Lompat ke isi

Buaya muara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Buaya muara
Rentang waktu: PliosenKini, 5.3–0 jtyl[1]
Jantan
Betina
CITES Apendiks I (CITES)[3][note 1]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Klad: Archosauromorpha
Klad: Archosauriformes
Ordo: Crocodilia
Famili: Crocodylidae
Genus: Crocodylus
Spesies:
C. porosus
Nama binomial
Crocodylus porosus
Schneider, 1801
Wilayah sebaran buaya muara

Buaya muara (Crocodylus porosus) adalah spesies buaya yang mendiami habitat air asin, lahan basah air payau, dan sungai air tawar mulai dari pantai timur India melintasi Asia Tenggara dan Sundaland hingga Australia bagian utara dan Mikronesia. Spesies ini telah terdaftar sebagai spesies Risiko Rendah (Least Concern) dalam Daftar Merah IUCN sejak tahun 1996.[2] Hewan ini diburu untuk diambil kulitnya di seluruh wilayah sebarannya hingga tahun 1970-an, dan kini terancam oleh pembunuhan ilegal serta hilangnya habitat. Ia dianggap berbahaya bagi manusia.[4]

Buaya muara merupakan reptil terbesar yang masih hidup.[5] Pejantan dapat tumbuh hingga mencapai berat 1.000–1.500 kg (2.200–3.300 pon) dan panjang 6 m (20 ft), namun jarang melebihi 63 m (207 ft).[6][7] Betina berukuran jauh lebih kecil dan jarang melampaui 3 m (9,8 ft).[8][9] Hewan ini juga dikenal dengan nama buaya estuarin, buaya Indo-Pasifik, buaya laut, dan secara informal disebut saltie.[10] Sebagai pemangsa puncak hiperkarnivora yang besar dan oportunistik, mereka menyergap sebagian besar mangsanya lalu menenggelamkan atau menelannya bulat-bulat. Mereka akan memangsa hampir semua hewan yang memasuki wilayahnya, termasuk predator lain seperti hiu, berbagai jenis ikan air tawar dan ikan air asin termasuk spesies pelagis, invertebrata seperti krustasea, berbagai amfibi, reptil lain, burung, dan mamalia.[11][12]

Taksonomi dan evolusi

[sunting | sunting sumber]
Sweetheart, seekor buaya muara dari Sungai Finnis di Australia utara yang diusulkan sebagai Crocodilus pethericki pada tahun 1985

Crocodilus porosus adalah nama ilmiah yang diusulkan oleh Johann Gottlob Theaenus Schneider yang mendeskripsikan sebuah spesimen zoologi pada tahun 1801.[13] Pada abad ke-19 dan ke-20, beberapa spesimen buaya muara dideskripsikan dengan nama-nama berikut:

  • Crocodilus biporcatus yang diusulkan oleh Georges Cuvier pada tahun 1807 merujuk pada 23 spesimen buaya muara dari India, Jawa, dan Timor.[14]
  • Crocodilus biporcatus raninus yang diusulkan oleh Salomon Müller dan Hermann Schlegel pada tahun 1844 adalah seekor buaya dari Kalimantan.[15]
  • Crocodylus porosus australis yang diusulkan oleh Paulus Edward Pieris Deraniyagala pada tahun 1953 adalah sebuah spesimen dari Australia.[16]
  • Crocodylus pethericki yang diusulkan oleh Richard Wells dan C. Ross Wellington pada tahun 1985 adalah spesimen buaya bertubuh besar, berkepala relatif besar, dan berekor pendek yang dikumpulkan pada tahun 1979 di Sungai Finnis, Wilayah Utara.[17] Spesies yang diklaim ini kemudian dianggap sebagai salah tafsir atas perubahan fisiologis yang dialami buaya jantan berukuran sangat besar. Namun, pernyataan Wells dan Wellington bahwa buaya muara Australia mungkin cukup berbeda dari buaya muara Asia hingga layak mendapatkan status subspesies dianggap memiliki validitas.[18]

Saat ini, buaya muara dianggap sebagai spesies monotipik.[19]

Sisa-sisa Fosil buaya muara yang digali di Queensland utara diperkirakan berasal dari masa Pliosen.[20][21] Kerabat terdekat buaya muara yang masih ekstan (hidup) adalah buaya siam dan buaya mugger.[22][23][24][25]

Genus Crocodylus diperkirakan berevolusi di Australia dan Asia.[26] Hasil studi filogenetik mendukung kemungkinan asalnya dari Afrika dan kemudian mengalami radiasi menuju Asia Tenggara dan Amerika; genus ini berdivergensi secara genetik dari kerabat terdekatnya, Voay yang telah punah dari Madagaskar, sekitar 25 juta tahun silam di dekat perbatasan antara masa Oligosen dan Miosen.[25]

Di bawah ini adalah kladogram berdasarkan studi penanggalan tip (tip dating) tahun 2018 oleh Lee & Yates yang secara simultan menggunakan data morfologi, molekuler (sekuensing DNA), dan stratigrafi (usia fosil),[24] yang direvisi pada tahun 2021 setelah studi paleogenomika menggunakan DNA yang diekstraksi dari Voay yang telah punah.[25] Penempatan buaya Irian Hall disarankan dalam studi tahun 2023 oleh Sales-Oliveira et al.[27]

Crocodylus

Crocodylus johnstoni Buaya air tawar

Crocodylus novaeguineae Buaya Irian

Crocodylus halli Buaya Irian Hall

Crocodylus mindorensis Buaya Filipina

Crocodylus porosus Buaya muara

Crocodylus siamensis Buaya siam

Crocodylus palustris Buaya mugger

Indo-Pasifik

Crocodylus suchus Buaya Afrika Barat

Afrika

Crocodylus niloticus Buaya sungai Nil

Crocodylus rhombifer Buaya kuba

Amerika Latin

Crocodylus intermedius Buaya Orinoco

Crocodylus acutus Buaya Amerika

Crocodylus moreletii Buaya Morelet

Deskripsi

[sunting | sunting sumber]
Tengkorak buaya muara dari Museum Zoologi, Sankt-Peterburg. Perhatikan tengkorak gavial yang jauh lebih ramping di latar belakang.
Kepala buaya muara

