Kongregasi Murid-Murid Tuhan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

C.D.D. adalah singkatan dari Congregatio Discipulorum Domini (bahasa Inggris: Congregation of the Disciples of the Lord, bahasa Mandarin: 主徒会), artinya Kongregasi Murid-Murid Tuhan, suatu tarekat imam dari Cina. Mereka masuk dan bekerja di Indonesia pada tahun 1949 mula-mula di Pontianak, kemudian di Malang. Kini mereka hadir dan berkarya di Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Malang, Keuskupan Agung Merauke, dan Keuskupan Denpasar.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Rencana pendirian tarekat lokal telah dipikirkan sejak lama oleh Celso Costantini. Celso melihat bahwa meskipun Gereja Cina telah memiliki banyak tarekat, namun mereka semua adalah tarekat yang masih dikendalikan dari luar, dan imam lokal masih belum memiliki peran yang penting. Ia berpikir bahwa Gereja Cina harus memiliki tarekat lokal, selayaknya tarekat yang ada di Eropa. Pemikiran ini juga diperkuat oleh Surat Apostolik Maximum Illud yang telah dikeluarkan oleh Paus Benediktus XV, serta Ensiklik Rerum Ecclesiae yang telah dikeluarkan oleh Paus Pius XI. Dalam dua dokumen Gereja ini ditekankan betapa pentingnya mendidik imam-imam lokal dengan pendidikan yang sama dengan para misionaris Eropa agar mereka sendiri dapat membangun Gereja lokal dan menyelamatkan bangsanya. Maka pada 12 Desember 1926, Celso Costantini mengajukan surat permohonan pendirian kongregasi kepada Propaganda Fide. Pada 4 Januari 1927, Mgr Von Rossum, CSsR selaku kepala Propaganda Fide menyatakan kepada Celso bahwa permohonan pendirian kongregasi disetujui. Setelah mendapat pemberitahuan itu, Celso segera melakukan persiapan-persiapan untuk kongregasi ini. Celso pun mendapat bantuan dana dari Paus Pius XI, yang mana dana tersebut diperoleh dari komunitas kaum ibu di Gereja Amerika Serikat. Setelah itu, pada hari raya Paska (April 1927) rencana pembelian tanah dimulai. Dia mengunujungi Provinsi Cha Er, tidak jauh dari Xuan Hua untuk membeli sebidang tanah melalui bantuan dari Mgr Zhao Huayi, Uskup Xuanhua, dan P. Zhang Bulai. Di tanah inilah didirikan biara dan rumah induk pertama CDD yang diberi nama Biara Emaus. Celso juga mengundang P. Adabertus Gresnit, OSB, seorang Benediktin Italia untuk mendesain biara itu. Dalam bidang formatio para calon, Celso meminta bantuan dari para imam Redemptoris dari Provinsi Spanyol. Hal ini dikarenakan Celso tidak mampu jika harus membina sendiri para calon CDD karena kesibukannya sebagai Delegatus Apostolik. Menanggapi permintaan Celso tersebut, maka Redemptoris pun mengirimkan 4 imamnya untuk menjadi formator bagi kongregasi ini. Mereka adalah P. Rodriguez, P. J. Moran, P. S, Velasco, dan P. Michael. Setelah semua telah siap, pada musim semi tahun 1929 Celso mulai menerima anggota pertama CDD. Pada 31 Maret 1931 Kongregasi Murid-murid Tuhan diakui oleh Tahta Suci.

Identitas Kongregasi Murid-murid Tuhan[sunting | sunting sumber]

Setiap ordo atau tarekat yang didirikan pasti memiliki suatu identitas yang membedakannya dengan ordo atau tarekat lain yang telah berdiri. Identitas itulah yang membuat suatu ordo atau tarekat mudah dikenali dan menjadi keunggulan serta kekayaan spiritual dari setiap Kongregasi

1. Jati Diri Para Murid Tuhan Nama kongregasi ini adalah nama yang diberikan oleh Celso Costantini selaku pendiri. Ia terinspirasi oleh dua murid yang diajar Yesus saat perjalanan menuju Emaus. Mereka berjalan bersama Yesus tetapi tidak mengenalnya, tetapi hati mereka berkobar-kobar dan baru menyadari hal itu saat memecah-mecahkan roti. Hal ini sama terjadi pada para Murid Tuhan sekarang ini. Mereka juga berjalan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Yesus, tetapi hati mereka terbakar oleh api Roh Kudus agar orang mengenal Kristus, dan setiap hari saat memecahkan roti, mereka mengenal Dia. Celso Costantini memikirkan akan murid Tuhan, yaitu mereka yang dengan rendah hati dan setia bekerja sama dengan Dia. Kemudian Celso Costatntini menyarikan panggilan dan jatidiri mereka sebagai murid dari perikop Inijl Luk 10:1-9; 17-20. Dari perikop itulah Celso Costantini mengambil ciri seorang murid Tuhan, dapat disimpulkan sebagai berikut ;

