Erwin Yunaz

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
H.
Erwin Yunaz
S.E., M.M.
Erwin Yunaz, 2013.jpg
Wakil Wali Kota Payakumbuh ke-4
Mulai menjabat
23 September 2017
PendahuluSuwandel Muchtar
Informasi pribadi
Lahir21 Oktober 1971 (umur 49)
Bendera Indonesia Payakumbuh, Sumatra Barat
Partai politikIndependen[1]
PasanganHj. Machdalena
HubunganHaswan Yunaz (abang)
AnakAthallah Naufal Zuhdi Yunaz
Alicia Zatilaqmar Yunaz
Mu'ammar Abdillah Yunaz
Orang tuaNazarudin Dt. Sati Nan Balapiah (ayah)
Hajjah Juliana (ibu)
Alma materAkademi Grafika Indonesia
Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Kosgoro
Universitas Dr. Soetomo

H. Erwin Yunaz, S.E., M.M. (lahir di Payakumbuh, Sumatra Barat, 21 Oktober 1971; umur 49 tahun) adalah pengusaha grafis Indonesia.[1] Ia menjabat Wakil Wali Kota Payakumbuh sejak 23 September 2017 setelah berhasil memenangkan Pemilihan umum Wali Kota Payakumbuh 2017. Ia mendampingi wali kota petahana, Riza Falepi.[2]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Erwin Yunaz lahir pada tanggal 21 Oktober 1971 di Kelurahan Nunang, Koto Nan IV, Payakumbuh, Sumatra Barat. Ia berasal dari keluarga sederhana dan bersahaja. Ayahnya Nazarudin Dt. Sati Nan Balapiah (almarhum) seorang tokoh masyarakat dan ninik mamak terkemuka di Payakumbuh. Pernah menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kodya Payakumbuh, ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) serta pernah pula menduduki beberapa posisi di pemerintahan. Ibunya bernama Hajjah Juliana seorang wanita yang berpendidikan. Hajjah Juliana berasal dari Jorong Sawah Padang, Kenagarian Sariek Laweh, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Lima Puluh Kota, berjarak sekitar 15 km dari Kota Payakumbuh. Ayah beliau seorang Wali Nagari bernama Datuak Sudu yang terkenal dengan kecerdasan dan ketauladanannya. Seorang yang berpandangan terbuka terhadap modernisasi namun tetap menjunjung tinggi nilai budaya Minang dan Agama Islam.[3]

Erwin anak ketujuh dari delapan orang bersaudara. Kakak tertua Harmon Yunaz, dengan jabatan terakhir sebagai Direktur di PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) perusahaan BUMN di bidang pengolahan aluminium di Sumatra Utara.[4] Kakak kedua Eny seorang ibu rumah tangga yang sukses mendampingi suami menjadi salah seorang pimpinan di Perumnas, BUMN di bidang perumahan. Kakak ketiga Haswan Yunaz pernah menjabat sebagai Deputi Menko Kesra Republik Indonesia. Kakak keempat Harisman Yunaz pernah menjabat sebagai pimpinan di kantor pusat Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Jakarta. Kakak kelima dan keenam Hasrul Yunas dan Novyan Yunas berwiraswasta di bidang forwarding dan catering di Jakarta. Adik terkecil Im sukses sebagai pengusaha di Kerinci.[3]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Taman Kanak-Kanak dan Sekolah dasar dilalui Erwin di Payakumbuh. Ia bersekolah di SD Negeri 4 Labuah Baru.[5] Sayang Erwin tidak dapat menyelesaikan SD-nya disini karena ketika ia berada di kelas 4 ayahandanya meninggal dunia. Kemudian ia pindah ke Asahan, Sumatra Utara untuk tinggal bersama kakak tertuanya Harmon Yunaz. Di Asahan Erwin berhasil menamatkan SD dan kemudian melanjutkan di SMP Negeri Tanjung Gading, Asahan.[5] Selama tinggal bersama kakaknya, Erwin mendapat pengalaman yang sangat berharga. Menyaksikan bagaimana kakaknya sukses membangun karier mulai dari bawah sampai menduduki pucuk pimpinan perusahan multinasional dengan berbagai fasilitas. Gaji yang besar dan perjalanan dinas ke luar negeri. Waktu itu sangatlah sulit menjadi pimpinan di sebuah perusahaan joint venture yang sebagian besar pimpinannya adalah orang Jepang. Sejak itu Erwin termotivasi untuk meraih sukses dalam karier seperti kakaknya.[3]