Buaya muara memiliki moncong yang lebar dibandingkan dengan sebagian besar buaya lainnya. Namun, moncongnya lebih panjang daripada buaya mugger (C. palustris); panjangnya dua kali lipat lebarnya di bagian pangkal.[28] Sepasang gurat bukit (ridges) memanjang dari mata di sepanjang bagian tengah moncong. Sisiknya berbentuk oval dan skutanya berukuran kecil dibandingkan spesies lain atau sering kali tidak ada sama sekali. Selain itu, terdapat celah yang jelas antara perisai serviks (leher) dan dorsal (punggung), serta skuta segitiga kecil terdapat di antara tepi posterior skuta besar yang tersusun melintang di perisai dorsal. Sedikitnya jumlah skuta ini dianggap sebagai aset yang berguna untuk membedakan buaya muara di penangkaran atau dalam perdagangan kulit ilegal, serta di beberapa area lapangan di mana buaya muara pradewasa atau yang lebih muda mungkin perlu dibedakan dari jenis buaya lain. Ia memiliki lebih sedikit pelat perisai di lehernya dibandingkan buaya lainnya.[29][30]

Tubuh buaya muara dewasa yang lebar kontras dengan sebagian besar buaya lain yang lebih ramping, yang menyebabkan asumsi awal yang belum terverifikasi bahwa reptil ini adalah aligator.[31]

Buaya muara muda berwarna kuning pucat dengan garis-garis hitam dan bintik-bintik pada tubuh dan ekornya. Pewarnaan ini bertahan selama beberapa tahun hingga buaya tumbuh dewasa. Warna saat dewasa jauh lebih gelap, yakni hijau kusam, dengan beberapa area cokelat muda atau abu-abu yang terkadang terlihat. Beberapa variasi warna diketahui ada dan beberapa individu dewasa mungkin mempertahankan kulit yang cukup pucat, sementara yang lain mungkin sangat gelap sehingga tampak kehitaman. Permukaan ventral (perut) berwarna putih atau kuning pada buaya muara dari segala usia. Garis-garis terdapat di sisi bawah tubuh mereka, tetapi tidak meluas sampai ke perut. Ekor mereka berwarna abu-abu dengan pita-pita gelap.[32][33]

Ukuran berbagai individu buaya muara dengan manusia sebagai skala pembanding

Berat seekor buaya meningkat kira-kira secara kubik seiring bertambahnya panjang (lihat hukum kuadrat–kubik).[34] Hal ini menjelaskan mengapa individu berukuran 6 m (20 ft) memiliki berat lebih dari dua kali lipat individu berukuran 5 m (16 ft).[31] Pada buaya, pertumbuhan linear pada akhirnya akan melambat dan mereka mulai menjadi semakin gempal pada titik tertentu.[35]

Buaya muara adalah predator riparian terbesar yang masih hidup di dunia. Namun, mereka memulai kehidupan dengan ukuran yang cukup kecil. Buaya muara yang baru menetas berukuran panjang sekitar 28 cm (11 in) dan memiliki berat rata-rata 71 g (2,5 oz).[36] Ukuran dan usia ini hampir identik dengan ukuran rata-rata kematangan seksual pada buaya Nil, terlepas dari fakta bahwa rata-rata buaya muara jantan dewasa jauh lebih besar daripada rata-rata buaya Nil jantan dewasa.[37][38]

Tengkorak buaya muara terbesar yang dapat diverifikasi secara ilmiah berasal dari spesimen di Muséum national d'Histoire naturelle, yang dikumpulkan di Kamboja. Tengkoraknya memiliki panjang 76 cm (30 in) dan lebar 48 cm (19 in) di dekat bagian dasarnya, dengan mandibula sepanjang 983 cm (387 in); panjang tubuhnya tidak diketahui, namun berdasarkan rasio tengkorak-terhadap-panjang tubuh buaya muara besar, panjangnya diperkirakan berada dalam kisaran 67–7 m (220–23 ft), meskipun mungkin saja ia memiliki tengkorak yang luar biasa besar atau mungkin tidak memiliki rasio tengkorak-terhadap-panjang-total yang sama dengan buaya muara besar lainnya.[8][39][9] Jika terpisah dari tubuhnya, kepala buaya jantan besar dapat memiliki berat lebih dari 200 kg (440 pon), termasuk otot-otot besar dan tendon di dasar tengkorak yang memberikan kekuatan gigitan yang sangat besar pada buaya tersebut.[40] Gigi terbesar yang pernah diukur memiliki panjang 9 cm (3,5 in).[41][42] Buaya lain seperti gavial (Gavialis gangeticus) dan senyulong (Tomistoma schlegelii) memiliki tengkorak yang secara proporsional lebih panjang, namun baik tengkorak maupun tubuh mereka tidak sepadat dan semasif buaya muara.[8]

Ukuran jantan

[sunting | sunting sumber]

Buaya muara jantan dewasa, dari dewasa muda hingga individu yang lebih tua, biasanya memiliki panjang berkisar antara 35 hingga 5 m (114 ft 10 in – 16 ft 5 in) dan berat 200 hingga 1.100 kg (440 hingga 2.430 pon).[43][44][45][46] Rata-rata, jantan dewasa memiliki panjang berkisar 40 hingga 45 m (131 ft 3 in – 147 ft 8 in) dan berat 408 hingga 770 kg (899 hingga 1.698 pon).[40][47] Namun, ukuran rata-rata sangat bergantung pada lokasi, habitat, dan interaksi dengan manusia, sehingga bervariasi dari satu studi ke studi lainnya. Pada tahun 1993, dalam sebuah studi yang dilakukan (diterbitkan tahun 1998), sebelas buaya muara ditemukan berukuran 21 hingga 55 m (68 ft 11 in – 180 ft 5 in) dan berat antara 32 dan 1.010 kg (71 dan 2.227 pon).[48] Jantan tua yang sangat besar dapat melebihi panjang 6 m (19 ft 8 in) dan diperkirakan memiliki berat hingga 2.000 kg (4.400 pon).[31][8][39][47]

