Makanan super

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sukun dapat disebut sebagai makanan super[1]
Blueberry, sering kali disebut dengan makanan super karena mengandung cukup banyak nutrisi[2]

Makanan super adalah istilah yang digunakan kepada makanan yang memiliki nutrisi dan manfaat yang relatif tinggi bagi kesehatan.[3] Namun lembaga Cancer Research UK menyatakan bahwa istilah "makanan super" tidak berdasarkan pada definisi secara ilmiah untuk menyebut hal tersebut melainkan hanya istilah pemasaran produk saja.[4] Makanan yang disebut "super" seringkali merupakan makanan yang mengandung antioksidan, vitamin, atau nutrisi lainnya yang relatif lebih tinggi dibandingkan makanan lain.[5] Istilah "makanan super" tidak digunakan oleh pakar nutrisi yang seringkali meragukan manfaat makanan super yang dipromosikan oleh pihak tertentu.[6]

Sejak Juli 2007, Uni Eropa melarang suatu produk dipasarkan sebagai "makanan super" kecuali didampingi oleh bukti ilmiah dan medis yang mendukung hal tersebut.[7]

Berbeda dengan istilah makanan super, makanan fungsional digunakan untuk menjelaskan makanan yang memiliki manfaat khusus terhadap fisiologis tubuh secara spesifik, misal terhadap hati atau ginjal, untuk meningkatkan kondisi maupun pencegahan penyakit. Istilah makanan fungsional digunakan di Uni Eropa dan Jepang, dan bukan merupakan obat maupun suplemen.[8]

Contoh[sunting | sunting sumber]

Contoh makanan yang diklaim sebagai makanan super umumnya berupa buah beri, buah geluk, serealia semu, sayuran hijau, ikan berminyak, serealia utuh, dan sebagainya. Blueberry yang disebut dengan makanan super masih belum terbukti memiliki khasiat super.[9] Blueberry hanya memiliki tiga nutrisi yang terkandung dalam jumlah tinggi, yaitu Vitamin C, Vitamin K, dan mangan.[2]

Istilah "makanan super" bukan berarti makanan yang aman untuk dikonsumsi. Gulma laut yang dipromosikan sebagai makanan super, mengandung toksin yang terdapat pada spesies tertentu.[6] Makanan yang dipromosikan super lainnya seperti chia, goji, dan rumput gandum belum memiliki khasiat yang terbukti secara ilmiah. Konsumsi "makanan super" tersebut secara berlebihan, terutama oleh penggila diet, berisiko menggantikan porsi makanan dengan nutrisi seimbang yang biasa dikonsumsi sehingga dapat berakibat buruk.[10]

Namun berbagai jenis makanan yang sudah disebut "super" telah diproses oleh industri untuk didapatkan ekstraknya sebagai strategi pemasaran produk tertentu, misal teh hijau dengan polifenolnya dan kedelai dengan isoflavonnya.[11] Meski manfaat konsumsi teh hijau masih belum terbukti secara luas[12] dan cenderung disalah-artikan serta memberikan miskonsepsi terhadap apa sebenarnya manfaat kesehatan dari produk tersebut. FDA telah melarang iklan yang mengklaim teh hijau memiliki manfaat dalam mencegah kanker karena belum terbukti secara ilmiah.[13]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Sukun ternyata superfoods". Antara. 5 Juli 2014. 
  2. ^ a b "In-depth nutrient profile for blueberries". World's Healthiest Foods. 2014. Diakses tanggal 3 April 2014. 
  3. ^ superfood - definition. American English definition of superfood by Macmillan Dictionary
  4. ^ "'Superfoods' and cancer". Cancer Research UK. Diakses tanggal August 2013. 
  5. ^ Superfoods definition - Medical Dictionary definitions of popular medical terms easily defined on MedTerms
  6. ^ a b Hill, Amelia (2007-05-13). "Forget superfoods, you can't beat an apple a day". The Observer. 
  7. ^ "Superfood 'ban' comes into effect". BBC News. 2007-06-28. 
  8. ^ Functional Foods (PDF). Directorate-General for Research and Innovation, European Commission. 2010. 
  9. ^ PMID 18211023 (PubMed)
    Citation will be completed automatically in a few minutes. Jump the queue or expand by hand
  10. ^ Jeroen Schutijser, "Superfoods bestaan helemaal niet", NOS.nl 6 March 2014
  11. ^ Tallon, M. (2008). Chocolate, green tea lead superfood revolution. Functional Ingredients, (76), 30.
  12. ^ S. Ellinger, N. Müller, P. Stehle, & G. Ulrich-Merzenich (n.d). Consumption of green tea or green tea products: Is there an evidence for antioxidant effects from controlled interventional studies?. Phytomedicine, DOI:10.1016/j.phymed.2011.06.006
  13. ^ Schneeman BO (April 2013). "Letter Updating the Green Tea and Risk of Breast Cancer and Prostate Cancer Health Claim April 17, 2012; RE: Health Claim Petition: Green Tea and Reduced Risk of Cancer Health Claim (Docket No. FDA-2004-Q-0427)". US Food and Drug Administration. Diakses tanggal 20 November 2013.