ^ Ibid.
  4. ^ Womack (2016), pp. 111
  5. ^ Koninlijke Nederlands Indonesisch Leger (1949), pp. 198
  6. ^ Koninklijke Nederlands Indonesisch Leger (1949), pp. 199
  7. ^ Nortier (1980), pp. 303
  8. ^ Koninklijke Nederlands Indonesisch Leger (1949), pp.199
  9. ^ Nortier (1980), pp. 303
  10. ^ Koninklijke Nederlands Indonesisch Leger (1949) pp. 198
  11. ^ Koninlijke Nederlands Indonesisch Leger (1949), pp. 198
  12. ^ Koninlijke Nederlands Indonesisch Leger (1949), pp. 198
  13. ^ Nortier (1980), pp. 303
  14. ^ Remmelink (2015), pp. 11
  15. ^ Remmelink (2015), pp. 175
  16. ^ Remmelink (2018), pp. 126
  17. ^ Nortier (1980), pp. 304-305
  18. ^ Nortier (1980), pp. 307
  19. ^ Nortier (1980), pp. 309
  20. ^ Remmelink (2015), pp. 175
  21. ^ Remmelink (2018), pp. 130
  22. ^ Womack (2016), pp. 115
  23. ^ Koninklijke Nederlands Indonesisch Leger (1949), pp. 203
  24. ^ Nortier (1980), pp. 311-312
  25. ^ Remmelink (2015), pp. 177
  26. ^ Nortier (1980), pp. 312
  27. ^ Remmelink (2015), pp. 177
  28. ^ Nortier (1980), pp. 313
  29. ^ Nortier (1980), pp. 314
  30. ^ Nortier (1980), pp. 315
  31. ^ Remmelink (2015), pp. 177
  32. ^ Koninklijke Nederlands Indonesisch Leger (1949), pp. 205
  33. ^ Remmelink (2015), pp. 177
  34. ^ Koninklijke Nederlands Indonesisch Leger (1949), pp. 206
  35. ^ Nortier (1980), pp. 316
  36. ^ Remmelink (2015), pp. 177
  37. ^ Remmelink (2015), pp. 178
  38. ^ Remmelink (2015), pp. 178
  39. ^ Nortier (1980), pp. 313
  40. ^ Remmelink (2015), pp. 178
  41. ^ Womack (2016), pp. 114
  42. ^ Womack (2016), pp. 114
  43. ^ Remmelink (2018), pp. 140
  44. ^ Remmelink (2018), pp. 141
  45. ^ Remmelink (2018), pp. 141
  46. ^ Remmelink (2015), pp. 178
  47. ^ Remmelink (2018), pp. 142
  48. ^ Remmelink (2015), pp. 178
  49. ^ Womack (2016), pp.113
  50. ^ Remmelink (2018), pp. 143
  51. ^ Remmelink (2018), pp. 143
  52. ^ Womack (2016), pp.113
  53. ^ Remmelink (2015), pp. 179
  54. ^ Remmelink (2015), pp. 181
  55. ^ Remmelink (2018), pp. 149
  56. ^ Nortier (1980), pp.319
  57. ^ Remmelink (2015), pp. 179
  58. ^ Remmelink (2018), pp. 145
  59. ^ Nortier (1980), pp. 319
  60. ^ Nortier (1980), pp. 312
  61. ^ Nortier (1980), pp. 318
  62. ^ Yenne (2014), pp. 157
  63. ^ Womack (2016), pp. 114
  64. ^ Remmelink (2015), pp. 179
  65. ^ Womack (2016), pp. 114

Referensi[sunting | sunting sumber]