Cassius, buaya terbesar yang terkonfirmasi dari tahun 2013–2024

Buaya muara terbesar yang pernah tercatat dan terkonfirmasi mati tenggelam dalam sebuah jala ikan di Papua Nugini, pada tahun 1979. Kulit kering beserta kepalanya berukuran panjang 62 m (203 ft 5 in) dan diperkirakan mencapai 63 m (206 ft 8 in) jika memperhitungkan penyusutan dan ujung ekor yang hilang.[9][8] Diproyeksikan dari panjang tengkoraknya, beberapa spesimen dari Singapura diperkirakan berasal dari buaya jantan yang semasa hidupnya berukuran lebih dari 6 m (19 ft 8 in).[49] Seekor buaya muara Vietnam yang besar diperkirakan secara akurat, berdasarkan tengkoraknya setelah mati, berukuran 63 hingga 68 m (206 ft 8 in – 223 ft 1 in).[50] Namun, menurut bukti berupa tengkorak yang berasal dari beberapa buaya terbesar yang pernah ditembak, ukuran maksimum yang mungkin dicapai oleh anggota terbesar dari spesies ini dianggap sebesar 7 m (23 ft 0 in).[9][31] Sebuah studi pemerintah dari Australia menyepakati bahwa anggota terbesar dari spesies ini kemungkinan berukuran panjang 6 hingga 7 m (19 ft 8 in – 23 ft 0 in) dan berat 900 hingga 1.500 kg (2.000 hingga 3.300 pon).[51] Selain itu, sebuah makalah penelitian tentang morfologi dan fisiologi buaya oleh organisasi yang sama memperkirakan bahwa buaya muara yang mencapai ukuran 7 m (23 ft 0 in) akan memiliki berat sekitar 2.000 kg (4.400 pon).[52] Dikarenakan ukuran yang ekstrem dan sifat spesies ini yang sangat agresif, berat pada spesimen yang lebih besar sering kali tidak terdokumentasi dengan baik. Seekor individu sepanjang 51-meter (167 ft 4 in) bernama "Sweetheart" diketahui memiliki berat 780 kg (1.720 pon).[53] Buaya besar lainnya bernama "Gomek", yang berukuran panjang 542 m (1.778 ft 3 in), memiliki berat sekitar 860 kg (1.900 pon). Pada tahun 1992, seekor pemangsa manusia yang terkenal, bernama "Bujang Senang" dibunuh di Sarawak, Malaysia. Ia memiliki panjang 57 m (187 ft 0 in) dan berat lebih dari 900 kg (2.000 pon).[54] Seekor hibrida muara-siam bernama "Yai" (Thai: ใหญ่, yang berarti besar; lahir 10 Juni 1972) di Peternakan dan Kebun Binatang Buaya Samutprakarn, Thailand diklaim sebagai buaya terbesar yang pernah dipelihara dalam penangkaran. Panjangnya mencapai 6 m (19 ft 8 in) dan beratnya sekitar 1.118 kg (2.465 pon).[55] Pada tahun 1962, seekor buaya muara jantan besar ditembak di Sungai Adelaide, Wilayah Utara. Tercatat panjangnya 61 m (200 ft 2 in) dan beratnya 1.097 kg (2.418 pon).[56] Seekor jantan besar di Filipina, bernama Lolong, adalah salah satu buaya muara terbesar yang pernah ditangkap dan ditempatkan di penangkaran. Ia memiliki panjang 617 m (2.024 ft 3 in) dan berat 1.075 kg (2.370 pon).[9][57][58] Setelah kematiannya pada tahun 2013, buaya hidup terbesar di penangkaran adalah "Cassius", yang dipelihara di Marineland Crocodile Park, sebuah kebun binatang yang terletak di Pulau Green, Queensland, Australia. Ia berukuran panjang 5,48 m (18 ft 0 in) dan berat sekitar 1.300 kg (2.870 lb) sebelum kematiannya pada bulan November 2024.[59][60][61]

Ukuran betina

[sunting | sunting sumber]

Betina dewasa umumnya memiliki panjang total antara 27 hingga 31 m (88 ft 7 in hingga 101 ft 8 in) dan berat 76 hingga 103 kg (168 hingga 227 pon).[62][63][64] Betina matang yang besar dapat mencapai 34 m (111 ft 7 in) dan berat hingga 120 hingga 200 kg (260 hingga 440 pon).[65] Betina terbesar yang pernah tercatat memiliki panjang total sekitar 43 m (141 ft 1 in).[40] Dengan demikian, ukuran betina serupa dengan spesies buaya besar lainnya dan rata-rata sedikit lebih kecil dibandingkan betina dari beberapa spesies lain, seperti buaya Nil.[38] Buaya muara memiliki dimorfisme seksual ukuran yang paling besar, sejauh ini, dibandingkan buaya lain yang masih hidup, karena jantan rata-rata sekitar 4 hingga 5 kali lebih berat daripada betina dewasa dan terkadang dapat mencapai dua kali panjang totalnya. Alasan dimorfisme yang condong pada jantan pada spesies ini belum diketahui secara pasti, namun mungkin berkorelasi dengan teritorialitas spesifik jenis kelamin dan kebutuhan buaya muara jantan dewasa untuk memonopoli bentangan habitat yang luas.[66][67] Karena dimorfisme seksual yang ekstrem dari spesies ini dibandingkan dengan dimorfisme yang lebih moderat pada spesies lain, panjang rata-rata spesies ini hanya sedikit melebihi beberapa buaya lain yang masih hidup, yaitu pada 38–4 m (124 ft 8 in – 13 ft 1 in).[19][28][68]

Ukuran yang dilaporkan

[sunting | sunting sumber]

Persebaran dan habitat

[sunting | sunting sumber]
Seekor buaya muara di lepas pantai Maconacon, Isabela, Filipina utara
Jejak buaya muara di Timor Leste
Buaya muara melompat di Sungai Adelaide
Berjemur di tepi sungai di Sundarban

