Mangkunegara III

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Mangkunegoro III)
Lompat ke: navigasi, cari
K.G.P.A.A. Mangkunegara III
Mangkunegara III
Adipati Mangkunegaran
Masa jabatan
1835–1853
Didahului oleh Mangkunegara II
Digantikan oleh Mangkunegara IV
Informasi pribadi
Lahir B.R.M. Sarengat
16 Januari 1803
Surakarta
Meninggal 27 Januari 1853
(Kamis Legi, 25 Rabingulawal 1781 Jimawal windu Kunthara)
Surakarta
Dimakamkan Astana Mangadeg, Matesih, Karanganyar
Suami/istri Permaisuri (2)[1]:
(1) K. Ratu Sekar Kedhaton (putri PB V)
(2) R.A. Samsiyah, putri K.P.A. Suryamijaya, menjadi mertua MN IV
Selir: 14 orang[1]
Anak 42 orang
Tempat tinggal Istana Mangkunegaran
Agama Islam

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara III adalah raja yang ketiga di Kadipaten Praja Mangkunegaran. Nama lahirnya ialah Bandara Raden Mas Sarengat, sedangkan gelar-gelar lainnya adalah "Pangeran Riya" dan "Pangeran Arya Prabu Prangwadana". Ia adalah cucu dari Mangkunegara II, melalui putrinya (dari permaisuri), B.R.Ay. Sayati, yang menikah dengan Kanjeng Pangeran Aria Natakusuma.

Pemerintahan Mangkunegara III berlangsung dari tahun 1835-1853.

Masa awal[sunting | sunting sumber]

Mangkunegara III lahir tanggal 16 Januari 1803 (Ahad Pon, 22 Siyam 1729 Wawu tahun Jawa, windu Sangara) dengan nama Bandara Radèn Mas Saréngat (julukan Glémboh)[1]. Ayahnya ialah K.P.A. Natakusuma, salah seorang cucu S.I.S.K.S. Pakubuwana III melalui putranya, K.P.A. Kusumadiningrat, dan ibunya adalah B.R.Ay. Sayati, putri pertama K.G.P.A.A. Mangkunegara II (MN II), dari permaisuri.

Sejak kecil ia telah diangkat anak oleh MN II dan dididik untuk menjadi pemimpin.

Pada hari Ahad Pon, tanggal 14 Jumadilakir 1747 tahun Alip windu Adi (29 Maret 1820 (?)) ia dinikahkan dengan Gusti Kj. Ratu Sekar Kedhaton, anak dari PB V. Pernikahan ini tidak mencapai dua tahun, karena sang isteri wafat saat keguguran. Setelah menduda sebentar, ia menikahi R.A. Samsiyah, sepupunya sendiri, yang putri K.P.A. Suryamijaya I (putra MN II) dari ampil Mas Aj. Pulungsih, dan memiliki dua orang putri (B.R.Aj. Dunuk dan B.R.Aj. Dénok). Selain permaisuri, B.R.M. Saréngat juga memiliki 14 orang selir yang memiliki keturunan. Secara keseluruhan, ia memiliki 42 orang anak[1]

Karier kemiliteran[sunting | sunting sumber]

B.R.M. Sarengat memasuki pendidikan Kadet Mangkunegaran saat berusia 15 tahun. Ketika diangkat menjadi Letnan Kolonel di Legiun Mangkunegaran pada Sabtu Pon tanggal 14 Dulkangidah 1746 Jimakir, windu Adi (14 September 1819), ia mendapat gelar K.P. Riya pada usia 18 tahun (Jawa). Saat berusia 20 tahun, ia resmi disiapkan sebagai calon penerus tahta kerajaan, dengan gelar wisuda Pangeran Arya Prabu Prangwadana pada Kamis Pon, 8 Jumadilawal 1749 th. Jimawal windu Adi (31 Januari 1822).

Pangeran Arya Prabu Prangwadana turut serta bersama kakeknya, Mangkunegara II, terlibat dalam Perang Jawa menghadapi perlawanan Dipanegara (1825-1830). Ia ditempatkan di perbatasan antara Mangkunegaran dan Kesultanan Yogyakarta yaitu di Desa Jatinom dan Kepurun (Klaten). Ia mendapat penghargaan bintang militer Willems Order kelas 4 atas kontribusinya dalam perang tersebut[1].

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Seusai Perang Jawa, Pangeran Arya Prabu Prangwadana kemudian bertakhta sejak 29 Januari 1835 (Kamis Wage (?), 24 Besar 1762 Jimakir windu Sangara) sebagai raja (setingkat Adipati) di Mangkunegaran menggantikan kakeknya, pada usia 33 tahun. Ia baru dinobatkan sebagai K.G.P.A.A. Mangkunegara III pada tanggal 16 Januari 1843 bertepatan dengan hari kelahirannya, yaitu saat usianya 40 tahun sebagai syarat untuk gelar tersebut.

Wafat[sunting | sunting sumber]

Ia wafat dalam usia 50 tahun tanggal 27 Januari 1853 (Kamis Legi, 25 Rabingulawal 1781 Jimawal windu Kunthara), dan dimakamkan di Astana Mangadeg, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Ia digantikan oleh adik sepupu yang juga menjadi menantunya, K.P.H. Gandakusuma, sebagai Mangkunegara IV.

Minat terhadap kesenian[sunting | sunting sumber]

Mangkunegara III memiliki minat besar terhadap kesenian wayang purwa. Pada masa pemerintahannya, kitab serat Dewa Ruci diperintahkannya untuk disalin kembali. Minat terhadap kesenian tersebut kemudian dilanjutkan oleh para penguasa Mangkunegaran selanjutnya, yang terus mengembangkan kebudayaan Jawa terutama pewayangan dan pedhalangan di keraton Mangkunegaran.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e Sumahatmaka et al. 1973. Pratelan Para Darah Dalem Soewargi Kangdjeng Goesti Pangeran Adipati Arja Mangkoenagara I hing Soerakarta Hadiningrat: Asalsilah Djilid I. Mangkunegaran. Surakarta.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Mangkunegara II
Raja Mangkunegaran
1835-1853
Diteruskan oleh:
Mangkunegara IV