Muhammad Jalaluddin II

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Dewa Mas Muhammad Jalaludddin II adalah Sultan Sumbawa ke-9 (memerintah 1762-1765). Terlahir sebagai bangsawan Banjar dengan nama Gusti Mesir Abdurrahman, kemudian bergelar Pangeran Anom Mangku Ningrat, sehingga beliau juga dikenal dengan sebutan Datu Pangeran atau Dewa Pangeran (ke-1), sedangkan putera beliau Pangeran Mahmud juga disebut sebagai Dewa Pangeran (ke-2).[1] Gusti Mesir diangkat menjadi sultan Sumbawa ke-9 menggantikan Datu Ungkap Sermin yang melarikan diri karena ancaman pemberontakan yang dipimpin oleh Lalu Anggawasita. Sumber lain menyebutkan bahwa Datu Ungkap Sermin dilucuti oleh tokoh-tokoh kerajaan.

Gusti Mesir pada tahun 1755 telah memperistrikan cucunda dari Raja Sumbawa Sultan Jalaluddin Muhammad Syah I (1702-1723).[2][3][4][5]

Pemerintahan Datu Ungkap Sermin hanya berjalan setahun ( 1761-1762 ). Konon karena ia lari dari istana untuk menghindari perang saudara, atas kekeliruannya menikahi seorang wanita yang telah lama ditinggalkan berlayar oleh suaminya (Lalu Angga Wasita yang terkenal keperkasaannya). Ia menyangka Lalu Angga Wasita sudah meninggal karena tidak pernah ada kabar beritanya. Tapi suatu hari lelaki perkasa itu muncul. Karena raja merasa bersalah maka ia lari pada malam Selasa, di hari ke 14 Ramadhan waktu bulan purnama raya. Sehingga singgasana kesultanan Sumbawa pun lowong. Tidak diketahui nasib Raja yang dikenal dengan nama Datu Ungkap Sermin itu. Karena kepergian Datu Ungkap Sermin itu membuat lowongnya kursi raja, maka diangkatlah seorang pendatang dari negeri Banjar bernama Gusti mesir Abdurrahman, salah seorang keturunan Raja Banjar. Meski ia bukan trah Dinasti Dewa Dalam Bawa, tetapi memungkinkan untuk diangkat menjadi raja karena telah menikah dengan cucu dari Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I. ia pun diberi gelar Muhammad Jalaluddin Syah II, dan memegang kekuasaan selama 3 tahun (1762-1765).[6]

Latar belakang dinasti Dewa Dalam Bawa[sunting | sunting sumber]

Kerajaan-kerajaan : Seran, Taliwang, dan Jereweh masing-masing merupakan kerajaan vasal dari kerajaan Sumbawa. Raja Samawa yang pertama dari kerajaan (kecil) Sampar Kemulan bernama Maja Paruwa, dari dinasti Dewa Awan Kuning yang telah memeluk agama Islam. Setelah meninggal, Maja Paruwa diganti oleh Mas Goa. Mas Goa tidak lama memerintah karena pola pikir dan pandangan hidupnya masih dipengaruhi ajaran Hinduisme. Pada tahun 1637 Mas Goa digantikan oleh putera saudara perempuannya, bernama Mas Bantan. Lama pemerintahannya, dari tahun 1675 s.d. 1701. Mas Bantan adalah putera Raden Subangsa, seorang pangeran dari Banjarmasin.[7]

Pengganti Datu Bala Sawo ialah Dewa Ling Gunung Setia. Sumber lain menyebutkan nama Datu Taliwang, bersemayam di Istana Bala Balong. Raja ini, memerintah dari tahun 1726 s.d. 1732. Pada hari Rabu, 26 Ramadhan 1145 H (1732 M) Istana Bala Balong dan seluruh kampung disekitarnya habis terbakar. Raja tewas dalam peristiwa kebakaran itu. Selanjutnya, Sumbawa di bawah pemerintahan Datu Poro atau Dewa Mepasunsung, bergelar Sultan Muhammad Kaharuddin I.[8]