  • Perintis Jalan Tuhan

Yesus mengutus para MuridNya untuk mendahuluiNya menuju kota-kota yang hendak Ia kunjungi. Demikian pula hendaknya para murid Tuhan harus mempersiapkan jalan bagi Sang Guru di setiap kota yang belum mengenal Yesus. Dalam mempersiapkan jalan bagiNya, bapa pendiri menekankan perlunya mewartakan Kristus melalui kearifan lokal yang telah ada di masyrakat tersebut, tidak perlu para murid Tuhan mempertentangkan hal tersebut.

  • Pergi Berdua-dua

Beginilah hendaknya para murid Tuhan pergi dalam perutusannya. Celso Costanini berharap agar para murid Tuhan dapat meneladani murid-murid Tuhan yang pertama agar mereka dapat saling membantu secara fisik dan rohani.

  • Mitra Kerja Tuhan

Para misionaris adalah mitra kerja Tuhan, yang pergi bekerja di ladang yang telah disuburkan dengan Darah Kristus, supaya menghasilkan panenan yang berlimpah. Para murid Tuhan pun dipanggil sebagi misionaris di tengah-tengah kaum kafir, agar semakin banyaklah manusia yang mendapat terang keselamatan Yesus Kristus.

  • Tanpa Uang

Para murid Tuhan telah mengucapakan kaul kemiskinan, maka sudah pantas dan selayaknya para murid Tuhan tidak terjerat dalam kekayaan duniawi. Para murid Tuhan pun harus bekerja untuk memperoleh makanan seperti halnya St. Paulus yang juga bekerja untuk mencukupi kebutuhan pokok hidupnya disamping mewartakan Injil Para murid Tuhan harus dapat memakai barang-barang duniawi selama hal tersebut menunjang karya pewartaan mereka dan sungguh-sungguh diperlukan.

  • Pewarta Damai

Hal pertama yang harus diwartakan para murid Tuhan adalah damai. Damai adalah keinginan hati manusia yang terdalam, damai adalah suatu anugerah beharga dan bernilai bagi hidup ini yang telah diberikan oleh Allah. Para murid Tuhan harus selalu mengingat bahwa panggilan suci mereka adalah Pewarta Damai bagi setiap manusia.

  • Perawat Orang Sakit

Yesus telah memberikan perintah kepada para muridNya yang pertama unyuk menyembukan para orang sakit dan perintah ini pun berlaku bagi para murid Tuhan sekarang ini. Namun, kuasa karismatis yang dianugerahkan Gereja Purba jarang didapatkan kembali pada zaman sekarang. Meski demikian ada 2 alasan yang membuat para murid Tuhan harus tetap menjalankan perintah ini sebagai penghayatan cinta kasih kepada sesama dan sampai kepada Tuhan melalui orang sakit, serta perbuatan kasih yang demikian adalah sangat manusiawi dan duniawi. Maka dalam setiap karya kerasulan kongregasi ini, Celso Costantini menghendaki agar dibangun balai-balai pengobatan yang memperhatikan para orang miskin.

  • Tercatat Di Surga

Namun demikian jangan bersukacita karena roh-roh takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu tercatat di surga (Luk 10:20). Kali ini Celso Costantini menghendaki agar para murid Tuhan tidak terjerat pada kesombongan rohani, melainkan terus-menerus untuk mengharapkan tujuan tertinggi, yaitu memasuki Kerajaan Allah.

2. Spiritualitas Para Murid Tuhan Spiritualitas adalah sesuatu hal yang diyakini dan dihayati dalam hidup dan yang menjadi pendorong seseorang dalam bertindak dan bersikap di dalam kehidupannya. Spiritualitas ada yang sifatnya pribadi, dimiliki oleh masing-masing individu dan ada yang dimiliki sekelompok orang secara bersama-sama. Secara singkat spiritualitas para murid Tuhan adalah spiritualitas kemuridan. Selayaknya seorang murid yang selalu mendengarkan dan berjumpa dengan Sang Guru untuk menimba kekuatan dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupannya, demikian juga para murid Tuhan yang selalu mencari dan mendengarkan Sang Guru sejati dalam setiap karya kerasulan mereka. Kehadiran nyata Yesus Kristus dapat dilihat dari Sakramen Mahakudus dan dalam diri Bapa Suci. Dua hal inilah yang menjadi sumber kekuatan utama para murid Tuhan untuk berkarya di dunia ini.