Untuk menjaga ibunda tercinta, setelah menamatkan SMP Erwin kembali pulang kampung dan melanjutkan SMA Negeri 3 Payakumbuh sekarang berganti nama menjadi SMA Negeri 2 Payakumbuh yang terkenal dengan sebutan Campus Flamboyant (CAFLA).[3] Ia kembali dapat bertemu dengan teman-teman SD. Selain rajin belajar ia juga aktif di bidang kesiswaan. Ia mendapat banyak teman sekaligus mengasah kemampuannya berorganisasi.[3]

Tahun 1990 ia lulus SMA. Ketika teman-temannya sibuk mencari universitas dan perguruan tinggi untuk melanjutkan pendidikan, justru Erwin memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Menyusul beberapa orang kakaknya untuk mengadu nasib. Begitu sampai ia langsung bekerja membantu usaha kakak ketiganya Haswan Yunaz di bidang percetakan. Dari gaji yang ia kumpulkan kemudian ia berhasil mendaftarkan dirinya untuk berkuliah di Akademi Grafika Indonesia. Ia kuliah sambil bekerja. Selepas kuliah di siang hari ia langsung bekerja banting tulang, sering sampai larut malam. Semangatnya untuk menambah ilmu terus berkobar. Setelah selesai dari Akademi Grafika ia kemudian melanjutkan di Sekolah Tinggi Manajemen Kosgoro Jakarta sampai mencapai meraih gelar S1. Tidak sampai disitu, ia kemudian melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen di Universitas Dr. Soetomo di Surabaya.[3][6]

Kehidupan yang sulit telah memaksa Erwin untuk mengeluarkan segala kemampuannya. Hasilnya ia mempunyai pengetahuan dan keahlian yang mendalam di bidang grafika yang kemudian menjadi senjata andalannya. Itulah yang membuat dirinya berbeda dengan teman-teman sebaya. Ketika ia terjun ke dunia bisnis ia telah mempunyai modal yang tidak dimiliki oleh kebanyakan teman-teman seusianya. Ia memilik ilmu grafis, pengalaman berbisnis, ilmu manajemen serta kemampuan berbahasa Inggris yang dipelajarinya secara otodidak.[3]

Karier[sunting | sunting sumber]

Keahliannya di bidang grafika selama lima tahun telah membukakan jalan bagi Erwin untuk masuk ke pusat industri percetakan kelas dunia. Pada tahun 1998 sebuah perusahaan besar asal Inggris PT Courthauld Packaging Indonesia yang terletak di Surabaya mengajaknya untuk bergabung. Dengan berat hati permintaan itu diterimanya karena sebenarnya ia sudah merasa nyaman dan senang untuk melanjutkan perusahaan kakaknya. Sebagai langkah awal ia menjabat sebagai Print Manager.[5] Kariernya terus menanjak. Dua tahun kemudian ia dipromosikan untuk menduduki jabatan sebagai Commercial Manager.[5] Tugas utamanya adalah untuk menjadi ujung tombak perusahaan karena kemampuan product knowledgenya yang mumpuni. Selain itu ditopang pula oleh kamampuanya berdiplomasi dengan pelanggan dan perusahaan induk di Inggris. Untuk meningkatkan kemampuannya ia pernah beberapa kali di kirim ke Inggris untuk mengikuti seminar dan pelatihan.[3]

Karena keahliannya sebagai seorang ahli grafika semakin dikenal, sehingga telah menarik perhatian sebuah perusahaan percetakan besar asal Swiss di Surabaya yaitu PT. Edward Keller Indonesia. Setelah melalui beberapa pertimbangan, pada tahun tahun 2002 dia akhirnya bergabung dengan perusahaan ini dengan jabatan sebagai Branch Manager Surabaya.[5] Seperti di perusahaan sebelumnya Erwin mampu menunjukkan kemampuannya. Ia berhasil meningkatkan kinerja perusahaan dan membangun komunikasi yang lebih baik dengan kantor pusat dan cabang-cabang lain. Sebagai kompensasi dan penghargaan atas prestasinya itu perusahaan memberikan kesempatan untuk meningkatan keahlian di bidang packaging technology dengan mengikuti program belajar di Ohio, Amerika Serikat selama beberapa bulan. Hasil dari program pelatihan itu Erwin menjadi seorang ahli teknologi Flexography yang hingga saat ini masih sangat sedikit jumlahnya.[3]