Dewa Ling Gunung Satia diganti oleh Dewa Mepasunsung yang memerintah dari tahun 1734 - 1758. Beliau terkenal dengan nama Datu Poro bergelar Sultan Muhammad Kaharuddin I. Beliau seorang raja yang keras hati dan tidak kenal kompromi dengan Belanda. Dengan terang-terangan beliau menolak untuk mengadakan sumpah setia pada Belanda. Oleh karena daerah Sumbawa ditinjau sudut perdagangan kurang begitu penting bagi VOC, maka tujuan VOC menduduki Sumbawa hanya untuk mengurangi pengaruh Gowa saja. Waktu itu VOC di pulau Jawa sedang menghadapi kemelut pemberontakan-pemeberontakan Cina (1740) dan masalah yang ada di kerajaan Mataram, maka sikap Sultan Muhammad Kaharuddin I ini sementara dapat ditolerir oleh VOC Kerajaan Taliwang yang tidak mau membayar upeti atas hasutan Bontolangkasa diserang oleh Sultan Muhammad Kaharuddin I. Datu Taliwang tewas dalam suatu kebakaran. Bontolangkasa yang dibantu oleh isterinya yang dulu puteri dari Mas Madina menimbulkan keonaran di seluruh pulau. Setelah wafatnya Sultan Muhammad Kaharuddin I beliau diganti oleh permaisurinya Dewa Bini Dewa Mapasumsung yang memerintah 1759-1760. Ia lalai melaksanakan sumpah setia. Utusan-utusan yang dikirimnya untuk disumpah ditolak oleh Belanda. Masa pemerintahannya tidak lama karena beliau diturunkan oleh rakyatnya. Selain pemerintahannya sangat lemah, juga masyarakat menghadapi berbagai kesulitan terutama keamanan negeri mulai terancam oleh bajak laut.

Dewa Bini Dewa Mapasumsung diganti oleh Datu Ungkap Sermin yang terkenal juga dengan nama Dewa Lengit Ling Dima. Tetapi pada tahun 1762 beliau dilucuti oleh tokoh-tokoh kerajaan dan mengangkat Datu Jereweh sebagai penggantinya. Kelompok pertama terdiri dari tokoh-tokoh yang menghendaki Datu Jereweh sebagai pengganti raja. Kelompok kedua terdiri dari Datu Taliwang dan Kapitan Jepara Mele Sarapiah, putera Nene Ranga, keturunan raja Gunung Galesa yang tidak setuju kepada kelompok pertama, dan mereka (Datu Taliwang dan Kapitan Japara Mele Sarapiah) pergi ke Banjarmasin untuk mencari pengganti raja Sumbawa, oleh karena keinginan mereka supaya Ungkap Sarmin diganti oleh Datu Taliwang tidak berhasil.[9]

Kedatangan Gusti Mesir Abdurrahman ke pulau Sumbawa karena ajakan oleh Lalu Anggawasita. Lalu Anggawasita mengajak Gusti Mesir ke Sumbawa. Dalam perjalanan ini Lalu Anggawasita tidak meneruskan pelayarannya ke Sumbawa tapi singgah di Makassar, sedang Gusti Mesir dipersilahkan terus ke Taliwang, kebetulan yang menjadi raja di sana adalah keturunan Raja Banjar juga. Demikianlah setelah keduanya saling berpamitan, lalu Gusti Mesir meneruskan pelayarannya ke Taliwang dan di sana beliau bertempat tinggal di Kampung Banjar. Setelah beberapa lama tinggal di Taliwang, maka pada tahun 1755 Gusti Mesir diambil menantu oleh Sultan Muhammad Kaharuddin, dikawinkan dengan puteri permaisuri beliau, bernama Datu Bonto Paja. Setelah Datu Ungkap Sermin meninggalkan Sumbawa dan di waktu itu tidak ada Pemangku Raja, lalu teringat oleh Kapitan Jepara akan janjinya untuk mengangkat Gusti Mesir Abdurrahman, yang kebetulan telah memperistrikan cucunda dari Sultan Jalaluddin Muhammad Syah I, Datu Bonto Raja. Sebelum menyampaikan maksudnya kepada Gusti Mesir, terlebih dahulu merundingkan dengan Datu Taliwang adalah keturunan Raja Banjar bernama Pangeran Laya Kusuma, setelah mendengar maksud Kapitan Jepara untuk mengangkat Gusti Mesir Abdurrahman menjadi Sultan Sumbawa, beliau mendukung sepenuhnya. Keputusan yang diambil oleh Kapitan Jepara Lalu Anggawasita ini disampaikan kepada Tana' Samawa, yang oleh 'musyawarah para Menteri akhirnya disetujui.[10]

