Pembicaraan:Bagagarsyah dari Pagaruyung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Raja atau tidak?[sunting sumber]

Rekan-rekan, pendapat bahwa Sultan Bagagarsyah bukan raja terakhir Minangkabau, terutama ialah berdasarkan sudut pandang pemerintah kolonial Hindia Belanda. Menurut saya, harus juga dipertimbangkan apakah rakyat Minangkabau sendiri mengakuinya sebagai raja atau tidak. Saya kira, banyak tulisan dari ahli sejarah Indonesia/tokoh Minangkabau sendiri yang mengakui bahwa ia seorang raja. Apakah anda setuju? Demikian ide saya, agar isi artikel ini lebih netral. Salam, Naval Scene (bicara) 02:56, 5 Januari 2011 (UTC)

Menurut saya walaupun Sultan Tangkal Alam Bagagar hanya seorang kemenakan dari Sultan Arifin Muningsyah tapi ia dapat saja menjadi Raja Alam namun yang jadi permasalahan adalah belum adanya literatur yang menyebutkan tentang adanya acara pelantikan Sultan Tangkal Alam Bagagar sebagai Raja Pagaruyung setelah Sultan Arifin Muningsyah meninggal dunia, kecuali beberapa literatur Belanda yang menyebutkan adanya keinginan dari pemerintah Hindia-Belanda untuk menjadikan Sultan Tangkal Alam Bagagar sebagai raja Minangkabau namun tidak jadi. Adanya peristiwa penobatan tersebut tentunya sangat penting mengingat untuk pelantikan seseorang menjadi penghulu (Datuk) saja di Minangkabau, mesti melalui acara Malewa Gala (Memberitahukan gelar), apalagi untuk seorang raja. :) Salam, VoteITP (bicara) 09:55, 28 Januari 2011 (UTC)
Dalam kondisi darurat di masa perang Padri melawan Belanda, manalah sempat memikirkan pesta adat? Apalagi Sultan Bagagarsyah juga ada niat/motif menyatukan rakyat Minang untuk memberontak melawan Belanda. Setidaknya Hamka adalah yg mengakuinya sebagai raja. Tapi ini hanya logika saya saja, sebab memang tidak ada rujukan atas acara macam tsb. Salam, Naval Scene (bicara) 13 Desember 2011 10.12 (UTC)[balas]
Namun yang jelas sebelum Istana Pagaruyung terbakar tahun 2007, Lukisan Foto Sultan Bagagarsyah terpajang gagah dengan caption "Yang Dipertuan Raja Alam Sultan Alam Bagarsyah, Raja Terakhir Pagaruyung" – komentar tanpa tanda tangan oleh 110.138.78.187 (bk).
Sehubungan dengan hal itu perlu diupayakan mencari sesiapa yang telah memfoto foto tersebut, agar dapat dibuatkan replikanya.Achdagoes (bicara) 21 September 2013 11.11 (UTC)[balas]

Perubahan-perubahan nama[sunting sumber]

Sultan Tangkal Alam diganti menjadi Sultan Tunggal Alam[sunting sumber]

Teman2, gelar Tangkal Alam sangat ganjil dalam bahasa Minangkabau, saya ubah nama tersebut berdasarkan pendapat ahli filologi Suryadi yang biasa membaca naskah2 Minangkabau , silakan cek di http://niadilova.blogdetik.com/index.php/archives/47  LimpatoBicara  3 Oktober 2013 13.13 (UTC)[balas]

Darul Qadar diganti jadi Darul Qarar[sunting sumber]

Silakan rujuk artikel pada wikipedia kenapa darul qarar lebih logis dibandingkan darul qadar https://id.wikipedia.org/wiki/Surga Tingkatan dan nama-nama syurga ialah:

  • Jannatul Firdaus yaitu sorga yang terbuat dari emas merah.
  • Jannatul 'Adn yaitu sorga yang terbuat dari intan putih.
  • Jannatun Na'iim yaitu sorga yang terbuat dari perak putih.
  • Jannatul Khuldi yaitu sorga yang terbuat dari marjan yang berwarna merah dan kuning.
  • Jannatul Ma'wa yaitu sorga yang terbuat dari zabarjud hijau.
  • Darus Salaam yaitu sorga yang terbuat dari yaqut merah.
  • Darul Jalal yaitu sorga yang terbuat dari mutiara putih.
  • Darul Qarar yaitu sorga yang terbuat dari emas merah.

Semoga perubahan diterima, Salam  LimpatoBicara  3 Oktober 2013 13.28 (UTC)[balas]