Sekembalinya ke Indonesia, karier Erwin semakin melesat. Kini ia menjadi andalan perusahannya untuk melakukan pemasaran, negosiasi presentasi produk di berbagai negara di Asia dan Eropa. Hampir setiap bulan ia bepergian ke luar negeri. Dia menikmati gaya hidup sebagai seorang professional kelas dunia. Akhirnya ia bisa mewujudkan mimpinya ketika kecil dulu untuk sukses menjadi eksekutif di perusahaan multinasional.[3]

Ketika menikmati gaya hidup sebagai seorang eksekutif muda yang sukses, ada sesuatu yang mengganjal di dalam fikirannya. Jika ia terus berada di perusahaan ini, ia tidak akan punya kebebasan waktu dan uang untuk mewujudkan cita-citanya untuk memberikan manfaat lebih kepada keluarga dan masyarakat. Kemudian pada tahun 2008 ia membuat keputusan yang sangat berat. Ia mengundurkan diri dari perusahaan itu untuk memulai perusahaannya sendiri. Ia mendirikan PT Flexoeye Sinergi Indonesia yang bergerak di bidang mesin percetakan dan menjalin kerjasama dengan berbagai perusahaan terkemuka di dunia.[5] Pada awalnya terasa begitu berat, akan tetapi berkat dukungan keluarga, rekan-rekan bisnis dan karyawan yang sangat loyal kini perusahaan itu sudah berkembang dengan baik.[3]

Setelah berkelana selama bertahun-tahun, ia tidak bisa lagi membendung rasa rindu akan kampung halaman. Sejak tahun 2008 setiap tahun dia sempatkan untuk pulang ke kampung menemui ibunda dan sanak keluarga. Merajut silaturahmi yang sempat renggang. Setiap kali ia pulang ke kampung, ia melihat ada hal-hal yang ganjil. Begitu banyak hal-hal yang perlu diberbaiki. Tatanan masyarakat, kondisi ekonomi rakyat serta tingkat pembangunan yang masih jauh tertinggal dibandingkan dengan kota-kota lain. Semangat mengabdi untuk masyarakat yang dimiliki almarhum ayahnya kini terasa mengalir semakin deras di dalam jiwanya.[3]

Satu-persatu gagasan itu mulai ia wujudkan. Pertama dengan membina Taman Pendidikan Alquran di masjid dekat rumah. Erwin mendata semua TPA, akhirnya ia dapatkan data 118 TPA yang ada di Kota Payakumbuh. Mulailah Erwin bekerja dalam senyap tanpa pemberitaan untuk membantu TPA tersebut baik berupa dana, maupun ide, serta gagasannya.[1] Di bidang ekonomi diwujudkannya dengan membantu menyediakan bibit padi unggul dan pupuk. Membina peternak ayam dan lain-lain.[3]

Untuk meningkatkan komunikasi dengan kampung halaman, pada tahun 2012 silam ia putuskan untuk pindah dari Surabaya ke Jakarta. Tak terasa sudah 14 tahun lamanya ia tinggal di kota buaya itu. Semua aset dan perusahaan ia pindahkan ke Jakarta.[3]

Kegiatan sosial[sunting | sunting sumber]

Meski sibuk dengan kegiatan usahanya, Erwin masih bisa menyempatkan diri untuk kegiatan sosial. Ia aktif di berbagai organisasi persatuan keluarga, alumni sekolah, keagamaan, bantuan dan lain sebagainya. Berikut ini beberapa kegiatan sosial yang diikutinya:[3]

  • Pengurus IKAFLAS (Ikatan Keluarga Kampus Flamboyan) wadah persatuan alumni lulusan SMA Negeri 2 Payakumbuh.
  • Pendiri dan Ketua Yayasan Amal Bhakti Rankminang[5], yayasan yang bergerak untuk sosial keagamaan & pendidikan di ranah minang. Menggerakkan generasi muda Minang Kabau untuk bersama-sama berjuang mensyiarkan agama Allah, khususnya dikalangan pelajar. Memberikan perhatian ekstra untuk kesejahteraan guru-guru mengaji dan penyelenggara masjid.
  • Pendiri dan Ketua Yayasan Darma Bhakti Rankminang yang menggandeng Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan Sosial SAHID JAYA mendirikan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) SAHID Payakumbuh.[1] Bertujuan untuk merespon program pemerintah Sumatra Barat sebagai salah satu daerah tujuan wisata favorit dan meningkat semangat pemuda-pemuda ranah minang untuk mempersiapkan diri sebagai tuan rumah di negeri sendiri.
  • Pengurus dan anggota Pengajian Bintaro warga Sariek Laweh di Jakarta.

Rujukan[sunting | sunting sumber]