Kencing nanah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Gonore)
Gonore
Gonococcal lesion on the skin PHIL 2038 lores.jpg
Lesi gonokokal pada kulit
Informasi umum
Nama lainGonore, infeksi gonokokal, uretritis gonokokal, kencing nanah
Pelafalan
SpesialisasiPenyakit menular
PenyebabNeisseria gonorrhoeae biasanya merupakan infeksi menular seksual[1]
Aspek klinis
Gejala dan tandaTidak ada, rasa terbakar saat buang air kecil, keputihan, keluarnya cairan dari penis, nyeri panggul, nyeri testis[1]
KomplikasiPenyakit radang panggul, radang epididimis, arthritis septik, endokarditis[1][2]
DiagnosisMenguji urin, uretra pada pria, atau serviks pada wanita[1]
Tata laksana
PencegahanJaswadi, berhubungan seks hanya dengan satu orang yang tidak terinfeksi, tidak berhubungan seks[1][3]
PerawatanCeftriaxone dengan injeksi, azithromycin via oral[4][5]
Prevalensi0.8% (perempuan), 0.6% (laki-laki)[6]

Gonore atau kencing nanah adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae.[1] Infeksi gonore biasanya menyerang alat kelamin, mulut, atau rektum..[7] Pria yang terinfeksi sering kali mengalami gejala berupa rasa sakit atau terbakar saat buang air kecil, keluarnya cairan dari penis, atau nyeri testis.[1] Wanita yang terinfeksi biasanya mengalami rasa terbakar saat buang air kecil, keputihan, pendarahan vagina di antara periode menstruasi, atau nyeri panggul.[1] Komplikasi pada wanita adalah penyakit radang panggul dan pada pria bisa mengakibatkan radang epididimis.[1] Namun, banyak dari mereka yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala.[1] Jika tidak diobati, gonore dapat menyebar ke sendi atau katup jantung.[1][2]

Gonore menyebar melalui kontak seksual dengan orang yang terinfeksi.[1] Media penularannya termasuk seks oral, seks anal, dan vaginal.[1] Penyakit ini juga dapat menyebar dari ibu ke anak selama kelahiran.[1] Diagnosisnya melibatkan menguji urin (uretra pada pria, atau serviks pada wanita).[1] Semua wanita yang aktif secara seksual dan berusia kurang dari 25 serta mereka yang memiliki pasangan seksual baru direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan rutin setiap tahun;[3] rekomendasi yang sama berlaku pada pria yang berhubungan seks dengan pria.[3]

Gonore dapat dicegah dengan penggunaan kondom, berhubungan seks hanya dengan satu orang yang tidak terinfeksi, atau dengan tidak berhubungan seks sama sekali.[1][3] Pengobatan biasanya dilakukan dengan ceftriaxone melalui suntikan dan azitromisin melalui mulut.[4][5] Resistensi telah berkembang terhadap banyak antibiotik yang digunakan sebelumnya dan dosis ceftriaxone yang lebih tinggi kadang-kadang diperlukan.[4][5] Pemeriksaan ulang dianjurkan tiga bulan setelah perawatan.[3] Pasangan seksual pasien dalam dua bulan terakhir juga harus diperiksa dan menjalani perawatan.[1]

Epidemiologi[sunting | sunting sumber]

Infeksi ini banyak menyerang orang usia muda, belum menikah, dan pendidikan rendah. Paling banyak terjadi pada perempuan. Gejala infeksi lebih sering timbul pada laki-laki. Infeksi pada anorektal dan faring sering terjadi pada laki-laki yang homoseksual.[8]

Gejala[sunting | sunting sumber]

Keluarnya cairan putih dan lesi pada penis sebagai indikasi gonore
Gonore pada wanita
Bayi terinfeksi gonore

Pada pria, gejala awal gonore biasanya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi. Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra dan beberapa jam kemudian diikuti oleh nyeri ketika berkemih (kencing) serta keluarnya nanah dari penis. Sedangkan pada wanita, gejala awal biasanya timbul dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi. Penderita sering kali tidak merasakan gejala selama beberapa minggu atau bulan, dan diketahui menderita penyakit tersebut hanya setelah pasangan hubungan seksualnya tertular. Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Tetapi beberapa penderita menunjukkan gejala yang berat, seperti desakan untuk berkemih, nyeri ketika berkemih, keluarnya cairan dari vagina, dan demam. Infeksi dapat menyerang leher rahim, rahim, saluran telur, indung telur, uretra, dan rektum serta menyebabkan nyeri pinggul yang dalam ketika berhubungan seksual.

Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubungan seks melalui anus (seks anal) dapat menderita gonore pada rektumnya. Penderita akan merasakan tidak nyaman di sekitar anusnya dan dari rektumnya keluar cairan. Daerah di sekitar anus tampak merah dan kasar, serta tinjanya terbungkus oleh lendir dan nanah.

Hubungan seksual melalui mulut seks oral dengan seorang penderita gonore biasanya akan menyebabkan gonore pada tenggorokan (faringitis gonokokal). Umumnya, infeksi tersebut tidak menimbulkan gejala, namun kadang-kadang menyebabkan nyeri tenggorokan dan gangguan untuk menelan.

Jika cairan yang terinfeksi mengenai mata, maka bisa menyebabkan terjadinya infeksi mata luar (konjungtivitis gonore). Bayi yang baru lahir juga bisa terinfeksi gonore dari ibunya selama proses persalinan sehingga terjadi pembengkakan pada kedua kelopak matanya dan dari matanya keluar nanah. Jika infeksi itu tidak diobati, maka akan menimbulkan kebutaan.

Pemeriksaan laboratorium[sunting | sunting sumber]

  • Pewarnaan gram: hasil positif bila didapatkan gram negative kokus intrasel dalam eksudat sel polimorfonuklear.
  • Kultur: sampel diisolasi di media khusus, contoh media coklat atau Thayer-Martin.
  • Diagnose juga dapat dilakukan berdasarkan tempat pengambilan spesimen. Contohnya laki-laki dari uretra, dan perempuan dari serviks.
  • Pemeriksaan darah: hal ini dilakukan bila pasien juga dicurigai mengalami infeksi HIV.[8]

Manajemen terapi[sunting | sunting sumber]

Terapi awal adalah pemberian antibiotik. Bila keadaan tidak membaik, karena ada beberapa golongan antibiotik yang sudah resisten terhadap gonore yaitu Kuinolon, Penisilin, Tetrasiklin, dan obat-obat golongan sulfa. Bila demikian, disarankan untuk kultur dari spesimen, serta mengganti golongan obat tersebut.[9]

Pencegahan[sunting | sunting sumber]

  • Cara yang paling pasti untuk mencegah penyebaran penyakit menular seksual adalah dengan tidak melakukan hubungan seksual.
  • Berhubungan seks secara monogami, pastikan pasangan tidak terinfeksi.
  • Penggunaan kondom dapat mengurangi risiko penularan penyakit.
  • Pastikan toilet yang digunakan higienis, hindari penggunaan toilet duduk di tempat umum.
  • Segera obati bila ada keluhan seperti di atas.[10]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama CDC2014
  2. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Mor2016
  3. ^ a b c d e Workowski, KA; Bolan, GA (5 June 2015). "Sexually transmitted diseases treatment guidelines, 2015". MMWR. Recommendations and Reports. 64 (RR-03): 1–137. PMC 5885289alt=Dapat diakses gratis. PMID 26042815. 
  4. ^ a b c "Antibiotic-Resistant Gonorrhea Basic Information". CDC. 13 June 2016. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 September 2016. Diakses tanggal 27 August 2016. 
  5. ^ a b c Unemo, M (21 August 2015). "Current and future antimicrobial treatment of gonorrhoea – the rapidly evolving Neisseria gonorrhoeae continues to challenge". BMC Infectious Diseases. 15: 364. doi:10.1186/s12879-015-1029-2. PMC 4546108alt=Dapat diakses gratis. PMID 26293005. 
  6. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama New2012
  7. ^ Leslie Delong; Nancy Burkhart (2017-11-27). General and Oral Pathology for the Dental Hygienist. Wolters Kluwer Health. hlm. 787. ISBN 978-1-4963-5453-2. 
  8. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Fitzpatrick Dermatology
  9. ^ (Inggris) Gonorrhea Treatment, Gonorrhea Treatment. Diakses pada 7 Agustus 2012.
  10. ^ Gonorrhea Prevention, Gonorrhea Prevention. Diakses pada 7 Agustus 2012.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Klasifikasi
Sumber luar