Kembang sore

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kembang sore
Bō-á-tún ê hoe.jpg
Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
(tanpa takson): Angiospermae
(tanpa takson): Eudikotil
(tanpa takson): Rosidae
Ordo: Malvales
Famili: Malvaceae
Genus: Abutilon
Spesies: A. indicum
Nama binomial
Abutilon indicum
(Johann Heinrich Friedrich Link) Robert Sweet[1]
Sinonim

Sida indica L.

Kembang sore (Abutilon indicum) adalah jenis perdu obat-obatan dari famili Malvaceae yang tumbuh pada daerah beriklim tropis dengan suhu hangat.[2][3] Kembang sore memiliki bunga dengan mahkota bunga berwarna kuning atau jingga pucat.[3][4] Seluruh bagian tumbuhan menahun tersebut dapat digunakan sebagai obat-obatan.[5]

Ciri-ciri umum[sunting | sunting sumber]

Kembang sore merupakan perdu tegak yang seluruh permukaannya, termasuk buahnya, diselimuti oleh rambut halus.[6] Kembang sore dapat tumbuh hingga mencapai 3 meter dengan usia yang panjang.[5] Pangkal tumbuhan tergolong berkayu dan memiliki ranting-ranting yang rapat.[5] Daunnya berbentuk jantung dengan letak yang berselang-seling, tepi bergerigi, tulang daun menjari, dan ujung yang runcing.[5] Bunga dari tanaman kembang sore termasuk bunga tunggal dengan lima helai mahkota bunga berwarna kuning atau jingga pucat dan umumnya berdiameter antara 2 sampai 2,5 sentimeter.[5] Bagian terakhir dan terpenting dalam reproduksi tanaman kembang sore adalah buahnya yang berbentuk seperti bola yang tertekan.[5] Setiap buah dari tanaman kembang sore terdiri dari 15-20 celah yang berisi 3-5 biji berbentuk ginjal dan berwarna cokelat gelap atau hitam.[5][6]

Manfaat[sunting | sunting sumber]

Pada masa 1000 SM, ekstrak tanaman kembang sore digunakan dalam pengobatan demam dan rematik.[7] Kemudian pada masa selanjutnya, seluruh bagian tanaman kembang sore juga dimanfaatkan dalam Ayurweda, pengobatan tradisional Hindu, dan Unani, pengobatan tradisional Yunani, sebagai obat untuk membantu pembekuan darah, melancarkan buang air kecil, mengobati epilepsi, mencegah peradangan, dan pengobatan lainnya.[3][7] Meskipun daun tanaman kembang sore mangandung getah, daunnya tetap digunakan untuk menghentikan pendarahan, mengobati sakit kepala, demam, dan sifilis dengan cara diolah sebelumnya.[7] Air rebusan daun juga digunakan untuk berkumur bagi penderita gigi berlubang atau peradangan gusi dan pembersih luka.[7] Bagian lain yang bermanfaat adalah bunganya yang dihaluskan untuk mengobati batuk, akarnya yang digunakan untuk pereda demam dan mengobati penyakit pada saluran kemih, dan bijinya yang digunakan untuk mengobati impotensi dan ejakulasi dini.[3][7]

Dalam pengobatan tradisional barat, kembang sore sering dimanfaatkan untuk mencegah penyakit pada sistem pernapasan dan sistem urin.[7] Air rebusan dari akar kembang sore digunakan untuk mengobati bronkitis dan penyakit pernapasan lainnya, sementara getahnya dioleskan pada kulit untuk mengobati penyakit kulit.[7]

Saat ini pemanfaatan kembang sore telah berkembang, sehingga kembang sore juga dimanfaatkan untuk mengobati wasir, gondongan, sembelit, serta membasmi cacing kremi di dalam tubuh.[5][8] Satu hal yang perlu diperhatikan adalah wanita yang sedang hamil tidak disarankan untuk mengkonsumsi kembang sore.[5][8]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Inggris)"Abutilon indicum". Pacific Island Ecosystems at Risk. Diakses tanggal 2008-06-18. 
  2. ^ (Inggris)United States Department of Agriculture (ed.). "Classification". Natural Resources Conservation Service. Diakses tanggal 12-05-2014. 
  3. ^ a b c d (Inggris)Quattrocchi, Umberto (2012). CRC World Dictionary of Medicinal and Poisonous Plants: Common Names, Scientific Names, Eponyms, Synonyms, and Etymology. Boca Raton, Florida: CRC Press. hlm. 13–14. doi:10.1201/b16504. ISBN 978-1-4200-8044-5. 
  4. ^ Heatwole, Harold; Done, Terence; Cameron, Elizabeth (1981). Community Ecology of a Coral Cay: A Study of One-Tree Island, Great Barrier Reef, Australia. Dordrecht: Springer Netherlands. hlm. 87–88. doi:10.1002/iroh.3510680616. ISBN 90-6193-096-0. 
  5. ^ a b c d e f g h i (Indonesia)Redaksi AgroMedia (2008). Buku Pintar Tanaman Obat: 431 Jenis Tanaman Penggempur Aneka Penyakit. Jakarta: PT Agromedia Pustaka. hlm. 137. ISBN 979-006-194-3. 
  6. ^ a b (Inggris)Joshi, Kamal Krishna; Joshi, Sanu Devi . 2006 . Medicinal and Aromatic Plants Used in Nepal, Tibet and Trans-Himalayan Region . Author House . ISBN 1-4208-6584-6
  7. ^ a b c d e f g Khare, C. P. . 2004 . Indian Herbal Remedies: Rational Western Therapy, Ayurvedic and Other Traditional Usage, Botany . Springer-Verlag Berlin Heidelberg . ISBN 3-540-01026-2
  8. ^ a b Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma . 2008 . Ramuan Lengkap Herbal Taklukkan Penyakit . Pustaka Bunda . ISBN 978-979-1481-52-6