Akhinya Dewa Pangeran (Gusti Mesir) dari Banjarmasin diangkat sebagai Sultan Sumbawa dengan gelar Sultan Muhammad Jalaluddin II (1763-1766). Beliau menikah dengan Datu Bonto Paja, cucu Sultan Amasa Samawa. Dari perkawinan ini lahir seorang putera bernama Mahmud atau Mahmuddin.[11]

Kendati hanya selama tiga tahun memerintah namun Gusti Mesir banyak membawa perubahan bagi masyarakat Sumbawa. Sebut saja Ratib Rabana Ode dan Sakeco yang diadopsi dari sebuah kesenian dari Banjar yakni Seni Madihin yang hingga kini keduanya masih dimainkan oleh masyarakat kedua daerah tersebut. Begitu pula SAPU dan SALEMPANG yang menjadi pakaian adat Tau Samawa juga ter-adopsi dari negeri Banjar bahkan penenunnya pun awalnya didatangkan dari Banjar untuk mengajarkan masyarakat Sumbawa membuat Sapu dan Salempang. Penenun asal Banjar inipun mengajarkan masyarakat Sumbawa membuat SESEK BANJAR atau Kain Tenun Khas Banjar yang kemudian berkembang menjadi KRE SESEK khas Sumbawa hingga kini.[12] Di Kalsel sendiri terdapat dua jenis tenunan yaitu asli dari Banjar yang disebut Sarigading yang berasal dari Amuntai dan tenun Pagatan yang dibawa oleh para pendatang dari Bugis, Sulawesi Selatan.

Selain itu motif halilipan (lipan api) yang dikenal dalam busana adat Banjar kemudian menjadi lambang bendera perang di Kesultanan Sumbawa. Demikian pula terdapat pusaka Kesultanan Banjar yang berasal dari Sumbawa diantaranya tombak Kaliblah yang dipegang oleh Demang Lehman.

Kematian[sunting | sunting sumber]

Dewa Mas Muhammad Jalaludddin II mangkat pada tanggal 1 Dzulhijjah 1179 Hijriah (1765 Masehi). Untuk menggantinya diangkatlah putra mahkota yang masih berumur 9 tahun menjadi Raja yaitu Sultan Mahmud. Sedangkan yang menjalankan pemerintahan diangkat Dewa Mapeconga Mustafa Datu Taliwang.

Hubungan Kekerabatan Kesultanan Banjar dan Kesultanan Sumbawa sekitar tahun 1700 M[sunting | sunting sumber]

Hubungan kekerabatan Raja Banjar dengan Raja Sumbawa sudah terjalin sekitar tahun 1700. Raja Sumbawa yang memerintah pada tahun 1700 adalah Mas Bantan Datu Loka Dewa Dalam Bawa (m. 1674-1701).

Di dalam Hikayat Banjar-Kotawaringin disebutkan Raden Bantan yang tinggal di Sumbawa merupakan anak pasangan Amas Penghulu (puteri Raja Seleparang) dan Raden Marabut / Raden Subangsa / Pangeran Taliwang (cicit Raja Banjar Sultan Hidayatullah 1). Dewa Mas Bantan Datu Loka merupakan ayahanda Raja Sumbawa Sultan Muhammad Jalaluddin 1 / Datu Taliwang / Amasa Samawa / Amas Madina / Datu Bala Balong/ Datu Apit Ai (1701-1723).

Sedangkan yang memerintah di Banjar tahun 1700 adalah Sultan Tahmidullah 1 (m. 1700-1717).[13] Raja Banjar Sultan Tahmidullah 1 merupakan kakek dari Raja Sumbawa Sultan Muhammad Jalaluddin II.

Kekerabatan Sultan Banjar dengan Sultan Sumbawa diberitakan dalam laporan pelaut Inggeris dalam buku "Notices of the Indian archipelago & adjacent countries: being a collection of papers relating to Borneo, Celebes, Bali, Java, Sumatra, Nias, the Philippine islands", menyebutkan :[14]

Silsilah[sunting | sunting sumber]

Silsilah menurut naskah Cerita Turunan Raja-raja Banjar dan Kotawaringin yang disebut Hikayat Banjar resensi 1.[15]

Sultan Banjar I: Sultan Suryanullah / Raden Samudera[16]

↓ (berputra)

Sultan Banjar II: Sultan Rahmatullah

↓ (berputra)

Sultan Banjar III Sultan Hidayatullah + puteri dari Tuan Khatib Banun

↓ (berputra)

Sultan Banjar IV: Sultan Mustain Billah / Marhum Panembahan / Raden Senapati + Ratu Agung binti Pangeran Demang bin Sultan Rahmatullah

