Darmasaba, Abiansemal, Badung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Koordinat: 8°35′13″S 115°12′24″E / 8.587063°S 115.206614°E / -8.587063; 115.206614

Darmasaba
Negara Indonesia
ProvinsiBali
KabupatenBadung
KecamatanAbiansemal
Kodepos
80352
Kode Kemendagri51.03.03.2001
Luas5,70 km²[1]
Jumlah penduduk10.059 (2010)[2]
9.773 (2016)[1]
Kepadatan1.714 jiwa/km² (2016)[1]
Jumlah KK1.790

Desa Darmasaba merupakan desa yang terdapat di wilayah Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Provinsi Bali.[3] Desa Darmasaba merupakan desa yang berada paling selatan dari wilayah Kecamatan Abiansemal.

Sejarah Desa[sunting | sunting sumber]

Asal usul nama Darmasaba tertuang dalam Lontar Usaha Bali, seperti yang tertulis dalam Monografi Desa Darmasaba tahun 1980 silam, nama darmasaba berkaitan dengan keturunan danghyang Nirarta diceritakan, sang kawi-wiku asal Daha (Jawa Timur) itu memiliki cucu bernama Ida Pedanda Sakti Manuaba yang tinggal di Desa Kendran Tegalalang Gianyar.

Merasa tidak disenangi sang ayah, Ida Pandita Manuaba pergi mengembara bersama dua orang pengiringnya, pengembaraan sang pendeta sampai di Pura Sarin Buana di Jimbaran, saat mengadakan semadi tapa yoga ditempat ini sang pendeta melihat sinar api yang sangat jauh di  utara timbul keinginan beliau, Ida Pandita Manuaba untuk mengunjungi tempat itu, sampailah beliau di Pura Batan Bila, Peguyangan, disini Ida Pandita Manuaba singgah menghadap Ida Pandita Budha yang tinggal disana.

Selanjutnya kedua Pandita bersama-sama menuju arah utara dan singgah di Taman Ceng Ana, sebuah taman milik Arya Lanang Blusung. Ditempat ini kedua Pandita bersama-sama melaksanakan Tapa Yoga Semadi dan menetap sementara waktu. Kedatangan kedua Pandita ini didengar oleh Bendesa Aban, sang Bendasa pun menghadap kedua pandita, namun karena tidak berani menghadap lengsung, Bendesa Aban hanya memperhatikan dari kejauhan secara seksama, dalam bahasa bali, memperhatikan dari jarak jauh berarti "Nenjo" sehingga tempat itu dikenal sebagai "Peninjoan" yang sekarang menjadi nama banjar.

Setelah mendapat petunjuk barulah Bendesa Aban menghadap kedua pendeta itu. Setelah itu Ida Pandita Manuaba dan Ida Pandita Budha kembali melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan seorang bendasa, dan tempat itu kini dinamai Menesa sampai sekarang menjadi nama banjar.  

Melalui Bendesa ini diadakan pendekatan untuk datang ke sebuah pura yang saat Ida Pandita bertapa semadi di Pura sarin Buana di Jimbaran keliatan Sinar Api yang sangat terang dan begitu besar serta agungnya. Tempat pura yang terdapat sinar tersebut kini disebut Pura Hyang Api yang terletak di wilayah Banjar Menesa.

Kedua Pandita dan Ki Bendesa mengadakan pertemuan di Pura Budha Manis, sebuah pura yang dibangun oleh Kebo Iwa, untuk mengingatkan bahwa tempat itu pernah dilaksanakan pertemuan penting untuk membicarakan ke dharmaan (kesucian) kemudian tempat itu diberi nama Darmasaba (dharma-kesucian dan Sabha- pertemuan), usai pertemuan itu, Bendesa Aban mohon pamit pulang, karena hari sudah sore Ki Bendesa Aban mempercepat perjalanan, dalam Bahasa Bali mempercepat jalan itu disebut "Cabe" dan selanjutnya dipakai nama Banjar Cabe sampai saat ini.

Berselang beberapa lama, Desa Aban yang diperintah oleh Ki Bendesa Aban diserang malapetaka yaitu serangan binatang semut, sehingga masyarakatnya banyak yang meninggalkan desanya, sebagian masyarakat ada yang tinggal di daerah perkebunan disebelah selatan Desa Aban, dan lama kelamaan mereka menetap disana, dan tempat baru itu diberi nama "Tegal" dan selanjutnya dijadikan sebutan sebuah Desa Adat yakni Desa Adat Tegal.

Dari sejarah kepemimpinan Desa Darmasaba, Perbekel sejak zaman penjajahan telah beberapa kali mengalami pergantian Perbekel dengan sebutan sesuai zaman serta peraturan yang mengaturnya dan kesemua pemimpin desa tersebut telah melaksanakan tugas, fungsi, wewenang, dan tanggung jawabnya untuk membangun desa sesuai kondisi yang ada pada saat itu.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2016, penduduk desa Darmasaba terdiri dari 4.844 laki-laki dan 4.929 perempuan dengan tingkat sex rasio 109. Tingkat kelahiran 155 orang dan kematian 32 orang. Tingkat migrasi, 37 orang pindah dan 63 orang pendatang baru.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d "Kecamatan Abiansemal dalam Angka 2017". Badan Pusat Statistik Indonesia. 2018. Diakses tanggal 4 Oktober 2019. 
  2. ^ "Penduduk Indonesia Menurut Desa 2010" (PDF). Badan Pusat Statistik. 2010. hlm. 132. Diakses tanggal 14 Juni 2019. 
  3. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]