Hidrosfer

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Hidrosfer adalah lapisan air yang ada di permukaan bumi. Pembentukan hidrosfer berasal dari berbagai sumber air yang ada di bumi.[1] Kata hidrosfer berasal dari kata bahasa Inggris hydrosphere; hydro berarti air dan sphere berarti bulatan atau lingkup. Jadi, hidrosfer merupakan lapisan air yang menyelimuti bumi Hidrosfer di permukaan bumi meliputi danau, sungai, laut, lautan, salju atau gletser, air tanah dan uap air yang terdapat di lapisan udara.

Siklus hidrologi[sunting | sunting sumber]

Watercyclebahasaindonesiahigh.jpg

Siklus hidrologi adalah suatu proses peredaran atau daur ulang air secara berurutan dan terjadi terus-menerus. Pemanasan sinar matahari menjadi pengaruh pada siklus hidrologi. Air di seluruh permukaan bumi akan menguap bila terkena sinar matahari. Pada ketinggian tertentu ketika temperatur semakin turun uap air akan mengalami kondensasi dan berubah menjadi titik-titik air dan jatuh sebagai hujan.

Siklus hidrologi dibedakan menjadi tiga, yaitu siklus pendek, siklus sedang dan siklus panjang.

SiklusPendek[sunting | sunting sumber]

Pada siklus pendek,air laut yang terkena panas matahari menguap menjadi gas sehingga mengalami kondensasi sebelum sampai ke daratan dan membentuk awan,sehingga terjadi hujan di permukaan laut

Siklus sedang[sunting | sunting sumber]

Pada siklus sedang, uap air yang berasal dari lautan ditiup oleh angin menuju ke daratan. Di daratan uap air membentuk awan yang akhirnya jatuh sebagai hujan di atas daratan. Air hujan tersebut akan mengalir melalui sungai-sungai, selokan dan sebagainya hingga kembali lagi ke laut...

Siklus panjang[sunting | sunting sumber]

Pada siklus panjang, uap air yang berasal dari lautan ditiup oleh angin ke atas daratan. Adanya pendinginan yang mencapai titik beku pada ketinggian tertentu, membuat terbentuknya awan yang mengandung kristal es. Awan tersebut menurunkan hujan es atau salju di pegunungan. Di permukaan bumi es mengalir dalam bentuk gletser, masuk ke sungai dan selanjutnya kembali ke lautan.

Hidrosfer di muka bumi selanjutnya akan dikelompokkan menjadi dua, yaitu perairan darat dan perairan laut.


Proses Terjadinya Siklus Hidrologi

Untuk  membentuk suatu siklus hidrologi tersebut terdapat beberapa proses yang terjadi di dalamnya antara lain evaporasi, transpirasi, sublimasi, intersepsi, kondensi, adveksi, presipitasi, run off, dan infliltrasi.

  1. Evaporasi , adalah proses penguapan air dari tubuh-tubuh air, seperti laut, danau, dan sungai akibat pemanasan sinar matahari. Air yang menguap karena panas matahari tersebut akan naik dan nantinya menjadi awan. Pada dasarnya, semakin tinggi suhu matahari terutama pada musim kemarau maka semakin banyak juga air yang menjadi uap.
  2. Traspirasi , adalah proses penguapan air dari tanaman melalui stomata atau mulut daun.
  3. Sublimasi, adalah proses penguapan yang terjadi pada es tanpa melalui proses pencairan.
  4. Intersepsi, adalah proses tertahannya air hujan pada tanaman untuk kemudian terevaporasi kembali ke atmosfer.
  5. Kondensasi,
  6. Kondensasi, proses siklus hidrologi yang satu ini menampakkan perubahan wujud uap air menjadi titik-titik air di atmosfer, sehingga terbentuklah awan. Proses ini terjadi karena pengaruh rendahnya suhu udara di ketinggian atmosfer tertentu.
  7. Adveksi, adalah proses pergerakan butiran air (dalam bentuk awan) secara horizontal dari satu tempat ke tempat lain. Proses ini terjadi karena pengaruh angin.
  8. Presipitasi, adalah proses turunnya air ke permukaan bumi dalam bentuk hujan. Jika presipitasi terjadi di daerah yang bersuhu rendah, maka presipitasi akan menghasilkan hujan salju.
  9. Run off, adalah pergerakan air hujan dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah yang terjadi di permukaan bumi.
  10. infiltrasi, adalah proses peresapan air ke dalam tanah melalui pori-pori tanah. Akibat proses ini, air hujan dapat tersimpan menjadi air tanah. Air tanah ini secara lambat akan mengalir kembali ke laut.