Buaya muara menghuni rawa bakau payau pesisir, delta sungai, dan sungai air tawar dari pantai timur India, Sri Lanka, dan Bangladesh hingga Myanmar, Malaysia, Brunei, Indonesia, Filipina, Timor Leste, Palau, Kepulauan Solomon, Singapura, Papua Nugini, Vanuatu, dan pantai utara Australia.[2][4] Populasi paling selatan di India hidup di Suaka Margasatwa Bhitarkanika Odisha; di Odisha utara, spesies ini belum tercatat lagi sejak tahun 1930-an.[72] Spesies ini muncul di sepanjang pantai Kepulauan Andaman dan Nikobar dan di Sundarban.[73][74][75][76][77] Di Sri Lanka, buaya ini terutama terdapat di bagian barat dan selatan negara itu.[78]

Di Myanmar, ia menghuni Delta Ayeyarwady.[79] Di Thailand selatan, ia tercatat di Provinsi Phang Nga.[80] Di Singapura, ia menghuni Cagar Alam Lahan Basah Sungei Buloh dan rawa-rawa dekat Kranji dan Mandai.[81] Ia telah punah secara lokal di Kamboja, Tiongkok, Seychelles, Thailand, dan Vietnam.[4][82][83]

Di Tiongkok, ia mungkin pernah menghuni wilayah pesisir dari provinsi Fujian di utara hingga perbatasan Vietnam.[84] Referensi mengenai serangan buaya terhadap manusia dan ternak selama dinasti Han dan Song menunjukkan bahwa hingga abad ke-18, ia mungkin terdapat di hilir Sungai Mutiara dan Makau, Sungai Han, Sungai Min, sebagian pesisir provinsi Guangxi, dan Pulau Hainan.[28]

Terdapat tiga catatan sejarah mengenai buaya muara yang ditemukan di perairan pantai Jepang; satu individu ditemukan di lepas pantai Iwo Jima pada tahun 1744, satu lagi ditemukan di lepas pantai Amami Ōshima pada tahun 1800, dan akhirnya, individu ketiga ditangkap oleh nelayan di Teluk Toyama pada tahun 1932. Semua kemunculan lain dari spesies ini di wilayah Jepang berasal dari Perang Dunia II, dan ditemukan di daerah yang dulunya dikuasai oleh Kekaisaran Jepang.[85]

Di Malaysia, ia tercatat di Sungai Klias, Segama, dan Sungai Kinabatangan di Sabah.[86][87][88] Di Sarawak, ia terekam oleh jebakan kamera di Taman Nasional Lahan Basah Kuching.[89] Di Kepulauan Sunda Kecil, ia hadir di sepanjang pantai Sumba, Pulau Lembata, Flores, Menipo, Pulau Rote, dan Timor. Statusnya di sepanjang Pulau Alor tidak diketahui, di mana satu individu ditangkap pada tahun 2010-an.[90] Di Kepulauan Maluku, ia hadir di sekitar Kepulauan Kai, Kepulauan Aru, dan banyak pulau lainnya di wilayah tersebut, termasuk Kepulauan Selat Torres. Di Papua Nugini, ia umum ditemukan di wilayah pesisir setiap sistem sungai, seperti Sungai Fly dan di Kepulauan Bismarck.[91] Di Filipina, ia terdapat di beberapa lokasi pesisir seperti Luzon timur, Palawan, Rawa Liguasan, dan Sungai Agusan di Mindanao.[4]

Di pantai di Darwin, Wilayah Utara, Australia

Di Australia utara, buaya muara berkembang pesat, terutama di berbagai sistem sungai dekat Darwin seperti Sungai Adelaide, Mary, dan Daly, beserta bilabong dan estuari yang berdekatan.[92][93] Populasi buaya muara di Australia diperkirakan antara 100.000 hingga 200.000 ekor dewasa. Jangkauannya membentang dari Broome, Australia Barat melalui seluruh pantai Wilayah Utara hingga ke selatan di Gladstone, Queensland.[94] Sungai Alligator di wilayah Tanah Arnhem diberi nama yang salah karena kemiripan buaya muara dengan aligator dibandingkan dengan buaya air tawar, yang juga menghuni Wilayah Utara.[95]

Karena kemampuannya berenang jarak jauh di laut, individu buaya muara kadang-kadang muncul di daerah yang jauh dari jangkauan umum mereka, hingga ke Fiji.[96][97] Buaya muara umumnya menghabiskan musim hujan tropis di rawa-rawa air tawar dan sungai, lalu bergerak ke hilir menuju muara pada musim kemarau. Buaya bersaing ketat satu sama lain untuk memperebutkan wilayah, dengan jantan dominan khususnya menempati bentangan anak sungai dan sungai air tawar yang paling strategis. Buaya muda dengan demikian terpaksa menempati sistem sungai pinggiran dan terkadang masuk ke lautan. Hal ini menjelaskan persebaran spesies yang luas, serta penemuannya di tempat-tempat yang tidak lazim pada kesempatan tertentu seperti Laut Jepang. Seperti semua buaya, mereka hanya dapat bertahan hidup dalam waktu lama di suhu hangat, dan buaya secara musiman akan meninggalkan bagian Australia jika gelombang dingin melanda.[98]

