Patar Tambunan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Patar Tambunan adalah salah satu pemain sepak bola Indonesia hasil Diklat Garuda pada era 1980-an. Prestasi puncaknya adalah meraih medali emas pada ajang SEA Games 1987 di Jakarta. Ia lahir di Medan pada tanggal 11 Juni 1965,[1] sedangkan laman Bolasport.com menyebutkan tahun lahirnya adalah 1963.[2] Ia merupakan anak ke empat dari tujuh bersaudara.

Ia dikenal karena memiliki permainan yang lugas dan tendangan jarak jauh yang bagus.[2]

Karier Sepakbola[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya Patar Tambunan adalah seorang pemain untuk sebuah klub yang bernama Pardedetex Medan[3] dan PSMS Medan[4] sebelum ia hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan Persija. Ia menjadi salah satu andalan pada era 80-an dengan posisi sebagai bek kanan. Ia termasuk ke dalam Persija angkatan 1988 yang berhasil meraih posisi kedua pada Kompetisi Divisi Utama Perserikatan 1988. Pada saat itu Persija harus takluk pada Persebaya Surabaya.

Pertandingan Internasional[sunting | sunting sumber]

Pra Piala Dunia 1986[sunting | sunting sumber]

Pada pra Piala Dunia 1986, Patar Tambunan masih berstatus pendatang baru ketika Indonesia berhadapan dengan Korea Selatan. Ketika itu ia termasuk ke dalam daftar pemain yang tidak pernah turun dalam kualifikasi grup 3B.[2]

Susunan Pemain[sunting | sunting sumber]

Kiper: Hermansyah, Donny Latuperissa

Belakang: Ristomoyo, Didik Darmadi, Aun Harhara, Syafrudin Fabanyo, Tonggo Tambunan, Warta Kusuma, Marzuki Nyak Mad.

Tengah: Herry Kiswanto, Dudung Abdullah, Rully Nere, Zulkarnaen Lubis, Ferril Hattu, Elly Idris, Yusuf Bachtiar, Warta Kusuma, Noah Meriem.

Depan: Dede Sulaiman, Bambang Nurdiansyah, Wahyo Tanoto, Sain Irmiz, Adolf Kabo.[5]

Asian Games 1986[sunting | sunting sumber]

Asian Games 1986 adalah salah satu kompetisi terberat yang harus dihadapi oleh Timnas asuhan pelatih Bertje Matulapelwa. Hal ini karena ada penurunan mental akibat kegagalan sebelumnya ketika tim Garuda 1 menghadapi Thailand yang memasukkan 7 gol ke gawang Indonesia. Selain itu pemain yang baru direkrut berasal dari dua kompetisi yang berbeda juga mengakibatkan beredarnya isu ketidak harmonisan antar pemain.[6]

Sebelum bertanding di Asian Games 1986, Timnas ini melakukan uji tanding ke Brasil untuk mendapatkan pengalaman. Ketekunan hasil latihan itu terlihat di Asian Games 1986 yang mampu melaju hingga babak semi final dan kalah 0-4 dari Korea Selatan.

Susunan Pemain[sunting | sunting sumber]

Pelatih: Bertje Matulapelwa

Pemain: Ponirin Meka, Jaya Hartono, Robby Darwis, Herry Kiswanto, Marzuki Nyak Mad, Sutrisno, Budi Wahyono, Patar Tambunan, Nasrul Koto, Rully Nere, Azhary Rangkuti, Ricky Yakobi, Ribut Waidi.[7]

SEA Games 1987[sunting | sunting sumber]

Timnas yang dibentuk untuk menghadapi SEA Games 1987 merupakan gabungan dari dua kompetisi yang ada di Indonesia pada saat itu yaitu Kompetisi Perserikatan dan Kompetisi Galatama. Tim yang diasuh oleh pelatih Bertje Matulapelwa ini dianggap sebagai generasi terbaik jika berpatokan dengan trofi dalam kejuaraan internasional.

Pada saat itu Indonesia berhasil mendapatkan medali emas dari satu buah gol yang diciptakan oleh Ribut Waidi pada babak tambahan. Ini adalah medali emas pertama yang diperoleh Indonesia dalam ajang SEA Games sehingga menjadi sebuah titik tolak baru dalam perkembangan dunia sepak bola Indonesia. Selain itu kemenangan ini juga menghentikan dominasi Thailand yang biasanya menjadi juara sepak bola.

Sayangnya ketika babak final berlangsung, Patar Tambunan tidak dapat ikut bermain karena cedera lutut yang dideritanya.[8]

Susunan Pemain[sunting | sunting sumber]

Ponirin Mekka, I Gusti Putu Yasa, Muhammad Yunus, Jaya Hartono, Marzuki Nyak Mad, Robby Darwis, Azhary Rangkuty, Patar Tambunan, Ribut Waidi, Ricky Yakobi, Rully Nere, Budi Wahyono, Nasrul Koto, Herry Kiswanto, Adityo Darmadi, Triastono Taufik, Sutrisno, Frangky Weno.[9]

Skuat Inti (4-3-3): Ponirin Mekka (Kiper), Jaya Hartono, Robby Darwis, Herry Kiswanto, Marzuki Nyak Mad (Belakang), Patar Tambunan, Nasrul Koto, Rully Nere (Tengah), Budi Wahyono, Ricky Yakobi, Ribut Waidi (Depan).[9]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2019, Patar Tambunan menerima penghargaan Live Time Achievement pada ulang tahun Persija yang ke-91 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.[10]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Budiman, A. Aditya (2014-09-28). "Patar Tambunan, Masih Gesit Main Dua Babak". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-06-04. 
  2. ^ a b c Bolasport.com. "Serial Pemain Timnas Indonesia - Patar Tambunan - Bolasport.com". juara.bolasport.com. Diakses tanggal 2020-06-04. 
  3. ^ "Patar Tambunan – Persija Foundation" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-06-04. 
  4. ^ "PSMS Medan Dalam Bahaya, Jangan Manja". Bolahita.id | Berita Sepak Bola dan Sports Nasional. Diakses tanggal 2020-06-04. 
  5. ^ Bola.com (2015-11-18). "Sinyo Aliandoe Nyaris Loloskan Indonesia ke Piala Dunia 1986". bola.com. Diakses tanggal 2020-06-04. 
  6. ^ Hasbi, Sirajudin (2015-03-21). "Ketika Indonesia Raya Berkumandang di Arena SEA Games 1987". FANDOM.ID (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-06-04. 
  7. ^ Media, Kompas Cyber. "Indonesia 1986-87, Saat Merah Putih Berkibar". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2020-06-04. 
  8. ^ Liputan6.com (2017-08-04). "Cerita Sukses Timnas Indonesia di SEA Games 1987". liputan6.com. Diakses tanggal 2020-06-04. 
  9. ^ a b Senin, Frengky Aruan; November 2019, 18 (2019-11-18). "Page 2: Nostalgia - Kombinasi Perserikatan dan Galatama Hadirkan Emas Sepak Bola hingga Sempurnakan SEA Games 1987". bolaskor.com. Diakses tanggal 2020-06-04. 
  10. ^ INDOSPORT.com (2019-11-28). "Persija Rayakan Ulang Tahun di SUGBK, Anies: Tahun Depan Stadion Baru!". INDOSPORT.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-06-04.