Perairan di daratan[sunting | sunting sumber]

Perairan di daratan tergolong sebagai perairan tawar, yaitu semua perairan yang melintasi daratan. Air di daratan meliputi air tanah dan air permukaan.

Air tanah[sunting | sunting sumber]

Air tanah adalah air yang terdapat di dalam tanah. Air tanah berasal dari salju, hujan atau bentuk curahan lain yang meresap ke dalam tanah dan tertampung pada lapisan kedap air.

Air tanah dangkal[sunting | sunting sumber]

Air freatis adalah air tanah yang terletak di atas lapisan kedap air tidak jauh dari permukaan tanah.

Air freatis sangat dipengaruhi oleh resapan air di sekelilingnya. Pada musim kemarau jumlah air freatis berkurang. Sebaliknya pada musim hujan jumlah air freatis akan bertambah. Air freatis dapat diambil melalui sumur atau mata air.

Air tanah dalam[sunting | sunting sumber]

Air artesis adalah air tanah yang terletak jauh di dalam tanah, di antara dua lapisan kedap air.

Lapisan di antara dua lapisan kedap air tersebut disebut lapisan akuifer. Lapisan tersebut banyak menampung air. Jika lapisan kedap air retak, secara alami air akan keluar ke permukaan. Air yang memancar ke permukaan disebut mata air artesis. Air artesis dapat diperoleh melalui pengeboran. Sumur pengeborannya disebut sumur artesis...

Air permukaan[sunting | sunting sumber]

Air permukaan adalah wadah air yang terdapat di permukaan bumi. Bentuk air permukaan meliputi sungai, danau, rawa.

Sungai[sunting | sunting sumber]

Sungai adalah air hujan atau mata air yang mengalir secara alami melalui suatu lembah atau di antara dua tepian dengan batas jelas, menuju tempat lebih rendah (laut, danau atau sungai lain). Sungai merupakan tempat mengalirnya air secara gravitasi menuju ke tempat yang lebih rendah, Sungai juga merupakan salah satu wadah tempat berkumpulnya air dari suatu kawasan. Apabila aktivitas manusia yang berada di sekitar aliran sungai tidak diimbangi dengan kesadaran melestarikan lingkungan sungai, maka kualitas air sungai akan buruk. Tetapi jika sebaliknya aktivitas manusia diimbangi oleh kesadaran menjaga lingkungan sungai, maka kualitas air sungai akan relatif baik.[2]

Bagian-bagian sungai[sunting | sunting sumber]

Sungai terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian hulu, bagian tengah dan bagian hilir.

  • Bagian hulu sungai terletak di daerah yang relatif tinggi sehingga air dapat mengalir turun.
  • Bagian tengah sungai terletak pada daerah yang lebih landai.
  • Bagian hilir sungai terletak di daerah landai dan sudah mendekati muara sungai.
  • Muara yaitu tempat berakhirnya aliran sungai di laut, danau, atau sungai lain; sungai yang dekat dengan laut;
Jenis-jenis sungai[sunting | sunting sumber]

Jenis-jenis sungai dibagi menjadi 5, yaitu sungai hujan, sungai gletser, sungai campuran, sungai permanen dan sungai periodik.

  • Sungai hujan adalah sungai yang berasal dari hujan.
  • Sungai gletser adalah

sungai yang airnya berasal dari gletser atau bongkahan es yang mencair.

  • Sungai campuran adalah sungai yang airnya berasal dari hujan dan salju yang mencair.
  • Sungai permanen adalah sungai yang airnya relatif tetap.
  • Sungai periodik adalah sungai dengan volume air tidak tetap.

