Desa nelayan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Rumah pengasapan ikan abad pertengahan di desa nelayan Walraversijde yang dibangun pada abad ke-15
Desa nelayan terapung di Teluk Halong, Vietnam.[1][2]
Reine merupakan desa penghasil ikan tangkapan berupa kod yang telah berlangsung selama lebih dari 1000 tahun, di Lofoten, Norwegia

Desa nelayan adalah sebuah desa yang berlokasi dekat dengan kawasan penangkapan ikan dengan perekonomian yang berbasis pada perikanan tangkap dan pemrosesan ikan.

Karakter[sunting | sunting sumber]

Desa nelayan di pantai umumnya sulit dijangkau, dan berlokasi di sekitar fitur garis pantai atau danau yang memungkinkan kapal dapat berlabuh dengan aman ("pelabuhan alami"). Selain berlabuh, fitur garis pantai atau danau seperti ini memungkinkan kapal disimpan dengan aman ketika tidak digunakan.[3] Desa nelayan dapat dioperasikan di pantai maupun di danau. Di Malawi, Danau Malawi merupakan lokasi di mana desa nelayan tumbuh dan memiliki wilayah masing-masing. Nelayan dari desa ataupun perairan lain dapat berlabuh dan biasanya membayar pajak dalam bentuk hasil tangkapan.[4] Bentuk dan fungsi kapal penangkapan ikan tradisional cenderung berkembang mengikuti kebutuhan dan bentuk geografis wilayah. Beberapa desa nelayan meluas hingga ke perairan dan menjadi desa terapung. dengan bantuan pengapung dari kayu maupun bahan lain.[1][2][5]

Pemrosesan ikan dan pasar ikan merupakan ujung tombak perdagangan dan pertukaran barang dan jasa di desa nelayan. Selain industri perikanan desa nelayan juga menunjang aktivitas perekonomian lain seperti pembuatan dan daur ulang perahu (ship wrecking),[6] jasa transportasi, hingga wisata bahari yang menyediakan jasa pemancingan rekreasi. Aktivitas penunjang kehidupan seperti sekolah dan klinik juga terbentuk. Dengan semakin bertambahnya populasi desa nelayan dan menyempitnya kesempatan bekerja, aktivitas mencari kapal karam dan mengumpulkan barang-barang berharga dapat menjadi pekerjaan alternatif.[7][8]

Di negara miskin dan negara berkembang, desa nelayan cenderung tidak mengalami perubahan berarti sejak terbentuknya desa tersebut.[9] Sedangkan di negara maju, desa nelayan akan berubah karena faktor ekonomi dan kompleksitas sosiologi seperti urbanisasi.[10] Sepanjang waktu, desa nelayan akan berkembang dari desa yang menunjang kehidupan nelayan tradisional hingga menjadi wilayah dengan industri perikanan yang maju, bahkan berkembang menjadi kota besar dan perdagangan, seperti yang terjadi pada Shanghai di pinggir delta Sungai Yangtze.[11] Destin, Florida telah berkembang menjadi resort yang didedikasikan untuk turis yang memiliki kapal pemancingan rekreasi ukuran besar.[12] Pemerintah Korea Selatan pun diketahui dengan sengaja membangun desa nelayan baru karena kemampuan desa nelayan dalam menarik wisatawan.[13] Dan di China pada tahun 2004 memiliki lebih dari 8000 desa nelayan.[14]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Kenh Ga: Vietnam's Ancient Floating Community Wild Asia: Resource Library. Retrieved 21 April 2009.
  2. ^ a b Floating fishing village in Ha Long Bay halongboat.com. Diakses 21 April 2009.
  3. ^ Sciortino, J. A., Barcali, A. & Carlesi, M. (1995)Construction and maintenance of artisanal fishing harbours and village landings FAO Training Series 25, Rome.
  4. ^ FAO (1993) Fisheries management in south-east Lake Malawi Chambo Fisheries Research Project, Technical paper 21. Rome
  5. ^ Tai O Fishing Village
  6. ^ Bathurst, Bella (2005)The Wreckers: a Story of Killing Seas, False Lights, and Plundered Shipwrecks. Boston, Mass.: Houghton Mifflin ISBN 978-0-618-41677-6
  7. ^ Smith, Joshua M. (2006) Borderland Smuggling: Patriots, Loyalists and Illicit Trade in the Northeast, 1783–1820 Gainesville: University Press of Florida ISBN 0-8130-2986-4.
  8. ^ Waugh, Mary, (1985) Smuggling in Kent and Sussex 1700–1840 Countryside Books (updated 2003) ISBN 0-905392-48-5
  9. ^ Tietze, U., Groenewold, G. & Marcoux, A. (2000)Demographic change in coastal fishing communities and its implications for the coastal environment FAO Fisheries Technical Paper 403. Rome.
  10. ^ "The Effects of Urbanization and Social Orientation" (PDF). Diakses tanggal 2008-12-21. 
  11. ^ Shanghai was once a seaside fishing village Streetdirectory.com. Diakses 20 April 2009.
  12. ^ History of the World’s Luckiest Fishing Village The Destin Area Chamber of Commerce. Diakses 21 April 2009.
  13. ^ Henderson J C (2002) "Tourism and Politics in the Korean Peninsula" The Journal of Tourism Studies, 13 (2).
  14. ^ Zhijie G, Yingliang X, Xiangguo Z, Yong W, Daobo A and Sugiyama S (2008) Review of fishery information and data collection systems in China FAO Fisheries Circular No. 1029, p. 46. Rome. ISBN 978-92-5-105979-1.

Bahan bacaan terkait[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]