Analisis PEST

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Analisis PEST (Politik, Ekonomi, Sosial dan Teknologi) menjelaskan kerangka dari faktor makro yang digunakan di lingkungan pemindaian komponen dari manajemen strategis. Analisis ini merupakan bagian dari analisis eksternal ketika melakukan analisis strategis atau pada saat riset pasar, dan memberikan gambaran yang berbeda terhadap faktor makro yang harus diambil dalam pertimbangan. Analisis ini adalah alat strategis untuk memahami pasar pertumbuhan atau penurunan, posisi, potensi dan arah untuk operasi.

Variasi framework berdasarkan analisis PEST meliputi:

  • PESTEL atau PESTLE, yang menambahkan aspek hukum dan faktor lingkungan. Populer di Inggris.[1]
  • SLEPT menambahkan faktor hukum.
  • STEEPLE dan STEEPLED, menambahkan faktor etika dan demografi.
  • DESTEP, menambahkan faktor demografi dan ekologi.
  • SPELIT, menambahkan faktor hukum dan interkulural. Populer di Amerika Serikat sejak pertengahan 2000-an.[2]

Ada juga STEER, yang ikut memperthitungkan aspek sosial-budaya, teknologi, ekonomi, ekologi, dan regulasi, tetapi tidak secara khusus mencakup faktor-faktor politik.[3]

Komposisi[sunting | sunting sumber]

Dasar analisis PEST mencakup empat faktor:

  • Politik: faktor-faktor yang pada dasarnya adalah bagaimana campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Secara khusus, faktor-faktor politik termasuk: kebijakan pajak, hukum perburuhan, hukum lingkungan, pembatasan perdagangan, tarif, dan stabilitas politik. Faktor-faktor politik juga dapat mencakup barang-barang dan jasa yang akan diberikan atau diberi oleh pemerintah serta berbagai hal yang tidak ingin disediakan oleh pemerintah. Lebih jauh, pemerintah memiliki dampak yang tinggi pada kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur pada negara.
  • Ekonomi: faktor yang termasuk dalam aspek ini seperti: pertumbuhan ekonomi, suku bunga, nilai tukar, tingkat inflasi. Faktor-faktor ini sangat mempengaruhi bagaimana bisnis beroperasi dan membuat keputusan. Misalnya, suku bunga mempengaruhi biaya modal perusahaan dan dari situ sejauh mana perusahaan tersebut dapat tumbuh dan berkembang. Nilai tukar dapat mempengaruhi biaya dari barang-barang ekspor dan pasokan dan harga barang-barang impor dalam perekonomian.
  • Sosial: faktor-faktor yang termasuk aspek budaya dan kesadaran kesehatan, laju pertumbuhan penduduk, distribusi usia, karier dan penekanan pada keselamatan. Kecenderungan yang tinggi dalam faktor-faktor sosial mempengaruhi permintaan produk perusahaan dan bagaimana perusahaan tersebut beroperasi. Misalnya, populasi yang menua mungkin berarti tenaga kerja yang lebih kecil  (sehingga meningkatkan biaya tenaga kerja). Lebih jauh lagi, perusahaan dapat mengubah berbagai strategi manajemen untuk beradaptasi dengan kecenderungan sosial yang disebabkan dari aspek ini (seperti merekrut pekerja yang menua).
  • Teknologi: faktor-faktor yang termasuk aspek teknologi seperti Penelitian dan Pengembangan, otomatisasi, insentif teknologi dan tingkat perubahan teknologi. Aspek ini dapat menentukan hambatan masuk, tingkat produksi minimal yang efisien serta pengaruh keputusan alih daya (outsourcing). Lebih jauh lagi, perubahan teknologi akan mempengaruhi biaya, kualitas, dan menyebabkan dan akan menuju inovasi.

