Penghambat nyala

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Penghambat nyala adalah senyawa yang ditambahkan ke bahan manufaktur, seperti plastik dan tekstil, dan sebagai pemoles permukaan dan lapisan yang dapat menghambat, menekan, atau menunda terbentuknya api untuk mencegah penyebaran api. Benda-benda tersebut dapat dicampur dengan bahan dasar (penghambat nyala aditif) atau bahan kimia yang terikat dengan benda itu (penghambat nyala reaktif).[1] Penghambat nyala mineral biasanya bersifat aditif sementara senyawa organohalogen dan organofosforus dapat berupa reaktif maupun aditif.

Pada tahun 2013, penggunaan penghambat nyala dunia lebih dari 2 juta ton. Aplikasi sektor komersial yang paling besar mengimpor penghambat nyala adalah sektor konstruksi. Penggunaan penghambat nyala pada sektor ini misalnya untuk pipa dan kabel yang terbuat dari plastik.[2] Pada tahun 2008, Amerika Serikat, Eropa, dan Asia menggunakan 1,8 juta ton penghambat nyala, senilai US $ 4,20-4,25 miliar. Menurut Ceresana, pasar penghambat nyala meningkat karena kenaikan standar keselamatan seluruh dunia dan peningkatan penggunaan penghambat nyala. Diharapkan pasar global penghambat nyala akan menghasilkan US $ 5,8 miliar. Pada tahun 2010, Asia-Pasifik adalah pasar terbesar untuk penghambat nyala, terhitung sekitar 41% dari permintaan global, diikuti oleh Amerika Utara, dan Eropa Barat.[3]

Golongan[sunting | sunting sumber]

Penghambat nyala jenis reaktif dan adiktif, dapat dipisahkan lebih lanjut menjadi beberapa golongan yang berbeda:

Penghambat nyala mineral terutama bertindak sebagai penghambat nyala aditif dan tidak menjadi terikat secara kimia dengan sistem sekitarnya. Sebagian besar senyawa organohalogen dan organofosfat juga tidak bereaksi secara permanen melekat ke dalam lingkungan mereka, tetapi penelitian lebih lanjut sekarang sedang dilakukan untuk mengenten kelompok kimia lebih lanjut ke bahan-bahan untuk memungkinkan mereka untuk menjadi terintegrasi tanpa kehilangan efisiensi ketahanan mereka. Penelitian ini juga akan membuat bahan-bahan ini tidak mengeluarkan emisi ke lingkungan. Produk baru tertentu non-berhalogenasi, dengan ini bersifat reaktif dan berkarakteristik tidak mengeluarkan emisi telah datang ke pasar sejak akhir tahun 2009, tetapi pada tahun 2010 hanya diamati dengan serius, karena perdebatan publik tentang emisi penghambat nyala. Beberapa bahan-bahan reaktif baru bahkan telah menerima persetujuan EPA untuk dampak lingkungan yang rendah.

Mekanisme penghambatan[sunting | sunting sumber]

Mekanisme dasar penghambat nyala bervariasi tergantung pada jenis penghambta nyala dan substrat yang digunakan. Bahan kimia penghambat nyala aditif dan reaktif dapat digunakan dalam fase uap (gas) maupun kental (padat).

Degradasi endotermik[sunting | sunting sumber]

Beberapa senyawa memecah secara endotermik bila diberi suhu tinggi. Magnesium dan aluminium hidroksida adalah contohnya, bersama-sama dengan berbagai karbonat dan hidrat seperti campuran huntit dan hidromagnesit.[4][7][8] Reaksi ini akan menghilangkan panas dari substrat, sehingga terjadi pendinginan material. Penggunaan hidroksida dan hidrat dibatasi oleh suhu dekomposisi yang relatif rendah, yang membatasi suhu pengolahan polimer maksimum (biasanya digunakan dalam poliolefin untuk penggunaan kawat dan kabel).

