Energi berkelanjutan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Energi berkelanjutan adalah penyediaan energi yang berkelanjutan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Teknologi yang mempromosikan energi berkelanjutan yang termasuk sumber energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga air, energi surya, energi angin, tenaga ombak, energi panas bumi, fotosintesis buatan, dan tenaga pasang surut, dan juga teknologi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi energi.


Evolusi sistem energi

Evolusi Sistem Energi[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan pada sudut pandang masyarakat, energi bukanlah energi itu sendiri. Sistem energi dibuat untuk mempertemukan antara permintaan pelayanan seperti memasak, penerangan, iklim dalam ruangan yang nyaman, transportasi, informasi, dan barang konsumsi.

Sebuah sistem energi terdiri dari sektor penyuplai energi dan teknologi penggunaan akhir untuk menyediakan jasa/pelayanan energi. Sektor penyuplai energi termasuk kedalam proses kompleks untuk mengekstraksi sumber daya energi (seperti batubara, dan minyak), untuk mengkonversinya menjadi bentuk energi yang lebih dibutuhkan dan sesuai.

Sumber Energi[sunting | sunting sumber]

Efisiensi Energi[sunting | sunting sumber]

Energi Terbarukan[sunting | sunting sumber]

Energi Biomassa[sunting | sunting sumber]

BIomassa adalah energi terbarukan yang berasal dari hewan dan tumbuhan[1] termasuk juga didalamnya aliran limbah organik, serta residu produk pertanian dan kehutanan.[2] Secara keseluruhan, potensi limbah biomasa di Indonesia adalah sekitar 49.807,43 MW, dan hanya 178 MW yang saat ini telah terpasang atau sekitar 0.36% dari potensi yang tersedia (Hendrison, 2003; Agustina, 2004).[3] Biomassa tidak hanya dapat menghasilkan listrik atau panas melalui pembakaran, tetapi juga dapat dikonversi secara efisien menjadi bahan bakar baik dalam bentuk gas maupun cair.[1] Sejak tahun 1900 energi biomassa telah banyak menarik perhatian dunia. Hal tersebut disebabkan oleh biomassa menghasilkan karbon alami apabila diproduksi secara terus menerus, serta menghasilkan energi yang bersih dan nyaman digunakan.[2] Saat ini, teknologi biomasa telah mengalami banyak perkembangan. Energi ini memegang peranan yang penting dalam menyediakan ketersediaan energi di bumi serta kelestarian alam, dimana biomassa dapat menjadi salah satu alternatif energi pengganti energi fossil.[3] Penggunaan bahan dasar biomassa pada setiap negara dapat berbeda. Di Amerika, jangung digunakan sebagai bahan dasar pembuatan ethanol, sedangkan brazil menggunakan bahan dasar tebu untuk pembuatannya, dimana keduanya kemudian dicampurkan dengan bensin yang digunakan sebagai otomobil.[1] Di Indonesia sendiri, bahan baku biomassa yang paling umum digunakan adalah limbah kelapa sawit dan persawahan, sedangkan limbah perkebunan lain seperti jagung, tebu, dan lainnya masih kurang termanfaatkan.[4]

Energi Angin[sunting | sunting sumber]

Peningkatan Suplai Energi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Kamimoto, Masayuki (July 2006). "Biomass Energy" (PDF). Diakses tanggal 13 November 2019. 
  2. ^ a b Energy and the challenge of sustainability. New York: United nations Development Programme. 2000. ISBN 92-1-126-126 Periksa nilai: length |isbn= (bantuan). 
  3. ^ a b Purwanto, RH. › jikfkt › article › download "Biomassa" Periksa nilai |url= (bantuan). Jurnal UGM. 
  4. ^ Tajalli, Arief (2015). Panduan penilaian potensi biomassa sebagai sumber energi alternatif di Indonesia. Penabulu Alliance.