Hari Santri Nasional

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Hari Santri Nasional (HSN) jatuh pada tanggal 22 Oktober setiap tahunnya. Peringatan[1] ini, ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 22 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta. Penetapan Hari Santri Nasional dimaksudkan untuk mengingat dan meneladani semangat jihad para santri merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang digelorakan para ulama. Tanggal 22 Oktober merujuk pada satu peristiwa bersejarah yakni seruan yang dibacakan oleh Pahlawan Nasional KH. Hasjim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Seruan ini berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan. Sekutu ini maksudnya adalah Inggris sebagai pemenang Perang Dunia II untuk mengambil alih tanah jajahan Jepang. Di belakang tentara Inggris, rupanya ada pasukan Belanda yang ikut membonceng.

Aspek lain yang melatarbelakangi penetapan HSN ini adalah pengakuan resmi pemerintah Republik Indonesia atas peran besar umat Islam dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan serta menjaga NKRI. Ini sekaligus merevisi beberapa catatan sejarah nasional, terutama yang ditulis pada masa Orde Baru, yang hampir tidak pernah menyebut peran ulama dan kaum santri.[2][3][4]

Rangkaian kegiatan[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Hari Santri Nasional Pangkalpinang 2022". 2022-10-23. Diakses tanggal 2022-10-23. 
  2. ^ "Apa itu Hari Santri? Ini loh Alasan Kenapa Harus diperingati". Islami. Diakses tanggal 15 Maret 2019. 
  3. ^ "Sejarah Hari Santri Nasional Diperingati 22 Oktober, Ternyata Berkaitan dengan Kemerdekaan Indonesia". Tribunnews.com. Diakses tanggal 15 Maret 2019. 
  4. ^ Pratama, Aswab Nanda. Galih, Bayu, ed. "Resolusi Jihad, Makna di Balik Penetapan Hari Santri Nasional". Kompas.com. Diakses tanggal 15 Maret 2019. 
  5. ^ "Surakarta Jadi Tuan Rumah Liga Santri Nusantara 2018". NU. Diakses tanggal 15 Maret 2019.