  1. Kecuali populasi Australia, Indonesia, Malaysia, dan Papua Nugini yang termasuk dalam Apendiks II.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Rio, Jonathan P.; Mannion, Philip D. (6 September 2021). "Phylogenetic analysis of a new morphological dataset elucidates the evolutionary history of Crocodylia and resolves the long-standing gharial problem". PeerJ. 9 e12094. doi:10.7717/peerj.12094. PMC 8428266. PMID 34567843.
  2. 1 2 3 Webb, G.J.W.; Manolis, C.; Brien, M.L.; Balaguera-Reina, S.A. & Isberg, S. (2021). "Crocodylus porosus" e.T5668A3047556. doi:10.2305/IUCN.UK.2021-2.RLTS.T5668A3047556.en. ;
  3. "Appendices | CITES". cites.org. Diakses tanggal 14 January 2022.
  4. 1 2 3 4 Webb, G. J. W.; Manolis, C.; Brien, M. L. (2010). "Saltwater Crocodile Crocodylus porosus" (PDF). Dalam Manolis, S. C.; Stevenson, C. (ed.). Crocodiles: Status Survey and Conservation Action Plan (Edisi 3rd). Darwin: IUCN Crocodile Specialist Group. hlm. 99–113.
  5. Read, M. A.; Grigg, G. C.; Irwin, S. R.; Shanahan, D.; Franklin, C. E. (2007). "Satellite tracking reveals long distance coastal travel and homing by translocated Estuarine Crocodiles, Crocodylus porosus". PLOS ONE. 2 (9) e949. Bibcode:2007PLoSO...2..949R. doi:10.1371/journal.pone.0000949. PMC 1978533. PMID 17895990.
  6. Fukuda, Y.; Saalfeld, W. K.; Lindner, G. & Nichols, T. (2013). "Estimation of total length from head length of Saltwater Crocodiles (Crocodylus porosus) in the Northern Territory, Australia". Journal of Herpetology. 47 (1): 34–40. doi:10.1670/11-094. S2CID 83912762.
  7. Rice, S. (2020). Encyclopedia of Biodiversity (Edisi Revised). New York: Infobase Publishing. hlm. 230. ISBN 978-1-4381-9592-6.
  8. 1 2 3 4 5 Whitaker, R.; Whitaker, N. (2008). "Who's got the biggest?" (PDF). Crocodile Specialist Group Newsletter. 27 (4): 26–30.
  9. 1 2 3 4 5 Britton, A. R. C.; Whitaker, R.; Whitaker, N. (2012). "Here be a Dragon: Exceptional size in Saltwater Crocodile (Crocodylus porosus) from the Philippines". Herpetological Review. 43 (4): 541–546.
  10. Allen, G. R. (1974). "The marine crocodile, Crocodylus porosus, from Ponape, Eastern Caroline Islands, with notes on food habits of crocodiles from the Palau Archipelago". Copeia. 1974 (2): 553. doi:10.2307/1442558. JSTOR 1442558.
  11. Hua, S.; Buffetaut, E. (1997). "Part V: Crocodylia". Dalam Callaway, J. M.; Nicholls, E. L. (ed.). Ancient marine reptiles. Cambridge: Academic Press. hlm. 357–374. doi:10.1016/B978-0-12-155210-7.X5000-5. ISBN 978-0-12-155210-7.
  12. Blaber, S. J. M. (2008). "Mangroves and Estuarine Dependence". Tropical estuarine fishes: ecology, exploration and conservation. Oxford: Blackwell Science. hlm. 185–201. ISBN 978-0-470-69498-5.
  13. Schneider, J. G. (1801). "Porosus". Historiae Amphibiorum naturalis et literariae Fasciculus Secundus continens Crocodilos, Scincos, Chamaesauras, Boas, Pseudoboas, Elapes, Angues, Amphisbaenas et Caecilias. Jenae: Wesselhoeft. hlm. 159–160.
  14. Cuvier, G. (1807). "Sur les différentes especes de crocodiles vivans et sur leurs caracteres distinctifs". Annales du Muséum d'Histoire Naturelle Paris. 10: 8–86.
  15. Müller, S.; Schlegel, H. (1844). "Over de Krokodillen van den Indischen Archipel". Dalam Temminck, C. J. (ed.). Verhandelingen over de natuurlijke geschiedenis der Nederlandsche overzeesche Bezittingen, door de leden der Natuurkundige Commissie in Indie en andere Schrijvers. Leiden: S. en J. Luchtmans en C. C. van der Hoek. hlm. 1–70.
  16. Deraniyagala, P. E. P. (1953). "Crocodylus porosus australis ssp. nov.". A coloured atlas of some vertebrates from Ceylon. Vol. Tetrapod Reptilia. Colombo: Government Press. hlm. 33–34.
  17. Wells, R. W. & Wellington, C. R. (1985). "A classification of the Amphibia and Reptilia of Australia" (PDF). Australian Journal of Herpetology, Supplemental Series. 1: 1–61.
  18. Das, I.; Charles, J. K. (2000). "A Record of Crocodylus raninus Müller & Schlegel, 1844 from Brunei, North-western Borneo". Sabah Parks Nature Journal. 3: 1–5.
  19. 1 2 Brazaitis, P. (2001). A Guide to the Identification of the Living Species of Crocodilians. New York: Wildlife Conservation Society.
  20. Molnar, R. E. (1979). "Crocodylus porosus from the Pliocene Allingham formation of North Queensland. Results of the Ray E. Lemley expeditions, part 5". Memoirs of the Queensland Museum. 19: 357–365.
  21. Willis, P. M. A. (1997). "Review of fossil crocodilians from Australasia". Australian Journal of Zoology. 30 (3): 287–298. doi:10.7882/AZ.1997.004.
  22. Gatesy, J.; Amato, G. (2008). "The rapid accumulation of consistent molecular support for intergeneric crocodylian relationships". Molecular Phylogenetics and Evolution. 48 (3): 1232–1237. Bibcode:2008MolPE..48.1232G. doi:10.1016/j.ympev.2008.02.009. PMID 18372192.
  23. Srikulnath, K.; Thapana, W. & Muangmai, N. (2015). "Role of chromosome changes in Crocodylus evolution and diversity". Genomics Inform. 13 (4): 102–111. doi:10.5808/GI.2015.13.4.102. PMC 4742319. PMID 26865840.