Perluasan analisis menjadi PESTLE atau PESTEL menambahkan:

  • Legal: yaitu faktor hukum, hal ini termasuk diskriminasi hukum, undang-undang perlindungan konsumen, undang-undang antitrust, hukum ketenagakerjaan, dan hukum kesehatan dan keselamatan kerja. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi bagaimana sebuah perusahaan beroperasi, biaya yang dikeluarkan perusahaan, dan permintaan (demand) terhadap produknya.
  • Lingkungan (Environmental) meliputi faktor ekologi dan aspek lingkungan seperti cuaca, iklim, dan perubahan iklim, yang dapat sangat mempengaruhi industri seperti pariwisata, pertanian, dan asuransi. Selain itu, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap potensi dampak perubahan iklim mempengaruhi bagaimana perusahaan beroperasi dan produk-produk yang mereka tawarkan, baik menciptakan pasar baru serta mengurangi atau menghancurkan produk yang sudah ada.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi diantaranya:

  • Demografis:  faktor-faktor seperti jenis kelamin, usia, etnis, pengetahuan bahasa, cacat, mobilitas, kepemilikan rumah, status pekerjaan, keyakinan agama, budaya dan tradisi, standar hidup dan tingkat pendapatan.
  • Regulasi: faktor ini termasuk tindakan pemerintah dan peraturan, standar nasional dan internasional, kebijakan pemerintah daerah, dan mekanisme pemantauan dan pemastian kepatuhan terhadap regulasi.

Lebih lanjut faktor-faktor yang dibahas di SPELIT meliputi:

  • Interkultural: faktor-faktor antar budaya yang mempertimbangkan kolaborasi dalam settingan global.
  • Faktor-faktor lain dalam aspek SPELIT mencakup Etika, Pendidikan, Fisik, Agama, dan Keamanan lingkungan. Keamanan lingkungan dapat mencakup baik pribadi, perusahaan, atau keamanan nasional.
  • Usaha lainnya yang berhubungan dengan faktor-faktor yang dapat dipertimbangkan dalam analisis lingkungan termasuk Kompetisi, Demografi, Ekologi, Geografi, Sejarah, Organisasi, dan Temporal (jadwal).[4]

Aplikasi faktor[sunting | sunting sumber]

Faktor-faktor dalam model ini bervariasi tingkat kepentingannya dalam sebuah perusahaan berdasarkan industrinya dan barang yang diproduksinya. Sebagai contoh, perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang untuk kebutuhan konsumsi dan B2B cenderung dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, sementara kontraktor pertahanan cenderung dipengaruhi faktor politik. Sebagai tambahan, faktor-faktor yang mungkin akan berubah di masa depan akan memuat tingkat kepentingan yang lebih besar. Sebagai contoh, sebuah perusahaan yang berhutang banyak akan lebih fokus terhadap faktor-faktor ekonomi (terutama tingkat suku bunga).

Selain itu, perusahaan konglomerat yang memproduksi berbagai macam produk (seperti Sony, Disney, atau BP) mungkin lebih mendapat manfaat dengan menganalisis salah satu bagian perusahaan pada suatu waktu dengan PESTEL, sehingga berfokus pada faktor-faktor tertentu yang relevan dengan yang bagian perusahaan tersebut. Perusahaan mungkin juga dapat membagi faktor-faktor dalam relevansi geografis (lokal, nasional, dan global).

Penggunaan analisis PEST dengan model lain[sunting | sunting sumber]

Faktor-faktor PEST ini, dikombinasikan dengan micro-faktor eksternal dan faktor internal, dapat diklasifikasikan sebagai peluang dan ancaman dalam analisis SWOT. Metode grafis untuk analisis PEST yang disebut 'PESTLEWeb' telah dikembangkan di Henley Business School di Inggris. Penelitian telah menunjukkan bahwa PESTLEWeb diagram dianggap lebih logis, rasional dan meyakinkan oleh pengguna daripada tradisional.[5][6]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

  • Analisis bisnis
  • Sistem perencanaan perusahaan
  • Analisis SWOT
  • Analisis SPELIT

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ PESTLE analysis history and application, CIPD.
  2. ^ [1], SPELIT Power Matrix.
  3. ^ Lawrence P. Carr; Alfred J. Nanni Jr. (28 July 2009). Delivering Results: Managing What Matters. Springer Science & Business Media. hlm. 44. ISBN 978-1-4419-0621-2. 
  4. ^ Schmieder-Ramirez, J. and Mallette, L., Using the SPELIT Analysis Technique for Organizational Transitions, Chapter 28 of "Education Applications and Developments" edited by Mafalda Carmo, Science Press, 2015 Retrieved 2015-08-21.
  5. ^ Collins, Rob. "A Graphical Method for Exploring the Business Environment" (PDF). Diakses tanggal 19 June 2014. 
  6. ^ Collins, Rob. "Is there a better way to analyse the business environment?" (PDF). Diakses tanggal 19 June 2014. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]