Danau[sunting | sunting sumber]

Danau merupakan salah satu bentuk ekosistem yang menempati suatu wilayah yang relatif kecil pada permukaan bumi. Wilayah yang ditempati suatu danau lebih kecil dibandingkan dengan laut dan daratan. Danau memberikan dampak yang positif bagi masyarakat yang tinggal di sekitaran wilayah danau.[3] Danau adalah tubuh air dalam jumlah besar yang menempati basin di wilayah daratan. Suatu genangan dapat disebut danau jika memiliki tiga kriteria sebagai berikut.

  • Mempunyai permukaan air yang cukup luas untuk mampu menimbulkan gelombang.
  • Air cukup dalam sehingga terdapat strata suhu pada kedalaman air.
  • Vegetasi yang mengapung tidak cukup untuk menutupi seluruh permukaan danau.
Jenis-jenis danau[sunting | sunting sumber]

Terdapat 8 jenis danau, yaitu danau glasial, danau vulkanik, danau tektonik, danau tekto-vulkanik, danau kurst, danau aliran, danau laguna, dan danau buatan.

  • Danau glasial adalah danau yang terjadi karena akibat adanya erosi dan pengendapan yang diakibatkan aktivitas gletser di lereng-lereng bukit atau pegunungan.
  • Danau vulkanik adalah danau yang terbentuk karena aktivitas vulkanik. Kaldera yang terbentuk tergenang oleh air hujan sehingga terbentuklah danau.
  • Danau tektonik adalah danau yang terbentuk karena pergeseran lempeng tektonik. Pergerakan lempeng tektonik akan membentuk lembah yang kemudian terisi oleh air hujan.
  • Danau tekto-vulkanik adalah danau yang terbentuk karena adanya aktivitas tektonik yang memacu kegiatan vulkanik sehingga patahan dan gunung berapi. Bekas gunung tersebut akan membentuk basin yang terisi air hujan.
  • Danau karst adalah danau yang terbentuk karena pelarutan kapur oleh air yang membentuk basin.
  • Danau aliran adalah danau yang terbentuk karena pemotongan muara sungai akibat sedimentasi.
  • Danau laguna adalah danau yang terbentuk karena kombinasi kerja antara angin dan ombak yang menyebabkan terjadinya tanggul pasir di sepanjang pantai dan membentuk sebuah laguna.
  • Danau buatan (waduk) adalah danau yang terbentuk karena pembendungan air sungai oleh manusia.
Manfaat Danau[sunting | sunting sumber]

Danau sebagai penampungan air mempunyai banyak manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Manfaat danau di antara lain sebagai berikut.

  • Danau sebagai pembangkit listrik.
  • Danau sebagai tempat rekreasi
  • Danau sebagai tempat perikanan darat.
  • Danau sebagai pengendali banjir.

Keterkaitan dengan bidang ilmu lain[sunting | sunting sumber]

Hidrosfer menjadi salah satu objek material geografi. Ruang lingkup kajiannya berkaitan dengan bentang alam perairan.[4] Secara khusus, hidrosfer menjadi salah satu kajian dalam geografi fisik dengan menggunakan hidrologi sebagai ilmu penunjangnya.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Nurdiana (2016). Ilmu Alamiah Dasar. Lombok: Pustaka Lombok. hlm. 53. ISBN 978-602-70165-5-2. Lebih dari 70% permukaan Bumi ditutupi oleh air, (...) dan sumber air lainnya yang bersumbangsih terhadap pembentukan hidrosfer. 
  2. ^ Yogafani (2015). "Pengaruh Aktifitas Warga di Sempadan Sungai terhadap Kualitas Air Sungai Winongo" (PDF). Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan. 7 (1): 42. 
  3. ^ Asnil, dkk. (2013). "Analisis Kebijakan Pemanfaatan Sumberdaya Danau Yang Berkelanjutan (Studi Kasus Danau Maninjau Sumatra Barat)" (PDF). Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. 3 (1): 1. 
  4. ^ Sumantri, dkk. 2019, hlm. 61.
  5. ^ Sumantri, dkk. 2019, hlm. 21.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  1. Sumantri, dkk. (2019). Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System) Kerentanan Bencana (PDF). Jakarta: CV. Makmur Cahaya Ilmu. ISBN 978-602-53845-8-5.