  24. 1 2 Lee, M. S. Y. & Yates, A. M. (2018). "Tip-dating and homoplasy: reconciling the shallow molecular divergences of modern gharials with their long fossil". Proceedings of the Royal Society B. 285 (1881). doi:10.1098/rspb.2018.1071. PMC 6030529. PMID 30051855.
  25. 1 2 3 Hekkala, E.; Gatesy, J.; Narechania, A.; Meredith, R.; Russello, M.; Aardema, M. L.; Jensen, E.; Montanari, S.; Brochu, C.; Norell, M.; Amato, G. (27 April 2021). "Paleogenomics illuminates the evolutionary history of the extinct Holocene "horned" crocodile of Madagascar, Voay robustus". Communications Biology (dalam bahasa Inggris). 4 (1): 505. doi:10.1038/s42003-021-02017-0. PMC 8079395. PMID 33907305.
  26. Oaks, J.R. (2011). "A time-calibrated species tree of Crocodylia reveals a recent radiation of the true crocodiles". Evolution. 65 (11): 3285–3297. Bibcode:2011Evolu..65.3285O. doi:10.1111/j.1558-5646.2011.01373.x. PMID 22023592. S2CID 7254442.
  27. Sales-Oliveira, V.; Altmanová, M.; Gvoždík, V.; Kretschmer, R.; Ezaz, T.; Liehr, T.; Padutsch, N.; Badjedjea G.; Utsunomia, R.; Tanomtong, A.; Ciof, M. (2023). "Cross‑species chromosome painting and repetitive DNA mapping illuminate the karyotype evolution in true crocodiles (Crocodylidae)". Chromosoma. 132 (4): 289–303. doi:10.1007/s00412-023-00806-6. PMID 37493806.
  28. 1 2 3 Guggisberg, C. A. W. (1972). Crocodiles: Their Natural History, Folklore, and Conservation. Newton Abbot: David & Charles. hlm. 195. ISBN 978-0-7153-5272-4.
  29. Kondo, H. (1970). Grolier's Amazing World of Reptiles. New York, NY: Grolier Interprises Inc.
  30. Ross, F. D.; Mayer, G. C. (1983). "On the dorsal armor of the Crocodilia". Dalam Rhodin, A. G. J.; Miyata, K. (ed.). Advances in Herpetology and Evolutionary Biology. Cambridge: Museum of Comparative Zoology. hlm. 306–331. ISBN 978-0-910999-00-7.
  31. 1 2 3 4 Britton, A. "Crocodylus porosus (Schneider, 1801)". The Crocodilian Species List. Diarsipkan dari asli tanggal 8 January 2006.
  32. Lanworn, R. (1972). The Book of Reptiles. New York, NY: The Hamlyn Publishing Group Ltd. ISBN 978-0-600-31273-4.
  33. "Crocodylus porosus". ReptilianZone.com. 17 February 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 29 July 2017. Diakses tanggal 2 March 2017.
  34. Seymour, R. S.; Gienger, C. M.; Brien, M. L.; Tracy, C. R.; Manolis, C. S.; Webb, G. J. W.; Christian, K. A. (2012). "Scaling of standard metabolic rate in estuarine crocodiles Crocodylus porosus". Journal of Comparative Physiology B. 183 (4): 491–500. doi:10.1007/s00360-012-0732-1. PMID 23233168. S2CID 3191541.
  35. "World's Biggest Crocodiles". Madras Crocodile Bank Trust. Diakses tanggal 26 May 2016.
  36. "Insights into Crocodile lifestyles" (PDF). newholland.com.au. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 4 October 2009.
  37. Loveridge, J. P. & Blake, D. K. (1972). "Techniques in the immobilisation and handling of the Nile crocodile, Crocodylus niloticus". National Museums and Monuments of Rhodesia.
  38. 1 2 Bourquin, S. L. (2008). The population ecology of the Nile Crocodile (Crocodylus niloticus) in the Panhandle Region of the Okavango Delta, Botswana (Doctoral dissertation). Stellenbosch University. Diarsipkan dari asli tanggal 4 December 2021. Diakses tanggal 10 October 2018.
  39. 1 2 3 Greer, A. E. (1974). "On the maximum total length of the Salt-Water Crocodile (Crocodylus porosus)". Journal of Herpetology. 8 (4): 381–384. doi:10.2307/1562913. JSTOR 1562913.
  40. 1 2 3 Wood, G. (1983). The Guinness Book of Animal Facts and Feats. Guinness Superlatives. hlm. 256. ISBN 978-0-85112-235-9.
  41. "Australian crocodile Elvis sinks teeth into lawnmower". CNN. 2011.
  42. "Australian Saltwater Crocodile (Estuarine Crocodile) – Crocodylus porosus". Angelfire. Diakses tanggal 25 July 2013.
  43. Olsson, A.; Phalen, D. (2012). "Preliminary studies of chemical immobilization of captive juvenile estuarine (Crocodylus porosus) and Australian freshwater (C. johnstoni) crocodiles with medetomidine and reversal with atipamezole". Veterinary Anaesthesia and Analgesia. 39 (4): 345–356. doi:10.1111/j.1467-2995.2012.00721.x. PMID 22642399.
  44. Webb, G.; Manolis, S. C. (1989). Crocodiles of Australia. Reed Books.
  45. Webb, G. J. W.; Messel, H.; Crawford, J.; Yerbury, M. J. (1978). "Growth rates of Crocodylus porosus (Reptilia: Crocodilia) from Arnhem Land, northern Australia". Wildlife Research. 5 (3): 385–399. Bibcode:1978WildR...5..385W. doi:10.1071/WR9780385.
  46. "Estuarine crocodiles." FAO species identification guide for fishery purposes. The Living Marine Resources of the Western Central Pacific (PDF). Rosenzweig, P. A. 2001. hlm. 3972.
  47. 1 2 Nayak, Lakshman; Sharma, Satyabrata Das; Pati, Mitali Priyadarsini (2018). "Conservation and Management of Saltwater Crocodile (Crocodylus porosus) in Bhitarkanika Wildlife Sanctuary, Odisha, India". Environmental Management of Marine Ecosystems. hlm. 313. doi:10.1201/9781315153933. ISBN 978-1-315-15393-3.[pranala nonaktif permanen]