Pemerisaian termal (fase padat)[sunting | sunting sumber]

Sebuah cara untuk menghentikan penyebaran api lebih pada materi adalah untuk menciptakan sebuah penghalang isolasi termal antara pembakaran dan bagian yang tidak terbakar. Intumescent aditif sering digunakan; berperan untuk mengubah polimer menjadi arang, yang memisahkan api dari materi dan memperlambat penyebaran panas ke bahan bakar yang tidak terbakar. Penghambat nyala organofosfat non-halogenasi biasanya bertindak melalui mekanisme ini dengan menghasilkan lapisan polimer dari asam fosfat.[9]

Pengenceran fase gas[sunting | sunting sumber]

Gas lembam (paling sering karbon dioksida dan air) yang dihasilkan oleh degradasi termal dari beberapa bahan bertindak sebagai pengencer gas yang mudah terbakar, menurunkan tekanan parsial dan tekanan parsial oksigen, dan memperlambat laju reaksi.[6][8]

Pemadaman radikal fase gas[sunting | sunting sumber]

Bahan berklorin dan berbromin mengalami degradasi termal dan melepaskan hidrogen klorida dan hidrogen bromida atau, jika digunakan dalam keberadaan sinergis seperti antimoni trioksida, akan melepaskan antimoni halida. Zat ini bereaksi sangat reaktif dengan H· dan OH· yang radikal dalam api, dehingga menghasilkan molekul aktif dan radikal terhadap Cl· atau Br·. Halogen radikal jauh lebih reaktif dibandingkan dengan H· atau OH·, dan karena itu memiliki potensi yang jauh lebih rendah untuk menyebarkan reaksi pembakaran oksidasi radikal.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ U.S. Environmental Protection Agency (2005). Environmental Profiles of Chemical Flame-Retardant Alternatives for Low-Density Polyurethane Foam (Laporan). EPA 742-R-05-002A. Diakses tanggal 4 April 2013. 
  2. ^ "Market Study Flame Retardants 3rd ed.". Ceresana Research. Diakses tanggal 2015-02-03. 
  3. ^ [1] Market Study Flame Retardants 2nd ed., Ceresana, 07/11
  4. ^ a b Hollingbery, LA; Hull TR (2010). "The Thermal Decomposition of Huntite and Hydromagnesite". Thermochimica Acta 509 (1–2): 1–11. doi:10.1016/j.tca.2010.06.012. 
  5. ^ Hollingbery, LA; Hull TR (2010). "The Fire Retardant Behaviour of Huntite and Hydromagnesite - A Review". Polymer Degradation and Stability 95 (12): 2213–2225. doi:10.1016/j.polymdegradstab.2010.08.019. 
  6. ^ a b Hollingbery, LA; Hull TR (2012). "The Fire Retardant Effects of Huntite in Natural Mixtures with Hydromagnesite". Polymer Degradation and Stability 97 (4): 504–512. doi:10.1016/j.polymdegradstab.2012.01.024. 
  7. ^ a b Hollingbery, LA; Hull TR (2012). "The Thermal Decomposition of Natural Mixtures of Huntite and Hydromagnesite". Thermochimica Acta 528: 45–52. doi:10.1016/j.tca.2011.11.002. 
  8. ^ a b c Hull, TR; Witkowski A; Hollingbery LA (2011). "Fire Retardant Action of Mineral Fillers". Polymer Degradation and Stability 96 (8): 1462–1469. doi:10.1016/j.polymdegradstab.2011.05.006. 
  9. ^ a b c van der Veen, I; de Boer, J (2012). "Phosphorus flame retardants: Properties, production, environmental occurrence, toxicity and analysis". Chemosphere 88 (10): 1119–1153. PMID 22537891. doi:10.1016/j.chemosphere.2012.03.067. 
  10. ^ Weil, ED; Levchik, SV (2009). Flame Retardants for Plastics and Textiles: Practical Applications. Munich: Carl Hanser Verlag. hlm. 97. ISBN 978-1-56990-454-1. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]