Panasen, Kakas Barat, Minahasa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Panasen
Negara Indonesia
ProvinsiSulawesi Utara
KabupatenMinahasa
KecamatanKakas Barat
Kodepos
95682
Kode Kemendagri71.02.20.2002 Edit the value on Wikidata
Luas... km²
Jumlah penduduk... jiwa
Kepadatan... jiwa/km²

Panasen adalah sebuah desa di kecamatan Kakas Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia. Desa Panasen diapit oleh dua sungai yaitu Sungai Panasen dan Sungai Werisen.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Terdapat dua kisah yang melatar belakangi Desa Panasen. Yang pertama adalah kisah tentang para pedagang dari bagian tenggara Minahasa (Belang) yang menuju Manarou atau Manado. Mereka sering memanfaatkan sungai yang berlokasi di desa ini sebagai tempat istirahat untuk memberi minum hewan sapi/kuda sebelum melanjutkan perjalanan ke Manado. Hal ini disebabkan pada waktu itu sarana transportasi masih menggunakan roda sapi/roda plat serta jalan yang masih jalan kebun. Karena kebiasaan para pedagang itulah maka tempat tersebut dinamakan tempat peristirahatan atau dalam Bahasa Toulour dengan "Pahasengan" (salah satu dialek minahasa sekitar Danau Tondano).

Kisah yang kedua adalah pada pada zaman dulu desa ini masih berbentuk hutan belukar. Kemudian datang petani dan membuka perladangan untuk bercocok tanam. Mereka masih tinggal di rumah gubuk. Suatu waktu terdapat seorang ibu istri petani yang dalam keadaan hamil besar dan melahirkan bayi di tempat itu, tapi sayang bayi tersebut sudah dalam keadaan meninggal. Dengan sedihnya ibu dan keluarganya menangisi bayi tersebut. Berdasarkan adat/kepercayaan jenasah bayi tersebut dimandikan sebelum dikuburkan oleh keluarganya di sungai yang berada di lembah bagian utara. Keajaiban terjadi, bayi itu bergerak/bernafas kembali setelah dimandikan di sungai tersebut. Akhirnya tempat itu mereka namakan tempat memberi nafas/kehidunpan atau dalam Bahasa Toulour adalah "Paasengan".

Pada tahun 1847, untuk memudahkan penyebutan nama desa ini berubah menjadi Panasen dari Paasengan. Kisah ini didapat dari mantan juru tulis desa (28 Februari 1958–1976) dan Johanis Henoch Ticoh, Hukum Tua Desa Panasen (1976–1993) dan Jan Laloan, mantan juru ukur Desa Panasen Kecamatan Kakas Barat.