  48. Grigg, Gordon C.; Seebacherd, Frank; Beard, Lyn A.; Morris, Don (22 September 1998). "Thermal relations of large crocodiles, Crocodylus porosus, free—ranging in a naturalistic situation". Proceedings of the Royal Society of London. Series B: Biological Sciences (dalam bahasa Inggris). 265 (1407): 1793–1799. doi:10.1098/rspb.1998.0504. ISSN 0962-8452. PMC 1689355.
  49. Fukuda, Y., How, C. B., Seah, B., Yang, S., Pocklington, K., & Peng, L. K. (2018). Historical, exceptionally large skulls of saltwater crocodiles discovered at the Lee Kong Chian Natural History Museum in Singapore. The Raffles Bulletin of Zoology, 66, 810–813.
  50. Ziegler, T., Tao, N. T., Minh, N. T., Manalo, R., Diesmos, A., & Manolis, C. (2019). A giant crocodile skull from Can Tho, named "Dau Sau", represents the largest known saltwater crocodile (Crocodylus porosus) ever reported from Vietnam. Tap chi Sinh hoc (Journal of Biology), 41(4), 25–30.
  51. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Leach
  52. Grigg, G.; Gans, C. "Morphology & Physiology of Crocodylia" (PDF). Australian Government- Department of the Environment. Diakses tanggal 17 May 2016.
  53. "Sweetheart". MAGNT (dalam bahasa Inggris).
  54. Ross, J. (1998). Crocodiles: Status Survey and Conservation Action Plan (PDF) (Edisi Second). Gland, Switzerland: IUCN/SSC Crocodile Specialist Group. hlm. 57. ISBN 2-8317-0441-3.
  55. The Guinness book of records, 1994. New York: Facts on File. 1992. hlm. 38. ISBN 978-0-8160-2645-6.
  56. Wood, Gerald L. (1982). The Guinness book of animal facts and feats (Edisi 3rd). Enfield, Middlesex: Guinness Superlatives. hlm. 96. ISBN 978-0-85112-235-9.
  57. Manalo, R. I., & Alcala, A. C. (2013). Status of the crocodile (Crocodylus porosus, Schneider) industry in the Philippines. Transactions of the National Academy of Science and Technology of the Philippines, 35(1), 219–222.
  58. Mullen, J. (2013). "Lolong, world's largest captive crocodile, dies in Philippines". CNN. Diakses tanggal 16 January 2021.
  59. "Cassius, the world's largest crocodile in captivity, dies". ABC News. 2 November 2024.
  60. Webb, G. (2019). "Observation of large Nile crocodiles (Crocodylus niloticus)" (PDF). Crocodile Specialist Group Newsletter. 38 (2). IUCN - Species Survival Commission: 12–13.
  61. "Largest crocodile in captivity (living)". Guinness World Records (dalam bahasa Inggris (Britania)).
  62. Kay, W. R. (2004). "Movements and home ranges of radio-tracked Crocodylus porosus in the Cambridge Gulf region of Western Australia" (PDF). Wildlife Research. 31 (5): 495–508. Bibcode:2004WildR..31..495K. doi:10.1071/WR04037.
  63. Campbell, H. A.; Dwyer, R. G.; Irwin, T. R.; Franklin, C. E. (2013). "Home range utilisation and long-range movement of estuarine crocodiles during the breeding and nesting season". PLOS ONE. 8 (5) e62127. Bibcode:2013PLoSO...862127C. doi:10.1371/journal.pone.0062127. PMC 3641080. PMID 23650510.
  64. Mercado, V. P. (2008). "Current status of the crocodile industry in the Republic of the Philippines". National Museum Papers. 14: 26–34.
  65. McDonald, K. R., Dennis, A. J., Kyne, P. J., Debus, S. J., & Curtis, L. (2012). Queensland's Threatened Animals. CSIRO Publishing, pg. 185–186.
  66. Halliday, T. R.; Verrell, P. A. (1988). "Body size and age in amphibians and reptiles". Journal of Herpetology. 22 (3): 253–265. doi:10.2307/1564148. JSTOR 1564148.
  67. Cox, R. M., Butler, M. A., & John-Alder, H. B. (2007). The evolution of sexual size dimorphism in reptiles. Sex, size and gender roles: evolutionary studies of sexual size dimorphism, 38–49.
  68. Brazaitis, P. (1987). Identification of Crocodilian Skins. Chipping Norton, Australia: Pty Lim.
  69. George Albert Boulenger (1889). Catalogue of the chelonians, rhynchocephalians, and crocodiles in the British Museum (Natural History). British Museum (Natural History). Department of Zoology.
  70. La Gironière, P. (1854). Twenty Years in the Philippines [1819–1839]. Harper & Brothers.
  71. Wood, G.L. (1982). Guinness Book of World Records Animal Facts and Feats. Sterling Pub Co., Inc. ISBN 978-0-85112-235-9.
  72. Singh, L. A. K. & Kar, S. K. (2006). "Status of the Saltwater Crocodile in Orissa: an overview". Journal of the Bombay Natural History Society. 103 (2/3): 274–285.
  73. Andrews, H. V. & Whitaker, R. (1994). "Status of the saltwater crocodile (Crocodylus porosus Schneider, 1801) in North Andaman Island". Hamadryad. 19: 79–92.
  74. Whitaker, N. (2008). Survey of Human/Crocodile Conflict in the Union Territory of the Andaman Islands, Hut Bay, Little Andaman, January 2008 (PDF). Madras: Madras Crocodile Trust.
  75. Kumar, A.; Kumar, S.; Zaidi, Y. F. & Kanaujia, A. (2012). A review on status and conservation of salt water crocodile (Crocodylus porosus) in India (PDF). hlm. 141–148.
  76. Das, C. S. & Jana, R. (2018). "Human–crocodile conflict in the Indian Sundarban: an analysis of spatio-temporal incidences in relation to people's livelihood". Oryx. 52 (4): 661–668. doi:10.1017/S0030605316001502.
