Daun pepaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Daun Pepaya segar yang masih berada di pohonnya

Daun pepaya merupakan salah satu jenis sayuran yang diolah pada saat masih muda menjadi makanan yang lezat dan bergizi tinggi.[1] Disamping dapat diolah menjadi makanan yang lezat, daun pepaya dapat pula dijadikan obat untuk beberapa jenis penyakit.[2] Helaian daun pepaya berbentuk menyerupai tangan manusia.[2] Apabila daun pepaya dilipat tepat di tengah, maka akan nampak bahwa daun pepaya berbentuk simetris.[2]

Kandungan Gizi[sunting | sunting sumber]

Daun pepaya memiliki kandungan gizi yang cukup beragam diantaranya vitamin A 18250 SI, vitamin B1 0,15 miligram per 100 gram, vitamin C 140 miligram per 100 gram daun pepaya, kalori 79 kal per 100 gram, protein 8,0 gram per 100 gram, lemak 2,0 gram per 100 gram, hidrat arang/karbohidrat 11,9 gram per 100 gram, kalsium 353 miligram per 100 gram, dan air 75,4 gram per 100 gram.[2] Daun pepaya juga mengandung carposide yang dapat berfungsi sebagai obat cacing.[2] Daun pepaya mengandung zat papain yang tinggi sehingga menjadikan rasanya pahit, namun zat ini justru bersifat stomakik yaitu dapat meningkatkan nafsu makan.[3]

Khasiat Obat[sunting | sunting sumber]

Daun Pepaya yang bercita rasa pahit ini dapat digunakan untuk mengobati beberapa penyakit, diantaranya:

  • Batu Ginjal, caranya beberapa lembar daun pepaya dicuci bersih lalu direbus, kemudian air rebusan tersebut diminum dan diakhiri dengan meminum air kelapa muda (namun, bagi yang mengidap hipertensi tidak diperkenankan menggunakan metode ini).[2]
  • Malagizi (gejala kekurangan gizi pada balita), caranya daun pepaya ditumbuk bersama daun dadap serep, dan kapur sirih kemudian dipergunakan sebagai bedak dan dioleskan pada perut si penderita.[2]
  • Sakit perut pada waktu haid, caranya 1 lembar daun pepaya ditumbuk bersama dengan buah asam dan garam lalu ditambahkan air masak, campuran tersebut kemudian diperas, disaring dan diminum pada saat haid.[2]
  • Disentri, caranya 2 lembar daun pepaya direbus dalam 1 liter air bersama dengan 1 sendok teh bubuk kopi, lalu disaring dan diminum satu cangkir per hari.[2]
  • Diare, caranya daun pepaya direbus bersama dengan minyak kelapa, lalu daun pepaya yang layu tersebut ditempelkan pada perut penderita.[2]
  • Membasmi cacing perut, caranya daun pepaya direbus dalam 2 gelas air bersama dengan adas pulowaras sampai mendidih, lalu air rebusan tersebut disaring dan diminum setiap malam sebelum tidur.[2]
  • Mengatasi keputihan, caranya 1 daun pepaya yang telah dicuci bersih direbus dalam 1,5 liter air bersama 50 gram akar alang-alang dan pulasari, kemudian air rebusan tersebut disaring dan diminum setiap hari satu kali.[4]
  • Mengatasi jerawat, caranya 2-3 helai daun pepaya yang sudah tua dijemur kemudian dihaluskan dan ditambahkan air kemudian sari daun pepaya tersebut dioleskan pada bagian yang berjerawat.[4]
  • Mengatasi noda hitam di wajah, caranya daun pepaya dihaluskan dengan cara ditumbuk ataupun diblender dan ditambah air, kemudian air sari daun pepaya tersebut dicampurkan dengan masker dan dioleskan pada wajah, setelah 15 menit wajah dibasuh dengan air hangat sampai bersih.[4]

Pengolahan[sunting | sunting sumber]