↓ (berputra)

Sultan Banjar V: Sultan Inayatullah / Ratu Agung / Pangeran Dipati Tuha (ke-1) + Nyai Mas Tarah binti Tuan Haji Umar

↓ (berputra)

Sultan Banjar VI: Sultan Saidullah / Sultan Ratu Anom / Pangeran Kasuma Alam + Nyai Wadon

↓ (berputra)

Sultan Banjar VIII: Sultan Amrullah Bagus Kasuma / Tahlil-Lillah / Raden Bagus[17]

↓ (berputra)

Sultan Banjar IX: Sultan Tahmid-illah 1 (Aria Alam)

↓ (berputra)

Pangeran Aria[18]

↓ (berputra)

Sultan Sumbawa IX: Gusti Mesir (Dewa Pangeran 1) / Dewa Masmawa Muhammad Jalaludddin II + Datu Baing/Datu Bonto Paja/Karaeng Bonto Masugi anak Sultanah Sumbawa Siti Aisyah binti Sultan Sumbawa Dewa Mas Muhammad Jalaluddin I[19]

↓ (berputra)

Sultan Sumbawa X: Pangeran Mahmuddin (Dewa Pangeran 2) + Ratu Laiya binti Sultan Tamjidillah 1 bin Sultan Tahmidillah 1 (saudari Raja Banjar Sultan Tahmid-illah 2/Sunan Nata Alam)[20]

↓ (berputra)
  1. Sultan Sumbawa XIII: Sultan Muhammad Kaharudddin II (Lalu Muhammad) + Lala Amatollah anak Datu Bonto Mangape
↓ (berputra)
  1. Lalu Mesir https://pl.wikipedia.org/wiki/W%C5%82adcy_Sumbawy#Su%C5%82tani_Sumbawy
  2. Sultan Sumbawa XIV: Sultan Muhammad Amarullah + Lala Rante Patola binti Muhammad Yakub Ruma Kapenta Wadu Raja Bicara Bima [21][22]
↓ (berputra)

Daeng Mas Kuncir + Datu Balasari[23]

↓ (berputra)

Sultan Sumbawa XV: Mas Madina Raja Dewa Jalaludddin III + Siti Maryam Daeng Risompa Datu Ritimu[24][25]

↓ (berputra)

Sultan Sumbawa XVI: Muhammad Kaharudddin III (Daeng Manurung) + Permaisuri Dewa Merajabini Siti Khadijah Ruma Paduka Daeng Ante binti Sultan Bima Muhammad Salahuddin dgn Permaisuri Ruma Paduka Siti Mariyam binti Ruma Bicara Bima Muhammad Quraish.[26]

↓ (berputra)

Sultan Sumbawa XVII: Muhammad Kaharudddin IV (Daeng Ewan) + Andi Tenri Djadjah binti Andi Burhanudin[27]

↓ (berputra)
  1. ♀ Daeng Nadia Indriana Hanoum
  2. ♀ Daeng Sarrojini Naidu + Sentot Agus Priyanto
↓ (berputra)
  1. ♂ Raehan Omar Hasani Priyanto
  2. ♂ Raindra Saadya Ramadhan Priyanto
  3. ♂ Rayaka Ali Kareem Priyanto[28]

Kekerabatan Sultan Sumbawa dengan Pangeran Antasari[sunting | sunting sumber]

KESULTANAN BANJAR
Sultan Amrullah Bagus Kasuma
Sultan Tahlil-Lillah
↓ (berputra)
SULTAN BANJAR
  • Pangeran Dipati Sena bin Sultan Tahlil-Lillah 1
( Sultan il-Hamidullah )
↓ (berputra)
↓ (berputra)
  • Pangeran Amir
↓ (berputra)
  • Pangeran Masoöd/Masohut/Mas'ud
↓ (berputra)
↓ (berputra)
↓ (berputra)
SULTAN BANJAR
  • Sultan Tahmidillah 1 bin Sultan Tahlil-Lillah 1[29]
( Suria Alam dari Banjar )
↓ (berputra)
  • Sultan Tamjidillah 1
↓ (berputra)