  77. Aziz, M. A. & Islam, M. A. (2018). "Population status and spatial distribution of saltwater crocodile, Crocodylus porosus in the Sundarbans of Bangladesh". Bangladesh Journal of Zoology. 46 (1): 33–44. doi:10.3329/bjz.v46i1.37624.
  78. Amarasinghe, A. T.; Madawala, M. B.; Karunarathna, D. S.; Manolis, S. C.; de Silva, A. & Sommerlad, R. (2015). "Human-crocodile conflict and conservation implications of saltwater crocodiles Crocodylus porosus (Reptilia: Crocodylia: Crocodylidae) in Sri Lanka". Journal of Threatened Taxa. 7 (5): 7111–7130. doi:10.11609/JoTT.o4159.7111-30.
  79. Thorbjarnarson, J.; Platt, S. G. & Khaing, U. (2000). "A population survey of the estuarine crocodile in the Ayeyarwady Delta, Myanmar". Oryx. 34 (4): 317–324. doi:10.1046/j.1365-3008.2000.00135.x.
  80. Pauwels, O. S.; Laohawat, O. A.; Naaktae, W.; Puangjit, C.; Wisusutharom, T.; Chimsunchart, C. & David, P. (2002). "Reptile and amphibian diversity in Phang-nga Province, southern Thailand". Tropical Natural History. 2 (1): 25–30. doi:10.58837/tnh.2.1.102862.
  81. Chen, H.; Woon, W. (2021). "I Went Searching for Giant 'Extinct' Crocs in Singapore. They're Very Much Alive". Vice. Diakses tanggal 16 July 2023.
  82. Stuart, B. L.; Hayes, B.; Manh, B. H. & Platt, S. G. (2002). "Status of crocodiles in the U Minh Thuong Nature Reserve, southern Vietnam". Pacific Conservation Biology. 8 (1): 62. Bibcode:2002PacSB...8...62L. doi:10.1071/PC020062. S2CID 54020729.
  83. Platt, S. G.; Holloway, R. H. P.; Evans, P. T.; Paudyal, K.; Piron, H. & Rainwater, T. R. (2006). "Evidence for the historic occurrence of Crocodylus porosus Schneider, 1801 in Tonle Sap, Cambodia". Hamadryad. 30 (1/2): 206.
  84. Webb, G. J. (2000). "Risk of extinction and categories of endangerment: perspectives from long-lived reptiles". Population Ecology. 42 (1): 11–17. Bibcode:2000PopEc..42...11W. doi:10.1007/s101440050004. S2CID 42753122.
  85. Takashima, Haruo (1955). "Records of crocodile captured in the neighbouring sea of Japan". Journal of the Yamashina Institute for Ornithology. 1 (7): 300–302. doi:10.3312/jyio1952.1.300.
  86. Stuebing, R. B.; Ismail, G. & Ching, L. H. (1994). "The distribution and abundance of the Indo-Pacific crocodile Crocodylus porosus Schneider in the Klias River, Sabah, east Malaysia". Biological Conservation. 69 (1): 1–7. Bibcode:1994BCons..69....1S. doi:10.1016/0006-3207(94)90322-0.
  87. Kaur, T. (2006). "Segama River survey". Crocodile Specialist Group Newsletter. 25 (1): 15.
  88. Evans, L.; Jones, T.; Pang, K.; Saimin, S. & Goossens, B. (2016). "Spatial ecology of estuarine crocodile (Crocodylus porosus) nesting in a fragmented landscape". Sensors. 16 (9): 1527. Bibcode:2016Senso..16.1527E. doi:10.3390/s16091527. PMC 5038800. PMID 27657065.
  89. Mohd-Azlan, J.; Zulaiha, J.; Lading, E.; Nuriza, A. & Das, I. (2016). "Employing Camera Traps for Studying Habitat Use by Crocodiles in a Mangrove Forest in Sarawak, Borneo". Herpetological Review. 47 (4): 579–583.
  90. Sideleau, B. (2016). "Notes on the current status of the saltwater crocodile, Crocodylus porosus, within East Nusa Tenggara Province, Indonesia" (PDF). Dalam Crocodile Specialist Group (ed.). Crocodiles. Proceedings of the 24th Working Meeting of the Crocodile Specialist Group Skukuza, South Africa, 23–26 May 2016. Gland: IUCN. hlm. 149–152.
  91. Jelden, D. C. (1980). "Preliminary Studies on the Breeding Biology of Crocodylus porosus and Crocodylus n. novaguineae on the Middle Sepik (Papua New Guinea)". Amphibia-Reptilia. 1 (3): 353–358. doi:10.1163/156853881X00456.
  92. Messel, H. & Vorlicek, G. C. (1986). "Population-Dynamics and Status of Crocodylus porosus in the Tidal Waterways of Northern Australia". Wildlife Research. 13 (1): 71–111. Bibcode:1986WildR..13...71M. doi:10.1071/WR9860071.
  93. Read, M. A.; Miller, J. D.; Bell, I. P. & Felton, A. (2004). "The distribution and abundance of the estuarine crocodile, Crocodylus porosus, in Queensland". Wildlife Research. 31 (5): 527–534. Bibcode:2004WildR..31..527R. doi:10.1071/WR02025.
  94. Queensland, c=AU; o=The State of. "Where is Croc Country? | Be Crocwise". www.qld.gov.au (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-23. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  95. "West Alligator River". Northern Territory Land Information System. Northern Territory Government. Diakses tanggal 25 September 2012.
  96. Campbell, H.A.; Watts, M. E.; Sullivan, S.; Read, M. A.; Choukroun, S.; Irwin, S. R. & Franklin, C. E. (2010). "Estuarine crocodiles ride surface currents to facilitate long-distance travel". Journal of Animal Ecology. 79 (5): 955–964. Bibcode:2010JAnEc..79..955C. doi:10.1111/j.1365-2656.2010.01709.x. PMID 20546063.
  97. Spennemann, D.H.R. (2021). "Cruising the currents: observations of extra-limital Saltwater Crocodiles (Crocodylus porosus Schneider, 1801) in the Pacific Region. Supplemental". Pacific Science. 74 (3): 211–227. doi:10.2984/74.3.1. S2CID 231875504.
  98. Ross, C. A.; Garnett, S., ed. (1989). Crocodiles and Alligators. Checkmark Books. ISBN 978-0-8160-2174-1.