Keraton Agung Sejagat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Keraton Agung Sejagat
ꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦲꦒꦸꦁꦱꦗꦒꦢ꧀
Terletak diDesa Pogung Juru Tengah, Bayan, Kabupaten Purworejo
Dibuat olehR. Toto Santoso
TipeKerajaan
PenguasaRaja
Populasi450–500 jiwa
Berdiri31 Februari 2018
Dibubarkan15 Januari 2020 (oleh Kepolisian Republik Indonesia)
RajaR. Toto Santoso
PermaisuriFanni Aminadia

Keraton Agung Sejagat (bahasa Jawa: ꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦲꦒꦸꦁꦱꦗꦒꦢ꧀, translit. Karaton Agung Sajagad) adalah sebuah negara fiktif yang dimulai dengan munculnya sebuah gerakan kultural mistis yang berpusat di Desa Pogung Juru Tengah, Bayan, Kabupaten Purworejo. Gerakan ini didirikan oleh R. Toto Santoso[1] (nama sebenarnya dalam KTP, sebelumnya disebut sebagai Totok Santoso Hadiningrat) bersama Fanni Aminadia (bergelar Dyah Gitarja) pada tahun 2018 dan memiliki anggota sekitar 450 orang.[2] Gerakan ini menjadi terkenal ketika para pengikut dari Santoso melakukan acara wilujengan pada tanggal 12 Januari 2020. Ketika itu, para warga menjadi resah dengan adanya acara dari kegiatan tersebut. Gerakan yang awalnya masih tertutup ini menjadi terkenal ketika para warga desa merekam kegiatan wilujengan tersebut dan menyebarkannya di dunia maya.

Kronologi kejadian[sunting | sunting sumber]

Pendirian[sunting | sunting sumber]

Toto Santoso mendapat wangsit (amanah/perintah dalam bentuk mimpi) untuk mendirikan sebuah kerajaan yang mewarisi kekuasaan Majapahit pada tahun 2018. Gerakan ini mendasarkan pada perjanjian pengalihan kekuasaan oleh Dyah Ranawijaya yang tak lain adalah raja dari kerajaan Majapahit yang melepaskan kekuasannya kepada Portugis pada tahun 1518 Masehi dengan syarat, Portugis harus mengembalikan kekuasaan tersebut 500 tahun kemudian.[3] Karena hal itu, tahun 2018 dianggap oleh Santoso sebagai momentum yang tepat untuk mendirikan kembali "Majapahit" baru dengan nama "Keraton Agung Sejagat". Tak lama setelah gerakan itu didirikan, banyak orang yang berasal dari luar kota Purworejo untuk tertarik mengikuti gerakan ini. Menurut para ahli, banyaknya anggota gerakan semacam ini adalah wajar mengingat tersebarnya mitos ramalan Jayabaya mengenai kedatangan Ratu Adil atau Satria Piningit sebagai penyelamat dunia yang sudah mengalami kerusakan.[4]

Beberapa Imajinasi[sunting | sunting sumber]

Santoso mengklaim bahwa Pentagon di Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai "milik Keraton Agung Sejagat". Keraton Agung Sejagat juga mengklaim bahwa seluruh negara yang ada di dunia ini berada di bawah kekuasan Keraton Agung Sejagat. Bagi Santoso, PBB dianggap sebagai parlemen, Mahkamah Internasional merupakan kekuasaan kehakiman Keraton Agung Sejagat, dan Pentagon adalah Dewan Keamanan Keraton Agung Sejagat.[5][6]

Kasus dan pembubaran[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 15 Januari 2020, para pengikut gerakan ini mengadakan acara Wilujengan dan Kirab budaya di Desa Pogung Juru Tengah, Bayan, Kabupaten Purworejo. Acara tersebut menimbulkan keresahan warga desa sehingga banyak dari mereka yang melaporkan hal itu kepada pihak kepolisian. Tak lama selepas itu, polisi mendatangi tempat acara Wilujengan tersebut pada tanggal 13 Januari 2020 untuk melakukan klarifikasi dan mencari data tentang gerakan tersebut. Hingga pada akhirnya, Toto Santoso dan Dyah Gitarja ditangkap paksa pada tanggal 14 Januari oleh Ditreskrimum Polda Jawa Tengah di Kulonprogo, Yogyakarta. Toto Santoso dan Dyah Gitarja pun kemudian dibawa ke Semarang dan ditetapkan menjadi tersangka penipuan pada hari Rabu, 15 Januari 2020.[7]

Tanggapan[sunting | sunting sumber]

Dari keluarga Kesultanan Yogyakarta[sunting | sunting sumber]

Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Hamengkubuwana X, hanya menanggapi "kerajaan palsu" ini dengan tertawa seraya berkata: "Lho, saya kan tidak tahu."[8] Sementara itu, adik Hamengkubuwana X, Prabukusuma, menanggapi polemik ini seraya menjelaskan syarat membentuk sebuah "kerajaan" dalam suatu wilayah. Baginya, syarat untuk bisa membentuk sebuah kerajaan ada tiga yaitu keraton (jika diperintah oleh sultan, sunan, adipati), kepala suku (untuk sistem pemerintahan kesukuan di luar Jawa), serta trah (garis keturunan).[9]

Dari sejarawan[sunting | sunting sumber]

Sejumlah sejarawan menganggap bahwa klaim Keraton Agung Sejagat sangat tidak valid. Bondan Kanumoyoso, sejarawan dari Universitas Indonesia, mengatakan pada awak media Kompas bahwa runtuhnya kerajaan Majapahit adalah sengkalan berbunyi: "Sirna ilang kertaning bumi" yang berarti 1400 Saka atau sekitar 1478 Masehi.[10] Pram Prasetya, asisten III Sekretaris Daerah Purworejo menyatakan ada klaim sejarah yang "salah disampaikan oleh tersangka. Tidak ada fakta sejarah yang membahas mengenai perjanjian Majapahit dengan Portugis pada 1518."[6]

Dari FSKN[sunting | sunting sumber]

PRA Arief Natadiningrat, Sultan Sepuh Cirebon, juga Ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara, sangat menyesalkan keberadaan Keraton Agung Sejagat. Menurutnya, berdirinya Keraton Agung Sejagat dianggap mencoreng nama baik keraton Nusantara, seraya berkata: "Hari [be]gini masih ada keraton?" Padahal, menurut Natadiningrat, keraton-keraton bersejarah Indonesia masih terus berjuang agar tidak punah ditelan zaman, peradaban, dan modernisasi. Natadiningrat juga mengakui bahwa salah satu elemen penting keraton adalah "magersari": mereka adalah masyarakat yang tinggal dan dibina oleh keraton.[11][12]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Toto Santoso Raja Keraton Agung Sejagat Ternyata Ber-KTP Jakarta". Indopolitika.com. 2020-01-16. Diakses tanggal 18 Januari 2020. 
  2. ^ "Keraton Agung Sejagat, Antara Cuan dan Mitos Ratu Adil". nasional. Diakses tanggal 17Januari 2020. 
  3. ^ JawaPos.com (2020-01-13). "Geger Keraton Agung Sejagat, Begini Kata Polres Purworejo". JawaPos.com. Diakses tanggal 17 Januari 2020. 
  4. ^ Alaidrus, Fadiyah. "Mengapa Ada yang Terpikat Keraton Agung Sejagat?". tirto.id. Diakses tanggal 2020-03-15. 
  5. ^ hitekno.com (2020-01-13). "Totok Santosa, Pendiri Kerajaan Agung Sejagat Klaim Pentagon Miliknya". hitekno.com. Diakses tanggal 18 Januari 2020. 
  6. ^ a b Okezone (2020-01-17). "Bantah Klaim Keraton Agung Sejagat, Pemkab Gandeng Sejarawan & Budayawan : Okezone News". Okezone.com. Diakses tanggal 18 Januari 2020. 
  7. ^ JawaPos.com (2020-01-16). ""Raja" dan "Ratu" Agung Sejagat Tawarkan Jabatan Menteri sampai Lurah". JawaPos.com. Diakses tanggal 17 Januari 2020. 
  8. ^ S, Jauh Hari Wawan. "Sultan Yogya Tertawa Dengar Keraton Agung Sejagat di Purworejo". detiknews. Diakses tanggal 18 Januari 2020. 
  9. ^ "Kemunculan Keraton Agung Sejagat, Adik Sultan Hamengkubuwono X: Pemerintah Harus Buat 3 Kriteria". Tribunnews.com. Diakses tanggal 18 Januari 2020. 
  10. ^ Media, Kompas Cyber. "Viral Keraton Agung Sejagat, Sejarawan Bantah Klaim Penerus Majapahit Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 18 Januari 2020. 
  11. ^ Antara. "Forum Keraton Kaget Ada Nama Keraton Agung Sejagat". tirto.id. Diakses tanggal 18 Januari 2020. 
  12. ^ Media, Kompas Cyber. "Ketua FSKN: Keraton Agung Sejagat Rusak Nama Baik Keraton Se-Nusantara Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 18 Januari 2020.