Cilongkrang, Wanareja, Cilacap

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Cilongkrang
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenCilacap
KecamatanWanareja
Kodepos53265
Luas10h
Jumlah penduduk-
Kepadatan-

Cilongkrang adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Wanareja, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia

Cilongkrang juga memiliki sejarah yang erat hubunganya tentang era kolonial Belanda, yang mana sampai saat ini pun masih ada bekas peninggalan bangunan bekas jaman penjajahan Belanda.

Di desa kecil ini masyarakatnya cendrung majemuk dalam hal bahasa maupun kebudayaaan. Masyarakatnya fasih berbahasa jawa khas banyumasan dan juga sunda, karena memang letak geografisnya yang memang tidak jauh dari perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Dalam hal ekonomi penduduk cilongkrang mengandalkan pertanian Dan sebagian bekerja Di Perkebunan karet milik negara,lalu sebagian besar memilih pergi dari desa dan merantau ke kota-kota besar.


Arkeologi[sunting | sunting sumber]

Sebuah patung lembu Nandini dan sebuah yoni ditemukan di Gunung Jambu.


Patung lembu andini itu ditemukan dalam keadaan mendekam. Dan terpecah menjadi tiga bagian. Dua bagian di antaranya merupakan badan sapi yang patah. Dan yang satunya adalah kepala sapi yang lepas dari badannya. Sedangkan, yoni saat ditemukan dalam keadaan terpecah menjadi empat.

Banyak versi cerita yang mengikuti keberadaan tempat tersebut. Mulai dari sebagai tempat petilasan Syekh Abdul Qadir Jaelani (seorang ulama terkenal zaman dulu).

Orang tua yang dianggap sebagai saksi atas keberadaan tempat itu pun kebanyakan sudah meninggal dunia. Satu-satunya saksi yang sekarang masih dapat dimintai keterangan hanya R Kasbini (70). Seorang pensiunan Pengawas Kebudayaan pada Depdikbud Kecamatan Wanareja Cilacap. Dia bertugas di Wanareja antara tahun 1976 dan 1993. Di tangan dia, sisa-sisa catatan kerja semasa dia bertugas sedikit dapat merekam keberadaan peninggalan bersejarah itu.

Ditemui SM di rumahnya Dusun Rawalo Desa Pahonjean Majenang dia menjelaskan, pada 21 Juli 1977 dia memperoleh informasi tentang Candi Gunung Jambu dari seorang tetua di Desa Cilongkrang. Orang tersebut yaitu Martadisastra yang waktu itu berumur 97 tahun. Seorang Bau (perangkat desa) Cilongkrang antara tahun 1937 dan 1940.

Dalam penjelasannya, Bau tersebut mengungkapkan, berdasarkan cerita dari orang tua dan kakeknya, gunung itu awalnya berupa hutan. Kemudian dibuka pada tahun 1907 dan ditemukan ada candi tersebut. Hanya tata letaknya saja yang sekarang berubah.

Konon, menurut cerita orang tua dan kakek Martadisastra, tempat itu merupakan lokasi bertapa dan peristirahatan seorang syekh, yang oleh masyarakat sekarang dikenal Syekh Abdul Qadir Jaelani (seorang ulama dari Baghdad). Ulama tersebut sedianya dalam perjalanan menuju Gunung Lawet di wilayah Banyumas.

Namun putrinya yang masih bayi wafat di puncak gunung itu dan dimakamkan di tempat itu yang dikenal dengan Sanghyang Indit Inditan. Namun pada 30 Juli 1989 datang peneliti dari Arkeolog Yogyakarta ke lokasi tersebut. Mereka antara lain Drs Bambang Sulistiyanto dan Drs BugiKusumartono.

Tim menjelaskan, lembu dan yoni merupakan tanda ke-Hinduan-an. Namun mereka kemudian mempertanyakan Lingganya di mana? Periode berikutnya, pada 3 Agustus 1990, Tim dari Arkeolog Pusat Jakarta meneliti candi tersebut. Secara singkat Kasbini mencatat nama-nama peneliti tersebut. Mereka adalah Dra Tati dan Dra Dian (keduanya ahli tulisan), dan Dra Nina seorang ahli arca, serta Waluyo dokumenter.

Dalam folklor setempat, tempat ini dikenal sebagai petilasan Syekh Abdul Qadir Jaelani. Masyarakat setempat lebih mengenalnya sebagai petilasan Pembahan Celeng.