Buntil, salah satu makanan dari Daerah Istimewa Yogyakarta

Rasa pahit pada daun pepaya dapat dihilangkan dengan cara merebus daun pepaya bersama dengan daun jambu klutuk/jambu biji, dan daun singkong dengan perbandingan 200 gram daun pepaya, 200 gram daun singkong dan 50 gram daun jambu biji.[5] Daun pepaya dapat diolah menjadi tumis daun pepaya, daun yang baik untuk ditumis adalah yang berasal dari pohon jantan.[5] Di Jawa Barat, hampir semua hidangan disajikan dengan lalapan.[3] Lalapan adalah segala jenis sayuran yang dikonsumsi ketika masih mentah, tanpa dimasak cukup dicuci sampai bersih.[3] Pucuk daun pepaya merupakan salah satu pilihan lalapan di Jawa Barat.[3] Di Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal makanan bercita rasa gurih sedikit pedas yang bernama buntil yaitu sayur yang terbuat dari daun pepaya muda yang digulung dan didalamnya berisi parutan kelapa dengan tambahan ikan, udang dan bumbu-bumbu yang lain.[6] Dari Indonesia timur tepatnya Maluku, terdapat makanan khas yaitu tumis bunga pepaya, di dalam masakan ini bunga pepaya ditumis bersama daun pepaya dan ikan asin/teri goreng dan disajikan dengan singkong rebus.[7] Tak jauh dari Maluku, di Sulawesi Timur daun pepaya diolah bersama bunga pepaya, daun kemangi, daun melinjo dan ikan cakalang menjadi garo bunga pepaya.[8]

Manfaat Lain[sunting | sunting sumber]

Daun pepaya dapat dimanfaatkan sebagai pakan untuk ikan bawal yang sedang dalam tahap pembesaran, daun yang masih segar sebaiknya dilayukan terlebih dahulu sebelum diumpankan pada ikan untuk mengurangi kandungan air di dalamnya.[9] Bahan aktif papain dalam daun pepaya dapat digunakan untuk membuat pestisida nabati, caranya 1 kg daun pepaya dirajang lalu direndam dalam 10 liter air yang dicampur dengan 2 sendok makan minyak tanah, dan 50 gram detergen selama semalam.[10] Setelah semua bahan didiamkan selama 1 malam, pestisida nabati siap disemprotkan pada area pertanaman yang diserang ulat dan hama penghisap.[10]

Hama dan Penyakit[sunting | sunting sumber]

Hama yang sering menyerang daun pepaya antara lain tungau merah (Tetranychus bimaculatus) dan kutu tempurung hijau (Coccus viridis Green).[11] Tungau merah memiliki ukuran tubuh yang sangat kecil ± 1mm, bentuknya oval, berwarna kehijau-hijauan atau kemerah-merahan, memiliki empat pasang kaki yang bersegmen dan ditumbuhi rambut.[11] Hama ini mengisap cairan sel terutama di permukaan bawah daun sehingga daun menjadi belang-belang berwarna kekuningan/mosaik, dan pada serangan berat dapat menyebabkan daun berubah warna menjadi merah karat.[11] Kutu tempurung hijau menutupi permukaan batang atau daun sehingga menghambat proses fotosintesis.[11] Penyakit yang sering menginfeksi daun pepaya antara lain penyakit tepung yang disebabkan oleh cendawan Oidium caricae Noack, bercak daun cercospora yang diakibatkan cendawan Cercospora papayae dan bercak daun corynespora yang diakibatkan oleh cendawan Corynespora cassiicola.[11]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Warisno (2003). Budi Daya Pepaya. Yogyakarta: Kanisius. ISBN 979-21-0092-X. 
  2. ^ a b c d e f g h i j k Thomas A.N.S (1989). Tanaman Obat Tradisional. Yogyakarta: Kanisius. ISBN 978-979-413-091-9. 
  3. ^ a b c d Wied Harry Apriadji. Healthy Tumpeng, hidangan tumpeng sehat citarasa Nusantara. Jakarta: Gramedia. ISBN 978-979-22-3410-7. 
  4. ^ a b c Dian Putriyanti dkk. 100% Cantik. Yogyakarta: Best Publisher. ISBN 978-602-8620-01-7. 
  5. ^ a b Andang W. Gunawan (2009). Food Combining, kombinasi makanan serasi. Jakarta: Gramedia. ISBN 978-979-22-4698-8. 
  6. ^ Suryo Sukendro (2009). Jalan-Jalan Kuliner Aseli Jogja. Yogyakarta: Media Pressindo. ISBN 978-979-788-068-2. 
  7. ^ Rizal Khadafi (2008). Atlas Kuliner Nusantara. Jakarta: Bukune. ISBN 978-602-8066-14-3. 
  8. ^ Yullia T; Astuti Utomo (2008). 668 Resep Masakah Khas Nusantara. Jakarta: Agromedia Pustaka. ISBN 979-006-200-1. 
  9. ^ Ir. Abbas Siregar Djarijah (2001). Budidaya Ikan Bawal. Yogyakarta: Kanisius. ISBN 979-672-850-8. 
  10. ^ a b Subiyakto Sudarmo (2005). Pestisida Nabati. Yogyakarta: Kanisius. ISBN 979-21-1004-6. 
  11. ^ a b c d e Ir. H. Rahmat Rukmana (1995). Pepaya, Budidaya dan Pasca Panen. Yogyakarta: Kanisius. ISBN 978-979-497-298-4.