Devosi Kepada Sakramen Mahakudus Seperti para murid Emaus yang menyadari kehadiran Yesus setelah pemecahan roti, para murid Tuhan pun hendaknya menyadari kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi. Mereka yang terbakar oleh cinta Kristus yang mereka peroleh dari ekaristi harus membagikan keselamatan yang telah mereka terima dari Kristus kepada semua orang yang mereka jumpai, terutama bagi mereka yang belum merasakan kasih Kristus. Kesetiaan Kepada Tahta Suci Setelah para murid Emaus menyadari kehadiran Kristus, mereka bergegas menuju Yerusalem untuk melaporkan kejadian tersebut kepada para rasul. Demikian juga para murid Tuhan harus menghormati dan setia kepada pengganti St. Petrus sebagai pemimpin dan guru bagi Gereja. Paus juga merupakan simbol kehadiran nyata Kristus yang menyatukan Gereja di setiap penjuru dunia.


3.Karisma Para Murid Tuhan Karisma merupakan karunia istimewa yang dikaruniakan Tuhan kepada setiap individu supaya diabdikan kepada sesama dan Gereja. Sama halnya dengan ordo atau tarekat, mereka semua memiliki karisma sebagai perwujudan semangatnya. Karisma ini merupakan anugerah Allah yang diwariskan oleh sang pendiri. Karisma dari Kongregasi Murid-murid Tuhan ialah; 3.1. Misi Melalui Inkulturasi Kebudayaan merupakan sarana pewartaan yang efektif dalam karya misi. Para murid Tuhan melalui inkulturasi harus dapat membawa dan mempebaharui kebudayaan lokal kepada terang Injil. Hal ini akan membuat Kristus dapat diterima dengan mudah ke dalam hidup bangsa tersebut. Celso Costantini menekankan bahwa para Murid Tuhan tidak boleh mencampuradukan antara objek formal dan dengan sarana material yang adalah netral. Contohnya, Celso Costantini memperbolehkan untuk menggunakan hio di altar, karena pada dasarnya hio bersifat netral. Yang perlu diperhatikan adalah kebudayaan lokal berfungsi dan melayani pikiran-pikiran Kristiani, bukan sebaliknya pikiran-pikiran Kristiani berfungsi dan melayani kebudayaan lokal. 3.2 Pendampingan Kaum Muda Kerasulan demi kepentingan kaum muda adalah dari sekian banyak tugas suci imamat dan kegiatan pastoral yang paling banyak membuahkan hasil. Kaum muda adalah jiwa-jiwa yang sederhana dan masih polos. Mereka dapat dibentuk dalam kebaikan, sebab mereka masih lembut dan membutuhkan tangan seorang pendamping untuk membantu membentuk dirinya. Celso Costantini mengambil model seorang kudus yang membaktikan dirinya bagi pembinaan kaum muda, yaitu St. Yohanes Bosco . Mendampingi kaum muda harus dengan kasih kebapakan, bukan dengan kekerasan. Maka dalam konstitusi dikatakan bahwa karya kerasulan utama para murid Tuhan adalah mendirikan sekolah, mengelola sekolah, asrama-asrama, serta pusat-pusat kegiatan. Cara ini merupakan cara yang paling efektf untuk memperkenalkan Kristus kepada kaum muda.

4 Lambang Kongregasi Murid-murid Tuhan

Kongregasi Murid-murid Tuhan memiliki lambang yang mewakili spiritulitas dari kongregasi ini. Lambang tersebut adalah sebagai berikut;

  • Salib yang sudutnya sama besar melambangkan rahmat Tuhan.
  • Basilika St. Petrus melambangkan kesetiaan anggota CDD kepada Tahta Suci dimanapun mereka berada.
  • Piala dan Hosti melambangkan devosi khusus CDD kepada Sakramen Mahakudus.
  • Bunga Teratai melambangkan anggota CDD yang dapat hidup suci di tengah-tengah dunia, seperti teratai yang tetap bersih meskipun tumbuh di tanah yang berlumpur.
  • Tulisan mandarin yang terdapat di ketiga sisi salib merupakan nama Kongregasi Murid-murid Tuhan (dalam bahasa Mandarin dibaca Zhu Tu Hui).

5. Motto Kongregasi Murid-murid Tuhan

Celso Costantini dalam IVAD memberikan motto hidup kepada para murid Tuhan. Motto tersebut berbunyi: “Nil Contra Ecclesiam, Nil Sine Ecclesia, Omnia Pro Ecclesia” ; yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai berikut: “Tidak Ada Yang Melawan Gereja, Tidak Ada Suatupun Tanpa Gereja, Semuanya Demi Gereja.” Dari sini dapat dilihat bahwa Celso Costantini mengharapkan agar seluruh karya kerasulan para murid Tuhan harus berpusat pada Gereja. Bahkan, dia menegaskan bahwa jika tujuan kongregasi bertentangan dengan tujuan Gereja maka para murid Tuhan harus lebih mengutamakan tujuan Gereja.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]