Kerajaan Tidung kuno

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kerajaan Tidung kuno
Tarakan.png
Wilayah kerajaan Tidung, Kalimantan Timur
Berdiri 1076-1551
Didahului oleh tidak diketahui
Digantikan oleh Kerajaan Tidung
Ibu kota Kota Tarakan
Bahasa Tidung
Agama Hindu, Islam
Pemerintahan
-Raja pertama
-Raja terakhir
Monarki
.........
.........
Sejarah
-Didirikan
-Zaman kejayaan
-Krisis suksesi

1076
1076-1551
1551

Kerajaan Tidung Kuno (bahasa Inggris: The Ancient Kingdom of Tidung) adalah pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Raja[siapa?], di mana pusat pemerintahan selalu berpindah-pindah dengan wilayah yang sangat kecil/kampung.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan silsilah yang ada, bahwa di pesisir timur pulau Tarakan yakni, di kawasan Binalatung, sudah ada Kerajaan Tidung kuno, kira-kira tahun 1076-1156. Kemudian berpindah ke pesisir barat pulau Tarakan yakni, di kawasan Tanjung Batu, kira-kira pada tahun 1156-1216. Lalu bergeser lagi, tetapi tetap di pesisir barat, yakni ke kawasan sungai Bidang, kira-kira pada tahun 1216-1394. Setelah itu berpindah lagi, yang relatif jauh dari pulau Tarakan yakni, ke kawasan Pimping bagian barat dan kawasan Tanah Kuning, yakni sekitar tahun 1394-1557.

Riwayat tentang kerajaan maupun pemimpin (Raja) yang pernah memerintah di kalangan suku Tidung terbagi dari beberapa tempat yang sekarang sudah terpisah menjadi beberapa daerah Kabupaten antara lain Kabupaten Bulungan (Kecamatan Tanjung Palas, Desa Salimbatu), Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Nunukan (Kecamatan Sembakung), Kota Tarakan, dan lain-lain hingga ke daerah Sabah (Malaysia) bagian selatan.

Dari riwayat-riwayat yang terdapat di kalangan suku Tidung tentang kerajaan yang pernah ada dan dapat dikatakan yang paling tua di antara riwayat lainnya yaitu dari Menjelutung di Sungai Sesayap dengan rajanya yang terakhir bernama Benayuk. Berakhirnya zaman kerajaan Menjelutung dikarenakan kerajaan tersebut ditimpa malapetaka berupa hujan ribut dan angin topan yang sangat dahsyat, sehingga mengakibatkan perkampungan setempat runtuh dan berikut warganya tenggelam ke dalam sungai. Peristiwa tersebut di kalangan suku Tidung disebut Gasab yang kemudian menimbulkan berbagai mitos tentang Benayuk dari Menjelutung.

Dari beberapa sumber didapatkan riwayat tentang masa pemerintahan Benayuk yang berlangsung sekitar 35 musim. Perhitungan musim tersebut adalah berdasarkan hitungan hari bulan (purnama) yang dalam semusim terdapat 12 purnama. Dari itu maka hitungan musim dapat disamakan +kurang lebih dengan tahun Hijriah. Apabila dirangkaikan dengan riwayat tentang beberapa tokoh pemimpin (Raja) yang dapat diketahui lama masa pemerintahan dan keterkaitannya dengan Benayuk, maka diperkirakan tragedi di Menjelutung tersebut terjadi pada sekitaran awal abad XI.

Kelompok-kelompok suku Tidung pada zaman kerajaan Menjelutung belumlah seperti apa yang terdapat sekarang ini, sebagaimana diketahui bahwa dikalangan suku Tidung yang ada di Kalimantan timur sekarang terdapat 4 (empat) kelompok dialek bahasa Tidung, yaitu :

  • Dialek bahasa Tidung Malinau
  • Dialek bahasa Tidung Sembakung.
  • Dialek bahasa Tidung Sesayap.
  • Dialek bahasa Tidung Tarakan, biasa disebut Tidung Tengara, yang kebanyakan bermukim di daerah air asin.

Dari adanya beberapa dialek bahasa Tidung yang merupakan kelompok komunitas berikut lingkungan sosial budayanya masing-masing, maka tentulah dari kelompok-kelompok dimaksud memiliki pemimpin masing-masing. Sebagaimana diriwayatkan kemudian bahwa setelah kerajaan Benayuk di Menjelutung runtuh maka anak keturunan beserta warga yang selamat berpindah dan menyebar kemudian membangun pemukiman baru. Salah seorang dari keturunan Benayuk yang bernama Kayam selaku pemimpin dari pemukiman di Linuang Kayam (Kampung si Kayam) yang merupakan cikal bakal dari pemimpin (raja-raja) di Pulau Mandul, Sembakung dan Lumbis.

Raja-raja dari Kerajaan Tidung Kuno[sunting | sunting sumber]

  • Benayuk dari sungai Sesayap, Menjelutung
  • Yamus (Si Amus) (Masa Pemerintahan ± 44 Musim)

Selang 15 (lima belas) musim setelah Menjelutung runtuh seorang keturunan Benayuk yang bernama Yamus (Si Amus) yang bermukim di Liyu Maye mengangkat diri sebagai raja yang kemudian memindahkan pusat pemukiman ke Binalatung (Tarakan). Yamus memerintah selama 44 (empat puluh empat) musim, setelah wafat Yamus digantikan oleh salah seorang cucunya yang bernama Ibugang (Aki Bugang).

  • Ibugang (Aki Bugang)

Ibugang beristrikan Ilawang (Adu Lawang) beranak tiga orang. Dari ketiga anak ini hanya seorang yang tetap tinggal di Binalatung yaitu bernama Itara, yang satu ke Betayau dan yang satu lagi ke Penagar.