SULTAN SUMBAWA

  • Ratu Laiya[30] + ♂ Sultan Sumbawa X: Dewa Pangeran Mahmud bin Gusti Mesir
↓ (berputra)
  • ♂ Sultan Sumbawa XIII: Muhammad Kaharuddin II
↓ (berputra)
  • ♂ Sultan Sumbawa XIV: Muhammad Amarullah
↓ (berputra)
  • ♂ Raja Muda: Daeng Mas Kuncir
↓ (berputra)
  • ♂ Sultan Sumbawa XV: Mas Madina Raja Dewa Jalaluddin III
↓ (berputra)
↓ (berputra)

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ https://ihinsolihin.wordpress.com/sastra/silsilah-kesultanan-sumbawa/
  2. ^ http://kemassamawimultiproduction.blogspot.co.id/2009/08/sumbawa-barat-dalam-pencarian-identitas.html
  3. ^ http://sumbawa-beritaphoto.blogspot.co.id/2009/04/kabupaten-sumbawa-memang-lahir-tanggal.html
  4. ^ http://kesultananbanjar.com/id/?p=1279
  5. ^ http://kesultananbanjar.com/id/?p=1288
  6. ^ https://ihinsolihin.wordpress.com/2016/01/14/gusti-mesir-sultan-muhammad-jalaluddin-syah-ii/
  7. ^ (Indonesia)Peninggalan sejarah dan kepurbakalaan Nusa Tenggara Barat. Indonesia: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Wilayah Propinsi Nusa Tenggara Barat, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Nusa Tenggara Barat. 1997. 
  8. ^ (Indonesia)Peninggalan sejarah dan kepurbakalaan Nusa Tenggara Barat. Indonesia: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Wilayah Propinsi Nusa Tenggara Barat, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Nusa Tenggara Barat. 1997. 
  9. ^ (Indonesia) Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat. Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 54. 
  10. ^ (Indonesia)Lalu Mantja (1984). Sumbawa pada masa dulu: suatu tinjauan sejarah. Indonesia: Rinta. hlm. 127. 
  11. ^ (Indonesia) Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat. Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 55. 
  12. ^ http://bangmek.blogspot.co.id/2016/01/gusti-mesir-sultan-muhammad-jalaluddin.html
  13. ^ http://web.raex.com/~obsidian/seasiaisl.html#Bandjarmasin
  14. ^ (Inggris) J. H. Moor (1837). "Notices of the Indian archipelago & adjacent countries: being a collection of papers relating to Borneo, Celebes, Bali, Java, Sumatra, Nias, the Philippine islands". F.Cass & co.: 99. 
  15. ^ (Melayu)Ras, Johannes Jacobus (1990). Hikayat Banjar diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh. Malaysia (Selangor Darul Ehsan): Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 9789836212405. ISBN 983-62-1240-X
  16. ^ http://web.raex.com/~obsidian/seasiaisl.html#Bandjarmasin
  17. ^ https://plus.google.com/104506069717580147857/posts/gsKkmG8PtcB
  18. ^ http://kesultananbanjar.com/id/hubungan-kesultanan-sumbawa-dengan-kesultanan-banjar/
  19. ^ https://bangmek.wordpress.com/2012/02/13/sejarah-kerajaan-sumbawa/
  20. ^ (Belanda) "Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde". 14. Perpustakaan Negeri Bavarian. 1864: 503. 
  21. ^ http://sumbawakab.go.id/index_static.html?id=108
  22. ^ (Belanda) Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. 44. Lands Drukkery. 1871. hlm. 222.  Parameter |first1= tanpa |last1= di Authors list (bantuan)
  23. ^ http://alanzuhri17.blogspot.co.id/2013/01/kerajaan-di-sumbawa.html
  24. ^ https://bangmek.wordpress.com/2012/02/13/sejarah-kerajaan-sumbawa/
  25. ^ http://www.jelajahsumbawa.com/2012/07/foto-foto-sumbawa-tempo-dulu.html
  26. ^ http://www.beritasumbawa.net/2017/07/12/inilah-pernyataan-resmi-sultan-sumbawa-mengenai-kebakaran-istana-putih/
  27. ^ www.tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2011/04/05/brk,20110405-325147,id.html
  28. ^ https://docs.google.com/viewerng/viewer?url=http://kesultananbanjar.com/id/wp-content/uploads/2014/11/SILSILAH-SULTAN-SUMBAWA.pdf&hl=en
  29. ^ (Belanda) Willem Adriaan Rees, De bandjermasinsche krijg van 1859-1863: met portretten, platen en een terreinkaart, D. A. Thieme, 1865
  30. ^ (Belanda) "Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde". 14. Perpustakaan Negeri Bavarian. 1864: 503. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]